09 August 2015

Khotbah TUTU KODA ala misionaris Belanda


Almarhum Pater Lambertus Padji Seran SVD, salah satu pelopor khotbah gaya TUTU KODA KIRING ala Flores Timur.

Baru saja saya ikut misa di sebuah paroki di Surabaya. Gerejanya bagus, sejuk (pakai AC), umatnya banyak, kolektenya juga hebat. Tapi khotbahnya, menurut saya, kok menjemukan. Bikin ngantuk. Sang gembala seperti hanya membaca artikel di koran, sementara jemaat sulit mengikuti uraian beliau.

Intronya sih bagus. Cerita pengalaman sang pengkhotbah melayani umat di pedalaman yang haus ekaristi. Kalau di Surabaya misa digelar tiap hari, pastornya banyak, kornya bagus, di luar Jawa kadang 2-3 bulan tidak ada misa karena kurang pastor. Tidak ada ekaristi. Umat Katolik hanya bikin ibadat sabda tanpa imam macam di pedalaman Flores Timur, kampung halaman saya, dulu. Maklum, di pedalaman Flores Timur, dulu, satu pastor harus melayani 20 gereja yang saling berjauhan. Di Surabaya, 2-4 pastor hanya melayani SATU gereja paroki.

Saya berusaha menyimak khotbah minus humor itu secara saksama. Wow, uraiannya runut, dalam, merujuk bacaaan pertama, kedua, ketiga, dengan titik tekan Yesus sebagai roti kehidupan. Bukankah Ia anak Yusuf, yang ibu bapaknya kita kenal?

Cuma, ya, itu tadi, khotbah itu hambar karena tak punya daya pikat. Mirip khotbah dua romo senior di Paroki Jember tahun akhir 1990-an yang sangat akademis. Mirip kuliah agama Katolik di kampus saja. Tahu-tahu khotbahnya selesai, sementara kita lupa pesan apa yang bisa dibawa pulang dari homili tersebut.

Sembari mendengar uraian tentang roti kehidupan, pikiran saya mengembara ke masa anak-anak di NTT. Masa ketika pastor yang bertugas di gereja desa, Atawatung, Kecamatan Ileape, Kabupaten Flores Timur, dilayani Pater Geurtz SVD dan Pater Van de Leur SVD, dua pastor asal Belanda yang sangat unik. Pater Geurtz sering jalan kaki atau naik motor gede, ditemani kuda putihnya, ketika keliling gereja-gereja desa. Pater Van de Leur naik sepeda pancal dengan kecepatan tinggi.

Metode homili atau khotbah dua imam misionaris generasi terakhir di Indonesia itu benar-benar nancap di benak saya sampai sekarang. Begitu juga gaya khotbah Pater Lambertus Padji Seran SVD (yang membaptis saya, nama permandian saya mengikuti nama beliau, Lambertus, apalagi almarhum ini dulu sering menginap di rumah saya.) Gaya khotbah pater-pater lama itu dalam bahasa Lamaholot disebut TUTU NUAN atau KODA KIRING. Bahasa kerennya story telling.

Pater Geurtz, Pater Van de Leur, atau Pater Lambert selalu bercerita. Omong-omong seperti sedang berbincang di rumah sambil ngopi atau minum tuak. Suasananya santai, informal, sering pakai bahasa daerah Lamaholot karena sebagian besar umat (saat itu) memang kurang paham bahasa Indonesia. Gaya romo-romo tua yang sudah almarhum semua ini spontan, tidak pakai baca, dan selalu ada humornya. Umat sering dibuat tersenyum atau ketawa-ketawa, tapi juga kecut karena disindir.

Yah, mungkin karena di desa, yang tidak ada listriknya, serba sederhana, pendidikan rendah, sanga pastor Belanda itu menyesuaikan diri dengan daya serap umat. Pastor-pastor pribumi generasi pertama macam Pater Lambert pun begitu. Pater Lambert yang asli Adonara Timur ini bahkan lebih seru karena bicaranya keras dengan logat Adonara yang sangat kental. Khotbahnya pun dalam bahasa Lamaholot. Tidak paka baca!

Setelah pindah ke Larantuka, ibukota kabupaten Flores Timur, pusat misi Katolik yang terkenal sejak zaman Portugis, saya masih menemukan khotbah gaya KODA KIRING atau story telling alias naratif ini pada Pater Paulus Due SVD (sekarang almarhum). Pandai benar Pater Paulus bercerita. Suaranya tinggi, jago nyanyi prefasi, bisa ngomong ngalor-ngidul dan panjaaaang. Tapi, karena cerita yang kaya humor, umat Katolik di Larantuka selalu dibuat senyam-senyum menyimak homili beliau.

Berbeda dengan Pater Paulus, masih di Katedral Larantuka, Romo Gorys Kedang asal Lembata punya gaya yang sangat berbeda. Khotbah-khotbahnya disusun rapi, ilmiah, dan pakai baca. Seingat saya beliau sering mengutip majalah Prisma yang berat itu. Juga filsuf-filsuf terkenal untuk memperkaya khotbahnya. Meskipun pakai baca, Romo Gorys sering membumbui homilinya dengan humor atau cerita-cerita lucu.

Nah, pengalaman semasa di SD dan SMP di bumi NTT inilah yang sering muncul ketika saya mendengar khotbah yang menjemukan. Sang gembala seperti asyik membaca makalahnya sendiri tanpa peduli respons jemaat. Khotbah jadi tidak hidup. Tahu-tahu khotbahnya selesai, sementara kita tidak tahu apa poin khotbahnya.

Homili atau khotbah yang hidup tidak berarti sang pengkhotbah harus teriak-teriak, banyak memekikkan "Haleluya", minta jemaat tepuk tangan ala karismatik. Mendiang Pater Geurtz SVD di Flores Timur itu bicaranya halus, tenang, tapi gaya TUTU KODA KIRING alias story telling-nya sangat menarik. Orang-orang desa di pelosok NTT itu sepertinya tidak rela kalau khotbahnya harus diakhiri. Saking menariknya.

Di Surabaya dan Sidoarjo ini, saya perhatikan ada banyak romo yang gaya homilinya mirip pater-pater misionaris lawas. Misalnya Romo Didik di Katedral Surabaya, Romo Eko Budi Susilo (Nganjuk), Romo Kurdo Irianto (Cepu), Romo Tondowidjojo (Kristus Raja, Surabaya), Romo Gani CM (Widodaren), Romo Senti (Surabaya, seminari tinggi), Romo Jus (Sidoarjo)....

Tapi masih banyak romo yang masih asyik dengan makalahnya sendiri, dengan bahasa buku (ilmiah). Padahal, setahu saya, gaya TUTU KODA alias spoken language itu jauh lebih disukai umat ketimbang written language ala makalah teologis. Khotbah pakai baca itu gak enak.

Mengapa komunitas karismatik sering mengudang romo-romo dari luar? Mengapa umat Katolik sering "jajan" mengikuti kebaktian kebangunan rohani di gereja-gereja aliran karismatik?

Salah satu sebabnya ya ingin mendengar khotbah yang hidup, yang tidak bikin ngantuk. Itulah gaya KODA KIRING yang sejak dulu diperkenalkan pater-pater misionaris di Indonesia. Saya banget kalau romo-romo kita yang asli Indonesia malah melupakan gaya lama yang justru masih sangat relevan itu.

2 comments:

  1. Yesus pun mengajar dan berkhotbah dengan menggunakan cerita, perumpamaan, dan ungkapan pendek (aphorisme) yang mudah diingat. Cerita: "Orang Samaria yang Baik Hati", "Anak yang Hilang Kembali Lagi", ... Perumpamaan: "Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi ...". Ungkapan pendek: "Lebih mudah seekor onta masuk lubang jarum daripada seorang kaya masuk Kerajaan Surga."

    Dia juga suka ngobrol dengan segala kalangan masyarakat: pelacur, orang lepra, wanita Samaria (yang dianggap aliran sesat, dan suka gonta-ganti suami), orang kaya pemungut pajak, dll. pokoknya orang yang mau bertobat.

    Pastor-pastor kalau berkhotbah jangan sok akademis. Ikutilah Gurumu yang pertama itu. Sudahkah pastor-pastor mengikuti jalan Yesus dalam bergaul juga?

    ReplyDelete
  2. Khotbah yang bermanfaat adalah yang membuat para jemaat jengah, terpekur, menundukkan kepala dan berpikir. Setelah mereka keluar gereja ber-sama2 kewarung minum tuak, merokok dan mendiskusikan makna khotbah yang barusan diucapkan oleh pastor. Bukannya ha-ha-hi-hi lantas kerestoran makan dim-sum dan minum teh.
    Untuk itu diperlukan seorang pastor pribumi, agar supaya para jemaat tidak ada yang tersinggung, sebab mengucapkan kebenaran selalu menyakiti hati.
    Seorang pastor pribumi Kongo, Jean Bosco, dari kota Bukavu, provinsi Kivu, berkhotbah; Kongo yang diberkahi Tuhan dengan kekayaan alam yang berlimpah,
    bukannya menyejahterakan rakyat Kongo, malah sebaliknya menjadi kutukan.
    Orang asing datang merampok, kita diadu domba, perang saudara, saling membunuh, gadis-gadis diperkosa oleh tentara sendiri dan juga oleh para pemberontak yang datang dari negara tetangga.
    Kalian malas, korupsi,..........dst. ! Cuplikan Khotbah bisa dilihat di YouTube, Coltan Kongo Dokumentation. Apakah khotbah bagus itu ada gunanya, wallahualam ?
    Lha wong rakyat jelata Kongo dipaksa jadi budak dibawah ancaman senjata AK-47.
    Untunglah para misionaris Don Bosco ( Salesianer ) banyak membangun sekolah2 disana. Semoga suatu ketika ada murid2 Don Bosco yang baik jadi pemimpin, mampu menyejahterakan rakyat Kongo. Rakyat Indonesia juga pernah terbungkam puluhan tahun lamanya, juga tidak ada yang berani buka mulut, sebab ada Kopkamtib.

    ReplyDelete