31 August 2015

Presenter TV Tidak Boleh Tua



Christiane Amanpour dari CNN, 57 tahun, mewawancarai Presiden Jokowi sambil blusukan.

Betapa bedanya presenter (atau host atau anchor atau apalah namanya) televisi berita asing dan Indonesia. Saya perhatikan TV-TV asing macam BBC, CNN, atau Aljazeera selalu menyajikan wawancara yang lancar, mengalir, enak. Sang presenter menguasai persoalan yang ditanyakan.

Begitu narasumber menjawab, si presenter bule itu sudah siap nerocos menggali informasi baru. Dengan bahasa yang sopan tapi mengena. Obrolan jadi asyik meskipun dengan tokoh antagonis. "Seperti ngobrol dengan teman lama," begitu resep wawancara dari jurnalis senior Bapak Atmakusumah.

Mengapa para jurnalis televisi berita asing begitu gayeng dalam reportase dan wawancara? Bung, mereka punya pengalaman panjang di lapangan. Banyak riset. Banyak baca. Banyak diskusi. Banyak sekolah. Mereka sekolah di universitas terkemuka. Ada yang PhD, menulis buku macam-macam. Dus, bukan jurnalis karbitan.

Tapi, akibat dari banyak-banyak-banyak ini, usia presenter CNN, BBC, dsb biasanya sudah matang. Rambut sudah banyak ubannya. Usia mereka di atas 35 tahun. Bahkan tak jarang jurnalis-jurnalis di atas 50 tahun pun masih memandu program berita di televisi.

Saya perhatikan seorang wanita jurnalis CNN, yang dulu sangat terkenal karena liputan perang teluk, Christiane Amanpour, masih jadi presenter berita. Acaranya sangat berbobot. Sang jurnalis, si tukang tanya-tanya, bahkan lebih tahu dan pintar daripada pakar yang ditanya.

Inilah yang terbalik di Indonesia. Makin lama saya melihat presenter-presenter berita kita makin muda, cantik, gak kalah sama artis sinetron. Bedaknya tebal, bajunya bagus-bagus, riasannya oke punya. Usia cewek-cewek ini biasanya paling tinggi 28 tahun.

Saya sudah lama kangen presenter-presenter lama macam Ira Koesno, Dana Iswara, Desi Anwar, atau Ibu Tuty Adhitama di TVRI zaman dulu. Jurnalis-jurnalis yang lebih yunior, tapi matang, macam Kania Sutisnawinata pun sudah lama hijrah dari Metro TV.

Mbak Najwa Shihab asyik dengan Mata Najwa, bukan berita-berita harian yang paling kita butuhkan. Mbak Desi Anwar masih di TV, tapi urusan manajemen. Dia punya acara santai yang bukan hard news. Rossiana Silalahi juga begitu.

Rupanya siklus presenter berita di televisi kita mirip artis musik atau film/sinetron. Ketika usia sudah masuk 27, kemudian menikah, pengelola TV sudah menyiapkan penggantinya. Cewek-cewek likuran (20an tahun) yang nampang di Liputan 6, Apa Kabar Indonesia, Metro Hari Ini dsb.

Yang usia 30+ pelan-pelan menyingkir ke belakang. Jadi produser, manajemen, atau bikin partai baru macam Grace Natalie dari tvOne (sebelumnya di SCTV). Atau jadi PR perusahaan besar macam Wianda atau Catherine. Hehehe....

Lantas, kita, pemirsa pun disuguhi berita yang dipandu presenter-presenter muda belia, cakep, wangi.. tapi masih minim wawasan. Jelas saja dia kepontal-kepontal memahami persoalan sosial politik budaya keamanan pendidikan kurs rupiah ekonomi teknolog dsb yang tidak sederhana.

Kasihan adik-adik presenter muda itu! Terlalu cepat ditampilkan di layar karena para seniornya sudah digeser lebih dulu. Jangan heran bila Bapak SBY, mantan presiden kita, hanya mau menerima para wartawan senior untuk diwawancarai.

"Saya butuh para pemimpin redaksi atau setidaknya waki pemimpin redaksi," kata SBY beberapa waktu lalu di Hotel Shangri-La Surabaya.

Bukan hanya SBY. Banyak pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat yang kurang sreg diwawancarai jurnalis-jurnalis yang usianya di bawah 25 tahun.

"Capek kalau ngomong sama wartawan-wartawan anyar. Saya bicara panjang lebar tapi gak nyambung. Kalau wartawan-wartawan lawas, saya ngomong dua kalimat, dia sudah tahu maksudnya," kata Tuan Liem, pengusaha Tionghoa terkenal di Surabaya.

Yah, kalau mau televisi-televisi berita kita berkualitas kayak CNN, ABC, atau BBC, ya presenter-presenter kawakan macam Andy Flores Noya, Desi Anwar, Rossiana Silalahi, Najwa Shihab, Putra Nababan, Grace Natalie... harus tetap berada di garis depan. Sebab masyarakat sebetulnya tidak membutuhkan wajah-wajah cakep, muda, tapi masih minim wawasan.

Kalau mau lihat wajah-wajah cakep, penuh riasan, bedak tebal, muda remaja, tinggal geser ke Inbox atau Dahsyat. Bukan di program berita.

5 comments:

  1. Sebenarnya kalau niat, tidak usah menunggu sampai jadi kawakan untuk mempunyai wawasan yang luas. Di usia 20-an menjelang 30 pun sudah bisa, asalkan rajin membaca, rajin berdiskusi dengan orang-orang yang berpengetahuan.

    Tetapi pengamatan Pak Hurek memang mantap. Kalau di Amerika, justru seseorang berumur 40 atau 50 tahun ke atas, tidak peduli perempuan atau lelaki, baru berkualifikasi untuk menjadi seorang "anchor" atau pembawa berita utama tingkat nasional. Sebelum itu mereka harus bekerja di stasiun TV tingkat kota kecil, lalu ke kota besar (masih regional), dengan harapan diberi kesempatan di tingkat nasional. Mereka bekerja menjadi anchor sampai dengan 70-an, bahkan sampai mati. Kerjanya seorang anchor ini tidak hanya membawa berita atau mewawancarai, tetapi juga menentukan topik apa yang mau dibahas, menugaskan asisten untuk mencarai bahan-bahan riset, dan memilih tokoh siapa yang bakal diwawancarai.

    Coba simak para anchor terkenal berikut ini: Charlie Rose (73 tahun) yang pernah mewawancarai SBY thn 2011 (google it), Anderson Cooper (48 tahun), Katie Couric (58 tahun), Barbara Walters (85 tahun!), mendiang Mike Wallace (bekerja sampai mati dalam usia 93 tahun pada tahun 2012).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur suwun atas tambahan info yg bagus dari USA. Saya perhatikan anchor2 di televisi2 Indonesia makin kurang wawasan. Dari pertanyaan2 dan komentar2nya sering terkesan dia kurang paham persoalan. Bisa dimengerti juga karena si presenter ini harus menghadapi berbagai topik. Seakan2 dia serba tahu, padahal kenyataannya tidak begitu.

      Ada juga presenter yg sok tahu dan bertipe penyidik. Wawancara narasumber kayak interogasi di kantor polisi atau jaksa. Si sumber bicara satu dua kalimat, belum masuk poinnya, sudah dicecar dengan pertanyaan lain.

      Di televisi lokal saya sering lihat 2 presenter mengeroyok narasumber. Presenter 1 bertanya, dijawab beberapa kata, langsung dicecar lagi oleh presenter 2. Lha kepriye iki???

      Delete
  2. Desi Anwar sekarang sudah pindah ke CNN Indonesia, punya acara sendiri bertajuk "Insight". Banyak juga mantan Metro TV yang pindah ke franchise TV Berita Internasional ini. Rupanya Pak Chairul Tanjung lewat Trans Media belum "pede" untuk bikin TV berita sendiri. Mengenai preferensi stasiun TV merekrut presenter yang masih muda dan menarik sepertinya memang jadi preferensi di kawasan Asia umumnya, begitu pula dengan maskapai penerbangan asal Asia, awak kabinnya masih muda, menarik dengan senyum menawan. Katanya kalau di Amerika dan Eropa awak kabinnya sudah oma opa, gendut dan pelit senyum.

    ReplyDelete
  3. ada plus minus presenter muda dan tua. yg penting gak goblog2 amat lah.

    ReplyDelete
  4. om hurek, industri media saat ini memang agak kejam dan ini tidak bisa dihindari... semua mementingkan rating, rating, dan rating...

    tapi menurut saya perlulah regenerasi, apalagi di Indonesia ini populasi orang muda lebih banyak daripada yg tua... kalo ada yg bilang di Asia masih tertarik sama yg muda2 ya mungkin seperti itu juga tipikal di negara kita... cuma ya ada baiknya yg muda ini diberi penyuluhan supaya tidak asal-asalan dalam mencari berita...

    *om hurek, aku ada permintaan khusus nih... tolong bikinin ulasan di blog ini ttg lagu "GEMU FA MI RE" dari Maumere yg akhir2 ini lagi booming terutama di kalangan orang Batak seperti saya, hahaha...

    ReplyDelete