22 August 2015

Hilangnya La Liga di TV kita



Mulai pekan ini, penggemar Barcelona tidak bisa lagi menyaksikan aksi-aksi ciamik Messi, Suarez, Neymar dkk di lapangan. Penggemar Real Madrid pun tak bisa melihat si CR7 membusungkan dana, ini dadaku, mana dadamu, memamerkan guratan ototnya usai mencetak gol.

Kita hanya bisa melihat cuplikannya di televisi atau internet. Sekilas saja. Sebab RCTI mulai tahun ini angkat bendera putih tinggi-tinggi. Gak kuat bayar hak siar Liga Spanyol alias La Liga. Sebetulnya kita di Indonesia sih tetap bisa menonton dengan mudah, gambar lebih bagus, pertandingan lebih banyak. Tapi ya itu, harus berlangganan TV berbayar. Gak gratisan lagi.

Mengubah mental gratisan, yang diperkenalkan RCTI sejak awal mengudara pada tahun 1980an dengan Liga Italia alias Serie A, menjadi pelanggan TV berbayar memang tidak mudah. Tapi di mana-mana memang begitu. Kalau mau nonton tayangan bagus, bermutu, tidak banjir iklan, banjir presenter waria kemayu, ya bayar.
Keputusan RCTI menghentikan siaran langsung La Liga sekaligus menghapus citra stasiun itu menjadi pelopor virus kompetisi liga sepak bola Eropa di Indonesia. Di awal berdirinya, RCTI dikenal orang karena Seputar Indonesia, program berita yang angle-nya beda dengan TVRI. Gaya penyampai berita di RCTI lebih santai, agak informal, dan cerdas. Beda dengan penyiar-penyiar TVRI yang cuma membacakan teks, mirip baca koran saja.

Sampai sekarang saya masih terkenang gaya presenter Adolf Posumah, Desi Anwar, dan Dana Iswara, yang kemudian menjadi benchmark saya dalam menilai presenter-presenter berita di TV sekarang. Selain Seputar Indonesia, tayangan Liga Italia membuat RCTI menjadi jujukan semua orang Indonesia yang gila bola.

Dalam perkembangannya, kualitas Liga Italia merosot sampai ke titik terendah. Lalu muncul TV7 (sekarang Trans 7) yang rutin menayangkan Liga Inggris. Amboi, suasana pertandingannya jauh lebih heboh daripada Italia. Permainan lebih cepat, lebih keras, lebih semangat. Bintang-bintangnya pun lebih bersinar. Maka penggemar bola di tanah air makin terbius dengan Premier League.

RCTI makin asyik dengan sinetron dan berita-berita politik pesanan pemiliknya HT. Tapi tengah malam kita masih bisa menyaksikan La Liga. Khususnya laga-laga yang melibatkan dua raksasa: Barcelona dan Real Madrid. Sebab hanya dua klub itu yang disukai publik di seluruh dunia. Kualitas Barca dan Real Madrid jauh melampui 18 klub yang lain.

Yah, masih syukur Liga Inggris masih ditayangkan SCTV dan Indosiar yang satu manajemen. Itu pun bukan partai paling heboh. Andaikan ada 5 pertandingan yang dimainkan bersamaan, SCTV/Indosiar biasanya hanya kebagian laga yang dianggap paling jelek. Namanya juga gratisan. Kalau mau lihat super big matches ya harus nyetel si Bein TV itu.

Tentu saja ada segi positif di balik hilangnya La Liga di televisi gratisan. Kita bisa tidur lebih nyenyak, tak perlu nyetel alarm agar bangun 01.30 atau 03.00 demi memuaskan kesenangan kita menonton bola dengan mengorbankan kesehatan. Berbeda dengan Liga Inggris, yang menyesuaikan jadwal laga agar ramah Asia, Liga Spanyol sejak dulu sangat berorientasi Eropa. Gak peduli kalau di Indonesia pukul 01.30 itu orang sedang nyenyak-nyenyaknya tidur.

1 comment:

  1. Om Hurek, kalau ada games yg tidak ditayangkan di tv, saya nonton lewat internet om, lewat feed2all.

    ReplyDelete