21 August 2015

Selamat Jalan Pelatih Suharno



Ribuan penggemar sepak bola di Kabupaten Sidoarjo menundukkan kepala, berbelasungkawa, atas meninggalnya Suharno, 55 di Malang. Pelatih asal Klaten yang malang melintang di jagat sepak bola nasional. Pria humoris tapi sangat disiplin itu terakhir melatih Arema Cronus.

Pelatih Suharno tak bisa dipisahkan dari Gelora Putra (GPD) yang kemudian berubah nama menjadi Deltra Putra Sidoarjo (Deltras). Bahkan, ketika masih menjadi pemain, Suharno merupakan pemain andalan Perkesa 78, klub galatama yang bermarkas di Sidoarjo. Perkesa kemudian pindah markas ke Jogjakarta pada 1987. Sejak itu Sidoarjo hilang dari peta balbalan nasional sebelum muncul GPD yang tak lain jelmaan Gelora Dewata.

Kepiawaian Suharno membaca permainan, skill individu yang tinggi, kerja sama apik, membuat Suharno sangat menonjol. Saat itu Perkesa Sidoarjo cukup disegani di tanah air.

Selepas menjadi asisten pelatih Niac Mitra sembari bermain di klub jawara galatama Surabaya itu, Suharno mulai merintis karir sebagai head coach di kesebelasan Gelora Dewata, Bali. Klub ini kemudian hijrah ke Sidoarjo, ganti nama menjadi GPD, kemudian diambil alih Pemkab Sidoarjo menjadi Deltras. Pada musim kompetisi 2002-2003 itu Suharno menjadi pelatih kepala Deltras di Liga Bank Mandiri.

Itulah era keemasan Deltras FC. Cukup banyak pemain nasional bergabung dengan tim berjuluk The Lobster seperti I Putu Gede, Anang Maaruf, Budi Sudarsono, Agung Prasetyo, dan Isdiantono. Saat itu Stadion Gelora Delta begitu meriah setiap kali Deltras memainkan laga kandang.

Di awal musim, tim besutan Suharno bahkan sempat menjadi juara paro musim alias capolista. Namun, di akhir musim Deltras tercecer di urutan ke-10. Saat itulah Suharno diincar klub-klub besar sehingga tidak bisa bertahan lama di Sidoarjo.

Meski hanya semusim melatih Deltras, ribuan Deltamania alias penggemar bola di Kota Delta tak pernah melupakan kontribusi salah satu pelatih tersukses di Liga Indonesia itu. Setelah sesi latihan yang disiplin, serius, dan keras, Suharno selalu terlihat akrab dengan siapa saja. Ngobrol santai, akrab, dan tak lupa menyapa lawan bicaranya dengan sapaan "Dulur".

"Dulur, sebuah klub itu akan maju kalau ada sinergi antara pemain, pelatih, asisten pelatih, manajemen, suporter, media massa, sponsor, dan sebagainya. Kita semua saling membutuhkan," katanya.

Karena itu, ketika melihat antusiasme penonton terhadap Deltras kian menurun, stadion makin sepi, Suharno secara halus meminta semua elemen untuk duduk bersama, melakukan pembenahan. Sayang, Suharno tak bisa berlama-lama di Kota Delta karena sudah digaet klub lain, kalau tidak salah Pupuk Kaltim.

Sejak itu kita di Sidoarjo hanya bisa mengikuti sentuhan tangan midas Suharno yang selalu sukses menangani klub-klub Liga Indonesia. Saat ini Deltras bahkan terjun bebas ke kompetisi amatir yang disebut Liga Nusantara. Polesan Suharno yang halus, taktis, ciamik itu sepertinya tinggal kenangan.

Selamat jalan Pak Suharno! Selamat beristirahat dalam damai di sisi-Nya! (*)

No comments:

Post a Comment