25 September 2015

136 Cerpen yang Tak Dimuat Koran

Iseng-iseng saya memperhatikan kiriman cerita pendek (cerpen) dan puisi yang masuk ke email redaksi salah satu koran lokal di Jawa Timur. Wow, cukup banyak! Paling sedikit 5 cerpen sehari. Puisi lebih banyak karena para remaja belasan tahun, anak sekolah, senang sekali menulis puisi.

Kadang-kadang ada 7, bahkan 9, cerpen yang masuk ke Inbox. Saya mencoba membaca cerpen-cerpen itu (puisi cuma lihat sambil lalu). Gak jelek-jelek amat sih! Umumnya penulis pemula yang masih SMA atau mahasiswa masih lemah di teknik, penokohan, hingga EYD.

Beberapa penulis cerpen malah tidak menggunakan huruf kapital sama sekali. Boleh saja anti-EYD tapi jangan di surat kabar konvensional. Sudah pasti langsung dibuang ke tempat sampah alias trash, kemudian di-delete hingga hilang selamanya. Sayang, cerita yang bagus jadi sia-sia karena si penulis tidak mau mematuhi EYD. Saya sering bilang EYD ini ibarat rambu-rambu lalu lintas yang harus dipatuhi ketika kita berkendara di jalan raya. Sebengal-bengalnya orang, dia tak boleh melawan arus atau nyelonong saat lampu merah.

Anggap saja sehari 5 cerpen yang masuk. Satu minggu 35 cerpen. Satu bulan 140 cerpen. Ini baru satu surat kabar kelas lokal. Belum koran nasional macam Jawa Pos atau Kompas atau Media Indonesia atau Koran Tempo. Di koran-koran nasional pasti cerpen yang masuk lebih banyak lagi. Biasanya penulis-penulis tertarik dengan honor besar di koran besar pula.

Nah, yang namanya cerpen dan puisi itu dari dulu hanya dimuat di koran edisi hari Minggu. Itu pun tidak semua koran punya ruang sastra. Surya sudah lama menutup ruang sastra. Memorandum tak punya. Surabaya Post tak ada, bahkan kayaknya koran lawas ini tidak terbit lagi. Artinya, dalam sebulan hanya 4 cerpen yang bisa dimuat.

Lantas, bagaimana nasib 136 cerpen yang tidak dimuat di surat kabar itu? "Hilang," kata bang Jos, wartawan senior, mantan redaktur cerpen dan puisi di sebuah koran di Surabaya. "Otomatis kita anggap naskah-naskah itu dikembalikan ke tangan penulisnya."

Sang redaktur macam bang Jos ini tak perlu capek-capek menulis email pengembalian naskah segala. Berikut alasan-alasan mengapa cerpen itu tidak dimuat. Alasan yang biasanya cuma basa-basi saja. "Semua penulis cerpen pasti sadar bahwa peluang naskahnya untuk dimuat di koran sangat kecil. Makanya selama ini tidak pernah ada komplain. Biasanya komplain itu kalau ada cerpen yang pernah dimuat di satu koran dimuat lagi di koran lain lagi. Atau soal plagiasi alias copy paste," kata sang editor yang juga ahli bahasa Indonesia itu.

Di era internet dan media sosial ini, rupanya media massa cetak, khususnya surat kabar, masih jadi pilihan utama para penulis cerpen dan puisi untuk publikasi karya-karya mereka. Bukankah ada blog yang bisa memuat cerpen-cerpen itu setiap saat? Berapa pun jumlahnya? Teman-teman cerpenis itu juga rata-rata punya blog untuk publikasi karya sastra mereka.

"Tapi kepuasannya lain kalau cerpen saya bisa dimuat di koran," kata seorang penulis cerpen kepada saya.

"Karena ada honornya, sementara di blog gratis?"

"Nggak begitu juga. Honor itu penting tapi bukan semata-mata honor yang kami cari. Cerpen yang dimuat di koran itu kan ada proses seleksi, sedikit editing dari redaktur, ada gambar ilustrasi, dsb. Beda dengan di blog yang bisa dicemplungi naskah apa saja semau kita," kata penulis yang karyanya saya nilai rata-rata 75 itu.

Saya jadi ingat majalah-majalah lawas era 1980an dan 1990an macam Anita Cemerlang atau Horison yang hampir seluruh halamannya diisi cerpen. Setelah 2000, majalah-majalah pemuat cerita fiksi itu hampir tidak ada lagi. Horison masih ada, tapi terbit tidak teratur. Cerpen-cerpen yang dimuat pun umumnya karya penulis-penulis senior. Majalah-majalah yang sebetulnya makin banyak dan beragam justru tak lagi memberi tempat untuk cerita pendek, novelet, puisi, dan sejenisnya.

Bagaimana kalau dibuat tabloid harian yang isinya khusus cerpen dan puisi?

"Gampang banget. Gak butuh wartawan, gak butuh liputan capek-capek ke lapangan. Cukup 2 redaktur dan beberapa layouter. Dan naskah yang masuk pasti membanjir. Tapi dijamin usia tabloidnya tidak sampai satu bulan," kata redaktur sastra itu tadi.

"Kok bisa?"

"Siapa yang mau membeli koran yang isinya cuma cerpen? Hehehe... Terus duitnya dari mana untuk membayar honorarium penulis setiap hari? Mana ada perusahaan yang mau pasang iklan di media sastra?" katanya lantas tertawa ngakak.

No comments:

Post a Comment