11 August 2015

Dr Siobhan Campbell dari Sydney tingkepan di Sidoarjo



Minggu lalu Dr Siobhan Campbell dari University of Sydney datang ke kawasan Pecantingan, Sekardangan, Sidoarjo. Bukan untuk penelitian, cari data tentang seni budaya, yang menjadi spesialisasinya, tapi untuk tingkepan. Mbak Siobhan memang lagi hamil tujuh bulan.

Sesuai tradisi Jawa, wanita yang hamil tujuh bulan perlu mengikuti ritual tingkepan. Upacara sederhana, pengajian, undang warga sekitar, makan bersama. Sama-sama mendoakan agar anak pertama Siobhan Campbell lahir dengan selamat. Suami mbak Siobhan tak lain mas Jumaadi, seniman asli Sidoarjo yang tinggal di Sydney.

Tresno jalan soko kulino. Cinta itu tumbuh karena sering bertemu, kumpul di tempat yang sama. Maka Jumaadi yang lukisan-lukisannya sarat dengan nuansa desa, sawah, gunung, petani, perambah hutan... itu kecantol sama Siobhan, dosen di Sydney. Kebetulan Dr Siobhan juga indonesianis yang sejak sekolah menengah cinta berat sama budaya Indonesia. Siobhan melakukan kajian mendalam terhadap tradisi seni lukis tradisional di Kamasan, Bali.

"Saya cinta budaya Indonesia dan orang Indonesia," kata mbak Siobhan yang njawani itu.

Saat berada di Sidoarjo, Siobhan Campbell selalu terlihat seperti wanita Jawa di pedesaan tempo doeloe yang ramah dan cekatan meladeni tamu. Menawari tamu mencicipi jajan pasar, ngopi atau minum teh. Saya sendiri jadi sungkan dilayani oleh seorang indonesianis terkenal yang bakal meneruskan tradisi indonesianis-indonesianis senior yang makin tua dan sebagian sudah meninggal dunia.

Siobhan Campbell bersyukur bisa menekuni hobinya, blusukan ke kampung-kampung sederhana, menikmati seni budaya nusantara, sekaligus meraih gelar PhD lewat riset tentang budaya Indonesia. Di usia yang sangat muda dia sudah dapat gelar doktor. Lalu mulai serius bikin program "buat anak" agar rumah tangganya dengan mas Jumaadi lebih berwarna. Lebih ceria kalau ada anak, begitu keinginan ibu mertua dan keluarga besar suaminya di Sidoarjo.

Setiap kali berkunjung ke Sidoarjo, Siobhan selalu ditanya anaknya sudah berapa. Kapan punya anak. Kok sibuk penelitian, seminar, workshop, bikin buku terus sih? Intelektual sekelas Siobhan Campbell rasanya risih juga kalau terus-menerus dicecar pertanyaan yang sama.

"Alhamdulillah, Siobhan sudah tujuh bulan (hamil). Kami mau bikin tingkepan khusus untuk dia," kata ibu mertua Siobhan kepada saya seminggu setelah Lebaran.

Keluarga besar di Sidoarjo sih ingin Siobhan lebih lama tinggal di kota petis ini. Syukur-syukur sampai melahirkan anak pertamanya. Tapi Siobhan harus segera kembali ke Sydney untuk mengajar lagi di universitas. "Masa izin saya sudah habis. Saya bisa susah kalau terlalu lama tidak masuk," kata Siobhan seraya tersenyum manis.

Siobhan bilang dosen-dosen di Australia bukan tipe PNS di Indonesia yang mendapat gaji tetap dari bulan ke bulan, tahun ke tahun. Siobhan harus mengajukan proposal setiap semester/tahun agar mendapat job di universitas. Karena itu, dosen yang tahun ini mengajar di universitas A misalnya belum tentu masih mengajar di universitas yang sama.

"Kalau proposalnya ditolak ya nganggur dia. Jangan dikira jadi dosen di Australia itu enak. Jadi seniman di Australia juga perlu kerja sangat keras agar bisa hidup," ujar mas Jumaadi yang setia menemani sang istri yang lagi hamil besar itu.

No comments:

Post a Comment