05 August 2015

Dr Jarot Iswanto ahli hisab dari Unmuh Sidoarjo



Setiap menjelang bulan Ramadan dan Syawal, ilmu falak atau astronomi naik daun. Umat Islam ingin tahu tinggi hilal (bulan sabit pertama), usia hilal, bisa dilihat atau tidak, dsb. Ini penting untuk menentukan awal dan akhir ibadah puasa. Selalu ada polemik soal hilal dalam sidang isbat yang diadakan kementerian agama.

Di Jawa Timur, salah satu ahli hisab (astronom) terkemuka adalah Dr Jarot Iswanto. Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini sejak 2003 jadi pelatih para ahli hisab dan rukyat di Jawa Timur. Pria kelahiran 23 Januari 1964 ini memberikan pengetahuan dasar ilmu falak, perlengkapan, teknik melihat hilal, ketinggian dsb.

"Rukyat itu pasti menggunakan data hisab (perhitungan). Kedua metode ini tidak bisa dipisahkan," kata pengajar ilmu falak Unmuh Sidoarjo ini. Dengan perhitungan astronomis, maka posisi hilal bisa dipastikan. Teleskop pun diarahkan ke koordinat itu.

Menekuni ilmu falak selama bertahun-tahun, khususnya setelah aktif di badan diklat dan litbang kementerian agama, membuat Dr Jarot Iswanto punya semua data posisi dan ketinggian hilal dari tahun ke tahun. Dia juga punya semacam kalkulator khusus untuk menghitung koordinat, ketinggian, usia hilal dsb. Termasuk apakah hilal itu bisa dilihat atau tidak.
Data ilmiah itu kemudian diperkuat dengan pengamatan langsung di sejumlah titik di lapangan. Pengamatan hilal ini selalu dilakukan pada tanggal hari ke-28 penanggalan Hijriah. Di Jawa Timur antara lain di pantai Kenjeran, Tanjungkodok Lamongan, atau Condrodipo Gresik. Jika tak ada halangan seperti hujan, awan tebal, dsb biasanya perhitungan ilmu falak itu tidak meleset.

"Ilmu falak itu sangat menarik karena langsung diterapkan untuk peribadahan umat Islam. Termasuk untuk menentukan arah kiblat secara akurat," kata doktor lulusan Unmuh Surabaya ini.

6 comments:

  1. "Biasanya perhitungan ilmu falak itu tidak meleset...". Gimana toh, kok ada kata "biasanya". Seharusnya "Walaupun ada hujan, awan, dll, sudah pasti(!) perhitungan ilmu falak itu tidak meleset." Yang meleset itu alamnya, hujan, awan, sehingga menghalangi penglihatan manusia. Sedangkan bulan barunya sendiri pasti sudah muncul, hujan maupun tidak. Itu sudah hukum alam yang diatur oleh Allah, mengapa manusia mau mempercayai penglihatannya sendiri daripada hukum alam?

    Dewan Fikih Amerika Utara http://www.fiqhcouncil.org/ sendiri sudah menganjurkan agar umat Islam di Kanada dan Amerika memulai menurut hitungan kalender / ilmu falak saja, karena sudah persis sekali hitungan itu. Begitu juga di Perancis.

    Di Amerika, NASA sudah menggunakan astronomi dan fisika untuk mengirim pesawat ke Mars dan bahkan Pluto. Umat Islam di Indonesia masih ribet dengan hisab hanya untuk kepentingan menentukan permulaan puasa. Emang ilmu falak gak ada kemajuan dari abad ke-7?

    ReplyDelete
  2. Setuju dengan Pasti Ilmu. Sebagai Muslim modern kita harus mereformasi cara kita berpikir, seperti orang Jepang dulu melakukan reformasi Meiji. Dunia Islam dulu penuh dengan ilmuwan yang berpikiran maju untuk jamannya, tetapi sekarang seperti katak dalam tempurung.

    ReplyDelete
  3. masalahnya di indonesia tidak ada dewan fiqih atau dewan sejenisnya yg punya otoritas untuk menetapkan awal puasa dan lebaran yg diakui oleh semua ormas islam. semua ormas bersikeras dengan keyakinannya dan metodenya sendiri2. pemerintah (kementerian agama) pun tidak bisa menjadi rujukan karena ormas2 tidak akan terikat dengan keputusan pemerintah, sehingga tetap akan sulit menentukan awal puasa, lebaran, dan idul adha....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya ya MUI itu. Tetapi MUInya dikuasai orang orang kolot yang mau menerapkan budaya Arab, daripada memperjuangkan keadilan sosial seperti yang diperjuangkan Nabi Muhammad.

      Delete
  4. Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu kumpulan banyak sekali ormas Islam yg mencerminkan aliran doktrin atau denominasi di lingkungan protestan-pentakosta. Ormas2 ini punya rujukan, metode, dan kriteria sendiri kapan hilal itu bisa dilihat manusia, ketinggiannya berapa, umurnya berapa jam, dsb. Kriteria inilah yang belum bisa disepakati sampai saat ini. Maka, kalau ketinggian hilal itu terlalu rendah, di bawah patokan sebagian ormas Islam, maka akan terjadi perbedaan awal puasa atau lebaran. Pemerintah atau kementerian agama belum bisa menyatukan kriteria2 hilal itu.

    Kebetulan sejak awal kemerdekaan, menteri agama dijabat oleh tokoh yg berlatar belakang NU sehingga penetapan awal puasa, lebaran, iduladha selalu sama dengan versi NU. Makanya, pimpinan Muhammadiyah beberapa kali tidak ikut sidang isbat karena merasa pendapatnya tidak didengar pemerintah dan ormas2 lain yg berbeda kriteria hilal.

    Pakar2 ilmu falak alias astronom macam Pak Jarot ini punya peranan yg sangat strategis dalam memberikan masukan kepada ormas2 Islam tentang hilal dsb. Tapi otoritas untuk penetapan tetap berada di tangan ormas2 dan menteri agama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya pemerintah Indonesia tidak mengikuti ormas, tetapi mengikuti ilmu falak. Setiap ormas berhak mengumumkan untuk pengikutnya sendiri-sendiri. Tetapi untuk pemerintah yang menentukan hari libur resmi, harus berdasarkan ilmu falak, yang tidak usah pakai intip-intip pun sudah yakin betul.

      Delete