31 August 2015

Dagelan Politik dari Surabaya

Pantas saja ludruk mati di Surabaya. Sebab dagelannya kalah lucu ketimbang dagelan politisi. Kemarin kita kembali disuguhi dagelan politik: pasangan Rasiyo-Dhimam Abror tidak memenuhi syarat untuk maju dalam pemilihan kepala daerah di Surabaya pada 9 Desember 2015.

Rasiyo-Abror digugurkan KPU Sidoarjo karena surat rekomendasi dari pengurus pusat PAN ternyata tidak identik dengan versi digital (scan) yang dipakai saat pendaftaran lalu. Katanya, surat asli yang fotokopinya dikirim ke KPU Surabaya itu hilang. Dibawa kabur oleh seseorang yang tidak disebutkan namanya. Tentu saja orang Partai Amanat Nasional (PAN) juga.

Katanya, surat rekomendasi itu mau dijual dengan harga miliaran rupiah. Tapi tidak laku. Karena surat aslinya hilang, pengurus pusat PAN di Jakarta membuat surat baru. Ya, tentu saja tidak bisa identik dengan versi scan saat pendaftaran itu.

Sangat lucu! Lebih lucu daripada Srimulat yang sudah lama mati itu. Tapi kita tidak bisa tertawa lepas kayak nonton ludruk di THR atau Wonokromo. Kita hanya bisa bilang, "Juancuuuuk tenan! Juangkreeeek! Dagelan politisi gombaaaal!"

Dagelan sebelumnya tidak kalah lucu. Beberapa menit sebelum penutupan pendaftaran, Dhimam Abror dan Haries Purwoko datang ke KPU Surabaya. Warga Surabaya, kecuali politisi Koalisi Majapahit, senang karena pemilihan wali kota tidak perlu ditunda hingga 2017. Pasangan Risma-Whisnu punya calon lawan tanding.

Eh, tiba-tiba Haries izin ke toilet. Setelah itu melarikan diri tak tentu rimbanya. Dhimam Abror dinyatakan tidak sah karena tidak punya pasangan calon wakil wali kota. Mungkin baru pertama kali di Indonesia ada bakal calon yang kabur ke WC dan menghilang.

Indonesia tertawa! Srimulat dan grup-grup ludruk makin sulit menyaingi kekonyolan politisi di Surabaya.

Kabarnya KPU Surabaya kembali membuka pendaftaran bakal calon 6-8 September 2015. Rasiyo dan Abror tidak boleh mendaftar lagi karena sudah TMS: tidak memenuhi syarat.

Kita tunggu saja dagelan macam apa lagi yang dimainkan para aktor politik Kota Buaya. Politik memang panggung sandiwara. Mungkin dagelan berikut jauh lebih lucu ketimbang dua dagelan sebelumnya.

Yang namanya dalang gak akan kehabisan lakon!


Sent from my BlackBerry

1 comment:

  1. Saya yang tinggal di luar negeri pun hanya bisa bilang: jancuuuuuk!

    ReplyDelete