27 August 2015

Rezeki nomplok dari orang mati

Ada pemandangan menarik di koran Jawa Pos hari ini. Empat setengah halaman koran berpembaca terbanyak di Indonesia itu diisi iklan dukacita mendiang mama pengusaha keramik terkenal. Nilai rupiahnya jelas tidak sedikit.

Alhamdulillah, rezeki nomplok untuk surat kabar tersebut! Orang-orang yang bekerja di media massa, khususnya surat kabar, sangat menyadari pentingnya orang Tionghoa yang sejak Hindia Belanda punya kebiasaan beriklan di media massa. Iklan-iklan itulah yang antara lain menghidupi media massa.

Seorang tokoh surat kabar nasional sering berpesan kepada para wartawan, khususnya yang masih muda-muda, agar menjaga hubungan baik dengan warga Tionghoa. Jangan termakan isu-isu sektarian, rasial, SARA dsb yang sering kita dengan di masyarakat yang memojokkan orang Tionghoa.
Ingat, orang Tionghoa itulah yang bakal pasang iklan di mediamu. Orang Tionghoa sudah ratusan tahun menyadari (dan merasakan) manfaat beriklan. Orang Indonesia, yang bukan Tionghoa, juga sudah mulai sadar iklan tapi belum semasif para huaqiao di seluruh dunia.

"Kalau kita baik sama kawan-kawan Tionghoa, insyaallah, gampang diajak kerja sama. Minimal dia akan pasang iklan ucapan belasungkawa kalau ada keluarganya yang meninggal dunia. Kalau anda memusuhi orang Tionghoa ya akan ditinggal," kata sang wartawan senior.

Betul juga. Ucapan sang senior ini terus dibuktikan koran-koran di kota besar. Setiap hari ada saja iklan dukacita di Jawa Pos dll. Ada yang iklan kecil, sedangan, besar, kemudian super besar. Hari ini iklan orang mati malah mendominasi halaman-halaman Jawa Pos. Luar biasa!

Berbeda dengan Tionghoa, memasang iklan dukacita belum jadi kebiasaan di kalangan pribumi. Orang-orang kita (Jawa, Madura, Sunda, Batak, Flores dsb) sering terheran-heran mengapa orang Tionghoa suka membelanjakan duit besar untuk iklan kematian di surat kabar. Banyak kenalan saya malah tertawa melihat iklan kematian di surat kabar.

"Jangan tertawa Bung! Ceritanya panjang. Maknanya sangat dalam," begitu kata-kata saya setiap mendengar obrolan di warung kopi yang menyinggung iklan kematian.
Biasanya saya mengarang sendiri beberapa teori dan analisis tentang alasan orang Tionghoa suka memasang iklan dukacita. Tentu saja dari perspektif orang media yang memang sangat membutuhkan iklan-iklan sebagai sumber hidup bisnis media. Syukurlah, cara berpikir orang Tionghoa berbeda jauh dari para komentator asongan di warkop itu.
Kalau kita jeli, sebetulnya iklan dukacita terbesar dalam sejarah Indonesia bukan dari kalangan Tionghoa, tapi bumiputra. Yakni iklan ucapan dukacita atas meninggalnya Ibu Tien, istri Presiden Soeharto. Waktu itu koran-koran di tanah air benar-benar panen rezeki dari iklan dukacita.

Karena halaman koran saat itu masih dibatasi, pemerintah bahkan mengizinkan penambahan halaman agar bisa memuat iklan-iklan kematian Ibu Tien. Perusahaan-perusahaan seakan berlomba pasang iklan setengah halaman, bahkan satu halaman. Ramai luar biasa!

Setelah fenomena iklan dukacita Ibu Tien, kita tidak lagi melihat iklan-iklan kematian yang luar biasa masif di Indonesia. Bahkan, ketika Pak Harto meninggal iklannya pun tidak banyak.

2 comments:

  1. om hurek, di Sumatera Utara pembaca surat kabar bisa dibagi berdasarkan etnis dan agamanya... orang2 Batak, Karo, Simalungun lebih senang membaca koran Sinar Indonesia Baru (SIB)... orang2 Melayu, Jawa, Minang, Mandailing lebih suka koran Waspada... nah, orang Tionghoa suka baca Analisa (selain koran berbahasa Tionghoa tentunya)...

    koran Analisa setiap hari bisa memuat 2-3 halaman isinya berita duka cita, karena memang ini koran favorit orang Tionghoa... beberapa orang saudara saya bilang "ah, gak suka aku baca Analisa, isinya berita orang meninggal semua, hahahaha"...

    saya juga kurang paham kenapa orang Indonesia lainnya (selain Tionghoa) gak banyak yg membuat berita duka cita seperti ini... padahal, pada orang Batak seperti saya yg namanya kematian itu harus ada adat dan mengundang orang2 dari pihak adat, mulai dari hula-hula, tulang, tulang rorobot, bona tulang, bona ni ari, hula-hula ni anak manjae, dll... apa mungkin sudah cukup via telepon atau SMS yah???

    ReplyDelete
  2. Memang betul orang Tionghoa suka pasang iklan kalau anggota keluarganya ada yang mati. Karena biasanya keluarga Tionghoa itu tersebar. Seperti kakek saya, datangnya ke Indonesia lewat Pangkalanbun, lalu Banjarmasin, kemudian ke Surabaya. Saudara-saudaranya tersebar di kota-kota itu. Sudah begitu, jaringan pendatang satu kampung asal tersebar di segala penjuru Jawa. Seperti Orang Batak, pemakaman Tionghoa menganut adat, kalau kita sebagai saudara atau yang lebih muda belum memberi penghormatan terakhir kepada mendiang, tidak elok. Bukan saudara dekat pun, kalau ada hubungan bisnis atau pernah dibantu oleh keluarga yang meninggal, tidak enak rasanya jika belum memberi hormat. Maka keluarga memasang iklan ini intinya memberi kesempatan kepada yang ingin memberi hormat.

    ReplyDelete