30 September 2015

Cascade Trio Mampir di Sidoarjo




Sangat jarang ada workshop musik klasik di Sidoarjo. Karena itu, kehadiran Cascade Trio di kawasan Pondok Candra, Kecamatan Waru, Ahad 27 September 2015, disambut antusias kalangan musisi, guru musik, maupun penggemar musik klasik dari Sidoarjo dan Surabaya.

Tak sedikit remaja belasan tahun mengikuti master class yang dengan tentor tiga personel Cascade, yakni Danny Ceri (biola), Ade Sinata (cello), dan Airin Efferin (piano). Mula-mula Efferin menceritakan secara singkat pengalamannya bergabung dalam musik kamar (chamber music) bersama dari rekannya lulusan Insitut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu. Sebagai pianis yang terbiasa bermain, Efferin harus belajar untuk bermain bersama dengan Ade dan Danny. "Sering berantem, tapi asyik," katanya.

Ade Sinata megakui sulitnya membentuk trio, kuartet, atau orkestra besar di Indonesia. Namun, dia gembira melihat antusiasme anak-anak muda di tanah air, bahkan murid-murid sekolah dasar, yang belajar bermain musik dan terus berlatih. Hanya saja, dia meminta para musisi muda di Sidoarjo agar tak henti-hentinya belajar, belajar, dan belajar. Juga tidak segan-segan bertanya kepada para senior.

"Tidak mungkin kita yang latihannya angin-anginan bisa jadi musisi kelas dunia," kata Ade seraya tersenyum.

Ketiga personel Cascade Trio kemudian secara bergantian memberikan evaluasi kepada tujuh musisi muda Sidoarjo dan Surabaya. Yakni dua pianis remaja, seorang gadis penggesek biolin, dan empat pemusik gesek yang tergabung dalam string quartet. Cukup banyak masukan yang disampaikan Afferin dan kawan-kawan. Mulai dari posisi duduk, sikap tubuh sebelum bermain musik, hingga penguasaan score atau partitur. Ini karena beberapa pemusik belum menghafal komposisi yang akan dimainkan. Sehingga fokus perhatian mereka hanya tertuju ke partitur.

"Agar bisa bermain bersama, kalian harus menguasai betul score yang akan dimainkan. Bukan cuma part kalian, tapi full score," kata Ade. (rek)

Dimuat Radar Sidoarjo edisi 29 September 2015

29 September 2015

Rekonsiliasi dengan PKI 100 Tahun Lagi



Sejak dua bulan lalu ada diskusi kecil membahas isu rekonsiliasi. Bagaimana menyikapi beban sejarah masa lalu? Khususnya terkait Partai Komunis Indonesia (PKI).

Perlukah minta maaf kepada jutaan korban peristiwa kelam itu? Mengapa harus minta maaf? Apanya yang salah? Bukankah PKI itu yang menghancurkan Indonesia? Isunya jadi melebar ke mana-mana.

Saya perhatikan, baik di media sosial maupun diskusi informal tatap muka, di Surabaya dan Sidoarjo, hampir semua peserta sepakat. Bahwa PKI memang layak ditumpas. Sampai ke akar-akarnya! Sampai kiamat pun TAK ADA MAAF untuk kaum komunis di Indonesia.

"Awas, PKI bangkit!" begitu tema liputan utama tabloid Posmo menjelang peringatan 50 tahun G30S yang (menurut sejarah versi orde baru) didalangi PKI itu.

Para narasumber di tabloid ini, hampir semuanya ormas muslim, mewanti-wanti bahaya laten komunis. PKI bisa saja bangkit dengan wajah dan nama baru. Apalagi di era internet ini informasi tentang komunisme, marxisme, leninisme, sosialisme ibarat air bah yang tak bisa dibendung. Mars-mars PKI era 1960an pun bisa dengan mudah kita saksikan di YouTube.

"Kalian yang lahir setelah tahun 1970an tidak mengalami kekejaman PKI itu. Berkali-kali mereka membuat kekacauan, melakukan pembunuhan, dsb," kata seorang tokoh tua yang sangat antikomunis. Eyang ini selalu berpesan kepada generasi muda agar jangan sekali-kali memberi tempat kepada PKI dan sejenisnya.

Seorang pengacara di Sidoarjo membuka forum diskusi kecil-kecilan tentang masalah gestok alias gestapu ini. Saya perhatikan komentar-komentar peserta diskusi yang rata-rata berusia di bawah 50 tahun. Bahkan ada yang mahasiswa awal 20an. Sama saja. Mengecam keras wacana rekonsiliasi nasional, khususnya soal G30S.

Mereka juga mewanti-wanti Presiden Jokowi agar jangan sekali-sekali memberi hati kepada komunisme alias PKI. "Jangan pernah minta maaf kepada PKI! PKI yang harus minta maaf," ujar seorang tokoh yang terkenal galak.

Saya pun menulis komentar di forum diskusi dunia maya itu. Intinya, kita masih butuh waktu 50 lagi agar bisa mengambil jarak dari sejarah kelam 1965 dan ikutannya. Bahkan, tidak hanya 50 tahun tapi 100 tahun lagi. Mustahil bangsa Indonesia saat ini bisa merenung, berpikir dengan dingin, untuk mendudukkan sejarah bangsanya secara jujur dan adil.

Nanti 100 tahun lagi, ketika generasi lama sudah berkalang tanah, orang-orang Indonesia yang benar-benar fresh yang bisa mengambil keputusan secara bijaksana. Menurut prediksi saya, para pemimpin Indonesia di masa depan, yang lahir tahun 2060an, yang insya Allah bisa menuntaskan beban sejarah yang sangat traumatis itu.

Mustahil Presiden Jokowi bisa melakukannya di tengah suasana kebatinan yang masih seperti ini. Bahkan, tiga presiden setelah Jokowi pun masih sulit. Karena itu, biarkanlah waktu berjalan, sejarah mengalir, hingga bangsa ini makin arif, bijaksana, dewasa, toleran, mau menerima perbedaan ideologi dan keyakinan.

Semoga seratus tahun lagi Republik Indonesia ini masih ada!

Kristen vs Buddha di Krematorium Juanda



Senin pekan lalu, 21 September 2015, saya menghadiri upacara kremasi Pandita Nugroho Notodiputera di Krematorium Jala Pralaya, Desa Gisik Cemandi, Kecamatan Sedati. Satu-satunya krematorium di Kabupaten Sidoarjo ini dekat dengan Bandara Internasional Juanda.

Ada dua tungku di krematorium milik TNI Angkatan Laut yang diresmikan pada 9 Maret 2005 itu. Meskipun awalnya diniatkan untuk kremasi anggota TNI AL yang beragama Hindu, Jala Pralaya ini justru lebih banyak dipakai untuk perabuan warga Tionghoa di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya.

Nah, ritual menjelang peti jenazah Pandita Nugroho alias Njoo Tiong Hoo sederhana saja. Mas Nico, putra almarhum, memimpin pembacaan paritta suci yang diikuti sekitar 50 umat Buddha asal Sidoarjo dan Surabaya. Suasana sangat meditatif, khas Buddhis. Kami yang bukan Buddhis - banyak pula teman dan kenalan mendiang Nugroho yang muslim saat itu - ikut larut dalam suasana liturgi Buddha itu.

Ibu Ni Luh, istri mendiang Nugroho, dan enam anak sang rohaniwan, yang semuanya belum menikah, tampak berkaca-kaca. Tak lama lagi jasad orang tua tercinta dimasukkan ke tunggu untuk diperabukan.

Beberapa saat kemudian mas Richard Steven, putra tertua, memimpin upacara pelepasan burung merpati putih di samping krematorium. Kemudian jemaat kembali mendaraskan paritta suci. Tidak ada khotbah, nyanyian, sambutan basa-basi dan sebagainya.

Suasana makin hening. Tiba-tiba, "Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita adalah umat pemenang! Haleluya! Haleluya! Kita semua bergembira mengantar saudara kita ke rumah Bapa dalam sukacita. Haleluya! Di dalam Tuhan tidak ada ketakutan, tidak ada kesedihan... Yang ada hanya sukacita! Haleluya!" ujar suara di sebelah lewat pengeras suara.

Waduh, bisa kacau ini upacara kremasi tokoh Buddha Sidoarjo, batin saya. Dua tungku mayat itu sangat berdekatan. Pihak krematorium hanya membatasi rombongan pengantar jenazah dengan tripleks. Rombongan kristiani lebih sedikit ketimbang Buddhis. Tapi pendetanya yang suaranya keras itu khotbah pakai loud speaker. Teriak-teriak pula.

Rupanya, di tungku sebelah baru dimulai upacara pelepasan jenazah secara Kristen, aliran karismatik. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kejadian yang langka ini. Pihak karismatik rupanya kurang arif bijaksana. Sudah tahu sedang acara puncak ritual Buddhis, meditatif, eh malah khotbah menggebu-gebu.

"Haleluya! Saudara ingat Ayub? Apa yang terjadi dengan Ayub saudara-saudara?" begitu kira-kira ucapan pendeta di sebelah. Konsentrasi saya menyimak lantunan paritta Buddhis pun hilang. Syukurlah, umat Buddha yang sangat terlatih meditasi kayaknya tidak terganggu dengan kebaktian kristiani di lokasi yang jaraknya tak sampai satu meter itu.

Jenazah Pak Nugroho dimasukkan ke tungku. Umat Buddha satu per satu menabur bunga di peti jenazah yang sebentar lagi jadi abu. Kemudian pelayat yang bukan Buddhis pun diberi kesempatan menaburkan bunga. Isak tangis makin keras di dalam ruang pembakaran. Sementara di luar, khotbah masih berlangsung.

Sambil menunggu kremasi, saya ngobrol bersama Pak Paiman dan pelayat-pelayat beragama Islam di pojok. Pak Paiman, pimpinan reog di Gedangan, mengenang jasa mendiang Pak Nugroho yang berjasa menghidupkan kelompok reognya yang mati suri bertahun-tahun. Ada lagi yang memuji kegesitan keluwesatan almarhum di berbagai organisasi di Sidoarjo.

Pak Nugroho ini Tionghoa, rohaniwan Buddha, tapi bisa berteman akrab dengan siapa saja. Sampai-sampai banyak orang, termasuk Pak Paiman, yang baru tahu kalau Pak Nugroho itu pendeta Buddha saat beliau meninggal dunia. Karena itu, Pak Paiman sempat berbisik kepada saya saat melayat di RS Delta Surya Sidoarjo, "Jenazah Pak Nugroho kok gak dikubur-kubur? Kok ditahan sampai satu minggu?"

Saya pun menjelaskan tradisi Tionghoa dan Buddhis. Tentang kremasi atau pembakaran jenazah, abunya nanti dilarung, dsb dsb. Sebagai muslim yang taat (selalu pakai baju takwa), menurut Paiman, jenazah harus sesegera mungkin ditanam (dimakamkan). Setelah mendengar penjelasan saya, barulah pentolan reog asal Ponorogo ini ngeh. "Oh... saya baru paham sekarang," katanya.

Di warung kopi dekat kantor desa Gisik Cemandi (Krematorium Jala Pralaya memang berlokasi di depan kantor desa itu), saya masih ngobrol dan ngopi bersama Pak Paiman serta beberapa teman muslim. Masih soal kremasi, tradisi Tionghoa, Buddhis, hingga kiprah almarhum Pak Nugroho yang sejak 2002 membuka Vihara Dharma Bhakti di rumahnya, Pondok Jati X/8 Sidoarjo.

Lalu, saya pun kembali ke pusat kota Sidoarjo.

Di perjalanan saya masih teringat ritual buddhis dan kristiani yang bertabrakan di Jala Pralaya Juanda. Tidak salah kalau pendeta karismatik itu berkhotbah menggebu-gebu, keras, pakai loud speaker, dengan nyanyian yang gembira. Sebab kekhasan kebaktian karismatik ya memang begitu itu. Orang karismatik tidak mungkin sama dengan Buddhis, Katolik, Islam, Hindu, dsb.

Yang kurang bijaksana tentu pengelola Krematorium Jala Pralaya. Mengapa tidak diatur sedemikian rupa agar upacara kremasi tidak bersamaan? Lebih afdal kalau harinya berbeda. Kalaupun harinya sama, jamnya kan bisa berbeda. Pagi Buddha, siang atau sore giliran Kristen. Atau sebaliknya.

Memaksakan kremasi pada jam yang (hampir) sama, apalagi dengan ritual agama yang sangat kontras (Buddha yang meditatif, Kristen Karismatik yang bernuansa gembira dan menggelegar) jelas tidak bijaksana.

28 September 2015

Bersatulah Persebaya dan Bonek FC!

Kementerian hukum dan hak asasi manusia akhirnya memberikan hak merek kepada PT Persebaya Indonesia. Artinya, tim yang sementara ini menggunakan nama Persebaya 1927 yang berhak pakai nama Persebaya. Persebaya 1927 ini dilarang ikut kompetisi oleh PSSI yang dipimpin La Nyalla.

Sebaliknya, Persebaya yang berlaga di ISL (kompetisi yang mandeg itu) harus berganti nama. Muncul nama baru Bonek FC. Nama yang jauh berbeda dengan Persebaya tapi masih ada ganjalan. Bukankah Bonek itu julukan suporter Persebaya (yang belum pecah) yang diciptakan Jawa Pos? Mengapa tidak cari nama lain saja?

Kita tunggu saja. Sebab, Gede Widiade, manajer Bonek FC (alias Persebaya United) baru saja membuka sayembara nama dan logo baru untuk Bonek FC ini. Yang jelas, hampir semua kalangan di Surabaya menginginkan hanya satu Persebaya. Yakni Persebaya yang didirikan pada tahun 1927 itu. Sebab (hampir) mustahil sebuah kota di Indonesia punya dua klub yang berkompetisi di level tertinggi.

Setelah mendapat merek Persebaya, lantas? Sampai sekarang Persebaya alias Persebaya 1927 tidak diakui PSSI La Nyalla. Dus, tidak berhak ikut kompetisi ISL. Persebaya 1927 juga tidak tercatat di divisi utama atau liga nusantara. Punya merek, legalitasnya diakui negara, tapi tidak bisa ikut kompetisi, buat apa?

Yang berhak ikut kompetisi justru Bonek FC (atau nama baru pengganti Persebaya versi Mitra Berlian itu). Begitu banyak persoalan masih membelit Persebaya gara-gara dualisme sejak 2010 itu. Terlalu parah!

Belum lagi, kita baca pagi ini di koran, Saleh Mukadar selaku pemegang saham mayoritas PT Persebaya Indonesia cenderung cuek. Belum ada upaya konsolidasi atau mengembalikan saham kepada klub-klub internal. Bung Saleh yang juga politikus PDI Perjuangan ini hanya berkicau di Twitter doang.

Belakangan para suporter Persebaya yang tergabung dalam Bonek 1927 ikut-ikutan mengurusi Persebaya setelah kepastian hak merek. Andi Peci, koordinator bonek, malah ingin ada pihak ketiga yang menguasai saham PT Persebaya Indonesia. "Buat apa menyerahkan saham ke pihak ketiga yang nggak bisa ngurusi bola," kata Cholid Ghoromah, dirut PT Persebaya Indonesia.

Ruwet memang Persebaya ini. Ibarat benang kusut yang sudah kadung mbulet gak karuan. Begitu banyak kepentingan yang bermain untuk memperebutkan kue yang gak jelas juntrungannya ini. Saleh Mukadar, Cholid, puluhan klub internal, ribuan bonek, hingga Pemerintah Kota Surabaya.

Meskipun ada embel-embel PT, jangan lupa, sejak Hindia Belanda sampai sebelum kisruh 2010 itu, Persebaya sangat tergantung pada pemkot. Lapangan Karanggayam, tempat latihan Persebaya, mes, berbagai properti itu miliknya siapa? Dua stadion yang jadi tempat pertandingan Persebaya, Stadion Gelora Sepuluh Nopember dan Stadion Gelora Bung Tomo, itu punya siapa?

Jangan lupa pula, kawan-kawan di pihak sebelah (Bonek FC) pun punya ikatan kuat dengan Persebaya. Mereka juga didukung puluhan klub internal yang dulu sama-sama bergabung dalam bendera yang sama. Bendera Persebaya yang historis di Karanggayam itu.

Maka, tidak ada cara yang lebih baik selain bersatu kembali dalam bendera yang sama: Persebaya. Permusuhan berkepanjangan antarsaudara sendiri selama bertahun-tahun terbukti telah menghancurkan sepak bola di Surabaya. Dua stadion berstandar internasional jadi mangkrak karena tidak bisa digunakan.

Sent from my BlackBerry

27 September 2015

Ketika wartawan naik haji

Berbahagialah wartawan yang naik haji. Sebab dia bisa cuti panjaaang sekali. Sebulan lebih, bahkan dua bulan, fokus beribadah di tanah suci. Ibadah, ibadah, ibadah... setiap hari. Kembali ke tanah air punya sapaan mulia: Pak Haji atau Bu Haji.

Tapi, tunggu dulu, yang namanya wartawa ya tetap wartawan. Biarpun cuti resminya untuk beribah, menunaikan rukun kelima, tetap saja teman wartawan bikin laporan dari Arab Saudi. Apalagi ketika terjadi musibah di Mina yang menewaskan 717 haji. Apalagi 112 haji asal Indonesia belum kembali ke maktab.

Adakah mereka termasuk bilangan 717 itu? Teman-teman wartawan di tanah suci, selain sibuk beribadah, punya kesibukan baru yang luar biasa. Yakni memberikan laporan kepada media masing-masing tentang nasib rombongan haji Indonesia. Bercerita tentang apa gerangan yang terjadi di Mina. Mengapa saudara-saudari kita itu terpisah dari rombongan. Dan sebagainya, dan seterusnya.

Saya perhatikan setiap hari mas Syaiku, teman wartawan satu kantor, sangat rajin mengirim laporan dari tanah suci. Lengkap dengan foto, data, cerita, komentar, hingga isi jumpa pers. Padahal, sebagai redaktur, selama ini mas Syaiku sangat jarang menulis berita di Surabaya.

Pria asal Jombang ini sudah lama bertekad memenuhi panggilan Allah untuk naik haji. Untuk beribadah dengan khusyuk. Bukan untuk mencari berita, bikin reportase segala macam ke Surabaya. Kalaupun ada kiriman berita, anggap saja bonus. Sekadar catatan harian di sela menunaikan ibadah haji.

Mbak Endrayani di Jawa Pos pun saya lihat sangat intensif membuat reportase panjang tentang tragedi Mina itu. Berita-beritanya jadi headline (HL). Ada tulisan boks alias ficer. Foto-foto human interest. Di Jawa Pos pagi ini ada foto menteri agama menjelaskan perkembangan pencarian ratusan haji Indonesia yang masih hilang.

Sudah tentu mas Syaiku, mbak Endrayani, dan para wartawan yang tengah cuti panjang di tanah suci akan bekerja lebih keras untuk melaporkan perkembangan tragedi Mina itu. Kerja keras, keliling sana sini, wawancara banyak narasumber, agar bisa menghasilkan liputan mendalam.

Lalu, kapan teman-teman wartawan itu bisa menenggelamkan diri dalam ibadah di tanah suci? Menjauhkan diri dari hiruk pikuk newsroom? Rehat daru rutinitas mencari dan menyunting berita? Walahuallam!

"Kerja wartawan itu perjuangan, doa, dan ibadah. Menggali informasi untuk dilaporkan kepada masyarakat itu bagian dari ibadah," kata Peter A Rohi, wartawan senior asal NTT yang protestan dan pastinya bukan haji.

Akhirnya, selamat beribadah untuk mas Syaiku, mbak Endrayani, serta teman-teman wartawan yang sedang berada di tanah suci. Semoga semuanya menjadi haji dan hajah yang mabrur!

26 September 2015

Jurnalisme Investigasi ala Peter A. Rohi



Peter Apollonius Rohi, wartawan senior asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, sedang menyusun buku memoar. Begitu banyak cerita menarik saat masa kecil di pedalaman Pulau Timor, jadi anggota KKO (sekarang marinir), jadi koresponden, mendirikan beberapa surat kabar yang kemudian jadi besar, hingga menikmati usia senja. Tapi tidak pernah pensiun sebagai wartawan.
Di Facebook, Peter Rohi membocorkan sedikit beberapa kutipan isi bukunya itu. Yang paling menonjol adalah sepak terjangnya sebagai wartawan Sinar Harapan pada 1970an dan 1980an. Peter Rohi bertualang ke mana-mana untuk membuat laporan investigasi alias investigative reporting. Di antaranya, mengangkat kasus kelaparan di Pulau Sumba, NTT, dan bencana alam di Waiteba, Pulau Lembata, NTT.

Reportase Peter A. Rohi membuat Bina Graha geger. Presiden Soeharto memutuskan untuk datang langsung ke Sumba. "Beta yang beri peta kepada petugas di lapangan lokasi kelaparan yang benar-benar parah itu," kata Peter yang berumah di Kampung Malang, Surabaya, tapi lebih sering tinggal di Jakarta itu.

Saya sering bertemu Peter A. Rohi di Surabaya ketika bung yang murah senyum ini lagi getol-getolnya "menemukan kembali" rumah tempat lahir Bung Karno di Pandean, Surabaya. Peter selalu mengatakan dia tidak suka membuat berita-berita kecil, ecek-ecek, hanya sekadar memenuhi halaman koran.

"Saya hanya mau bikin investigasi. Berita-berita saya harus jadi HL," katanya tegas. "Kalau cuma menulis berita untuk servis pejabat, menyenangkan pemerintah, buat apa? Jatuh kita punya harga diri sebagai wartawan," kata jurnalis yang pernah bekerja di puluhan media massa itu.

Omongan bung Peter ini terkesan angkuh, rada sesumbar, tapi tidak asal bunyi. Orang-orang lama, para wartawan senior, tahu benar sepak terjang beliau. Saking seringnya mengangkat peristiwa-peristiwa besar di tanah air, nama Peter A. Rohi harum bukan main.

"Kalau ada peristiwa besar, yang diliput itu bukan peristiwanya yang besar. Tapi kehadiran Peter Rohi membuat peristiwa itu menjadi besar dan berdampak," kata Daniel Rohi, dosen Universitas Kristen Petra Surabaya. Guyonan lawas di Surabaya ini kalau tak salah sumbernya dari Prof Sam Abede Pareno, juga wartawan senior, teman Peter A Rohi, yang sekarang guru besar komunikasi di Unitomo Surabaya.

Nah, diskusi di media sosial itu pun melebar ke mana-mana. Orang membanding-bandingkan kualitas wartawan lama, khususnya Peter A Rohi, dengan rentetan investigative reporting, versus wartawan-wartawan di era pers industri setelah 2000. Saat ini makin sulit menemukan wartawan petualang, blusukan ke mana-mana, macam Peter Rohi. Meninggalkan newsroom, kantor redaksi, dalam waktu lama tapi tidak dipecat.

"Bung Peter bisa begitu karena iklim pers tempo dulu memang memungkinkan. Industri pers sekarang sudah jauh berbeda," kata seorang peserta diskusi.

"Betul sekali," tulis Peter Rohi. "Karena itu, jadilah wartawan yang dibutuhkan. Itulah kuncinya. Surat kabar bukan majikan tapi cuma sarana. Wartawan jangan bikin diri jadi buruh," tegas sang kuli tinta yang selalu bicara meledak-ledak itu.

Menurut Peter, jurnalisme merupakan kombinasi antara pekerjaan intelektual, kepekaan sosial, rasa kemanusiaan, dan petualangan. Peter menulis:

"Wartawan adalah intelektual yang terjun langsung ke masyarakat. Dia tahu persis kehidupan dan kebutuhan masyarakat. Dulu Sinar Harapan yang melamar saya, bukan saya yang melamar Sinar Harapan. Begitu juga setelah tidak lagi di Sinar Harapan, saya dilamar Kompas untuk ditempatkan di Kompas Group di luar Jakarta."

Agar bisa menghasilan investigative reporting yang terus-menerus, Peter menjelaskan, sebuah surat kabar atau majalah harus punya wartawan-wartawan spesial. Semacam pasukan khusus yang floating. Tugasnya menggali berita apa saja, mempelajari perpustakaan, mencari bahan-bahan investigasi, kemudian terjun ke lapangan. Lalu menulis berita-berita investigasi itu dengan sentuhan kemanusiaan yang kuat.

Peter: "Berita-berita kemanusiaan harus ditulis dengan kalimat yang menyentuh nurani. Sama-sama meliput bencana alam, berita saya pasti mendapat perhatian pembaca dan pemerintah. Perlu kekayaan imajinasi dan referensi pengalaman dan perpustakaan."

Saya pun menelepon bung Peter Rohi untuk menggali komentarnya di FB itu. Dia menilai wartawan-wartawan sekarang kebanyakan miskin imajinasi dan miskin perpustakaan (malas membaca). Akibatnya, kejadian-kejadian besar yang diliput terasa datar. Tidak ada reaksi apa pun. Apalagi kurang pengalaman.

"Pemakaian istilah dan penyusunan kalimat yang tidak tepat membuat sebuah berita besar tidak ada artinya bagi pembaca. Berita yang dibesar-besarkan pun justru hanya mengurangi kepercayaan publik dan pemerintah," kata Peter Rohi yang pernah menjalani operasi jantung ini.

Saya: "Ngomong-ngomong, mengapa Anda bisa bertualang ke mana-mana, sementara wartawan-wartawan lain di surat kabar Anda dulu tidak?"

Peter: "Semua kegiatan investigasi itu saya biayai sendiri. Saya juga malas minta gantinya (klaim). Maka tidak ada yang berani ngomong macam-macam. Tugas-tugas kemanusiaan adalah pengorbanan, doa, dan ibadah."

Wow, akhirnya saya ketemu rahasia kegemilangan Peter A Rohi sebagai wartawan investigasi papan atas di Indonesia. "Pengorbanan, doa, dan ibadah."

Sebagai wartawan senior, Peter A Rohi masih punya harapan besar pada wartawan-wartawan muda di Indonesia untuk menghasilkan karya-karya jurnalistik yang bermutu. "Tidak larut dalam pola hidup hedonisme yang menista rasa kemanusiaan," begitu istilah bung Peter.

"Wartawan-wartawan generasi muda itulah yang akan memberi jiwa bagi pers Indonesia," katanya.

Paus Frans Tolak Hukuman Mati di USA

Cukup menakjubkan! Paus Fransiskus disambut hangat pemerintah dan rakyat Amerika Serikat yang sekuler itu. Sekitar 10 ribu orang mengelu-elukan pemimpin Gereja Katolik asal Argentina itu. Sri Paus seperti dikutip CNN menyapa rakyat USA dengan senyum khasnya.

Di Indonesia hampir tidak ada media yang meliput kunjungan Paus Frans ke Kuba dan USA. Apalagi membahas secara mendalam isu-isu khas Vatikan yang menolak aborsi, menolak hukuman mati, dsb. Media-media internasional justru meliput kunjungan Paus Frans dengan sangat mendalam.

Banyak isu yang diangkat Bapa Suci di Amerika Serikat. Salah satunya hukuman mati. Seperti Indonesia, USA masih menerapkan hukuman mati untuk kejahatan-kejahatan tertentu. Sikap Vatikan masih sama: hapus hukuman mati! Sebab manusia tidak punya kuasa untuk mencabut nyawa sesama manusia. Paus-Paus sebelumnya juga bersikap sama. Bahkan, Paus Yohanes Paulus 2 meminta agar Ali Agca yang menembak dirinya tidak dieksekusi mati.

Nah, saat membaca sekilas laman CNN, di Metro TV ada diskusi tentang hukuman mati untuk bandar narkoba. Empat pembicara sepakat hukuman mati perlu dijalankan agar ada efek jera. "Sebab negara kita sedang darurat narkoba. Lebih cepat dieksekusi lebih baik," kata seorang pengamat yang bekas hakim.

Dua minggu lalu, seorang warga Belanda dijatuhi hukuman mati di Pengadilan Negeri Surabaya. Aktivis antinarkoba bukan main senangnya. Mereka meminta agar bandar-bandar lain pun disukabumikan saja karena terbukti merusak generasi muda. Tidak ada satu orang pun yang menentang vonis mati itu.

Begitulah. Betapa kontras Indonesia dengan Vatikan untuk masalah hukuman mati ini. Indonesia terkesan merayakan eksekusi mati penjahat-penjahat narkoba, Vatikan malah aktif mengajak negara-negara di dunia untuk menghapus hukuman mati. Ndak ketemu!

Masih lumayan Komnas HAM juga konsisten menyerukan penghapusan hukuman mati di Indonesia. Tapi, seperti biasa, suara Komnas HAM ibarat orang berteriak-teriak sendiri di padang pasir yang panas. Mas Jokowi, kepala negara kita, justru ingin semua warga binaan (narapidana) yang putusannya sudah final segera diselesaikan. Kecuali mbak Mary Jane dari Filipina itu.

Jangankan Indonesia yang bangsa muslim, kunjungan dan seruan Paus Frans di USA pun tak akan mengubah sikap USA terkait hukuman mati.

Kue Bulan - Wayang Potehi di Krian

"Acara kue bulannya sederhana aja. Sembahyangan, makan kue bulan, ngobrol, wis. Gak ada hiburan macam-macam," kata Bu Tatik, pengurus Kelenteng Tjong Hok Kiong, Jalan Hang Tuah 32 Sidoarjo.

Bu Tatik melanjutkan makan sorenya, nasi lodeh ala warung sederhana. Iwake tempe tahu. Gak pakai daging meskipun masih suasana Iduladha. Menu makanan orang Tionghoa di Sidoarjo ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan menu wong cilik di Jawa Timur. Gak pake sirip ikan hiu yang sekali makan habis jutaan rupiah itu.

Menurut bu Tatik, sejak dulu jemaat kelenteng tertua di Sidoarjo ini selalu merayakan hari raya Tionghoa secara sederhana. Hajatan besar cuma setahun sekali. Yakni pesta ulang tahun Makco Thian Siang Sing Boo yang tak lain tuan rumah kelenteng.

"Kalau Tiong Chiu Jie ini ya kami hanya sediakan kue bulan. Silakan beli kalau mau," katanya. Paling murah Rp 125 ribu sekotak. Ada beberapa varian kue bulan atau yang sekarang lebih dikenal dengan moon cake yang kelewat manis itu. Tidak dianjurkan untuk penderita diabetes.

Di kelenteng satunya, TITD Teng Swie Bio Krian, sama saja. Tidak ada acara khusus untuk merayakan perayaan bulan purnama sempurna pada tanggal 15 bulan ke-8 penanggalan Imlek itu. Tapi kebetulan saat ini sedang ada pertunjukan wayang potehi dengan lakon Tembok Besar Tiongkok. Dalangnya Ki Subur, satu-satunya dalang potehi di Kabupaten Sidoarjo.

"Saya ditanggap main di Kelenteng Krian ini selama 50 hari nonstop. Setiap hari dua kali pertunjukan: sore dan malam. Tapi ini tidak ada kaitan dengan acara kue bulan tapi King Hoo Ping," kata Ki Subur yang dibantu 4 pemusik dan 1 asisten dalang.

King Hoo Ping atau lebih dikenal sembahyang rebutan selalu dirayakan khusus di Kelenteng Krian. Selain berbagi rezeki, paket sembako, kepada warga sekitar yang tidak mampu, pengurus kelenteng menanggap wayang potehi. Pertunjukan wayang boneka kain ala Tiongkok selatan ini biasa berlangsung 30 hingga 60 hari. Bisa lebih tergantung permintaan jemaat kelenteng.

"Orang Tionghoa itu menganggap wayang potehi ini persembahan untuk para dewa. Ada atau tidak ada penonton (manusia), ya, jalan terus karena yang nonton itu para dewa," kata Ki Subur yang muslim dan asli Jawa itu.

Panggung potehi di Kelenteng Krian terletak di lantai 2, pojok, dekat sungai. Kita harus mendongak kalau ingin melihat tokoh-tokoh Tiongkok kuno beraksi lewat panggung kecil itu. Sangat tidak cocok untuk sebuah seni pertunjukan. Karena itu, sangat jarang ada penonton yang menikmati sajian potehi yang sebetulnya unik dan menarik itu.

Saat mampir di Kelenteng Krian, saya melihat seorang gadis Jawa, 20an tahun, duduk di kursi penonton. Nona manis itu didampingi dua bocah Tionghoa. "Kamu kok senang potehi?" pertanyaan pancingan saya. Saya memang yakin nona ini pembantu rumah tangga keluarga Tionghoa yang juga umat Kelenteng Krian.

"Saya antar Om latihan karaoke," katanya ramah.

Ruang karaoke dan pertemuan terletak di belakang kelenteng. Para tuan dan nyonya Tionghoa di Krian sangat hobi tarik suara. Membawakan lagu-lagu melankolis pop Mandarin. Meskipun masuk lewat depan panggung potehi, mereka rupanya tidak tertarik menyaksikan pertunjukan potehi.

Eh, tiba-tiba datang dua gadis Jawa yang penasaran dengan musik dan narasi Ki Subur dalam bahasa gado-gado Indonesia, Jawa, Hokkian, sedikit Mandarin. "Saya dapat tugas untuk membuat laporan tentang seni budaya Tionghoa," kata Rini, mahasiswi yang seumur hidup baru pertama kali ini masuk ke kompleks kelenteng.

Cerita Tembok Besar yang dipaparkan Ki Subur cukup menggelitik. Dia memanfaatkan mulut orang-orang kecil untuk meledek, mengecam, dan menertawakan penguasa di Tiongkok masa itu yang sangat kejam. Intinya, tembok besar itu menimbulkan kesengsaraan yang hebat di kalangan rakyat jelata. Sebab mereka harus kerja paksa membangun tembok yang kini jadi andalan wisata Tiongkok itu.

Selamat menikmati kue bulan! Khusus untuk Maya, pimpinan Komunitas Jejak Petjinan, semoga bisnis mooncake-nya laku keras!

25 September 2015

OM Monata Sidoarjo yang fenomenal



Mungkin ada ratusan orkes melayu (OM) di Kabupaten Sidoarjo. Hampir semua desa/kelurahan ada orkesnya. Anggap saja satu desa satu OM, maka total ada 353 orkes. Padahal di beberapa desa OM-nya lebih dari satu.

Namun, tentu saja tidak semua OM punya penggemar dan bisa manggung setiap hari. "Soale persaingan antarorkes makin ketat. Kalau nggak punya jaringan, link, ya habis. Kayak OM lawas yang tinggal nama itu," kata mas Takim yang menangani sebuah orkes terkenal tingkat kabupaten.

Dari ratusan orkes itu, OM Monata boleh dikata paling stabil sejak dulu. Eksis sejak 1990an, personelnya sudah senior, di atas 30 dan 40, tapi masih bisa melanglang ke mana-mana. Manggung hampir setiap malam. Ribuan penggemar selalu setia menanti Mr Sodik dkk ini. "Alhamdulillah, rezeki selalu ada saja. Sampai sekarang jadwal kami sangat padat," kata Sodik, sang vokalis plus gitaris berambut gimbal ini.

OM Monata Sidoarjo terdiri dari 8 personel: Sodik (vokal, gitar), Nono (gitar melodi), Juri (drum/kendang), Muji (bas), Anil dan Robi (keyboards), Slamet (suling), Hanafi (tamborin). Delapan pemusik inilah yang mengawal aransemen dangdut koplo dengan bumbu pop, hard rock, etnik, dsb. Kebetulan latar belakang mereka memang pemusik serba bisa yang biasa main pop atau rock.

"Musik dangdut sekarang ini dituntut sangat atraktif. Beda dengan dangdut-dangdut lawas yang mendayu-dayu," kata Sodik yang lahir di Pandaan, Pasuruan, 7 April 1968. Sudah cukup tua tapi selalu atraktif ketika berduet dengan cewek-cewek cantik belasan atau di bawah 25 tahun. Karena sering duet dengan nona-nona manis, seksi, bahenol, Sodik tidak pernah merasa tua.

Sodik dkk juga selalu update soal tren musik. Lagu-lagu yang baru dirilis, genre apa saja, segera dimakan. Lalu aransemennya dirombak sesuai aliran Monata. Sehingga remaja-remaja belasan tahun pun terbuai dengan permainan para musisi yang usianya sebaya orangtua atau kakek-nenek mereka itu. "Kita tidak boleh mandeg," kata Sodik yang suaranya serak ala rocker itu.

Yang menarik, meski orkes ini bermarkas di Sidoarjo, pimpinan Pak Gatot Hariyanto, OM Monata sudah sangat jarang show di Sidoarjo atau Surabaya. Malam ini, 25 September 2015, main di Tegal Jawa Tengah. Sebelumnya di Kecamatan Jati, Blora Jateng. Pada 21 September 2015 main di Stadion Kraksan Probolinggo. Minggu lalu di Temanggung Jateng.

Jamunya apa bisa kuat main setiap malam? "Nggak pake jamu-jamuan. Yang penting, main dengan hati, ikhlas, diniati untuk menghibur dulur-dulur kita. Makanya, Monata itu selalu berpesan: Jaga tali kompak seduluran kita satu sama lain," kata Sodik.

Nggak tergoda sama penyanyi-penyanyi muda yang cantik dan seksi itu? "Hahahaha.... Kita profesional aja sebagai artis. Kita coba mengekspresikan lirik lagu cinta, patah hati, selingkuh, pertobatan dsb," kata Sodik diplomatis.

Sebagai penyanyi/pemusik yang merintis karir dari bawah, mulai dari tukang check sound, Sodik tahu benar jatuh bangun dalam menembus belantika industri hiburan. Perjuangan yang tidak mudah bagi pria yang wajahnya jauh dari potongan artis itu. Maka, ketika namanya makin berkibar, jadi ikon Monata, Sodik berusaha menjaga kualitasnya sebagai musisi. Juga tingkah lakunya di belakang panggung.

Sampai kapan OM Monata bertahan? "Insya Allah, selama mungkin. Selama masyarakat masih mengapresiasi musik kami, masyarakat terhibur, kami akan terus bermusik. Bagi saya, penggemar Monata itu saudara-saudari kami sendiri," kata Sodik yang punya ciri khas tahi lalat di pipi sebelah kanan itu.

136 Cerpen yang Tak Dimuat Koran

Iseng-iseng saya memperhatikan kiriman cerita pendek (cerpen) dan puisi yang masuk ke email redaksi salah satu koran lokal di Jawa Timur. Wow, cukup banyak! Paling sedikit 5 cerpen sehari. Puisi lebih banyak karena para remaja belasan tahun, anak sekolah, senang sekali menulis puisi.

Kadang-kadang ada 7, bahkan 9, cerpen yang masuk ke Inbox. Saya mencoba membaca cerpen-cerpen itu (puisi cuma lihat sambil lalu). Gak jelek-jelek amat sih! Umumnya penulis pemula yang masih SMA atau mahasiswa masih lemah di teknik, penokohan, hingga EYD.

Beberapa penulis cerpen malah tidak menggunakan huruf kapital sama sekali. Boleh saja anti-EYD tapi jangan di surat kabar konvensional. Sudah pasti langsung dibuang ke tempat sampah alias trash, kemudian di-delete hingga hilang selamanya. Sayang, cerita yang bagus jadi sia-sia karena si penulis tidak mau mematuhi EYD. Saya sering bilang EYD ini ibarat rambu-rambu lalu lintas yang harus dipatuhi ketika kita berkendara di jalan raya. Sebengal-bengalnya orang, dia tak boleh melawan arus atau nyelonong saat lampu merah.

Anggap saja sehari 5 cerpen yang masuk. Satu minggu 35 cerpen. Satu bulan 140 cerpen. Ini baru satu surat kabar kelas lokal. Belum koran nasional macam Jawa Pos atau Kompas atau Media Indonesia atau Koran Tempo. Di koran-koran nasional pasti cerpen yang masuk lebih banyak lagi. Biasanya penulis-penulis tertarik dengan honor besar di koran besar pula.

Nah, yang namanya cerpen dan puisi itu dari dulu hanya dimuat di koran edisi hari Minggu. Itu pun tidak semua koran punya ruang sastra. Surya sudah lama menutup ruang sastra. Memorandum tak punya. Surabaya Post tak ada, bahkan kayaknya koran lawas ini tidak terbit lagi. Artinya, dalam sebulan hanya 4 cerpen yang bisa dimuat.

Lantas, bagaimana nasib 136 cerpen yang tidak dimuat di surat kabar itu? "Hilang," kata bang Jos, wartawan senior, mantan redaktur cerpen dan puisi di sebuah koran di Surabaya. "Otomatis kita anggap naskah-naskah itu dikembalikan ke tangan penulisnya."

Sang redaktur macam bang Jos ini tak perlu capek-capek menulis email pengembalian naskah segala. Berikut alasan-alasan mengapa cerpen itu tidak dimuat. Alasan yang biasanya cuma basa-basi saja. "Semua penulis cerpen pasti sadar bahwa peluang naskahnya untuk dimuat di koran sangat kecil. Makanya selama ini tidak pernah ada komplain. Biasanya komplain itu kalau ada cerpen yang pernah dimuat di satu koran dimuat lagi di koran lain lagi. Atau soal plagiasi alias copy paste," kata sang editor yang juga ahli bahasa Indonesia itu.

Di era internet dan media sosial ini, rupanya media massa cetak, khususnya surat kabar, masih jadi pilihan utama para penulis cerpen dan puisi untuk publikasi karya-karya mereka. Bukankah ada blog yang bisa memuat cerpen-cerpen itu setiap saat? Berapa pun jumlahnya? Teman-teman cerpenis itu juga rata-rata punya blog untuk publikasi karya sastra mereka.

"Tapi kepuasannya lain kalau cerpen saya bisa dimuat di koran," kata seorang penulis cerpen kepada saya.

"Karena ada honornya, sementara di blog gratis?"

"Nggak begitu juga. Honor itu penting tapi bukan semata-mata honor yang kami cari. Cerpen yang dimuat di koran itu kan ada proses seleksi, sedikit editing dari redaktur, ada gambar ilustrasi, dsb. Beda dengan di blog yang bisa dicemplungi naskah apa saja semau kita," kata penulis yang karyanya saya nilai rata-rata 75 itu.

Saya jadi ingat majalah-majalah lawas era 1980an dan 1990an macam Anita Cemerlang atau Horison yang hampir seluruh halamannya diisi cerpen. Setelah 2000, majalah-majalah pemuat cerita fiksi itu hampir tidak ada lagi. Horison masih ada, tapi terbit tidak teratur. Cerpen-cerpen yang dimuat pun umumnya karya penulis-penulis senior. Majalah-majalah yang sebetulnya makin banyak dan beragam justru tak lagi memberi tempat untuk cerita pendek, novelet, puisi, dan sejenisnya.

Bagaimana kalau dibuat tabloid harian yang isinya khusus cerpen dan puisi?

"Gampang banget. Gak butuh wartawan, gak butuh liputan capek-capek ke lapangan. Cukup 2 redaktur dan beberapa layouter. Dan naskah yang masuk pasti membanjir. Tapi dijamin usia tabloidnya tidak sampai satu bulan," kata redaktur sastra itu tadi.

"Kok bisa?"

"Siapa yang mau membeli koran yang isinya cuma cerpen? Hehehe... Terus duitnya dari mana untuk membayar honorarium penulis setiap hari? Mana ada perusahaan yang mau pasang iklan di media sastra?" katanya lantas tertawa ngakak.

24 September 2015

Indonesia tanpa Buyung Nasution



Sulit dibayangkan Indonesia tanpa Adnan Buyung Nasution. Sang pendekar hukum yang baru meninggalkan kita ini, dalam usia 81 tahun, terlibat hampir di semua bagian penting perjalanan bangsa ini. Mulai orde lama, awal orde baru, pertengahan orde baru, jelang kehancuran orde baru, awal reformasi, ganti presiden beberapa kali dari Habibie, Gus Dur, Mbak Mega, SBY, dan terakhir Jokowi.

Kiprah Bang Buyung sejak dulu, dalam bahasa wartawan, selalu memenuhi rukun iman jurnalistik. Selalu layak diberitakan. Gerak-gerik, intonasi, pernyataan-pernyataan, manuver, gebrakan, selalu layak berita. Dan selalu menarik dibaca. Kita dibuat terpukau, takjub, dengan kiprah sang advokat yang seolah tak mengenal rasa takut.

Di ruang pengadilan Bang Buyung meledak-ledak saat membela terdakwa yang dituduh subversi atau makar. Ini dakwaan serius di era orde baru. Sang terdakwa, berikut pembelanya, setiap saat bisa disukabumikan oleh aparat negara orba. Tapi Bang Buyung percaya bahwa hidup mati ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan penguasa orde baru.

Sudah lama saya menyimpan kliping majalah Tempo edisi 18 Oktober 1975. Cerita tentang Buyung Nasution, saat itu beliau 21 tahun, yang baru keluar dari penjara. Buyung Nasution ditahan pada 17 Januari 1974 karena dituduh melawan penguasa orde baru pimpinan Jenderal Soeharto.

"Doa saya terkabul. Saya bisa bermalam takbiran bersama keluarga, berziarah, dan berlebaran sebagaimana orang bebas lainnya," kata Bang Buyung yang ditangkap bersama 11 mahasiswa lain selepas peristiwa Malari itu.

Dipenjarakan dengan tuduhan yang mengada-ada, dicari-cari, membuatnya semakin gigih melawan ketidakadilan di negeri ini. Lewat lembaga bantuan hukum (LBH) yang dia dirikan. "Saya jadi lekas iba terhadap orang yang ditahan. Coba bayangkan. Mereka ditahan 7 sampai 10 tahun tanpa proses. Sedang mereka belum tentu bersalah."

Pengalaman dicokok dan dibui pada inilah yang kemudian menjadi bekal bagi Bang Buyung dalam berkiprah secara konsisten di bidang hukum, demokrasi, dan HAM hingga akhir hayatnya. "Saya harus memberi contoh sebagai pemimpin yang relatif muda, berwatak, punya pendirian, menanggung risiko dengan berani, serta ikhlas," ujar Buyung Nasution kepada wartawan Tempo Harun Musawa dan Slamet Djabarudi.

Sejarah akhirnya mencatat betapa Bang Buyung sangat konsisten dalam perjuangan menegakkan demokrasi dan HAM, tak kenal lelah, meski sering kali ditelikung teman sendiri. Saya membaca berita-berita lawas tentang Bang Buyung dan ternyata semuanya sejalan dengan pernyataan beliau pada awal 1974 itu.

Maka, ketika menerima kabar kematian Bang Buyung, saya merasa sangat kehilangan. Bangsa Indonesia sangat kehilangan sang pendekar hukum, demokrasi, dan HAM yang telah mewakahfkan sebagian besar hidupnya untuk Indonesia. Saya sulit membayangkan Indonesia tanpa Buyung Nasution!

Selamat jalan Bang Buyung!

Orang Kristen yang Makin Nginggris

"Bung, ikut ibadah raya di Surabaya! Pastornya asyik dan terkenal!" ajak saya punya teman.

"Malas. Musiknya rock, keras, jingkrak-jingkrak, kayak konser pop di stadion," ujar saya setengah bercanda tapi serius.

"Asyik musiknya. Profesional. Semangat terus. Gak akan ngantuk," kata teman serani aliran karismatik yang memang tidak mengenal tata krama musik liturgi ala Katolik itu.

Intinya, saya menolak secara halus karena memang tidak berminat ikut ibadah raya, kebaktian kebangunan rohani, jamahan kasih Tuhan, curahan roh kudus, sungai sukacita, army of God, atau apa pun namanya. Istilah yang sangat khas aliran karismatik.

Terakhir, saya ikut ibadah raya perayaan Natal di Rutan Medaeng, Sidoarjo, jauh sebelum tanggal 25 Desember 2014. Aneh, natalan kok sebelum 25 Desember? Bukankah masih masa Adventus?

Tapi pertanyaan atau gugatan liturgis ala Katolik ini sudah tidak laku di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Sebab gereja-gereja aliran jingkrak-jingkrak dan keplak-keplok tengah mendominasi ruang publik dan ruang iklan di surat kabar.

Selain jingkrak-jingkrak dan musik rock yang keras (bisa bikin telinga rusak), penggunaan kata, frase, atau kalimat bahasa Inggris makin menonjol di lingkungan gereja-gereja di Indonesia. Khususnya aliran protestan, lebih khusus lagi karismatik. Makin nginggris, makin banyak kata-kata English, makin hebatlah pendetanya. Oh, ya, pendeta pun sudah lama diganti pastor atau reverend.

"Pendeta itu biasanya di gereja-gereja lama kayak GKJW, GKI, atau GPIB. Philip Mantofa yang terkenal itu lebih cocok disebut pastor. Anda kayaknya ketinggalan informasi tentang perkembangan gereja-gereja baru yang modern," kata teman lama yang pintar bahasa roh itu.

"Apa bedanya pendeta dan pastor?"

"Perbedaannya banyak. Persamaannya ya sama-sama melayani jemaat Allah."

"Sama-sama menikah juga?"

"Ya iyalah. Yang tidak menikah itu pastornya orang Katolik. Pastornya orang karismatik ini tidak pakai jubah kayak romo-romo Katolik. Biasanya pakai jas, dasi, pakaian bermerek... ala pengusaha sukses dan kaya."

"Oh ya, saya ingat. The successful Bethany family."

Begitulah obrolan santai yang main-main tapi serius di Sidoarjo minggu lalu. Beberapa menit lalu saya nggowes sepeda tua di jalan utama Surabaya yang sepi. Maklum, salat Idul Adha berjemaah di mana-mana disusul penyembelihan hewan kurban. Saya lalu membaca baliho besar di pinggir jalan.

Iklan itu kira-kira begini: "Army of God! Winning a Generation of God!"

Wow, luar biasa! Mulanya saya kira ada perayaan besar, KKR, yang menghadirkan pendeta terkenal, eh pastor, dari Amerika Serikat atau Kanada atau Inggris atau negara asinglah. Atau konferensi internasional di Surabaya. Saat membaca koran, saya jadi tahu bahwa pembicaranya Philip Mantofa dan Sumiati Supit. Asli Indonesia, bukan bule.

Lantas, mengapa harus pakai istilah-istilah Inggris yang menggelegar begitu? Tidak adakah kata atau kalimat Indonesia yang cocok? Mungkin beginilah wajah gereja kita di era globalisasi ini. Jauh berbeda dengan gereja-gereja pribumi tempo doeloe yang berjuang keras untuk menghapus citra sebagai agamane wong Londo (agamanya bangsa Belanda).

23 September 2015

Orang Prancis Buta Bahasa Inggris

Anda tidak lancar berbahasa Inggris? Padahal sudah ikut pelajaran bahasa Inggris sejak SD, SMP, SMA, universitas? Tak usah malu Bung! Wuakeh tunggale, kata orang Jawa.

Sebagian besar orang Indonesia memang begitu. Terlalu berlebihan kalau orang Indonesia dipaksa lancar berbahasa Inggris seperti bulu-bule British atau USA yang sejak bayi sudah ber-English ria. Sama susahnya dengan mengharap orang Amerika fasih berbahasa Indonesia tanpa aksen bule.

Orang Indonesia tidak sendiri. Di dunia ini ternyata banyak bangsa yang bukan English speaking nation sangat kesulitan berbahasa Inggris yang memang gak gampang itu. Orang Jepang dari dulu kepontal-pontal berbahasa Inggris. Tiongkok malah ingin menjadikan bahasa Mandarin sebagai bahasa dunia.

Beberapa teman wartawan asal Tiongkok yang bekerja di surat kabar berbahasa Mandarin di Surabaya kecele karena ternyata hanya sedikit orang Surabaya bisa berbahasa Mandarin. Itu pun sebatas warga keturunan Tionghoa. Yang Tionghoa pun belum tentu bisa berbahasa Mandarin ala Beijing ren.

Kemarin saya tertarik membaca berita di ESPN tentang Anthony Martial, pemain Manchester United asal Prancis yang fenomenal itu. Usianya 19 tahun, transfernya dari Monaco memecahkan rekor untuk pemain remaja di Liga Inggris: 36 juta pound. Martial diyakini bakal melejit sebagai penyerang paling berbahaya di Inggris.

Yang bikin saya tertarik buka soal sepak bola dan kehebatan Anthony Martial. Tapi ketidakmampuan pemain tim nasional Prancis ini berbahasa Inggris. Pelatih Louis van Gaal pun meminta bantuan dua pemainnya, Morgan Schneiderlin dan Marouane Fellaini, sebagai penerjemah saat latihan. Begitu pula ketika Tuan van Gaal menyampaikan instruksi tentang taktik, strategi, filosofi dsb.

Van Gaal geleng-geleng kepala karena pemuda Prancis ini tidak paham sama sekali bahasa Inggris yang paling sederhana sekalipun. Van Gaal berkata:

"He cannot speak English, so I have to speak French with him and I need help with that from Fellaini and Schneiderlin."

Hehehe.... Saya ketawa sendiri membaca pernyataan Louis van Gaal tentang pemain andalannya itu. Ternyata... oh, ternyata... orang Eropa pun sangat kesulitan berbahasa Inggris. Sama-sama di benua biru. Sama-sama punya kultur yang sama. Gaya hidup sama. Ada kemiripan antarbahasa-bahasa di Eropa. Tapi tetap saja Martial kesulitan menangkap English di tanah Inggris.

Apakah anak-anak sekolah di Prancis tidak diajari bahasa Inggris? Awak tak tahu. Tapi naga-naganya bahasa Inggris tidak dianggap penting di Prancis. Bahasa Prancis punya kelas tinggi, setara, bahkan lebih tinggi daripada bahasa Inggris. Lalu buat apa anak-anak Prancis diajari bahasa Inggris?

Di Surabaya pun saya sering melihat artis-artis Prancis yang hendak tampil di konser musik, pelukis, budayawan, lebih suka menggunakan bahasa Prancis saat konferensi pers. Kemudian diterjemahkan staf Pusat Kebudayaan Prancis yang wong Jowo. Saya yakin mereka bisa berbahasa Inggris tapi lebih cinta bahasa nasionalnya.

Lain Prancis, lain Indonesia. Orang Indonesia, khususnya di kota-kota besar, saat ini justru makin tergila-gila dengan bahasa Inggris. Istilah-istilah English berhamburan di ruang publik. Nama-nama perumahan hampir semuanya pakai English. Kata, frase, potongan ungkapan Inggris dihamburkan di mana-mana. Apalagi di era media sosial macam ini.

Anehnya, bahasa Inggris yang berkembang di Indonesia hanya sebatas English sepotong-sepotong. Bukan bahasa Inggris utuh untuk percakapan ala orang British.

"Saya lagi on the way, entar ada meeting till 12, kemudian kita lunch bareng di Garden Palace. Okay bro?" begitu ujaran khas teman saya. Saya perhatikan, (hampir) semua kalimatnya selalu ada bumbu-bumbu Inggris. Bumbu-bumbu Jawa malah jarang muncul.

Tentu saja kita tidak perlu ekstrem macam Anthony Martial dari Prancis atau beberapa teman Tiongkok yang tidak mau tahu bahasa Inggris. Pelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah sudah bagus. Tinggal mutu percakapannya saja yang diperbaiki. Tapi, poin paling penting yang ingin saya kemukakan adalah: cintailah bahasa Indonesia!

Bagaimana mungkin bahasa Indonesia jadi bahasa dunia, international language, kalau orang Indonesia sendiri menganggap bahasanya sebagai bahasa inferior kelas inlander?

19 September 2015

Istilah CINA di Majalah Tempo

Beberapa saat lalu saya ngobrol dengan Prof Philip K Widjaja, tokoh Tionghoa sekaligus ketua Walubi Jatim, di tempat persemayaman jenazah RS Delta Surya Sidoarjo. Prof Philip didampingi beberpa pengurus Walubi Jatim. Kami melayat jenazah Pandita Nugroho Notodiputero, rohaniwan Buddha sekaligus ketua Walubi Sidoarjo, yang meninggal pada Sabtu 12 September 2015.

Cukup banyak hal menarik yang disampaikan Prof Philip sembari makan kacang goreng dan minum air putih kemasan gelas itu. Tentang UKM di Sidoarjo yang terancam MEA awal 2016. Buruh yang terus-menerus minta kenaikan UMK, sementara pengusaha sedang kesulitan. Sistem pendidikan nasional yang telanjur salah kaprah.

Beban anak-anak sekolah yang berat. Memikul tas besar berisi begitu banyak buku pelajaran. Sorenya ikut bimbel (bimbingan belajar). Sekolah kejuruan (SMK) yang hanya mencetak tukang dan pekerja. "Kok pemerintah gak mikir mencetak pencipta lapangan kerja?" katanya.

Prof Philips K Widjaja juga gundah karena majalah Tempo masih konsisten menggunakan istilah CINA dalam semua tulisannya. Terakhir membahas masuknya pekerja asal Tiongkok yang dianggap mencaplok kesempatan kerja warga lokal. "Saya sudah tulis surat pembaca dan dimuat Tempo edisi minggu ini," katanya.

Di Jawa Timur, khususnya Surabaya, koran-koran sudah lama sekali menggunakan istilah Tionghoa untuk Chinese dan Tiongkok untuk Cina atau China (People Republic of China). Disebut juga Republik Rakyat Tiongkok. "Di Jawa Pos Group ada Pak Dahlan Iskan yang sangat paham soal ini. Majalah Tempo yang masih tetap menggunakan Cina," ujarnya seraya tersenyum pahit.

Kembali dari melayat tokoh Buddhis yang juga pelopor barongsai di Sidoarjo itu, saya buru-buru mencari majalah Tempo edisi 20 September 2015. Betul memang, Prof Philip K Widjaja dan David Herman Jaya atas nama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa mengingatkan kembali keputusan presiden nomor 12 tahun 2014 tentang pencabutan surat edaran presidium kabinet Ampera nomor SE/06/PRESKAB/6/1967.

Inti kepres itu mengubah penyebutan TJINA atau CHINA atau CINA menjadi orang dan komunitas TIONGHOA. Adapun penyebutan negara Republik Rakyat China menjadi Republik Rakyat Tiongkok. "Kami sangat mendambakan kata CINA sudah tidak digunakan. Hal ini sejalan dengan yang diamanatkan dalam keputusan presiden tersebut," kata Prof Philip K Widjaja.

Memang tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah berakar selama 30 tahun. Kata CINA yang awalnya diniatkan untuk memberi stigma negatif lama-lama jadi netral. Apalagi bagi generasi muda yang tidak mengalami kisruh politik pada transisi Orde Sukarno ke Orde Suharto. Bahkan tidak sedikit tokoh Tionghoa sendiri yang justru menganjurkan penggunaan kata CINA - seperti Dr Jaya Suprana.

Majalah Tempo pun tentu punya pertimbangan kuat mengapa yang dipakai CINA, bukan Tiongkok, bukan Tionghoa, bukan CHINA, bukan CHINESE. Kita tahu majalah Tempo ini paling teliti dalam memilih kata.

Kalau tidak salah ingat, Tempo bahkan mengadakan seminar khusus untuk membahas polemik kata Cina, China, Tiongkok, Tionghoa, dsb. Tidak ada kesimpulan yang tegas karena pakar-pakar berbeda pendapat secara tajam. Pakar yang pro CINA antara lain Remy Sylado menang tipis karena jumlahnya lebih banyak.

Maka Tempo pun tetap bersemangat menggunakan kata CINA. Tak peduli keputusan presiden nomor 14 tahun 2014 tanggal 12 Maret 2014 yang meminta bangsa Indonesia tak lagi menggunakan CINA atau CHINA. "Saya tidak yakin surat pembaca Prof Philip akan mengubah keputusan redaksi Tempo," kata saya.

"Ya, saya tahu Tempo punya sikap sendiri. Tapi saya juga percaya Tempo itu majalah yang independen, antidiskriminasi, serta mendorong kemajuan bersama NKRI yang kita cintai," ujar Prof Philip yang asli Kota Malang itu.

Saya kemudian membolak-balik halaman majalah Tempo yang memuat komplain komunitas Tionghoa itu. Di halaman 89, berita soal kereta cepat, Tempo menggunakan kata CINA dan TIONGKOK secara bergantian. Semacam sinonim untuk variasi kata. Mungkin surat pembaca Prof Philip K Widjaja, yang notabene teman dekat beberapa tokoh senior Tempo, salah satunya Bambang Harimurti, sudah mulai dipertimbangkan.

18 September 2015

Tidak Perlu Salam Panjang di SMS




Kebiasaan mengucapkan salam kepada orang lain itu bagus. Tapi, kalau salamnya kebanyakan, malah tidak bagus. Satu macam salam saja sudah cukup. Kalau sudah bilang assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya, tidak usah salam sejahtera untuk kita semua", selamat pagi, syalom, om swasti astu, namo buddaya, rahayu poro sutrisno... dan entah apa lagi.

Ucapan "salam sejahtera untuk KITA semua" tidak tepat dan aneh. Tidak wajar kalau orang memberikan salah kepada dirinya sendiri. Seharusnya "salam sejahtera untuk saudara sekalian" atau "salam sejahtera untuk bapak, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, dst".

Dari dulu saya geleng-geleng kepala mendengar "salam sejahtera untuk KITA semua".

Ini contoh kalimat yang logikanya rusak. Padahal, "salam sejahtera untuk kita semua" itu selalu diucapkan pejabat-pejabat setelah "assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh". Bagi saya, yang bukan Islam, assalamu'alaikum sudah cukup. Salam itu artinya universal meskipun sangat islami.

Saya perhatikan, kebiasaan menyampaikan salam yang panjang ini terbawa (sebagian) orang Indonesia ketika menulis pesan pendek atau SMS. Semua orang tahu SMS itu short message service. Pesannya harus pendek. Kalau tidak pendek, ya bukan SMS. Tapi LMS: long message service alias pesan panjang.

Sesuai namanya, SMS itu tidak boleh panjang. Karakter yang disediakan di HP terbatas. Standarnya 120 atau 140 karakter. Meskipun saat ini sebagian besar HP mengakomodasi "SMS panjang" (istilah yang aneh: SMS kok panjang), pesan pendek di telepon genggam harus pendek dan padat.

Kalau SMS-nya terlalu panjang, huruf-hurufnya bisa berubah menjadi cacing. Inilah yang selalu terjadi ponsel BB saya yang memang karakternya dibatasi 140. Sekitar satu jam lalu misalnya SMS di ponsel alternatif saya tidak terbaca. Yang muncul cuma cacing-cacing yang nggak karuan. Saya pun meminta si pengirim untuk mengirim ulang SMS itu di ponsel satunya yang bisa memuat banyak karakter.

Oalah, ternyata salamnya kepanjangan. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh... selamat pagi." Isi SMS itu malah nggak penting sama sekali.

"Orang Indonesia memang cenderung salah menempatkan diri. Tidak paham hakikat SMS sebagai pesan pendek. Salamnya sering dipanjang-panjangin," kata Dr Djuli, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya, dalam sebuah seminar kebudayaan di Sidoarjo belum lama ini.

Ada baiknya to the point sajalah kalau menulis SMS. Salam yang panjang seperti "assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" dihindari saja di SMS. Gara-gara mementingkan salam, pesan inti malah jadi cacing.

17 September 2015

Seorang jamaah calon haji

Begitu antara lain berita siang ini di Metro TV. Seorang jamaah calon haji.

Atau: seorang calon jamaah haji?

Beda dengan bahasa Inggris (dan bahasa-bahasa Barat) yang mapan, bahasa Indonesia memang masih sangat labil. Pakar bahasa, praktisi media, editor, penulis, sastrawan... belum bersepakat: calon jamaah haji atau jamaah calon haji?

Jamaah atau jemaah? Jemaah atau jemaat? Mengapa jemaat justru selalu dipakai di lingkungan kristiani? Sedangkan jamaah dipakai di kalangan muslim? Padahal kata ini sama-sama diserap dari kata bahasa Arab yang sama. Aturan transliterasi bahasa Arab yang baku bagaimana?

Jika ditanya orang Amerika, Belanda, Inggris, Spanyol, Jerman, Tiongkok... tentang jamaah, jemaah, jemaat, kita menjawab apa?

Sulit nian bagi bahasa yang tak punya pakem mau dipaksakan jadi bahasa internasional. Selain kota katanya yang memang miskin. Sebagian katanya justru serapan dari bahasa-bahasa asing dan bahasa daerah.

Saya selalu terganggu setiap kali mendengar "seorang jamaah calon haji" di televisi. Seorang + jamaah.

Setahu saya, yang namanya jamaah atau jemaah atau jemaat itu jamak. Lebih dari satu orang. Kok satu orang dibilang jamaah? Mengapa tidak dipakai saja seorang calon haji?

Bagaimana kalau si calon haji itu sudah pernah naik haji? Tapi naik haji lagi yang kesekian tahun ini? Apakah dia disebut juga calon haji? Sudah haji kok masih disebut calon haji?

Bahasa Indonesia Miskin Kata

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan bilang bahasa Indonesia sulit jadi bahasa internasional. Sebab, kosa katanya miskin. Dibandingkan bahasa Inggris, jumlah kata di kamus bahasa Indonesia sangat jauh dibandingkan Inggris. Satu banding sepuluh!

Tahun 2014 jumlah kata bahasa Indonesia 101.611. Bahasa Inggris satu juta lebih. Setiap tahun lema Inggris bertambah sekitar 8.500, kamus bahasa Indonesia nyaris tidak banyak bergerak.

Kalaupun ada tambahan kata, biasanya cuma serapan dari bahasa Inggris. Contoh: edukasi, reduksi, degradasi, eliminasi, stagnan, akun, konstan, stan, ekspektasi, sosialisasi... dsb.

Anehnya, kata-kata serapan asing ini belakangan justru menggusur kata-kata lama yang sudah membumi. Contoh: "Masyarakat perlu diedukasi untuk mengantisipasi kebakaran." Kalimat ini dimuat di koran terbitan Jakarta kemarin.

Kata EDUKASI lebih sering dipakai ketimbang DIDIK - MENDIDIK - PENDIDIKAN - DIDIKAN.

Istilah passing grade juga sangat sering muncul di koran-koran Surabaya. Bahkan, banyak berita yang judulnya memakai bahasa Inggris. Bukan sekadar kata serapan, tapi kalimat utuh. Lha, bagaimana mau jadi bahasa internasional?

Sudah lama saya menulis di blog ini bahwa bahasa Indonesia tidak mungkin jadi bahasa internasional. Bukan hanya karena miskin kata. Juga bukan karena terlalu banyak serapan. Tapi karena sikap orang Indonesia sendiri yang sejak dulu meremehkan bahasa Indonesia.

Beberapa menit lalu saya melintas di kampung Tambakoso, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Kampung tambak yang berbatasan dengan Gununganyar, Surabaya, ini sedang disulap jadi pusat hunian modern. Semua perumahan dan apartemen yang sedang dibangun menggunakan nama bahasa Inggris. Kata-kata bahasa Indonesia, apalagi bahasa Jawa, dianggap tidak menjual.

Tapi ya nggak apa-apa. Kalau dipikir-pikir, bahasa Indonesia yang jadi bahasa nasional itu sebetulnya bukan bahasa ibu kita. Bahasa Indonesia cuma bahasa kedua, ketiga, keempat, atau kelima. Wong bahasa ibu (daerah) saja makin dilupakan! Apalagi bahasa Indonesia yang muasalnya dari bahasa Melayu Riau.

15 September 2015

Lintu Tulistyantoro Peneliti Batik di Jawa Timur



"Saya siap dihubungi kapan saja untuk bicara soal batik," kata Lintu Tulistyantoro kepada saya.

Dosen Universitas Kristen Petra, Surabaya, ini memang narasumber paling laris untuk urusan batik. Bicara mengalir, lancar, detail, piawai membabarkan sejarah, motif, hingga perkembangan batik tulis di Jawa Timur. Di sela kesibukannya sebagai dosen, di kampus yang terkenal sangat ketat, Lintu masih suka blusukan untuk menggali kekayaan seni batik tulis kita.

Saking seringnya meneliti batik, Lintu jadi keranjingan mengoleksi batik tulis. Di rumahnya, kawasan Larangan Megah Asri, Kecamatan Candi, Sidoarjo, ada sekitar 200 jenis batik koleksinya. Ada batik sekardangan, batik kenongo, batik encim, setorjo, kedungcangkring, jetis.

Ini yang dari Kabupaten Sidoarjo. Belum batik Madura dan daerah lain di Jatim. Lintu mengaku tidak ngoyo memburu batik-batik unik itu. Tapi berkat kecintaannya yang luar biasa, batik-batik ini seakan membuntuti dirinya. Sehingga koleksi selalu bertambah dari waktu ke waktu.

Lintu punya koleksi batik bikinan tahun 1942, zaman Jepang. Tak ada catatan sejarah tentang batik yang ditemukan di Gresik itu. Tapi, suatu ketika ada orang indigo yang bisa "membaca" riwayat di balik batik tersebut. Konon, batik itu dulu jadi upeti dari pejabat bawahan kepada pejabat di atasnya. Maka, dipilihlah batik yang unggul.

Ada juga batik setorjo asli Sidoarjo. Menurut pendiri komunitas batik Kibas ini, batik setorjo dibuat di Sidoarjo untuk dipakai masyarakat Madura. Orang Sidoarjo sendiri tidak suka batik setorjo. Sebaliknya, di Madura pun tidak ada orang yang membuat batik jenis ini.

"Makanya, batik setorjo itu sangat unik," kata pria yang kenal dekat hampir semua juragan batik top di Jatim itu.

Salah satu daerah yang selalu menjadi perhatian Lintu adalah Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, perbatasan Sidoarjo-Pasuruan. Sejak dulu Kedungcangkring jadi sentra batik yang sangat terkenal di Sidoarjo. Tempo doeloe orang Tionghoa blusukan ke sana untuk berburu batik. Tak heran, banyak rumah-rumah lama yang besar dan megah di Kedungcangkring.

Sayang, kejayaan batik di Kedungcangkring perlahan-lahan surut. Sebagian besar juragan batik kolaps. Harga batik hancur. Warga setempat memilih bekerja di pabrik dan perlahan-lahan meninggalkan tradisi membatik dari leluhur mereka. Belakangan ada usaha mengembalikan kejayaan batik Kedungcangkring, tapi masih tertatih-tatih.

"Kalau kita gali lebih dalam, Kedungcangkring itu sangat menarik. Orang Sidoarjo sendiri banyak yang nggak tahu kalau daerahnya punya tradisi batik yang luar biasa," katanya.

Bagi Lintu, melestarikan batik tak hanya untuk kepentingan bisnis, mengejar materi, tapi melestarikan kebudayaan. Batik sudah menjadi bagian dari manusia-manusia Jawa sejak lahir hingga tutup usia. Si bayi pertama kali bersentuhan dengan dunia luar beralas kain batik. Menggendong bayi pakai selendang batik. Orang meninggal pun diselimuti batik.

Berbeda dengan tekstil biasa, menurut Lintu, orang yang berselimut batik bisa merasa sejuk di udara yang panas. Sebaliknya, merasa hangat di udara yang dingin. Ajaib!

Meski punya ratusan koleksi batik kelas tinggi, Lintu tak ingin disebut sebagai kolektor. Batik-batik itu dia pelajar, dalami riwayat, sejarah, filosofi, hingga perkembangannya untuk kepentingan edukasi. Berkat batik, kehidupan Lintu Tulistyantoro menjadi jauh lebih berwarna. Tidak terkungkung di kampus dengan tugas rutin sebagai dosen yang cenderung mekanis.

"Saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat di banyak daerah. Batik itu bisa menyatukan semua perbedaan di antara kita," katanya.

14 September 2015

Nugroho, Tokoh Umat Buddha di Sidoarjo Berpulang


Minggu siang, 13 September 2015, Bapak Nugroho Notodiputra masih memimpin kebaktian umat Buddha di Vihara Dharma Bhakti, Pondok Jati X/8 Sidoarjo. Orangnya masih sehat, tersenyum, membabarkan dharma dengan santun. Tapi, beberapa jam kemudian, malam harinya, pukul 23.30, Tuhan memanggil hamba-Nya yang setia ini.

"Papa sudah tidak ada," tulis Nico Tri Sulistyo Budi dalam email singkatnya.

Saya hanya tertunduk lesu. Tak bisa bicara apa-apa. Kalau Tuhan sudah berkehendak begitu, maka terjadilah. Rohaniwan Buddhis, aktivis sejumlah ormas di Sidoarjo, salah satunya Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Sidoarjo ini sudah selesai tugasnya di dunia ini.

Sepuluh tahun lebih saya mengenal dekat Pak Nugroho bersama keluarganya. Dimulai dari aksi barongsai dan liang liong pertama di Kabupaten Sidoarjo yang difasilitasi bupati saat itu, Win Hendrarso. Sebagai mantan pemain barongsai, keturunan Tionghoa, Nugroho merasa sudah saatnya Sidoarjo punya barongsai.

"Di Sidoarjo ini ada dua kelenteng. Masa tidak ada satu pun grup barongsai? Kalau ada acara-acara, kita selalu datangkan barongsai dari Surabaya, Pasuruan, dan daerah lain," katanya.

Maka, Nugroho alias Njoo Tiong Hoo ini merintis berdirinya kelompok barongsai Dharma Bhakti. Namanya sama dengan nama vihara yang nunut di rumahnya itu. Beliau kemudian mengajak anak-anak muda yang belum punya kerjaan, anak jalanan, dan siapa saja yang mau berlatih. "Semuanya pribumi. Tionghoanya nggak ada," katanya.

Itulah barongsai satu-satunya di Sidoarjo yang bertahan sampai hari ini. Barongsai yang selalu mengisi acara-acara pemerintah daerah di alun-alun, instansi pemerintah/swasta, sekolah-sekolah, bahkan kegiatan paroki. Barongsai ini pun sering ditanggap ke luar Jawa. Juga ikut berbagai festival tingkat provinsi dan nasional.

Tapi niat Nugroho sebetulnya bukan mencari menang, juara, tapi memasyarakatkan barongsai dan liang liong. Karena itu, dia aktif melatih ibu-ibu PKK, karyawan, tentara, pelajar... dan siapa saja yang mau memainkan kesenian plus olahraga khas Tionghoa itu.

Ini juga yang membuat Nugroho sebetulnya kurang tertarik menanggapi undangan-undangan dari panitia lomba atau festival atau kompetisi. "Buat apa ikut kompetisi, dan juara, tapi pemainnya itu-itu saja? Mending ibu-ibu PKK yang main liang-liong," katanya.

"Sebentar lagi saya ajak tentara dari Kodim 0816 Sidoarjo main barongsai di alun-alun. Naga Loreng namanya. Kami sudah sempat show di Tuban beberapa minggu lalu dan sukses," katanya dengan nada ceria. Nugroho memang diminta Pak Dandim, Letkol Riski, untuk mengajari tentara-tentara main barongsai dan liang-liong.

Sebagai pengurus FORMI, seksi festival, Nugroho sangat sibuk setiap Ahad pagi. Meninjau kegiatan car free day di alun-alun. Tahun ini lebih sibuk lagi karena CFD juga dikembangkan di 18 kecamatan. Pimpinan Walubi Sidoarjo ini pun jadi sangat dekat dengan Pak Wakil Bupati MG Hadi Sutjipto yang sedang kampanye jadi bupati Sidoarjo.

"Bagaimanapun juga Pak Cip itu ketua umum FORMI. Saya pengurus FORMI. Ya, otomatis saya sangat dekatlah sama beliau. Apalagi kami punya banyak program di Sidoarjo," katanya diplomatis.

"Kalau Pak Cip jadi, kayaknya barongsai tambah maju nih!" pancing saya.

"Hehehe... Kita dukung kepala daerah yang dipilih rakyat. Jangan cuma barongsai thok, reog, wayang, ludruk, semua kesenian di Sidoarjo harus hidup. Selama ini saya pontang-panting mengangkat grup reog di Gedangan," katanya.

Selepas reformasi, Pandita Nugroho tampil ke permukaan sebagai representasi umat Buddha sekaligus warga Tionghoa di Kabupaten Sidoarjo. Gayanya yang luwes, ramah, lekas akrab, membuatnya bisa cepat akrab dengan siapa saja. Setiap saat dia bisa dikontak untuk datang ke pendapa.

Setidaknya ada dua keinginan almarhum Nugroho yang disampaikan kepada saya di rumahnya. Pertama, membuat krematorium bersama untuk umat Buddha dan Hindu di kawasan lingkar timur. Tanahnya menggunakan fasum Deltra Praloyo dari Pemkab Sidoarjo. Krematorium itu penting karena selama ini warga Tionghoa biasanya mengkremasi jenazah keluarga mereka di Surabaya atau Juanda (Sedati).

"Di Juanda itu terlalu jauh. Selain itu, pemiliknya TNI Angkatan Laut. Kami ingin mengelola sendiri untuk umat Buddha dan Hindu di Sidoarjo," katanya.

Kedua, membangun sebuah vihara yang layak di Sidoarjo. Vihara Dharma Bhakti di rumahnya, Pondok Jati, selama ini dianggap vihara sementara. Dia ingin umat Buddha punya tempat ibadah layaknya umat beragama lain. "Di Sidoarjo ini ada dua kelenteng, tapi belum ada vihara," katanya.

Membangun vihara sebetulnya tidak sulit. Yang membuat Nugroho kesulitan justru banyaknya aliran di tubuh Budhisme di Sidoarjo. Masing-masing aliran ini ingin punya vihara sendiri-sendiri. Tidak mungkin membangun sebuah vihara yang bisa dipakai semua umat Buddha yang alirannya macam-macam itu.

"Maka, kami masih konsolidasi ke dalam," katanya.

Nugroho khawatir, begitu satu vihara sudah dikasih izin, umat Buddha aliran lain tak akan mudah mendapat rekomendasi pemerintah dan warga untuk membangun viharanya. Orang yang bukan Buddha mungkin berpikir satu vihara saja, yang besar, sudah cukup untuk semua umat Buddha di Sidoarjo.

Orang lupa bahwa Buddha ini mirip Kristen Pentakosta atau Karismatik yang alirannya sangat banyak. Agama yang denominasinya banyak membutuhkan tempat ibadah yang kecil, tapi buaaanyak. Beda dengan Katolik yang gerejanya sedikit, tapi pasti besar untuk menampung ribuan jemaat. Persoalannya, Buddha aliran mana yang didahulukan viharanya?

"Buat saya, yang mendesak itu krematorium. Soal vihara itu belakangan saja. Umat Buddha bisa beribadah, meditasi, sekolah minggu, di mana saja. Tapi kremasi jenazah itu harus ada tempatnya," kata Nugroho.

Selamat jalan Pak Nugroho!

Terlalu banyak kenangan manisku bersama Panjenengan! Seorang rohaniwan, tokoh Tionghoa, yang membuka pintu rumah untuk siapa saja nyaris selama 24 jam. Setiap hari! Selamat berbahagia bersama Sang Pencipta di nirwana!

13 September 2015

Selamat Jalan Begawan Sastra Jawa!



Suparto Brata, sastrawan senior, begawan sastra Jawa, meninggalkan kita untuk selamanya Jumat 11 September 2015 dalam usia 83 tahun. Almarhum sangat getol berkampanye agar pelajar dan mahasiswa Indonesia dibiasakan banyak membaca dan menulis buku. Setiap kali bertemu Pak Suparto, kata-kata yang sama selalu diulang-ulang: baca, baca, baca, tulis, tulis,
tulis. Hanya dengan begitu, bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa primitif yang tidak mengenal peradaban buku.

Entah mengapa, sebulan terakhir ini saya tiba-tiba tertarik lagi membaca beberapa buku dan tulisan Suparto Brata baik yang berbahasa Indonesia maupun Jawa. Mungkin semacam isyarat bahwa sang begawan agar segera menghadap sang Pencipta di surga. Saya pun tersenyum sendiri, geli, membaca celetukannya yang khas di setiap tulisannya.

Sayang sekali, saya tidak sempat mengantar beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir. Saya ketinggalan berita. Lagi pula saya sedang berada di luar kota. Saya hanya bisa mengirim doa dari jauh. Semoga Pak Suparto tenang di alam sana.


Berikut petikan percakapan saya dengan Bapak Suparto Brata di rumahnya, Rungkut Asri III/12, beberapa tahun lalu.

Apa saja kegiatan rutin Bapak setiap hari?

Jam 03.00 saya sudah duduk di depan komputer, mengetik, sampai jam 06.00. Kemudian saya jalan-jalan keliling perumahan ini selama setengah jam. Minum teh, sekadar sarapan, lantas baca buku. Kenapa begitu? Karena yang dibaca mesti ada dan yang ditulis juga mesti ada. Dulu saya selalu menyisihkan Rp 100 ribu per bulan untuk membeli buku-buku. Sekarang masih tetap beli buku, kadang-kadang dikasih teman-teman.

Usia Bapak sudah mendekati 80, tapi tetap produktif menulis.

Saya bersyukur diberi tiga hadiah istimewa oleh Allah. Pertama, saya masih sehat untuk melakukan pekerjaan saya sebagai pengarang. Kedua, saya diberi kesempatan untuk memilih karena saya sekarang bebas. Ketiga, saya masih diberi kesempatan memilih dan membaca buku-buku.

Bapak juga sering menekankan agar anak-anak sekolah dibiasakan membaca dan menulis buku. Ada alasan khusus?

Begini. Membaca dan menulis itu bukan kodrat manusia. Beda dengan melihat dan mendengar. Anak tiga tahun menonton televisi sudah mengerti artinya dan bisa menikmati. Tapi untuk menikmati buku, ya, harus belajar dulu.

Sama dengan mengendarai mobil atau main piano. Untuk bisa mengendarai mobil, cukup latihan beberapa minggu saja. Nah, untuk menggunakan dan menikmati buku dibutuhkan pembelajaran membaca dan menulis. Pelatihan terus-menerus, sehingga menjadi budaya.

Budaya membaca dan menulis itu yang belum ada di sini.

Orang Indonesia memang tidak punya budaya membaca buku. Kita bukan masyarakat pembaca. Di Belanda, misalnya, 100 persen orang dewasa punya budaya membaca dan menulis buku. Bahkan, bukan hanya dalam bahasa Belanda, tapi juga fasih berbicara dan menulis dalam bahasa-bahasa lain seperti Inggris, Prancis, Jerman.

Lalu, bagaimana membangun budaya membaca itu?

Di sekolah. Sejak masuk SD hingga SMA, 12 tahun, sekolah-sekolah seharusnya melatih budaya membaca dan menulis. Ini yang tidak aa dalam sistem pendidikan kita. Ujian nasional (unas), meskipun bodoh, siswa bisa lulus karena bisa ditolong orang lain, misalnya cari bocoran soal.

Sistem ini mengajarkan anak-anak untuk tidak usah bisa membaca dan menulis. Coba kalau soal unas harus dengan menulis proses hingga hasilnya, maka kebocoran tidak mungkin terjadi. Tanpa membaca dan menulis buku, ya, sama dengan anak tiga tahun yang hanya bisa menonton televisi.

Total sudah berapa buku yang Bapak tulis?

(Suparto mengajak kami ke kamar kerjanya. Suparto membuka lemari yang penuh buku. Meja kerjanya pun penuh buku). Kurang lebih 130 buku. Karya pertama saya, Tak Ada Nasi Lain, ditulis tahun 1958. Tadinya tulisan saya selalu ditolak media massa. Saya tidak tahu kenapa. Tapi tahun 1958 itu saya justru terpilih sebagai juara pertama sayembara menulis cerita bersambung di majalah Panjebar Semangat (PS).

Waktu itu oplah PS mencapai 80 ribu eksemplar, jauh di atas media berbahasa Indonesia. Itu juga yang mendorong saya menulis cerita dalam bahasa Jawa karena bisa dibaca banyak orang. Apalagi, saya lebih senang menulis panjang ketimbang cerita-cerita pendek.

Apakah sebagian besar karya Bapak berbahasa Jawa?

Tidak juga. Yang bahasa Jawa sebetulnya hanya 40-an. Masih lebih banyak yang bahasa Indonesia. Bagi saya, menulis dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia sama saja. Yang pasti, saya menulis secara merdeka, bukan pesanan.

Saya ingin karya saya dibaca masyarakat. Buat apa laku, tapi cara pemasarannya tidak benar? (Suparto menceritakan sistem pemasaran salah satu pengarang yang memanfaatkan jalur birokrasi. Bisa kembali modal, tapi sebenarnya tidak dibaca banyak orang).

Dan tidak mudah menjual buku, apalagi bahasa Jawa, dalam kondisi sekarang?

Yah, harus berjuang. Jangan merengek dan menangisi nasib sastra Jawa. Itu dikatakan para pejuang sastra Jawa seperti Esmiet (alm) dan Suripan Sadi Hutomo (alm). Penerbitan buku sastra Jawa itu harus dimodali sendiri oleh pengarang atau simpatisan. Sayang, simpati dari instansi tidak ada. Sedangkan orang kaya hanya ingin kekayaannya bertambah, sedangkan penerbitan buku bahasa Jawa tidak menjanjikan keuntungannya.

Akhirnya, Bapak membiayai sendiri penerbitan buku bahasa Jawa?

Ya, saya biayai sendiri, saya terbitkan sendiri. Saya tidak mau jualan lewat wali kota atau gubernur. Buat apa? Modalnya kembali, tapi tidak sampai ke pembaca. Biasanya, buku dicetak 1.000 eksemplar. Kita yang tanggung 500 eksemplar, sisanya dari teman-teman penerbit.

Jadi, harus ada idealisme untuk melestarikan sastra dan bahasa Jawa?

Bahasa daerah akan lenyap dilindas globalisasi. Bahasa Jawa kalau hanya lisan saja akan cepat berubah, rusak, luntur, dan akhirnya lenyap. Karena itu, buku berbahasa Jawa harus ada. Bahasa Jawa harus ditulis dan ditulis lagi, diabadikan dalam buku, agar dibaca pada waktu sekarang dan yang akan datang. (*)

12 September 2015

Jose Mourinho dipermalukan Everton

Syukurlah, beberapa menit lalu Chelsea disikat 3-1 oleh tuan rumah Everton. Tiga gol diborong oleh Steven Naismith. Sang juara Liga Inggris musim lalu itu dibuat tidak berkutik oleh klub-klub medioker macam Everton.

Mengapa kita harus bersyukur karena Chelsea kalah? Karena inilah cara terbaik untuk membungkam mulut Jose Mourinho. Selama ini pelatih Chelsea asal Portugis itu terlalu arogan dan skema mainnya sangat tidak menarik. Sistem asal menang, parkir dua bus, hanya mengandalkan sesekali serangan balik.

Pertandingan sepak bola menjadi sangat membosankan setiap kali Chelsea bermain. Dengan pemain-pemain mahal, Jose Mourinho tetap saja main bertahan di wilayah sendiri. Tapi, masalahnya Jose selalu menang. Dan itu membuat dia besar kepala.

Ketika melatih Real Madrid, yang punya CR7 Ronaldo, gaya Jose pun sama saja. Main bertahan. Bahkan pernah bertahan total saat melawan Barcelona. Dan menang. Buat apa menang terus tapi main tidak cantik.

Karena itu, tiga kekalahan beruntun Chelsea ini layak kita syukuri. Kecuali teman-teman penggemar Chelsea tentu saja. Kekalahan yang membuat Chelsea makin sulit bersaing jadi juara musim ini.

Kekalahan yang membuat Jose Mourinho sulit tidur nyenyak. Dan mungkin tidak lama lagi akan dipecat.

Catholic Liturgical Music in Indonesia



By Karel Steenbrink
Professor Emeritus in Intercultural Theology at Utrecht University, The Netherlands.



There are no reliable and complete figures about Catholics joining church choirs, but a rough estimate tells us that no activity attracts more participants than singing in choirs. An average large town parish will count some 10-15 choirs, related to the base communities that form the organizational structure of the parish.

Not all choirs are excellent, not all conductors have had a good training and many organ players have problems in adjusting to the space in the great parish church when their choir has its turn to sing. In the large churches in major towns Mass had to be said 5-8 times in a weekend after the 1970s and for most of these services choirs are available. There is no national structure for this activity and we therefore can only sketch some variants here.

Until Vatican II or the early 1960s, Mass was said in Latin and many songs were also in Latin, besides a number of hymns that were used during Mass and also during the evening adoration of the host, called Benediction (in Indonesia often called Salve after the hymn to Mary that was often sung at the end of this devotion). This latter ceremony was never officially abolished but like making confession quickly went into oblivion in the liturgical renewal of the period following Vatican II.

So, Eucharist became more or less the single important community event in parish churches and at Saturday and Sunday it became custom to have a choir leading the community singing during Mass. Lomba paduan suara or competitions of choirs (when possible accompanied with a display of recent and new texts and musical compositions) became from the 1990s a regular part of festive Catholic meetings.

Already in the 1980s for radio and television programmes singing, besides drama had taken over the role of the spoken address by one person. Like the Protestant churches (and in contrast to the Muslim public performance in the media) the Catholics became a singing and performing group.

There is no uniform hymnal for Indonesia. This is related to the long procedure to obtain Vatican approval of the translations. In 1977 a provisional TPE, Tata Perayaan Ekaristi or Order of the Eucharistic Prayer was accepted, after many different texts had been used. Only from Sunday 29 May 2005 was a more or less permanent text available. The hymnals that included these prayers were therefore also for some time experimental only.

In 1970 the Archdiocese of Ende published Syukur kepada Bapa as an Indonesian prayer book, with liturgical and devotional songs and hymns, nearly all translated from European examples.

The Centre for Liturgical Music of Yogyakarta (PML, Pusat Musik Liturgi) published in 1980 Madah Bakti, where most hymns were original in text and many also taken from melodies of Indonesian regions. These hymns on local melodies were about 25% or 150 of the 1980 edition of 600 numbered items.

In the 2000 edition they increased to 270 out of 838 songs. They are called lagu inkulturasi or inculturated hymns. They were created during seminar sessions in regions of Indonesia as different as the Baliem Valley, Kalimantan, Nias, Flores and others. They were, of course, not just copies of traditional music: the texts were mostly Indonesian. They were presented by PML, in most cases with a four-part mixed-chorus arrangement and accompaniment suited for the very popular Yamaha electronic organ.

In the presentation by the choir Vocalista Sonora of PML and sold on tapes, sometimes traditional instruments were used, but most churches who practised these songs would do it with the same technique and style as they apply for all kind of other church hymns.

There have been many debates about the right musical practice for the giant country of Indonesia with its many differences. Traditional songs with a clear religious or even magical connotation could not be used. The same has been the case with songs that were related to flirtation or even sexual activities. Many traditional melodies also were somewhat changed: often extended in order to suit the common practice in churches.

The German musicologist and theologian Thomas Hartman gave a balanced judgment about the process in an interview in 2006:

"Nias shows one of the highest activities of inculturation compared to many areas of the world. But this is mainly due to the efforts of individuals like Fr. Johannes Hammerle or Fr. Hadrian Hess. There is a danger, and that is cultural indifference or falsification. Only people with a strong cultural knowledge of an area should really be the ones conducting intercultural creations on such a high level.

Many conflicts arise; for example out of the work of the Pusat Musik Liturgi – Yogyakarta, who try with good intention to do intercultural work for the entire Indonesian country. In Nias, with the efforts of these individual missionaries, who have advanced to anthropologists and ethnologists, the Church can now even contribute to a certain extend to a conservation program of Nias culture. It would need neutral local Niassan experts, however, to supervise the correctness of such programs and efforts."


The edition of Madah Bakti of 1980 was accomplished in cooperation with the national committee for liturgy. This committee, however, decided in 1987 to start a revision of the hymnal Madah Bakti, and during the process a mostly new hymnal was written, and published in 1993, Puji Syukur, where quite a few hymns of European origin and some others were included, in cooperation with the Protestant foundation YAMUGER (Yayasan Musik Gereja).

Most lagu inkulturasi had disappeared in this new hymnal. Other hymns from Madah Bakti were included here, but sometimes with slightly different wordings. The reactions towards Puji Syukur were mixed: although it was a publication of the national council of bishops, many parishes and even dioceses did not use it, but continued to use Madah Bakti, or local products. Some critics even suggested that Puji Syukur was a ‘Jakarta creation’ and ‘dropped from above’.

In the 1990s photocopying had become very cheap and popular and in many places local committees produced weekly leaflets in photocopy with the liturgical texts and hymns. This has continued the variety of music among the Catholics of Indonesia. As already discussed in chapter 2, the Jesuit Anton Soesanto was a major composer for Puji Syukur.

For Madah Bakti the Javanese Paul Widyawan (conductor of the choir of the catechetical school of Yogyakarta, Vocalista Sonora) and the German-born Karl-Edmund Prier have since the early 1970s made many compositions. They were assisted by people from Flores like Alex and Marcel Beding, the Javanese J. Wahyasudibya, working in Manggarai/Flores, and various teams from the ‘Outer Islands’.

In the 1980s, notwithstanding the use of the new hymnal Madah Bakti, the liturgical style of music used in churches remained uncertain. In various choirs gospel music that was close to pop or even rock music became popular, especially among young singers. On 9-10 February 1991 a more or less ‘national’ conference was held on the topic in Yogyakarta at the Centre for Liturgical Music, PML, with participants from Palembang and many places in Java. Here it was decided that there should be some kind of solemn liturgical style.

Music from various regions could be used and also modern melodies, but without a beat as is quite often used in more Evangelical or Pentecostal Churches. The participants tried to write a definition for liturgical music, but could not reach a consensus between the extremes of (too) modern pop music and a traditional rather dull style of European hymns.

In several places in Java, especially the Pugeran Church in Yogyakarta and the Church of Cigugur in West Java, gamelan is used for liturgical songs in Javanese style. This, however, has not found broad acceptance.

In Yogyakarta church services in Javanese are only at an unpopular very early hour or 6.00 AM: youngsters do not like this traditional style, culturally Javanese but considered somewhat outdated. Besides, young people came later to Mass than the older and traditional people. Below we will discuss the new and quite exceptional popularity for the Javanese style of liturgy in Ganjuran.

In 1991 the old pre-independence hymnal of the Southeastern Islands was published again as Yubilate and republished in a revised version in 2002. It contained 582 hymns and prayers. Many hymns were from the 1970s Flores hymnal Syukur kepada Bapa. There are special hymnals for Sikkanese, already since the pre-independence period (Cantate/Lalang SeuI, republished in 1998 as Kantate, Ngaji Kantar Sara Sikka).

Since 1980s various edition of a Lionese hymnal, Jala da Gheta Surga were published. Bishop Willem van Bekkum stimulated the compositions in Manggarai that are collected as Sere Sarani. In Timor a hymnal in Tetum has been composed, Dakado, while the songs written by Protestant missionary Piet Middelkoop also are loved by the Catholics in Timor. In Sumba there is the hymnal Ama Ma Zemme. This is only a short list to mention some of the more widespread texts and musical compositions that indicate the ongoing process in the linguistic very fragmented territories of Southeast Indonesia.

Catholic Church in East Java



By Karel Steenbrink
Professor Emeritus in Intercultural Theology at Utrecht University, The Netherlands.



With 5 million inhabitants (census of 2005), Surabaya was by far the second largest city of Indonesia (before Bandung with 2.7 and Medan with 2.3 million). The city has the greatest harbour and is the gate to East Indonesia.

The diocese of Surabaya is larger in territory than Malang, but in both regions during the pre-independence period most attention by the clergy was given to European and Eurasian Catholics. The excellent schools were all using the Dutch language and only very few schools for the Javanese population were established. During the Japanese administration there were only two Javanese priests in the diocese of Surabaya, sent from Central Java by Bishop Soegijapranata.

In 1948 still 90% of the Catholics were considered as ‘European’ but this declined to 5% in 1960. In the same period the number of Catholics rose from 2,500 to 20,000. In 2004 this number had risen to 150,000. This is still a modest number equating to some 0.6% of the population. There are many Chinese Catholics, a good number from East Indonesia (Kai, Tanimbar and many from Flores), besides Javanese Catholics.

In 1971 the diocese of Surabaya cooperated with its neighbour of Malang to open a major seminary or theological school in Malang. However, in August 2009 a major seminary Providentia Dei was opened as part of the Catholic University Widya Mandala in Surabaya, because the energetic Bishop Vincentius Sutikno Wisaksono wanted to train future priests in an institution of his own diocese

In the 1930s a place of pilgrimage has been created in Puh Sarang near Kediri. Architect Henry Maclaine Pont designed it, partly imitating the 13th century architecture of the Kingdom of Majapahit. There was a small church, a meeting hall, an open air theatre, a Way of the Cross. In 1997 a great restoration and extension started. A meeting hall was constructed in the same style as the former one, but ten times bigger.

There was a new Lourdes grotto, a building with images of the fifteen mysteries of the Rosary, a camping ground for young pilgrims and also a columbarium for cinerary urns. After the Catholic ban on cremation was lifted in 1963, many Chinese Catholics wanted to cremate their deceased. This new facility gives Chinese and others a new way to deposit the ashes of their beloved in a religious way. The small old Way of the Cross has been supplemented by another one, a full size copy in bronze statues of the large monument in Lourdes. The renewed compound was inaugurated in 2000.

The north coast of East Java is home to many of the largest Muslim boarding schools or pesantren of the country. In this region several riots took place that can be considered as the first in a series that preceded the fall of Soeharto in 1998 and the Moluccan and Poso conflicts between Muslims and Christian of 1999-2003. On 10 October 1996, 24 churches in East Java, were set on fire or destroyed, with the city of Situbondo as the main centre of the riots.

In Situbondo also some Catholic and Protestant schools and the Court of Justice were set on fire. The latter building was one of the centres of agitation, because a lunatic, who had made blasphemous assertions concerning the Prophet Muhammad and the Qur’ān, had been sentenced only to five years imprisonment, while an angry mob demanded the death penalty. The riots, however, were so well organized, with trucks carrying youngsters, using petroleum for deliberate arson in the buildings, that most observers concluded that deliberate planning must have been the cause of the riots.

Not the Christians were the real target of the conspiracy, but the powerful Muslim leaders, who were to be blamed and charged by some army leaders, who prepared for a good position in ‘Suharto's end-game’, because President Suharto was believed to be at the end of his political career.

As a different reason for these riots the more aggressive propaganda of Evangelical and Pentecostal Christians has also been mentioned, as well as the fact that most Christians were of Chinese descent and were middle class or even rich, while the majority of the population in East Java, especially on the northern coast, is Muslim, poor, and of Madurese descent.

As in many other events of this kind, it was not a long history of Muslim-Christian conflicts that caused these riots, but rather a general sentiment of uncertainty and discontent with the corrupt government of the period which caused these explosions.

A very special sign of reconciliation and harmony between Islam and Christianity was created with the construction of the parish church of the Holy Sacrament next to a grandiose new central mosque in Surabaya, both inaugurated on the same day, 10 November 2000, by President Abdurrahman Wahid, himself a Muslim leader and member of the pesantren community.

Dioces of Malang

The dioceses of Surabaya and Malang have been closely connected since the 1920s. Surabaya was entrusted to the Lazarists or CM, Congregatio Missionis and Malang to one of the branches of the Carmelites. The division was not absolute, especially not after 1960. One of the most impressive persons for the period 1950-2010 was a Lazarist priest, Paul Janssen CM (born 1922) who established a secular institute ALMA, as well as a training college for catechists in Malang.

Janssen was also active in development work, Bhakti Luhur. Another person with national fame is a leader of the Catholic Charismatic movement, Dr. Ioannes Indrakusuma, who established a new branch of the Carmelite religious family and a spiritual centre in West Java, Cikanyere.

Malang was in the colonial times the centre of a vast region of plantations. European planters had houses in this cool town with its good facilities. They sent their children to schools in Malang that was also a centre for Chinese traders. There were many sisters and brothers serving the Dutch-language education in that period. The schools have continued and are still prestigious institutes for education.

The theological school has become an important centre of learning for East Indonesia: several dioceses of Kalimantan have sent their students to this place. SVD candidates from Java and Bali study here. More numerous are the sisters and brothers who have come here for study of theology and spirituality.

This may have been the reason why the diocese of Malang is probably one of the most rich in clergy. Dioceses in the Outer Islands have a ratio of 1 priest serving 3,435 (Pontianak), 3,092 (Ruteng) or even as much as one priest for 6,174 faithful (Sanggau). But Malang had 142 priests or one priest for 621 faithful in 2004.

In the same period there were 441 sisters and 340 religious brothers in the diocese. Some people called the compound of the theological school with its many religious houses therefore the ‘Little Vatican’, a nickname also given to Padang in a former period.

11 September 2015

Sayang, Richie Sambora sudah cabut!

Sayang, Richie Sambora tidak ikut tampil bersama Bon Jovi di Jakarta. Sayang, saya pun sudah lama tak lagi gandrung musik rock yang keras ala Bon Jovi. Maka, saya hanya bisa tersenyum, bangga, dengan band lawas yang dulu pernah saya sukai.

Tersenyum, sekaligus kagum, karena band lawas asal USA ini ternyata masih keliling dunia untuk world concert tour. Saya baca di koran, tiket sebanyak 40 ribu ludes alias sold out. Luar biasa! Bon Jovi gak ada matinya meskipun mr Jon Bon Jovi sudah tua dan tidak ganteng lagi.

Dulu, ketika mahasiswa, saya ikut tertular virus Bon Jovi dari teman satu kos. Bambang asal Ponorogo ini seorang gitaris terkenal di kampus. Dia ikut beberapa band sekaligus: aliran hard rock, jazz, pop, hingga metal. Lagu-lagu Bon Jovi sering diputar ulang-ulang (dari kaset, belum ada CD, apalagi musik digital) agar bisa hafal chord-chord musiknya.

Luar biasa mas Bambang ini. Dasar pemusik berbakat, dalam tempo singkat dia bisa memainkan musik Bon Jovi, Deep Purple, Stones, Van Hallen... seperti aslinya. Kayak copy-paste aja. Sejak itulah saya yang tidak punya dasar-dasar musik rock ikut arus yang berkembang saat itu. Aneh kalau mahasiswa di kawasan kampus tidak suka rock.

Apalagi di tetangga sebelah ada markas La Villa, band rock lokal yang sangat kondang saat itu. Vokalisnya tak lain Anang, anggota parlemen, mantan suami Kris Dayanti, yang sangat terkenal itu. Anang ini sangat fasih membawakan lagu-lagu Bon Jovi. Gitarisnya Richard, kalau gak salah.

Sudah lama saya menganggap Bon Jovi ini sudah habis. Apalagi Richie Sambora, yang dulu posternya saya pasang di kamar kos, sudah keluar. Beberapa kali saya baca berita tentang Jon yang agak negatif. Maka kaget juga ketika mengetahui bahwa Bon Jovi masih manggung keliling dunia, menemui penggemarnya di Jakarta, dan tiket ludes. Mahal pula.

Kayaknya Bon Jovi ini sudah 30 tahun lebih manggung keliling dunia, masih produktif, penggemarnya sudah tiga generasi. Bandingkan dengan band-band kita yang belum genap lima tahun sudah bubar. Industri pop ternyata bisa menghidupi seniman-seniman musik macam Jon Bon Jovi sampai lanjut usia.

Kalau mau, sebetulnya saya bisa saja menonton konser Bon Jovi di Jakarta malam ini. Bisa dengan membeli di jalur calo atau berbekal kartu pers. Sayang, saya sudah lama kehilangan selera terhadap Bon Jovi dan sejenisnya. Makin tua makin sulit bagi saya untuk menikmati musik industri yang memang rukun imannya adalah how to make money!

Toh, saya ikut senang melihat Bon Jovi masih dielu-elukan oleh ribuan orang Indonesia justru setelah usia emasnya. Justru setelah Richie Sambora tidak lagi main! Justru setelah Jon sudah kakek-kakek!

Dirgahayu Bon Jovi!

08 September 2015

Beras Miskin vs Beras Sejahtera

Orang miskin sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat jatah raskin: beras untuk warga miskin. Namanya juga raskin, mutu raskin ini benar-benar jelek. Di Sidoarjo, beberapa desa sering mengembalikan raskin karena banyak kutunya.

"Jangankan untuk manusia, dikasih binatang saja gak pantas," ujar seorang teman yang juga kepala desa di kota petis. "Saya gak tega melihat warga saya makan raskin. Tapi mau gimana lagi? Drop-dropan dari Bulog dari dulu ya selalu beras jelek," katanya.

Beras miskin (raskin) yang jelek ini justru ditunggu-tunggu orang kampung di NTT, khususnya Pulau Lembata. Maklum, beras jauh lebih tinggi nilainya daripada jagung. Sejelek-jeleknya beras, ia masih lebih bagus ketimbang jagung. Makan nasi (dari beras) membuat orang naik derajat. Kayak orang kota yang kaya aja!

Menteri Sosial Khofifah yang arek Surabaya itu beberapa kali datang ke Sidoarjo. Salah satu tujuannya melihat langsung kondisi raskin. Bu Menteri terkejut melihat raskin yang sangat jelek mutunya. "Mestinya Bulog mengirim beras yang layak dikonsumsi," kata mantan pentolan PMII itu.

Setelah blusukan di Sidoarjo, juga daerah-daerah lain, Mensos Khofifah berencana mengganti beras miskin dengan beras sejahtera alias rastra. Beras untuk keluarga sejahtera! Lha, untuk apa keluarga sejahtera dikasih beras yang dulu dijual Rp 1000?

Sebetulnya Menteri Khofifah cuma ganti nama berasnya. Sasarannya sih tetap keluarga miskin. Tapi rupanya Khofifah risi dengan sebutan MISKIN karena gak enak. Saat berada di Desa Kureksari, Waru, Sidoarjo, Khofifah secara resmi mengganti istilah keluarga miskin (gakin) dengan keluarga prasejahtera. Istilah lawas khas Orde Baru yang dulu gencar disampaikan Kepala BKKBN Haryono Suyono.

Prasejahtera artinya belum sejahtera alias masih miskin. Rakyat Indonesia yang sebagian besar prasejahtera, khususnya di luar Jawa ini, dikasih jatah bulanan beras sejahtera (rastra) sebagai jaring pengaman sosial. Khofifah berharap, dengan ganti nama jadi rastra, keluarga miskin, eh prasejahtera tidak lagi digerojok beras kualitas terjelek yang tidak mungkin dijumpai di pasar. Mana ada orang yang mau membeli beras penuh kotoran, banyak gabah, kerikil, dan kadang ada kutunya?

Akankah mutu rastra ini lebih bagus ketimbang raskin? Rasanya sulit. Sebab program raskin itu sejak dulu dimanfaatkan Bulog untuk cuci gudang. Kalau beras-beras jelek itu tidakagi didrop ke desa-desa, mau dikemanakan? Jadi pakan ternak pun susah.

Kelihatan sekali kalau cara berpikir Menteri Khofifah ini kurang subtantif. Cuma ganti nama atau kemasan aja. Kebijakan raskin itu sudah tepat. Yang perlu diubah adalah kualitas berasnya. Kalau sulit menghentikan pasokan beras jelek, ya, sebaiknya diuangkan saja. Diganti uang setara beras kualitas sedangan Rp 8000. Duit itu bisa dipakai membeli beras yang layak dimakan dan kebutuhan yang lain.

Toh, negara tidak akan bangkrut kalau memberikan beras kepada rakyatnya sendiri. Uang untuk program raskin cuma setitik dibandingkan duit rakyat yang dikorupsi pejabat-pejabat, politisi, dan pengusaha hitam.