05 August 2015

Sinyo Aliandoe legenda bola dari Flores



Minggu lalu saya membaca kliping majalah Tempo lama, 1980an, tentang liga sepakbola utama (galatama). Kompetisi yang pernah sukses besar di tanah air. Kompetisi yang kemudian ditinggalkan penonton karena skandal suap pemain Perkesa 78 Sidoarjo.

Di berita itu saya ketemu nama Sinyo Aliandoe, pelatih hebat di era galatama. Bagi orang NTT, khususnya Flores Timur, Sinyo Aliandoe jauh lebih terkenal ketimbang bupati-bupati lawas karena prestasinya yang luar biasa di sepakbola. Om Sinyo lahir di Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1938.

Kemudian Sinyo Aliandoe malang melintang di Jakarta sebagai pemain dan pelatih top. Tahun 1964 Om Sinyo ikut membawa Persidja juara nasional. Sejak itulah Sinyo jadi langganan tim nasional. Setelah itu Sinyo jadi coach tim-tim besar di Indonesia. Bahkan sukses menangani tim nasional Indonesia di beberapa turnamen.

Pagi ini, 5 Agustus 2015, saya terkejut membaca berita di Jawa Pos. Sinyo Aliandoe berjuang melawan demensia! Di usia 77 tahun Om Sinyo tergeletak lemah di kamar tidur. Tak bisa apa-apa. Memori yang hilang alias demensia membuat Om Sinyo lupa apa saja.

"Papa jalan paling jauh dari kamar tidur ke ruang makan," kata Theodorus Aliandoe, putra kedua Om Sinyo.

Kondisi Om Sinyo menurun drastis sejak ditinggal mati istrinya Theresia pada September 2013. Beliau sering nyasar ke mana-mana karena lupa jalan pulang. Nomor rumah, alamat, dsb tak diingat Om Sinyo. "Papa pernah dibawa ke kantor polisi," tutur Theo.

Saya tak tega melihat foto Sinyo Aliandoe dan membaca cerita anaknya itu. Gak nyangka om yang dulu begitu berwibawa di lapangan, tegas, sering dalam mendisiplinkan pemain itu akhirnya tergeletak tak berdaya. Ibarat pelita yang kehilangan minyak.

Saya pertama kali berkenalan dan berjabat tangan dengan Om Sinyo ketika mantan pemain nasional ini melatih Arema Malang. Saat itu Arema belum sekuat sekarang. Persema justru jauh lebih hebat. Arema bermaterikan pemain-pemain yang belum terkenal ditambah pemain-pemain buangan dari klub lain. Di antaranya Panus Korwa, Jamrawi, dan Mahdi Haris.

Meski begitu, Om Sinyo dengan telaten membangun tim yang kemudian dikenal sebagai Singo Edan yang haus gol itu. Polesan Om Sinyo membuat Arema langsung melejit di galatama. Bahkan jadi juara galatama beberapa tahun kemudian. Nama Sinyo Aliandoe niscaya tercatat di hati jutaan penggemar Arema karena beliaulah yang menciptakan sistem permainan, taktik, dan karakter Singo Edan.

Sebagai orang NTT, saya tentu sangat bangga dan kagum luar biasa dengan sosok Sinyo Aliandoe. Bayangkan, tahun 1960an, ketika NTT masih sangat ndeso, tak ada listrik, sebagian besar penduduk masih buta huruf, ada putra Nagi yang bisa melejit hingga ke Jakarta sebagai bintang sepakbola. Jadi langganan tim nasional.

Ironisnya, saat ini, ketika NTT tak lagi terisolasi, hampir semua kota kabupaten didatangi pesawat setiap hari, televisi masuk rumah penduduk, anak-anak muda rajin main HP, justru tidak ada pemain bola asal NTT yang mampu menembus tim nasional. Ada satu orang Alor yang kemarin memperkuat timnas U-19 tapi cuma cadangan saja.

Rasanya sampai sekarang belum ada orang NTT sekaliber Sinyo Aliandoe di kancah sepakbola nasional. Semoga Om Sinyo diberi kekuatan fisik oleh Tuhan. Paling tidak dikembalikan sebagian memorinya yang hilang itu. Kita hanya bisa berdoa dari jauh!

1 comment: