30 August 2015

Teater Lekture tidak mati-mati (kayak Waska)



Jarang ada teater yang bisa bertahan lama. Apalagi di kota kecil macam Sidoarjo, Jawa Timur. Karena itu, keberadaan Teater Lekture Sidoarjo yang genap 60 tahun pada 5 Oktober 2015 layak diapresiasi. Angkat topi untuk Bung Mulyono Muksim, Bung Asmoro Darmo, dan para senior Lekture Sidoarjo yang berhasil mempertahankan teater rintisan almarhum Achmad Djafar ini.

Selama dua hari, 22--23 Agustus 2015, Teater Lekture mengadakan pertunjukan di Gedung Cak Durasim Surabaya. Lakon klasik karya Arifin C Noer berjudul Umang-Umang. Naskah panjang, cerita absurd, dan menguras energi penonton selama 2,5 jam. Tapi kursi-kursi terisi hingga 90 persen. Meskipun banyak penonton yang kabur setelah pertunjukan berjalan 90an menit.

Para penggemar teater tentu tidak asing lagi dengan Umang-Umang yang menampilkan puluhan orang dari dunia hitam. Raja rampok Waska jadi pimpinan komunitas maling, pelacur, jambret, pemalak, gelandangan, dukun, tukang sihir, penggali kubur, dsb. Waska punya jalinan asmara dengan Bigayah, tapi tak ada yang namanya akad nikah.

Waska sang pimpinan bajingan bersama asistennta Borok dan Ranggong dielu-elukan anak buahnya. Ketika Waska sakit berat, sekarat, komunitas maling ini geger berat. Mereka sibuk berdoa agar si Waska tidak sampai mati. Segala cara dilakukan agar Waska, nabinya para garong, hidup kekal selama-lamanya.

Cerita absurd yang benar-benar menyita energi baik pemain maupun penonton. Jelas tidak gampang. Masyarakat yang tiap hari dihajar cerita sinetron yang linear, gampang ditebak, banyak dagelan, niscaya berpikir keras untuk mengikuti khotbah-khotbah Arifin C Noer lewat mulut tokoh-tokohnya.

Waska paling banyak khotbah, kalimat-kalimat panjang, bahasa baku... membuat suaranya serak. Tapi, syukurlah, Gedung Cak Durasim punya akustik yang baik. Sehingga penonton bisa mendengar suara para pemain yang bicara langsung, tanpa mikrofon. Mereka harus hafal kalimat-kalimat panjang, nyaris tanpa improvisasi, selama 90 menit.

"Durasinya sudah kami kurangi tinggal 2,5 jam. Kalau taat naskah bisa 4 jam lebih," kata Bung Asmoro Darmo, ketua Teater Lekture Sidoarjo.

Bung Darmo sengaja menampilkan pemain-pemain muda untuk regenerasi. Hanya satu mahasiswa, pemeran waria yang suaranya paling terang dan menggemaskan. Pemain-pemain lain masih SMA/SMK, bahkan SD. Namun, karena minimnya jam terbang, eksekusi naskah Umang-Umang ini belum bisa maksimal.

Banyak komentar, apresiasi, juga kritik untuk pementasan Umang-Umang di Surabaya ini. Kalau dicari-cari kelemahan sih pasti ada saja. Tapi mana ada teater di Jatim yang bisa bertahan selama 60 tahun? Dengan kondisi yang serba terbatas?

"Dalam setahun paling banyak ada dua teater di Jatim yang mengajukan pementasan secara mandiri. Termasuk Lekture Sidoarjo ini. Makanya, saya sangat mengapresiasi Teater Lekture," kata Kepala Taman Budaya Jatim Suyatno.

Di masa lalu, khususnya tahun 1980an, pertunjukan teater pernah berjaya di Sidoarjo dan kota-kota lain. Waktu itu masyarakat sangat haus hiburan bermutu. Bung Mulyono mengenang, dulu pertunjukan Teater Lekture bahkan sempat mengalahkan konser dangdut Rhoma Irama di Sidoarjo.

"Karcis teater kami Rp 250, sementara konser Rhoma Irama Rp 150. Dua malam berturut-turut penonton penuh sesak. Itu pengalaman manis yang tidak pernah saya lupakan," kata Bung Mulyono, sutradara Teater Lekture sekarang.

Waktu terus berputar. Satu demi satu grup teater gulung tikar. Yang tersisa hanya teater-taeter sekolahan sebatas kegiatan ekstrakurikuler pelajar. Gedung pertunjukan yang biasa dipakai Lekture pun sudah jadi bangunan jangkung, kantor, atau ruko. Bioskop-bioskop lawas yang juga sering disulap jadi arena teater pun tak ada lagi.

"Kami sebetulnya ingin mengadakan pertunjukan di Sidoarjo. Sebab Teater Lekture ini sudah menyatu dengan masyarakat Sidoarjo. Tapi mau bagaimana lagi? Di Sidoarjo tidak ada gedung pertunjukan," kata Bung Mulyono.

Bung Mulyono sendiri sangat yakin Teater Lekture masih terus bertahan di tengah kesulitan. Termasuk perbedaan pandangan di kalangan senior yang menimbulkan dualisme: Teater Lekture Sidoarjo dan Teater Lekture Indonesia. Sebab regerasi di teater ini mulai membuahkan hasil. Buktinya, putra Bung Mul mampu menjadi pemeran utama Waska.

Tinggal bagaimana menjaga stamina, napas panjang, karena seni teater ini membutuhkan para petarung yang pantang menyerah. Juga perlu merawat pita suara, minum wedhang jahe, agar suaranya Waska Raja Garong tidak serak-serak hilang.

Selamat untuk Teater Lekture Sidoarjo! Semoga panjang umur seperti Waska yang tidak mati-mati (karena makan obat sakti dari dukun tua)!

No comments:

Post a Comment