11 August 2015

Prof Adrian Vickers teliti perupa di Jawa Timur



Prof Adrian Vickers dari The University of Sydney, Australia, kemarin blusukan ke kawasan Sekardangan, Sidoarjo. Di Rumah Budaya Pecantingan, Adrian menggali informasi tentang perkembangan seni rupa di Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota lain di Jawa Timur sejak 1960-an sampai sekarang.

"Kebetulan di Sidoarjo ini ada beberapa pelukis senior yang bisa jadi narasumber untuk riset saya. Salah satunya Herman Benk," ujar Adrian yang dikenal sebagai pakar masalah Asia Tenggara, khususnya Indonesia, itu.

Menurut Adrian, selama ini orang Barat hanya mengenal Jogjakarta dan Bali sebagai sentra kesenian, khususnya seni rupa, di Indonesia. Padahal, sejak dulu di Jawa Timur ada geliat seni rupa meskipun tidak segencar di Jogja dan Bali. Dia mengaku tertarik untuk menggali informasi dari para seniman era 1970-an yang aktif berkesenian di Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan sekitarnya.

"Sayang, sebagian seniman senior sudah meninggal dunia. Tapi masih untung saya bisa bertemu dengan Pak Benk dan beberapa seniman senior lainnya," kata Profesor Adrian yang sangat fasih berbahasa Indonesia.

Sementara itu, Herman Benk menjelaskan, kehidupan kesenian di Jawa Timur sejak dulu tidak terpusat pada lembaga atau akademi tertentu. Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) pun sebetulnya bukan akademi layaknya perguruan tinggi, melainkan semacam sanggar untuk kumpul-kumpul seniman dan calon seniman. Para pelukis umumnya bergerak sendiri-sendiri bersama komunitasnya.

"Lain dengan di Jogja yang punya ISI (Institut Seni Indonesia). Ada IKIP Surabaya tapi tidak fokus di kesenian. Makanya, seniman yang berlatar belakang akademis sangat sedikit di Jawa Timur," katanya.

Herman Benk sendiri dulunya sempat mencicipi sekolah seni rupa di Jogja. Pilihan nekat yang ditentang orang tuanya yang Tionghoa. Benk diminta berdagang karena kehidupan seniman tidak menentu. Penghasilan tidak pasti. Benk kemudian kembali ke Surabaya dan menjadi pelukis poster film untuk bioskop-bioskop di kota pahlawan.

Kini, di usia senja, Benk masih tetap melukis, bikin sketsa, senang berdiskusi membahas seni rupa. Dia juga rajin mempublikasikan sketsa-sketsanya di Facebook. "Keliru kalau saya dibilang seniman. Saya bukan seniman. Saya ini narsis kok!" ujar Benk di hadapan Prof Adrian usai menyedot asap nikotin yang jadi teman karibnya.

No comments:

Post a Comment