17 August 2015

Tiongkok masih raja bulutangkis



Syukurlah, masih ada greget bulutangkis di Indonesia. Di sebuah warung kopi di Sidoarjo, kemarin, pengunjung sangat antusias menonton partai final kejuaraan dunia 2015 di Jakarta yang disiarkan langsung Kompas TV.

Suasana di warkop itu cukup heboh. Mirip nonton pertandingan Persebaya 1927 atau Arema. Dari 5 partai, Tiongkok merebut 3 partai sekaligus: tunggal putra (Chen Long), ganda putri Tian Qing/Zhao Yunlei, dan ganda campuran Zhang Nan/Zhao Yunlei.
Indonesia sukses di ganda putra. Hendra Setiawan/M Ahsan mempermalukan Liu Xiaolong/Qiu Zihan dengan 21-17 dan 21-14. Partai ganda laki ini paling seru. Henda/Ahsan begitu cerdik sehingga pasangan Liu/Qiu yang badannya gempal kewalahan. Beberapa orang melompat kegirangan begitu Henda/Ahsan memastikan meraih juara dunia 2015.

"Alhamdulillah, Indonesia menang. Masa China terus! Masa kita dijajah China! Bosan kalau yang menang China China China China," kata cak Amir.

"Wong penduduknya 1,5 miliar, bibit pemainnya banyak. Sementara bibit-bibit pemain bulutangkis kita sedikit," tukas cak Joko.

Masalahnya bukan penduduk banyak atau sedikit, sergah cak Syamsul. Indonesia dulu juga menangan di bulutangkis. Rudy Hartono juara All England 7 atau 8 kali. Kemudian generasinya Alan Budikusumah, Ardy B Wiranata, Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat dsb. Kemudian prestasi bulutangkis kita anjlok drastis. Masih lumayan Henda/Ahsan menang atas Tiongkok.

Namanya juga obrolan warung kopi, analisis badminton ini melebar ke mana-mana. Apalagi kalau sudah menyangkut Tiongkok, Tionghoa, China, dan sejenisnya. Saya cermati masih banyak orang yang iri melihat kedigdayaan Tiongkok di pentas olahraga dunia. Termasuk bulutangkis.

"Ah, seandainya teman-teman di warkop ini sedikit membaca beberapa tulisan lama di blog ini. Tentang perjalanan Tong Sin Fu. Tentang PP 10 yang kontroversial itu. Tentang sulitnya para maestro bulutangkis keturunan Tionghoa mendapat status WNI dsb dsb," batin saya.

Setiap kali mendengar celotehan orang-orang di warkop, pinggir jalan, kampung soal bulutangkis, saya selalu ingat beberapa tulisan di blog ini. Bagaimana pemain-pemain muda dari Hindia Belanda, yang keturunan Tionghoa, terusir dari negara yang kemudian menjadi Republik Indonesia. Kemudian mereka-mereka itu mengajari orang-orang Tiongkok main bulutangkis.

Anak-anak muda Zhongguo, yang orang tuanya pada 1950-an masih sangat miskin, tak punya harta benda, pontang-panting di lapangan, berlatih super keras, agar bisa main bulutangkis. Akhirnya, bulutangkis perlahan-lahan dikenal warga Tiongkok. Dan perlahan-lahan pula pemain-pemain Tiongkok berprestasi di level dunia.

Sebaliknya, di bekas Hindia Belanda, bulutangkis perlahan-lahan makin tidak populer. Makin jarang kita lihat lapangan bulutangkis di kampung-kampung. Beberapa gedung olahraga khusus bulutangkis di Sidoarjo sudah berubah jadi minimarket. Tidak ada lagi pertandingan bulutangkis antarkampung seperti saat saya kecil di NTT dulu.

Salahkah Tiongkok yang berguru bulutangkis pada pemain-pemain kita tempo doeloe? Salahkah Tiongkok kalau saat ini masih merajalela di dunia bulutangkis? Salah siapa kalau Indonesia makin keteteran?

6 comments:

  1. Tiap negara pasti ada pasang surutnya. Tahukah anda bahwa di tahun 1957 dan 1960, ternyata USA pun punya juara Uber Cup! Tiongkok di bagian putri sekarang mengalami penurunan. Malah Spanyol ada Carolina Marin yang juara dunia dua kali 2014 dan 2015. India ada Saina Nehwal. Sejarah Oom Tong Sinfu itu sudah masa lalu. Bulutangkis sekarang makin populer di Eropa selain Denmark, dan negara-negara Asia selain Indonesia, Tiongkok, dan Malaysia.

    Tetapi betul pengamatan Pak Lambertus. Di Indonesia gedung-gedung olahraga sangat jarang. Dulu waktu saya kecil tahun 1980an anak-anak ramai ikut klub Suryanaga, Rajawali, Sakti, dll. untuk latihan bulutangkis, tenis meja, dll. Lha sekarang? Lha pembibitannya bagaimana kalau gak ada yang main?

    ReplyDelete
  2. Betul betul... Banyak juga negara2 yg prestasi olahraganya sangat stabil kayak Brasil, Argentina, Jerman... di sepak bola. Kompetisi, stok pemain, pembinaan usia dini, dan komersialisasi sangat diperhatikan. Anehnya, Indonesia yg jelas2 paling potensial di bulutangkis makin lama makin mengabaikan bulutangkis yg dulu kita anggap sebagai olahraga rakyat. Memang pemain2 bulutangkis kita masih lumayan diperhitungkan tapi tidak lagi dominan. Masyarakat juga cenderung malas nonton bulutangkis secara langsung meskipun gratisan.

    ReplyDelete
  3. Om Hurek, Liem Swie King kok tidak anda sebutkan di artikel atas? Swie King pemain hebat dg gaya agresif yg terkesan tidak bertele tele, gaya mainnya mirip dg gaya pemain sekarang.
    Tentu om tidak sengaja "melewatkan" Swie King😊
    Lama saya tidak melongok blognya om, tambah rame aja ya, sukses selalu om.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak 70an dan awal 80an pasti lebih mengidolakan Swie King drpd Rudy Hartono. Jaman Swie King, RRT sudah kembali ikut IBF, sehingga ada Han Jian, Luan Jin, yang anak didiknya Tang Xianhu. Mereka jadi saingan bebuyutan Swie King sehingga dia tidak bisa dominan seperti Rudy. Selain itu ada Morten Frost dan Prakash, yang tidak kalah hebatnya. Memang Swie King memulai gaya permainan agresif yang menuntut stamina yang sangat prima. Sampai sekarang King smash menjadi tolok ukur cara men-smash yang sempurna. Selain itu, King juga pemain ganda yang tjiamik, dipasangkan dengan Kartono dia memenangkan partai penutup Thomas Cup 1984.

      Delete
    2. Swie King aslinya bukan she Liem, dia itu aslinya bermarga Oei (Huang), karena pada era Hindia Belanda papanya King ketika pertama kali datang masih minor/ belum dewasa, papanya memakai marga dari wali yg membawanya masuk, jadilah papanya memakai marga Liem, belakangan papanya pakai nama Indonesia, Witopo.

      Delete
  4. Betul banget, Liem Swie King sangat dominan masa itu. Saya pun sangat rajin menonton ramai2 di TVRI siaran langsung maupun tidak langsung bulutangkis yg melibatkan King dsb. King mainnya tenang, suka menarik napas panjang, mirip meditasi. Tidak tergesa2. Begitu ada kesempatan, smash loncatnya benar2 maut. Gaya main King ini memang sangat cocok dengan sistem badminton saat itu yg belum pakai rally point. Kalau lawannya kuat, skor kadang bertahan sangat lama. Pertandingannya jadi lamaaaa selesainya.

    Kemudian muncul Yang Yang yg mainnya sangat cepat pakai jurus naga mabok. Saya kaget sekaligus kagum sama Yang Yang ini. Sejak itu perlahan2 saya mulai beralih mengidolakan pemain2 macam Yang Yang yang jelas2 merusak tatanan lama bulutangkis ala King dan Icuk. Rupanya gaya main Yang Yang ini sangat cocok dengan bulutangkis modern yg pake sistem rally point.

    Sudah lama saya kehilangan "nasionalisme" di olahraga. Dulu saya selalu mendukung (dan berdoa) agar Indonesia menang menang menang. Sekarang saya lebih menikmati pemain2 yg mainnya ciamik soro, entah dari Tiongkok, Taiwan, Denmark, Indonesia, Malaysia.... Makanya, saya suka Lin Dan yg sangat atletis, kuat, dan cerdas. Saya juga lebih suka menonton sepak bola Barcelona daripada tim nasional PSSI Indonesia.

    Kamsia sudah kasih komentar.

    ReplyDelete