12 August 2015

Cewek Taiwan vs Cewek Tiongkok



Semaju-majunya Tiongkok, sistem politiknya masih represif. Hanya satu partai yang boleh hidup, yakni Partai Komunis Tiongkok. Tidak ada ruang untuk demokrasi. Apalagi mengecam pemerintah yang komunis tulen.

Cungkuo sangat ketat melakukan sensor informasi. Internet dipelototi setiap menit dan detik. Jangan harap rakyat meledek atau memaki-maki gubernur atau presiden seperti di Indonesia setelah reformasi. Syair lagu-lagu pop pun diteliti oleh komite khusus. Kalau liriknya dianggap provokatif, cabul, mengandung kekerasan, ngeledek pemerintah, dan sejenisnya akan dibredel.

Selasa 11 Agustus 2015, kementerian kebudayaan Cungkuo melarang 120 lagu pop yang cukup disukai anak-anak muda. Saya ingat dua judul lagu: Saya Cinta Cewek Taiwan dan Tak Ada Uang Tak Ada Teman. Musiknya sendiri sih biasa-biasa saja. Band-band Indonesia umumnya masih lebih bagus ketimbang musisi Tiongkok atau Taiwan.

Saya jadi geli sendiri membaca larangan lagu soal cewek Taiwan itu. Bukan apa-apa. Syair lagu itu membandingkan cewek Taiwan dan cewek Tiongkok yang sama-sama cakep tapi karakternya sangat berbeda. Intinya, cewek Cungkuo itu brengsek, kampungan, dan mata duitan.

Hehehe....

Saya langsung teringat omongan teman saya yang alumni Taiwan (S1), kemudian ambil S2 di Tiongkok. Meski sangat sebagian besar income-nya dari hasil bisnis dengan jaringan di Tiongkok, sering jadi pemandu wisata dan pendidikan ke Cungkuo, selera ceweknya tidak berubah. Su Xiangshen itu sama sekali tidak tertarik dengan cewek Cungkuo.

"Cewek-cewek Cungkuo itu kan cakep, Bung?"

"Cakep apanya? Lebih banyak yang jorok. Malas mandi dan dandan."

"Kok di Surabaya cewek-cewek Cungkuo kelihatan cakep dan gaul kayak artis?"

"Hehehe.... Itu kan sudah di luar negaranya. Dia mesti dandan biar laku. Wong mereka itu banyak yang jadi wanita simpanan. Saya ini belasan tahun tinggal di Taiwan dan Cungkuo. Makanya saya tau betul cewek-cewek di sana. Sampai baunya pun saya hafal," kata xiangshen yang juga laoshi Mandarin itu.

"Berarti Anda cinta cewek Taiwan?"

"Oh tidak. Saya cinta yang Indonesia saja. Istri saya kan orang Indonesia, keturunan Tionghoa. Lebih aman dan hemat. Kawin sama cewek Taiwan atau Tiongkok itu cepat bikin bangkrut. Saya nggak selera sama Cungkuo," katanya tegas.

Xiangshen ini bercerita cewek-cewek yang malas dandan ini bukan karena kurang duit untuk membeli sabun, bedak, dan berbagai perlengkapan kosmetik. Mereka terlalu sibuk belajar belajar belajar belajar... karena tuntutan pendidikan di Tiongkok luar biasa tingginya. Agar bisa jadi pegawai negeri nilainya harus istimewa. Jadi apa saja bukan hanya ijazah, tapi juga nilai rata-rata A+ atau 90 ke atas.

"Persaingan begitu ketat di Tiongkok. Makanya anak-anak sekolah, mahasiswa, di sana tidak punya waktu untuk pacaran. Saya paling malas naik bus umum di Tiongkok. Kenapa? Bau keringat mereka gak enak blasss. Banyak rambutan di ketiak cewek-cewek karena nggak pernah dicukur," kata xiangshen yang galak sama Cungkuo tapi senang duit dari negara berpenduduk 1,3 miliar itu.
Tidak hanya penyanyi Taiwan yang meledek cewek-cewek atau orang Cungkuo. Beberapa waktu lalu saya bertemu Catherine asal Hongkong yang mengikuti sebuah konferensi internasional kristiani di Surabaya. Saat ditanya tentang Tiongkok yang makin maju dan kelebihan uang, investasi di mana-mana, Catherine langsung nyengir kuda.

"Ngapain kamu bahas Tiongkok? Tidak ada demokrasi di sana. Tidak ada kebebasan sipil. Bahkan penguasa komunis di Tiongkok pun sampai mengatur bahasa dan tulisan yang kami pakai di Hongkong. Kamu jangan terpukau dengan Tiongkok yang kelihatan hebat dari luar," kata Catherine yang lebih suka berbahasa Inggris ketimbang bahasa Mandarin.

Dia bilang bahasa Mandarin versi Beijing dipaksakan oleh penguasa komunis di wilayah Hongkong. Padahal sejak dulu penduduk Hongkok punya dialek sendiri dan sudah biasa berbahasa Inggris selama dikuasai British. Catherine khawatir lama-lama rezim komunis ini juga mengintervensi gereja-gereja di Hongkong seperti di wilayah Tiongkok.

Manusia tidak hanya hidup dari roti saja, katanya.

12 comments:

  1. Bung Hurek, teman Anda, Su Laoshi, kok lebih soro daripada owe, sampai kelek-kelek tacik China juga diintip dan diambungi. Orang2 Cina daratan khan mula2 belajarnya dari Cina Hong-Kong dan Cina Taiwan, jadi tidak patutlah mereka mencela muridnya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru pegel karena muridnya sekarang lebih lihay ilmunya ( kebrengsekannya ), lha wong mereka semuanya bangsa serumpun yang 4000 tahun silam nenek-moyangnya berasal dari sekitar sungai Huanghe diprovinsi Henan. Bagi saya pribadi, sing paling soro
    kuwi adalah cewek Hong-Kong, congkak, podo ora dhuwe aturan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe... su laoshi ini kalau bicara di seminar sering guyon ala suroboyoan yg rada ngeres. poinnya, su ingin bilang pelajar2 di cungkuo itu kerjanya belajar belajar belajar belajar sehingga keleknya pun gak sempet diurus alias ketjut... kamsia atas tambahan cerita soal cewek2 xianggang yg gak dhuwe aturan alias brengsek.

      Delete
  2. Kementerian Pendidikan Republik Afrika Selatan memerintahkan, mulai tahun pelajaran 2016, disemua sekolah negeri, harus diajarkan mata pelajaran bahasa Mandarin, mulai sekolah dasar, SMP sampai SMA. Semua biaya ditanggung oleh
    negara Tiongkok.
    Dulu sewaktu Hong-Kong masih jajahan Inggris, saya kalau mau naik Taxi, harus berbicara pakai bahasa Inggris, sebab kalau pakai bahasa Mandarin, oleh sopir taxi Hong-Kong tidak dianggep. Sekarang mereka semuanya bisa berbahasa Mandarin. Dari dulu memang bisa, tetapi tidak mau ngomong. Dasar brengsek.
    Pernah beberapa kali saya dan ipar-saya ( orang Jakarta yang tidak bisa Mandarin ) naik Taxi di Quanzhou-Fujian. Karena bahasa Mandarin-saya berlogat aneh, entah berlogat Bali atau Jawa-Timur, sopir taxi China bertanya kepada saya; Kamu orang Jepang ya ? Saya tanya balik; Kenapa lu tanya yang sedemikian aneh ?
    Jawab si-sopir : Kalau lu orang Jepang, gua tidak mau ngangkut lu !
    Ipar-saya bertanya; apa yang kalian perdebatkan ? Saya kasih tahu.
    Ipar-saya mengeluh; Sialan Cina ini kok rassist !
    Setelah didalam taxi, saya tanya kepada si-sopir, Lu bisa bahasa Hok-kien ?
    Sopir : Tidak bisa, saya dari Tiongkok utara, Henan.
    Saya pikir, mangkanya orang itu kurang ajar, emsi hok-kien lang !
    Didalam taxi, si-sopir Cina saya kuliahi : Lu ini pernah kenal orang Jepang kah ?
    Lu tahu ! Kebanyakan orang2 Jepang yang gua kenal, sangat sopan, tidak kasar seperti kita orang Cina ! Si-sopir : gua tidak kenal, juga tidak ingin kenal, pokoknya gua tidak suka orang Jepang, tidak perduli dia mau bayar seberapapun, gua tidak mau ngangkut dia. Benar ipar-saya, bukan saja si-Cina itu rassist, tetapi juga brengsek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin saja sopir taksi itu punya pengalaman buruk, mungkin anggota keluarganya dibunuh oleh tentara pendudukan Jepang dulunya, jadi trauma.

      Delete
  3. Tahun 1986 saya ada urusan dengan seorang menteri negara Singapura, jadi saya pakai jas biru-tua komplit dengan dasi. Saya pakai bahasa Inggris kepada si-sopir taxi Singapur, agar dia sudi mengantar saya kealamat kementerian.
    Sopirnya diam saja, tertegun, tidak ada reaksi. Kebetulan ada seorang engkoh yang lewat dan ikut mendengar kata2-saya. Lalu si-engkoh menterjemahkan kalimat-saya dengan bahasa Hok-kian ke si-sopir. Si-sopir lalu mempersilahkan saya duduk kedalam taxi. Dalam benak saya berpikir; mungkin si-sopir merasa muak dan jengkel, karena saya pakai bahasa Inggris, mungkin dia pikir; wong podo-podo cino sipit, lha kok kathek ingris-ingrisan, sok british !
    Serba susahlah, kalau diluar negeri ( kawasan Asia ) langsung pakai bahasa Mandarin, maka kesan orang, ah ini orang China daratan. Reputasi tourist Cina daratan diluar negeri kurang baik, dianggap kasar, kampungan, tidak tahu aturan.

    ReplyDelete
  4. Konon Hak tertinggi bagi seorang warganegara adalah hak memilih waktu pemilu.
    Ketika masih ada undang-undang wajib memilih pada pemilu, maka saya setiap ada pemilu selalu pergi memilih, sebab kalau absen sanksinya masuk bui atau didenda. Saya selalu memilih partai sosialis, sebab partai itu masih lebih baik terhadap warga immigran. Ketika undang-undang itu dihapus, ikut pemilu adalah suka-rela, maka saya tidak pernah ikut pemilu lagi, sebab saya sudah tidak percaya sama partai2 dan politisi2. Sekarang kalau ada pemilu di Eropa, yang ikut nyoblos maximal 65%, jadi yang golput seperti saya jumlahnya 35 %.
    Bagi saya kata Demokrasi hanyalah isapan jempol belaka.
    Apapun bentuk pemerintahan, yang penting rakyatnya harus adil-makmur, aman dan sentosa. Ergo bagi saya hidup di Tiongkok atau Eropa sami-mawon.
    Siapa bilang di Tiongkok sekarang ini tidak ada kebebasan beragama ? Yang tidak bebas hanyalah mencaci-maki Presiden Xi Jin-ping. Bukannya seperti di Indonesia, dimana Presiden boleh dimaki kebo, dimaki Mbok lemu, dimaki tolol tidak tahu apa-apa. Apakah itu yang dinamakan demokrasi ??
    Singapura yang makmur, dikoran Eropa selalu dijuluki Polizei Staat ( Negara Polisi ), sebab de facto, yang berkuasa sejak merdeka tahun 1965 adalah PAP, partainya Lee Kuan-yew. Ini buktinya rakyat Asia sebenarnya tidak perduli akan
    demokrasi, yang penting pemerintahnya baik, jujur dan bersih,
    Indoktrinasi istilah demokrasi hanyalah tipu-daya USA untuk menjatuhkan negara2 yang tidak mau jadi budaknya imperialis. Begitu bodohnya Amerika yang bermaksud menjadikan negara2 Arab sebagai negara demokrasi ala barat.
    Rencananya, demokratisasi dimulai dari Irak, Syria, Libanon, dengan harapan akan menjalar keseluruh negara Arab, sampai Maroko dibarat dan Afghanistan ditimur. Alhasil negara2 Timur Tengah jadi hancur. Agama dan rakyat diadu-domba. Demikian pula halnya dengan Yugoslavia, Udssr. Sekarang targetnya adalah Tiongkok. Cina2 Taiwan, Hong-Kong, Xinjiang, Tibet, Korea Selatan dan terutama Jepang dipengaruhi untuk melawan pemerintahan di Peking.
    Siapakah yang menjajah Indonesia. Siapakah tentara2 sekutu yang berusaha menggagalkan Kemerdekaan Indonesia. Siapakah yang selalu mengacao dan meng-obok2 pemerintahan Presiden Sukarno ? Bukankah mereka2 itu orang2 yang menganut paham demokrasi. Saya khan mengalami sendiri, ketika di Indonesia banyak ada gerombolan bersenjata yang dibiayai oleh CIA.
    Pernahkah Bung Hurek merasakan ketakutan sedemikian rupa, berusaha lari secepatnya, tetapi perasaan se-olah2 berlari ditempat. Itu terjadi waktu saya masih kanak2 di Bali. Waktu malam terang bulan, kita anak2 bermain dilapangan, tiba2 seorang teman berteriak: Ada Gerombolan ! Kita lari semburat ketakutan. Dipulau Bali pun ketika itu ada gerombolan permesta yang dipersenjatai oleh CIA.
    Ketika Gestok saya juga ikut baris ke-alon-alon, ber-teriak2, ganyang Untung, ganyang PKI. Ikut2-an dipimpin oleh anak2 PMKRI yang pakai baret merah-jambu dan berjambul kuning. Eh, tidak tahunya, kita hanyalah wayang, sedangkan dalangnya duduk di Amerika.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia xiangshen yg sudah membahas politik panjang lebar dan tajam, menyerang USA jagoan demokrasi. Ternyata diskusi soal cewek cungkuo dan taiwan bisa melebar ke politik, CIA, imperialisme dsb. matur nuwun sudah memberi warna di kolom komentar kitorang punya blog, semoga xiangshen tidak bosen2nya menyatakan pendapat en kritiek demi kebaikan kita punya bangsa dan negara yg kitorang sama2 cintai yg sabentar lagi mau merayakan hari jadi ke-70 di tengah banyak kegalauan soal harga daging sapi, beras, kedele, garam, sate dsb.

      Delete
    2. Bung Lambertus, maaf ya yang betul xiansheng 先生 bukan xiangshen.

      Xiansheng menyamaratakan semua bule di negara-negara barat. Pd waktu RI diobok-obok tentara Inggris dan Belanda, USA turun tangan dan membuka jalan diplomasi untuk RI. Memang krn USA tidak ingin RI menjadi negara komunis, sampai akhirnya terjadi konferensi2 dan dibantu tekanan politik USA thd Belanda (dengan ancaman mencabut Marshall Plan) akhirnya Belanda mau melepaskan Indonesia.

      Mengenai peranan USA di dunia, memang ada yang busuk, tetapi ada juga yang baik. Yang busuk itu di Asia Tenggara 1950-60an karena sedang perang ideologi dengan komunisme. CIA memang busuk sekali waktu itu. Di Timur Tengah dari sejak ditemukannya minyak sampai sekarang, karena kepentingan sumber energi. Ini perkara perut dan ekonomi.

      Tetapi di bekas negara Yugoslavia, USA menyelamatkan jutaan umat Muslim Bosnia yang tidak memberikan apa-apa dari serangan etnis Serbia. Akibatnya negara Yugoslavia pecah. Kepentingannya ialah memperlemah pengaruh Russia.

      Sekarang di Asia dan Afrika. Kepentingan Tiongkok dan USA berbenturan. Menurut saya, Partai Komunis Tiongkok memang brengsek. Amerika juga brengsek. Tetapi PKT lebih brengsek. Orang punya duit seperti xiansheng ini gampang saja pindah pindah dari Cungkuo ke Jerman dan sebaliknya dan mengclaim lebih enak dan sama saja tinggal di mana saja. Tanyakan kepada orang-orang Beijing, Shanghai dll. yang mati-matian mau imigrasi ke USA demi anak-anaknya karena sistem pendidikan yang tidak kreatif dan polusi udara yang super buruk.

      Delete
  5. wanita dimana2 sama aja, ada yg baik ada yg brengsek. kalo taiwan vs Tiongkok daratan itu lebih ke soal politik dan ideologi. lirik lagu itu hanya politisasi soal cewek aja.

    ReplyDelete
  6. artikel yang menarik bagi mereka yang ingin tahu soal orang China dan keturunannya yang tersebar ke seluruh penjuru dunia.

    ReplyDelete
  7. Bung Lambertus ini ada-ada saja. Lagu Saya Cinta Cewek Taiwan (我爱台妹 Wo Ai Tai Mei) itu dinyanyikan oleh MC HotDog, rapper terkenal dari Taiwan. Intinya dia itu lebih suka cewek Taiwan, nasionalis gitu lho. Kan Taiwan sekarang sedang menonjolkan identitas politiknya, banyak penduduknya yang asli beratus tahun di sana (bukan yang pindahan dari mainland atau disebut juga 大陆 Ta Lu -- pinyin Da Lu), salah satunya dengan lagu rap yang lucu dan ada joroknya dikit. Partai Komunis Tiongkok yang paranoid itu melarang lagu yang sebenarnya gak ada isi subversifnya sama sekali. Dibandingkan dengan Kopkamtib dan Ditsospol jaman Orde Baru, sama paranoidnya.

    Sedangkan lagu satunya, No Money No Friend, Mei qian mei pengyou, 没钱没朋友, itu dinyanyikan oleh rapper dari Tanah Daratan. Dia complain susah dapet teman / pacar krn bokek alias gak punya uang. Nasib orang tak punya di mana mana sama. Hanya dulu mereka nyanyi lagu yang mendayu dayu menangisi nasibnya, sekarang mereka guyon saja dengan lagu rap.

    ReplyDelete
  8. Artikel apa ini ya, ada bulu ketek segala haaaa, mungkin banyak yg udah lupa atau mungkin gak mengalami, di thn 80an bulu ketek itu ngetrend di Hong Kong, Singapura juga di Indonesia haaaa, di dunia film kita juga ngetrend haaaa, kalau madih ingat Eva Arnaz dll. Haaaaa

    Soal cewek, orang mainland prefer cewek mainland, ada cowok mainland yg bisnis di Indo bilang cewek Indo boros boros ga bisa diajak susah, suka dandan dan barang mewah, tidak bisa hemat dll.

    Menurut saya semua pendapat di atas itu ada benar dan tidak benarnya, semua hanyalah pendapat pribadi😊😊

    ReplyDelete