18 August 2015

Sulitnya Membaca Novel Grotta Azzura



Dulu Grotta Azzura itu saya kira nama orang. Soalnya, putra Prof Ignatius Clemens Sudjarwadi, guru besar sastra Universitas Jember, memang bernama Grotta Azzura. Meskipun beliau profesor, saya mahasiswa, saya akrab sama beliau dan istri karena sama-sama satu lingkungan satu paroki.

Jarang ada seorang guru besar, profesor, yang sibuk, rajin ikut kegiatan rohani macam doa lingkungan, aksi puasa pembangunan, pertemuan bulan kitab suci dsb seperti Pak IC. Salut Prof!!! Nah, saya selalu ditugasi beliau jadi dirigen kalau ada doa lingkungan (kring) karena dianggap cukup paham notasi (angka) yang tercetak di buku nyanyian Katolik yang bernama Madah Bakti dan Puji Syukur.

Aneh, profesor Jawa asli, asal Jogja, kok menamakan anaknya Grotta Azzura. Bahasa Italia yang tak pernah kita dengar. Saya sungkan bertanya sama Pak Prof IC. Belakangan saya baru ngeh setelah menemukan buku bekas di pasar loak Jalan Semarang, Surabaya, judulnya Grotta Azzura. Novel 556 halaman karya S Takdir Alisjahbana.

Wow, rupanya novel panjang, persis kuliah filsafat, penuh pergulatan pemikiran timur vs barat inilah yang jadi inspirasi Pak IC memberi nama anaknya. Prof IC dikenal luas sebagai penyair, dramawan, budayawan, punya kelompok teater sendiri. Beliau berguru pada sahabatnya WS Rendra, embahnya Bengkel Teater di Jogja.

Sekitar tujuh tahun lalu saya mencoba membaca novel atau roman dengan tagline "kisah cinta dan cita" itu. Baru 5 halaman saya sudah lelah. Wow, bukan novel sembarangan. Di halaman 7, STA sudah bahas masalah otonomi daerah. Mirip makalah seminar saja.

"Orang takut bahwa dengan autonomi itu masuk konsep federasi, meskipun orang tahu bahwa hampir segala negara besar dan kaya yang ada di dunia sekarang ini bersifat federasi: Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jerman Barat, malahan Soviet Rusia sekalipun...," tulis STA.

Makin ke dalam materi percakapan para tokoh semakin berat. Lebih berat ketimbang seminar filsafat atau politik di kampus-kampus kita hari ini. Apalagi obrolan sosial politik kelas talkshow di televisi-televisi kita yang dangkal itu. Dialog di Grotta Azzura ini menurut saya terlalu dalam, indepth thinking, sehingga kelezatan cerita ala novel atau roman hampir tidak ada. Ada guyonan tapi humor intelektual kelas filsuf.

Saya pun memaksakan diri membaca halaman demi halaman Grotta Azzura tapi makin lama makin kehilangan energi. Tapi gagal dan gagal lagi. Lalu novel terbitan 1970 itu saya simpan. Beberapa bulan kemudian saya coba membaca lagi. Meneruskan dari halaman yang sudah ditandai meskipun sudah lupa cerita sebelumnya. Tapi tidak sampai 11 halaman gak kuat. Berhenti lagi.

Begitulah. Akhirnya, tanpa terasa sudah tujuh tahun saya gagal menyelesaikan novel Grotta Azzura. Cuma sampai halaman 173. Artinya belum sampai 50 persen isi buku STA saya baca.

Minggu lalu, setelah jeda dua tahun, saya mencoba membaca lagi Grotta Azzura. Tapi gagal lagi. Cuma nambah 2 halaman saja.

Di halaman 173, omongan Janet memberi kuliah panjang lebar tentang kenaifan yang segar, seni yang diletan, seni Andre Malraux, dunia yang baru, kebudayaan Eropa dsb dsb. STA rupanya sedang memasukkan ide-ide filsafat dan cita-cita kebudayaannya lewat mulut para tokoh di novel Grotta Azzura.

Pramoedya Ananta Tour juga biasa memasukkan ajaran dan pandangannya lewat mulut para tokohnya. Tapi tetap cair, enak, dan membuat kita ingin cepat-cepat menyelesaikan roman atau novel tetralogi Pulau Buru. Begitu juga Romo Mangun yang juga suka khotbah lewat tokoh-tokoh novelnya. Tapi STA di Grotta Azzura ini lain dari lain bobot akademisnya. Alur cerita hampir tidak ada saking buanyaaak khotbah-khotbah filsafat, seni budaya, politik dsb.

"Roman seorang profesor," begitu komentar majalah Express edisi 24 Oktober 1970.

Ah, saya masih penasaran dengan roman sang profesor ini. Mudah-mudahan tahun ini bisa saya tamatkan.

7 comments:

  1. Pak Lambertus, anda orang yang cerdas. Jangan menghabiskan waktu anda membaca karya tulis yang membosankan, walaupun ditulis oleh seorang STA sekalipun. Saya membaca novel STA Layar Terkembang, dan menikmatinya, dan memahami betapa progresifnya novel tersebut untuk masanya. Novel atau buku yang tidak dapat menarik perhatian pembaca pada 10 halaman pertama, layak untuk diloakkan atau dijadikan bahan bakar tungku.

    ReplyDelete
  2. Kritikus sastra Prof A Teeuw: "Grotta Azzurra sangat menjemukan bagi pembaca modern."

    ReplyDelete

  3. Kutipan catatan AS Laksana, kolumnis tetap Jawa Pos edisi Minggu (http://as-laksana.blogspot.com/2011/06/tumpukan-khotbah-dalam-melodrama-sta_20.html):

    Novel-novel S Takdir Alisjahbana memang diniatkan untuk memberi kuliah. Dalam Grotta Azzurra, versi sangat ekstrem dari Layar Terkembang, dialog bisa sangat panjang seperti transkripsi sebuah makalah tentang apa saja. Anda tidak akan pernah mendapati adegan, misalnya, orang yang banyak omong itu ditinggal pergi oleh lawan bicara yang bosan mendengar ocehannya.
    Alih-alih bosan, lawan bicara akan menanggapi dengan enteng, "Anda betul-betul seorang idealis!" sambil menyampaikan komentar-komentar yang tidak lain adalah pancingan agar diskusi bisa dilanjutkan lagi.

    Kesimpulan saya, STA tidak memiliki kecakapan mengolah detail perilaku manusia. Cerita-ceritanya menjadi dangkal karena dunia rekaan yang ia hadirkan tidak dihuni oleh "orang-orang" melainkan oleh benda mati yang muncul untuk mewakili gagasan pengarangnya.

    ReplyDelete
  4. Drpd waktu Anda digunakan untuk karya sastra menjemukan lebih baik digunakan untuk membaca karya penulis luar negeri dalam bahasa Inggris (terjemahan) misalnya Gabriel Garcia Marquez atau Mo Yan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. STA ini pemikir besar, sastrawan, tokoh Pujangga Baru yg sangat terkenal. Beliau juga menulis tata bahasa Indonesia modern yg dulu jadi rujukan bangsa Indonesia. Saking semangatnya menawarkan gagasan tentang pencerahan, rennaisance, STA selalu menyusupkan ide2nya lewat mulut para tokoh dalam roman atau novel2nya. Bagi orang yang kurang bacaan filsafatnya, kayak saya ini, novel2 STA jadi sangat berat dan sangat tidak menarik. Bikin pusing dan botak aja.

      Delete
  5. Buat Sisca: Silakan membaca novel Grotta Azzura ini dan saya doakan dengan tulus ikhlas semoga bisa menyelesaikan halaman lepas halaman sampai muka 556. En kalau sudah tamat, silakan ganti membaca novel STA lain macam Layar Terkembang, Dian yang Tak Kunjung Padam, atau Anak Perawan di Sarang Penyamun. Novel2 yang dikarang oleh Tuan STA sedikit banyak punya pola cerita yang hampir sama, gaya khotbah panjang, ala kuliah di universiteit, sehingga cocok untuk mereka2 yang suka baca makalah humaniora.

    Buat Anonim I: Oh... hehehe... Keliru kalau saya dibilang "orang cerdas". Wong kitorang tidak sanggup membaca sampai tamat novel Grotta Azzura meskipun sudah berusaha selama 7 tahun. Inget, bukan 7 bulan!!! Orang yang cerdas itu tentu dia yang melempar ini novel di pasar loak sehingga akhirnya saya ketemu dan membeli, kemudian tertarik dengan judul yang unik, nama besar STA, tapi akhirnya sadar bahwa tingkat pemikiran dan wawasan saya tidak cukup memadai untuk berenang di lautan wacana besar ala STA. salam damai!!!

    ReplyDelete