28 August 2015

Orang Hitam Sulit Dapat Pacar



Obrolan di warung kopi Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo, kali ini sangat menarik. Banyak sisi-sisi kehidupan para pengungsi asal Afghanistan, Pakistan, Iran, Myanmar, Somalia, Sudan, dan beberapa negara lain muncul dalam obrolan santai. Juga pengungsi Syiah asal Sampang, Madura, yang entah kapan dipulangkan ke kampung halaman mereka.

Empat tower rusunawa di Puspa Agro ini memang sudah lama jadi tempat penampungan pengungsi. Para imigran itu biasa jalan-jalan, belanja, ngopi, cangkrukan... dan pacaran di kompleks itu. Ada saja wanita-wanita lokal yang rela dipacari pengungsi-pengungsi dari negara-negara berkonflik itu.

"Si Riza (Pakistan) itu pacarnya cantik-cantik dan muda. Sekarang ini ceweknya dari Krian," tutur mbak Sri juragan kopi kepada saya.

Meski imigran-imigran ini cuma dibekali jatah Rp 1,2 juta sebulan dari IOM (organisasi urusan migrasi internasional), para pencari suaka masih bisa menyisihkan duit untuk pacaran. Kalau cowoknya cakep, muda, putih kayak si Riza, gampanglah dia mendapat nona manis.

Saya lihat sendiri si nona berputar-putar dengan motornya untuk ngapelin Riza. Maklum, para pengungsi dilarang keluar dari kompleks rusunawa. Kalau ketahuan bisa gawat. "Pokoknya pengungsi yang kulit putih, ganteng, mudah dapat pacar," kata Sri.

Hehehe... Itu sih semua orang tahu. Tapi Sri menambahkan, pengungsi asal Afghanistan, Pakistan, atau Iran, yang punya modal tampang bagus, juga ramah dan mudah bergaul. Mereka pun paling cepat menguasai bahasa Indonesia. Beda dengan pengungsi-pengungsi hitam asal Somalia dan negara Afrika hitam lain yang cenderung rombongan dan eksklusif.

"Orang-orang hitam itu gak ada yang mau. Tampangnya gak menarik, mereka juga sangat fanatik agamanya. Suka melecehkan kita yang dianggap masih kurang Islam," kata Sri yang berbusana muslim.

Suatu ketika mbak Sri dites menghafal kitab suci Alquran oleh beberapa cowok Somalia. Karuan saja Sri kelabakan karena tidak hafal. Tahu tapi tidak mendalam. Si Somalia yang fanatik itu kemudian marah-marah. "Kamu ini katanya Islam kok tidak hafal Quran? Kafir kamu!" ujar Sri menirukan ucapan salah satu imigran hitam itu.

"Kamu wong ireng, ngapain minggat dari negara kamu? Sudah ditampung di sini, dikasih makan, tidur gratis... kok malah marah-marah sama orang Indonesia! Pulang aja ke Somalia sana!!!!" gantian mbak sri membentak orang yang kulitnya hitam kayak kopi itu.

Bukan hanya Sri yang didamprat oleh para fundamentalis hitam dari Somalia itu. Beberapa pedagang di Puspa Agro juga dikhotbahi agar segera berubah jadi orang Islam yang bener. "Tapi ada juga yang kepergok pacaran sama janda tua. Gantian saya yang teriak, haram haram haram! Bukan muhrimnya kamu!" Si Somalia yang kesepian di rusunawa pun hanya bisa nyengir kuda.

"Wis lah, pokoknya wong-wong ireng iku gak enak blas. Sudah jelek, hitam, suka mencampuri urusan keagamaan kita. Kalau ketemu yang diomongin mesti soal-soal agama... dan bikin panas kuping. Lha, siapa yang mau dipacari sama Somalia?" kata Sri lantas tertawa keras.

Tiba-tiba pedagang makanan yang lain, namanya juga Sri, muncul dan nguping omongan Sri juragan warkop itu. "Sampeyan gelem pacaran sama pengungsi di sebelah itu?" pancing saya menggoda Sri yang gemuk dan STW itu.

"Apa??? Pacaran sama pengungsi? Sama Somalia? Sorry ya!!! Saya ini, meskipun sudah STW, masih laku lho! Zaman sekarang ini gak perlu ganteng. Yang perlu itu uang! Pengungsi itu gak punya uang! Emangnya kita makan gantengnya si Iran, Pakistan?" kata tante gemuk itu dengan nada tinggi.

Wow, rupanya pedagang-pedagang di Puspa Agro sudah paham betul kelakuan para imigran asing itu. Bahkan, beberapa di antaranya pernah jadi korban mabok cinta sesaat dari para pencari suaka politik. "Uang saya dibawa cowok (pengungsi), tapi sampai sekarang belum dikembalikan," kata seorang wanita STW yang pernah menjalin asmara dengan pengungsi.

Pelajaran moral:
Jadi orang hitam itu gak enak!
Gak ada (jarang ada) gadis/janda yang mau dipacari!
Lebih setia istri karena sulit selingkuh (biasanya ditolak cewek).

No comments:

Post a Comment