01 August 2015

Bunyi Pinyin untuk Orang Indonesia



Oleh Wens Gerdyman
Arek Tionghoa Surabaya, Tinggal di Meiguo (USA)
 
 
Pinyin ialah sistem penulisan fonetik yang dikembangkan oleh pusat bahasa pemerintah Zhongguo (Zhongguo = Bahasa Mandarin dari Tiongkok, atau negara Cina) setelah era RRT (Republik Rakyat Tiongkok) sejak tahun 1949. Karena aksara Zhongwen (Zhongwen = Bahasa Cina) itu rumit, dan tingkat rakyat yang buta huruf di Tiongkok saat itu sangat tinggi, diperlukan inovasi untuk memudahkan rakyat Tiongkok belajar membaca.
 
Inisiatif yang dilakukan oleh pemerintah Zhongguo saat itu ialah menyederhanakan banyak aksara Zhongwen yang terlalu sulit menjadi jian-ti-zi (aksara yang disederhanakan) dari fan-ti-zi (aksara tradisional). Sekaligus dengan inisiatif tersebut, pemerintah Zhongguo memperkenalkan cara baru untuk belajar melafalkan aksara Zhongwen.
 
Jika sebelumnya untuk belajar membaca orang harus menguasai sistem fonetik BoPoMoFo (sistem ini, yang masih digunakan di Taiwan, pada dasarnya mirip dengan katakana / hiragana dalam Bahasa Jepang, atau hanacaraka dalam Bahasa Jawa), sekarang cukup menggunakan abjad Romawi. Sistem yang baru ini disebut Pinyin.
 
Akan tetapi, karena tidak semua bunyi Zhongwen ada di dalam abjad Romawi yang baku, para pakar yang menciptakan Pinyin itu secara kreatif menggunakan huruf-huruf tertentu untuk mewakili bunyi Zhongwen yang khas, yang bukan merupakan bunyi standar aslinya dari huruf tersebut dalam bahasa-bahasa Barat.
 
Misalnya, huruf q yang dalam Bahasa Latin, Inggris, dan bahasa-bahasa Barat lainnya digunakan untuk kata-kata semacam quorum, quality, question, quando, quick (yangselalu berbunyi "kw.."), di dalam sistem Pinyin, huruf q digunakan untuk bunyi c'h, yang selalu diikuti oleh bunyi vokal "i" atau "ü". Misalnya udara atau energi (qi, dibunyikan "c'hi") atau pergi (qu, dibunyikan c'hü) – umlaut berarti seperti dalam Bahasa Jerman, bibir dimonyongkan.
 
Efek samping dari keputusan tersebut ialah kebingungan orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan abjad Romawi untuk bahasa mereka sendiri. Misalnya orang Indonesia – baik Tionghoa, Jawa, Flores, atau dari etnis manapun – sudah biasa menggunakan huruf "t" untuk bunyi dental (lidah diletakkan di belakang rangkaian gigi atas) yang tidak meletup, misalnya "tahu"; dan menggunakan huruf "d" untuk bunyi dental yang meletup (ada hembusan angin dari rongga dada ke rongga mulut), misalnya "dodol".
 
Dalam Pinyin, pemakaian huruf-huruf tersebut terbalik. Misalnya, Pinyin menggunakan "d" untuk bunyi dental yang tidak meletup dalam kata doufu (Mandarin untuk "tahu"), dan menggunakan huruf "t" untuk bunyi dental yang meletup dalam kata "tong" (Mandarin untuk "sama", baca: t'hong, tanda 'h untuk mewakili letupan angin dari rongga dada tatkala lidah dilepaskan dari rangkaian gigi).
 
Berikut ini, dijelaskan huruf-huruf Pinyin yang bermasalah untuk lidah dan otak orang Indonesia yang sudah terbiasa dengan penggunakan abjad Romawi untuk Bahasa Indonesia, yang banyak dipengaruhi bahasa Inggris, Belanda, dan Arab.
 
* b dan p
 
Huruf p dan b dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "p" dalam bahasa Indonesia. Bedanya, huruf p pinyin diucapkan seperti p'h. Tanda 'h maksudnya ialah pada waktu mengucapkan bunyi p tersebut, hembuskan udara dari dalam perut lewat tenggorokan.
 
Huruf b dalam Pinyin diucapkan persis seperti bunyi "p'" dalam bahasa Indonesia, tanpa hembusan udara dari dalam perut lewat tenggorokan; yang digunakan hanyalah udara dari rongga mulut.
 
Contoh penggunaan:
"pa" (takut), diucapkan seperti p'a
"baba" (bapak), diucapkan seperti papa
 
* Variasi b, p, m, f dengan huruf vocal "o"
 
Apabila diikuti oleh huruf "o", bunyinya seakan ditambahi huruf "u" di tengahnya. Misalnya:
 
"bo" (paman), diucapkan seperti puo
"po" (nenek atau ibu), diucapkan seperti p'uo
"mo" (iblis), diucapkan seperti muo
"fo" (Buddha), diucapkan seperti fuo
 
* t dan d
 
Huruf t dan d dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "t" dalam bahasa Indonesia. Bedanya, huruf t pinyin diucapkan seperti t'h. Tanda 'h maksudnya ialah pada waktu mengucapkan bunyi t tersebut, hembuskan udara dari dalam perut lewat tenggorokan.
 
Huruf d dalam Pinyin diucapkan persis seperti bunyi "t" dalam bahasa Indonesia, tanpa hembusan udara dari dalam perut lewat tenggorokan; yang digunakan hanyalah udara dari rongga mulut.
 
Contoh penggunaan:
"ta" (dia), diucapkan seperti t'a
"da" (besar), diucapkan seperti ta
"die" (ayah), diucapkan seperti tie
 
 
* j dan z
 
Dua huruf ini dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "c" dalam bahasa Indonesia, atau bunyi "tj" dalam ejaan lama / Bahasa Belanda. Untuk mudahnya, bayangkan huruf "t" di depan j atau z tersebut.
 
Lantas, bilamana j atau z digunakan untuk mewakili bunyi "c" tersebut?
 
j selalu digunakan bila kata tersebut mengandung vocal i atau ü, misalnya
jiang (sungai, baca seperti ciang)
jun (pejabat, baca seperti cyün)
 
z selalu digunakan bila kata Zhongwen tersebut tidak mengandung vocal i atau ü, misalnya:
zao (baca seperti bunyi Indonesia cao)
zen (baca seperti bunyi Indonesia cên)
zuo (duduk, baca seperti bunyi Indonesia cuo)
zong (baca seperti bunyi Indonesia cong)
 
* q dan c
 
Dua huruf ini dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "c'h" dalam bahasa Indonesia. Tanda 'h maksudnya ialah pada waktu mengucapkan bunyi q atau c tersebut, hembuskan udara dari dalam perut lewat tenggorokan. Lantas, bilamana q atau c digunakan?
 
q selalu digunakan bila kata tersebut mengandung vocal i atau ü, misalnya
qiang (baca c'hiang, artinya kuat)
qu (baca c'hü, artinya pergi)
 
c selalu digunakan bila kata Zhongwen tersebut tidak mengandung vocal i atau ü,
cao (baca c'hao)
cen (c'hen)
cuo (c'huo)
cong (c'hong)
 
 
* Variasi z, c, s dengan huruf h
 
Apabila pinyin z, c, dan s diikuti huruf h, bunyi tersebut harus diubah dengan cara meletakkan ujung lidah di langit-langit mulut (alveolar), bukan di belakang rangkaian gigi. Dalam bahasa-bahasa Tionghoa di selatan, bunyi ini tidak dibedakan. Maka, kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia yang nenek moyangnya dari Fujian atau Hokkian, bunyi ini tidak lazim, makanya sering dirancukan dengan bunyi pinyin yang tanpa huruf h.
 
Contoh:
 
Zong vs. Zhong
Cong vs. Chong
 
Hampir sama, tetapi berbeda. Bedanya ialah di mana ujung lidah diletakkan. Yang satu (tanpa h) lidah di belakang rangkaian gigi, yang satunya lagi (dengan h), lidah di langit-langit mulut.
 
* Variasi z, c, s dengan i vs. e
 
Apabila mengikuti pinyin z, c, atau s, pinyin i dan e dibaca seperti bunyi ê dalam bahasa Indonesia. Lantas, apa bedanya? Bedanya ialah dengan pinyin i, kata si bukan diucapkan seperti bunyi Indonesia "si" (yang itu sih dituliskan sebagai "xi"), akan tetapi diucapkan sê dengan merapatkan rangkaian gigi atas dan bawah. Sedangkan dengan pinyin e, kata se (misalnya ular) diucapkan sebagai sê sambil menurunkan rahang bawah.
 
Contoh:
·         Si (empat) vs. Shi (sepuluh). Oleh orang Tionghoa di Jawa generasi tua (yang sekarang sudah kakek nenek), "shi" sering diucapkan seperti "sêk" untuk membedakan dengan si (empat, yang diucapkan seperti sê). Maka "empat puluh" dalam bahasa Mandarin logat Jawa diucapkan "sê-sêk". Lho, emangnya asma, kok sesek J?
·         chi (makan), diucapkan seperti c'hê dengan merapatkan rangkaian gigi atas dan rangkaian gigi bawah (jangan lupa meletakkan lidah pada alveolar)
·         che (mobil), diucapkan seperti c'hê juga, tetapi sambil menurunkan rahang bawah
 
Sulit, ya? Latihan beberapa kali pasti bisa.
 
 
*g dan k
 
Huruf g dan k dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "k" dalam bahasa Indonesia. Bedanya, huruf k pinyin diucapkan seperti k'h. Tanda 'h maksudnya ialah pada waktu mengucapkan bunyi k tersebut, hembuskan udara dari dalam perut lewat tenggorokan.
 
Huruf g dalam Pinyin diucapkan persis seperti bunyi "k" dalam bahasa Indonesia, tanpa hembusan udara dari dalam perut lewat tenggorokan; yang digunakan hanyalah udara dari rongga mulut.
 
Contoh:
"gao" (tinggi), diucapkan seperti kao
"kao" (ujian), diucapkan seperti k'hao
 
"Gaokao" dalam Zhongwen artinya ujian lulus SMA atau ujian masuk perguruan tinggi.
 
* x dan s
 
Dua huruf ini dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "s" dalam bahasa Indonesia. Perhatikan bahwa huruf x tidak digunakan sama sekali untuk mewakili bunyi "ks" seperti dalam bahasa-bahasa turunan Latin. Lantas, bilamana x atau s digunakan?
 
x selalu digunakan sebagaiman huruf s apabila kata tersebut mengandung vocal i atau ü, misalnya
xiang (harum)
xun (baca syün)
xüe (belajar, oleh orang Tionghoa tua di Jawa sering dilafalkan tidak baku menjadi "siok", misalnya siok-siauw untuk menyebut xue-xiao (sekolah)
 
s selalu digunakan bila kata Zhongwen tersebut tidak mengandung vocal i atau ü, misalnya
sao (kurang)
Song (nama dinasti Tiongkok)
 
 
* i vs. ü
 
Seperti dalam Bahasa Jerman, ü (umlaut) berarti bibir dimonyongkan.
Bunyi ü dalam Zhongwen selalu mengikuti pinyin j, q, atau x. Orang-orang Tiongkok selatan sering tidak membedakan ü dari i; misalnya pergi (qu, harusnya dibunyikan c'hü) –
seringkali dirancukan dengan energi (qi, dibunyikan "c'hi").
 
Begitulah bunyi-bunyi pinyin yang membingungkan bagi lidah dan otak orang Indonesia.Tetapi, bila kita sudah mengerti bunyi-bunyi yang sulit tersebut, dengan mudah kita mampu membaca pinyin seperti penutur asli dari Zhongguo.
 
Tambahan
 
Artikel ini sama sekali tidak membicarakan tentang intonasi. Singkatnya, di dalam bahasa Mandarin, ada 4 nada bunyi. Ini nanti saja dulu, karena akan lebih membingungkan lagi jika mempelajari sebelum menguasai cara pembacaannya dulu.
 
1.    Nada ke-1 (datar):  —
2.    Nada ke-2 (naik):   ⁄
3.    Nada ke-3 (rendah): ˇ
4.    Nada ke-4 (tegas): \
 
Latihan
 
Sebagai penutup, coba ucapkan nama-nama dan kata-kata berikut ini (tanpa intonasi dulu):
 
·         Deng Xiao-ping (nama pemimpin RRT di era 1980- dan 1990-an)
·         Zhao Jian-hua (bekas pebulutangkis lawan bebuyutan Liem Swie King)
·         Lin Shui-jing (Liem Swie King dalam bahasa Mandarin)
·         Li Guang-yao (eks-PM Singapuramendiang Lee Kuan Yew)
·         Beijing (ibukota Tiongkok, yang dulu dikenal dengan nama Peking)
·         Yin-du-ni-xi-ya (Indonesia dalam ejaan Pinyin)
·         Deng Li-jün (mendiang penyanyi Teresa Teng)
·         Dinasti Qing (dinasti kekaisaran terakhir di Tiongkok)
·         gao kao (ujian masuk perguruan tinggi)
·         ting de dong (mudêng, mengerti apa yang didengar)
·         pao bu dao (lari tak terkejar)
·         ke kou ke le (Coca Cola)
·         Cao Xian (Joseon, nama lama untuk Korea, berdasarkan dinasti terakhir kerajaan Korea)
·         qüan dao (kuntao, ilmu beladiri tangan kosong)
·         tai qüan dao (tae kwon do, ilmu beladiri dari Korea)
·         jui qüan (jurus mabuk)
·         tian long ba bu (delapan langkah naga langit)
·         bai-fa-mo-nü (wanita iblis berambut putih)
·         yi-mao-qiu (bulutangkis)
·         gong-xi-fa-cai (selamat / semoga makmur, diucapkan pas tahun baru Imlek)
·         Huang Rong (Oey Yong, jagoan wanita dalam cerita Pahlawan Pemanah Burung Rajawali)
·         Guo Jing (Kwee Tjeng, jagoan dalam cerita Pahlawan Pemanah Burung Rajawali)
·         lao-qian-bei (orang tua yang dihormati, dalam terjemahan cerita silat Indonesia ditulis lauw-tjian-pwee, menurut Bahasa Hokkian)

28 comments:

  1. Sangat menarik bahasan soal pengucapan bahasa Mandarin ini. Sebagian besar orang indonesia tidak paham sehingga mengucapkan kata2 mandarin ala bahasa indonesia. Penyiar2 televisi kita pun menyebarluaskan ucapan yg benar2 beda dengan bunyi aslinya di tiongkok. Memang tidak mudah memahami bahasa mandarin yg sangat kompleks itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belakangan ada video yang beredar viral dari TKI pria yang mengucapkan bahasa Mandarin di Taiwan dengan salah. Pertamanya lucu, tapi lama-lama mblenger.

      Delete
    2. Makan, 吃 (chi), bagi penutur asing itu memang sulit sekali mengucapkan dengan baku. Di Surabaya, haochi (enak) diucapkan sebagai haujek. Bahkan, ada frasa guyonan, "enake edan" diterjemahkan menjadi "haujek sencingping". Shenjing = mental / saraf, bing = sakit. Tentunya di Tiongkok tidak ada perkataan "haochi shenjingbing". Ada-ada saja.

      Delete
  2. Sudah lama saya renungkan persoalan kesulitan transliterasi bahasa Mandarin, bahasa Arab, bahkan bahasa Jawa. Intinya, bahasa2 di dunia itu sangat unik dan hanya bisa ditulis dengan aksaranya yang khas. Bunyi bahasa Mandarin hanya cocok ditulis dengan aksara hanzhi (Tionghoa). Bahasa Arab punya aksara sendiri. bahasa Thailand, bahasa Jawa... juga begitu. Ketika terpaksa diromanisasikan ke ABCD pasti banyak masalah karena tidak cocok. Bahasa Mandarin sebetulnya tidak bisa diABC-kan, bahasa Arab tidak bisa diABC-kan, dan seterusnya. Pinyin ini hanya sekadar membantu tapi tidak bisa dipakai untuk belajar bahasa Tionghoa. Kecuali untuk orang2 yang hanya ingin bahasa lisan saja sehingga tidak perlu capek2 belajar menulis kata2nya dalam aksara kanji Tiongkok itu.

    Belajar bahasa Lamaholot (Flores Timur) sama sekali tidak butuh aksara karena bahasa Lamaholot itu 100 persen bahasa lisan. Tidak ada aksaranya. Beda dengan aksara Jawa hanacaraka.

    Selain bahasa Mandarin, sampai sekarang bahasa Arab punya masalah besar dalam transliterasi di Indonesia. Makanya satu kata bahasa Arab, yang tulisannya sama dalam aksara Arab, ketika dialihaksarakan ke ABC malah muncul banyak versi di Indonesia.

    Contoh: nama bulan puasa RAMADAN (versi kamus besar bahasa Indonesia yang dianggap baku). Sampai sekarang ada versi penulisan yang lain seperti RAMADHAN, ROMADHON, ROMADON, RAMADLAN, ROMADLON, RAMADHON, RAMDHAN, dan mungkin beberapa lagi.

    Persoalan lain lagi: aturan romanisasi internasional, yang mengacu ke fonetik bahasa Inggris, tidak cocok dengan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia. Akhirnya BEIJING tetap dibaca BEIJING oleh orang Indonesia, padahal mestinya PEI-CHING. Guru saya di SMP di Larantuka dulu mengatakan, kota PEKING sudah diganti namanya menjadi BEIJING. Pak guru mengucapkan kata BEIJING sama persis dengan mengucapkan kata BIRU JINGGA ala bahasa Indonesia. Belakangan saya baru sadar bahwa nama ibukota negara Tiongkok itu tetap sama, cuma tulisan ABC-nya saja yang beda.

    Masalahnya semakin runyam karena selama 30 tahun pemerintah Orde Baru mengharamkan orang Indonesia belajar bahasa Mandarin. Aksara Mandarin pun diharamkan. Akhirnya, orang Indonesia benar2 tidak punya pegangan sama sekali ketika menghadapi persoalan BEIJING vs PEKING, SHANDONG vs SHANTUNG, GUANGDONG vs KANTON sampai sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya Anda cocok jadi linguis bukan sarjana pertanian.

      Delete
    2. Sebenarnya guru anda gak 100% salah, Bung Lambertus. Aksaranya memang gak berubah. Tetapi, Peking itu nama yang diucapkan oleh pedagang bangsa barat (Portugis mulai 1541) yang mendaratnya di Amoy (propinsi Hokkian). Karena waktu itu belum ada sistem romanisasi, maka pengucapan bahasa Amoy (min-nan) lah yang diserap oleh mereka. Setelah Partai Komunis Tiongkok berkuasa, mereka tidak suka menggunakan nama yang berasal dari bahasa tidak resmi (bukan Mandarin) dan dalam ejaan Romawinya diganti dengan ejaan resmi dari bahasa resmi.

      Sama seperti makanan yang dibuat dari kedele. Nama tertulisnya tidak berubah. Tetapi karena makanan ini dibawa oleh perantau Tionghoa yang berbahasa Min-nan, akhirnya dalam bahasa Melayu pun ia disebut tahu (dari tauhu), bukan doufu (tou-fu) seperti dalam Bahasa Mandarin.

      Delete
    3. Hehehe... ngomong linguis saya jadi ingat almarhum Prof Dr Gorys Keraf, linguis asal Lembata NTT, kampung halaman saya. Sejak SD saya membaca buku Tata Bahasa Gorys Keraf terbitan Nusa Indah, Ende, walaupun gak ngerti artinya karena terlalu berat untuk anak-anak. Di halaman pertama pakar bahasa yang mantan seminari ini langsung membahas bunyi ujaran. Intinya begini: Jika kita berada di suatu daerah yang bahasanya tidak kita kenal, maka yang kita dengar adalah bunyi-bunyi, nada, tekanan, naik turun dst. Itulah hakikat bahasa: bunyi ujaran.

      Di Lembata atau Flores Timur, bunyi ujaran ini selalu berbeda dari kampung ke kampung meskipun bahasanya sama-sama Lamaholot. Maka,mendengar orang Flores Timur berbicara, kita bisa menebak dengan jitu dari kampung mana orang itu berasal. Ketika bebahasa Indonesia pun bunyi ujaran logat kampungnya ini tidak akan hilang meskipun suda yang lama dia merantau jauh dari Lembata. Contoh: almarhum Bapak Kia di kawasan Karet, Jakarta,yang logat kampungnya tidak hilang meskipun tinggal di Jakarta sejak belasan tahun.

      Belakangan saya baru tahu ternyata bahasa Mandarin jauh lebih dahsyat soal fonetik atau bunyi ujaran itu. Kalau bunyi bahasa Lamaholot yang berbeda-beda itu tidak akan membedakan arti, bahasa Mandarin justru sangat bermain di bunyi ujaran. Bunyinya beda sedikit, naik turunnya suara, panjang pendek nada... membuat kata yang sangat mirip, bahkan sama, jadi sangat berbeda artinya.

      Saya hanya geleng-geleng kepala, takjub, dengan bahasa Tionghoa yang lain dari lain. Ini juga menunjukkan bahwa orang Tionghoa itu sangat musikal secara alamiah. Sejak bayi sudah belajar membedakan nada-nada. Ajaib!

      Kesimpulan: Saya bukan linguis atau ahli bahasa. Sang linguis dari Lembata itu Pak Gorys Keraf. kamsia atas komentarnya.

      Delete
    4. Bung Lambertus, anda ini sangat cerdas, walaupun berasal dari desa miskin di Flores (jangan gede kepala ya). Pengamatan anda bahwa orang Tionghoa sangat musikal sejak lahir itu baru saja dibuktikan oleh para ilmuwan. Tepatnya, penutur bahasa yang perkataannya tergantung dari nada pengucapan (tonal language) -- seperti bahasa-bahasa Mandarin, Konghu, Minnan, dll. di Tiongkok -- itu lebih musikal dan bisa "mendengar" nada satu dengan nada lain dengan sempurna (pitch perfect). Mungkin saja anda tidak punya doktor dalam bahasa, tetapi anda mampu membuat hipotesa-hipotesa yang bagus.

      http://www.medicaldaily.com/tonal-language-speakers-have-advantage-musical-learning-pitch-training-244875

      Delete
    5. Setahu saya dulu memang orang Tiongkok menyebut dengan 'peking'. Dalam 2 abad belakangan terjadi perubahan pengucapan menjadi 'peiching'. Dalam bahasa Min-nan disebut 'pak-kiã, maka tidak mungkin itu dari bahasa Amoy.

      Contoh lain yang berubah itu 'tientsin'. Sekarang 'ts' berubah menjadi 'ch', sama dengan 'k' di 'peking'. Dalam pinyin ditulis 'beiJing' dan 'tianJin', padahal dulunya 'peKing' dan 'tianTSin'. Ada kamus bahasa Mandarin-Korea dari beberapa abad lalu yang mengonfirmasi hal ini.

      Delete
    6. Lain kasus. Kalau Tianjin itu hanya perubahan sistem romanisasi saja. Ada beberapa sistem yang populer (ttp tidak akurat 100%) sebelum pinyin diperkenalkan. Yang anda berikan contoh untuk Tianjin itu romanisasi ala Wade-Giles atau Yale.

      Kalau Peking, itu kesalahan dengar / tulis oleh Orang Barat, yang kemudian melekat. Ingat bahwa di Zhongguo waktu itu tidak ada sistem romanisasi, jadi dalam traktat-traktat internasional mereka harus mengikuti ejaan pihak barat waktu itu. Pihak barat sendiri ada Inggris, Perancis, Rusia, dll. yang "bermain" di Zhongguo, jadi ejaan bahasa barat yang mana dipakai dulu, sudah tidak jelas. Tetapi nama ibukota itu sendiri tidak berubah.

      Contoh lainnya: Canton. Itu bukan perubaha pengucapan; dari dulu ya namanya Guangdong (kwangtung kalau lidah melayu, atau kong-tong dlm bhs setempat), tetapi oleh orang Inggris ditulis Canton. Ada lagi: Chungking, padahal sebenarnya Chongqing (ala Melayu baca: Jhong-jhing).

      Delete
    7. Dalam Wide-Giles penulisannya: "t'ien-chin", sedangkan Yale: "tyan-jin". Bahasa Mandarin ada perubahan dalam beberapa abad terakhir, jelasnya bisa dilihat di https://en.wikipedia.org/wiki/Historical_Chinese_phonology#From_Late_Middle_Chinese_to_Standard_Mandarin. [ts] dan [k] bila di depan /i/, /y/, atau /j/, menjadi /tɕ/. Maka [tsin] berubah menjadi [tɕin], sedangkan [kiŋ] berubah jadi [tɕiŋ]. Untuk yang lain seperti [kan] tetap [kan]. Nama tempat lain seperti Kiangsi dan Nanking juga ditulis menurut pengucapan beberapa abad yg lalu.

      Bahasa selalu berubah, dalam bahasa Inggris juga demikian. Beberapa abad lalu '1' dibaca 'one', sekarang dibaca [wʌn], tapi penulisannya tidak berubah.

      Delete
    8. Masuk akal dan mungkin saja

      Delete
    9. Memang benar bhw bahasa keraton di dataran Tiongkok itu berevolusi. Di jaman dinasti Tang yang beribukota di Xi'an, Bahasa yang disebut Middle Chinese itu yang digunakan (yang kemudian berevolusi lagi menjadi bahasa-bahasa Yue alias Kanton dan Min alias Hokkian). Tetapi, mari kita analisa.


      Sebutan Peking itu lebih dekat dengan lidah Kanton (Pak-king).

      Di jaman dinasti Yuan, ibukota berpindah ke Beijing di utara, dan bahasa keraton mulai menggunakan apa yang kita kenal sebagai Mandarin sekarang. Pd era itu jugalah interaksi dengan Orang Barat mulai terjadi (dengan Marco Polo, misalnya) -- tetapi pd saat itu ibukota belum disebut Beijing. Oleh Marco Polo ibukota disebut Khanbalik (dr Bahasa Mongol yang memerintah dinasti Yuan).

      Kalau kita analisa lagi, orang-orang barat itu masuk Tiongkok di abad ke-17 - 18 lewat selatan, Kanton dan Amoy. Ingat juga bahwa sampai 1949, tidak ada yang namanya bahasa persatuan. Bahkan kakek saya yang lahir 1930an sama sekali tidak bisa bahasa Mandarin.

      Apa kesimpulannya? Bahwa sebutan Peking itu berasal dari interaksi orang barat yang berinteraksi dengan orang-orang Tiongkok Selatan yang berbahasa Kanton dan bahasa-bahasa selatan lainnya.

      Bukan krn perubahan bunyi dalam bahasa Mandarin. Yg terjadi ialah, bahasa-bahasa utara yang sekarang dipersatukan menjadi Bahasa Mandarin menjadi bahasa keraton mulai dari kira-kira sejak Dinasti Yuan, menggantikan bahasa-bahasa Middle Chinese yg digunakan sampai dengan Dinasti Tang. Saya kira penjelasan ini lebih masuk akal.

      Delete
    10. Penulisan 'Peking' itu sebenarnya berdasar Chinese postal romanization yang berdasarkan dialek Nanjing abad 18/19. Bahasa istana (guanhua) berubah dari dialek Nanjing ke dialek Beijing mulai pertengahan abad 19.
      Kalau memang berdasarkan bahasa Selatan, maka penulisan 'Nanking' harusnya 'Namking'. Gak ada orang Selatan yang menyebut 'Nan', adanya 'nam' atau 'lam'. Begitu juga 'foo' dalam 'Foochow'. Dalam Hokkian disebut 'hok', sementara dlm Kanton dan Hakka: 'fuk'.
      Bahasa persatuan sudah ada sejak dulu. Tak lama setelah kaisar terakhir turun tahta, pemerintah Nasionalis menerbitkan standar bahasa Mandarin. Tapi sulit untuk membuat semua orang fasih dalam bahasa standar itu. Baru dalam beberapa dekade terakhir jadi banyak yang bisa.

      Delete
    11. Ada link di Wikipedia yang lebih jelas. https://en.wikipedia.org/wiki/Mandarin_(late_imperial_lingua_franca)

      Dialog ini sangat mencerahkan. Terima kasih.

      Delete
  3. Kalo gak salah dulu pernah beredar buku BELAJAR HANYU PINYIN dilengkapi VCD dan DVD. Tapi kayaknya buku ini peredarannya sangat terbatas di kalangan siswa atau peserta khusus bahasa Mandarin aja. Itu pun tidak efektif karena pelajaran bahasa Mandarin selalu menggunakan aksara hanzhi yg lebih efektif. Tanggung kalo belajar mandarin cuman pake pinyin aja.

    ReplyDelete
  4. "Sama seperti makanan yang dibuat dari kedele. Nama tertulisnya tidak berubah. Tetapi karena makanan ini dibawa oleh perantau Tionghoa yang berbahasa Min-nan, akhirnya dalam bahasa Melayu pun ia disebut tahu (dari tauhu), bukan doufu (tou-fu) seperti dalam Bahasa Mandarin."

    Kamsia penjelasan panjenengan soal Peking dan Amoy tadi. Para perantau asal NTT di Malaysia kalau lagi balik kampung selalu gunakan kata AMOY untuk menyebut nona-nona cantik Tionghoa yang pernah mereka lihat di Malaysia. AMOY versi TKI ini tidak untuk wanita Tionghoa yang sudah menikah atau yang belum nikah tapi sudah rada tua. TKI-TKI dari kampung saya ini rupanya tidak mengerti bahwa AMOY itu sebetulnya nama provinsi di Tiongkok yang sekarang kita kenal sebagai FUJIAN.

    Kata XIAOJIE sama sekali tidak dikenal oleh para TKI dari kampung saya yang biasa bekerja di tauke-tauke Malaysia Timur. salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau yang itu berasal dari kata moi, bahasa Minnan untuk adik perempuan. Bahasa Mandarinnya mei, aksaranya sama. Orang Tiongkok Selatan kalau memanggil orang selalu ditambah A di depan agar lebih nyaman, misalnya A-hok, A-hwa. Moi dipanggilnya siumoi (xiaomei) atau cukup amoi.

      Kalau xiaojie itu bahasa Mandarin artinya kakak perempuan. Xiao ("kecil") penghalus saja. Dulu oleh Chairman Mao sebutan ini dihapuskan krn dianggap feodal krn digunakan oleh pembantu yang lebih tua untuk menyebut majikan perempuannya yang lebih muda. Jaman Mao gak peduli tua muda miskin kaya semua orang dipanggil "tongzi" (komrad). Eh setelah Mao dut, dan Deng Xiaoping berkuasa, sebutan ini populer kembali di 80an. Hanya baru-baru ini lagi artinya berubah krn di kota2 besar di Tiongkok xiaojie digunakan sbg eufemisme untuk wanita panggilan. Padahal di Taiwan dan tempat2 lain, sebutan itu netral saja. Waduh, bingung kan?

      Jadi para TKI itu gak salah, hanya amoi ("dik") dirancukan dengan Amoy nama lama dari Xiamen (Amoy itu bukan nama lama dari propinsi Hokkian).

      Hanya saya kurang mengerti kenapa mereka menggunakan itu untuk menyebut wanita yang sudah rada tua. Kalau perempuan STW (setengah tuwo) panggilnya "acim" (bibi) atau kalau FTW (full tuwo) panggilnya "ama" (nenek) hehehe. Mungkin salah mengerti saja.

      Delete
    2. Koreksi sedikit: setelah saya tanya lagi beberapa eks TKI di Malaysia, kata AMOY ini dipakai untuk cewek2 Tionghoa atau setidaknya yang bening bermata sipit. Tapi biasanya dipakai dalam konteks yang agak negatif untuk semacam wanita penghibur. Itu versi kebanyakan eks TKI.

      Tapi ada juga teman TKI di Sabah Malaysia Timur yang Tionghoanya sangat dominan bilang kata AMOY itu netral untuk semua wanita muda.

      Di berita2 koran Indonesia saya temukan kata amoy biasa dipakai untuk menyebut nona2 Tionghoa miskin di Kalimantan Barat, khususnya Singkawang, yang biasa menunggu pinangan dari laki2 Tionghoa kaya asal Malaysia Taiwan Tiongkok dsb. Di Jawa Timur saya tidak pernah me dengar orang pribumi pakai kata amoy. Begitu.

      Delete
    3. Ya memang arti sebetulnya netral. Seperti ditulis oleh komentator di atas, bhs Hokkian moy dalam bhs Mandarin mei (adik perempuan). Aksaranya sama yaitu 妹. Menarik bhw dalam budaya Jawa, kita memanggil perempuan lain dengan sebutan mbak, sedangkan dalam budaya Hokkian, sebutannya ialah adik (Amoy), tetapi dalam bahasa Mandarin, digunakan Xiaojie (mbakyu).

      Ada kata serapan Hokkian yang lain, ca-bau atau ca-bo, artinya perempuan. Bahkan ada novel yang ditulis Remy Silado yg berudul Cabaukan. Tante-tante saya yang berbahasa Hokkian selalu menyebut anak perempuannya "cabo". Tetapi di Indonesia, cabo bergeser artinya menjadi pelacur. Sama seperti sebutan Xiao-jie (mbakyu) di Tiongkok daratan, yang berubah artinya menjadi perek, pdhal di Asia Tenggara dan Taiwan artinya masih netral.

      Untuk pergeseran arti Amoy, Cabo, dan Xiaojie itu bisa kita salahkan kaum lelaki hidung belang!

      Delete
  5. Apakah sistem Pinyin ini juga diterapkan di Hongkong dan Taiwan??? Lantas apakah semua nama2 yang pakai sistem lama diubah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hongkong berbahasa Kanton (orang Tionghoa Indonesia bilangnya Bahasa Konghu; Orang Inggris sebutnya Cantonese; dalam Mandarin disebut Guangdonghua, atau Kong-tong-wa dalam bahasa Kanton sendiri), jadi pengucapan dan romanisasi dari setiap aksara Cina sudah pasti lain. Misalnya nama Hongkong, dalam pinyin bahasa Mandarin dieja Xiang-gang (pelabuhan harum).

      Taiwan resminya berbahasa Mandarin. Dulu negara ini menggunakan romanisasi yang sebenarnya lebih mudah dipahami oleh penutur bahasa Inggris, namanya Wade-Giles. Tetapi sekarang, karena ingin berhubungan baik dengan Cina Daratan, pemerintah Taiwan mengadopsi pinyin juga, tetapi belum sepenuhnya bisa diterima. Untuk ejaan nama orang, mayoritas orang Taiwan masih mau menggunakan ejaan Wade-Giles, misalnya Chiang Ching-kuo, bukannya Jiang Jingguo. Begitu juga untuk nama tempat yang sudah merakyat. Misalnya Taipei, bukannya Taibei; Kao-hsiung, bukannya Gaoxiong.

      Singapura menggunakan pinyin secara resmi untuk ejaan di koran dan sekolah, tetapi begitu juga, nama-nama (apalagi nama keluarga) yang masih menggunakan Bahasa Hokkian masih dipertahankan dan dengan ejaan lama menurut cara Inggris. Misalnya Lim, Lee, Goh, Wee, (ejaan Belanda: Liem, Lie, Go, Oey) tidak diterjemahkan dan diubah menjadi Lin, Li, Wu, Huang, dll.

      Delete
  6. Penulisan Pinyin yang terkesan tidak lazim ini konon diciptakan oleh professor yg terpapar bahasa Rusia, seandainya beliau itu familier sama penulisan secara bahasa Inggris atau yg dikenal luas mungkin Pinyin tidak jadi sesukar ini :)

    ReplyDelete
  7. Saya rasa ada pembacaan yang kurang tepat. 'x' dan 's' itu berbeda pengucapannya. Kalau dalam IPA: x = [ɕ], s = [s]. Lalu q = [t͡ɕʰ], c = [t͡sʰ], z = [t͡s], j = [t͡ɕ]. Untuk jelasnya bisa dilihat di https://en.wikipedia.org/wiki/Standard_Chinese_phonology.

    Saya pernah mendengar orang Tiongkok Utara yang setelah mendengar orang Tionghoa Asia Tenggara bicara Mandarin, berkomentar mereka ada kecenderungan tidak membedakan 'x' dan 's'. Jadi 'xie xie' kedengaran seperti 'sie sie'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ya, bagus inputnya. Tetapi kalau menggunakan simbol-simbol yang anda gunakan itu, saya jamin dari 1000 orang pembaca hanya 1 yang mengerti, dan mengertinya sedikit pula.

      Perbedaan itu ada, tetapi kecil sekali. Bunyi "x" itu seperti "sy", karenanya hanya diikuti oleh vokal "i". Untuk sasaran pembaca blog ini (orang Indonesia), tidak usah terlalu dikuatirkan.

      Delete
  8. Bagus komentar tuan2 yg sangat menguasai bahasa Tionghoa. Makin berbobot dan menambah wawasan kita yang gak paham Putonghoa di Indonesia.

    Sudah sering saya tegaskan bahwa semua transliterasi pasti tidak akan sempurna. Tidak akan mampu menggambarkan bunyi bahasa yang punya aksara khusus. Apalagi bahasa Tionghoa yang sangat mementingkan bunyi.. irama.. panjang pendek dsb. Bahasa Indonesia yang sederhana saja sering punya masalah ejaan. Contoh: vokal E ada dua atau tiga macam (Jawa) tapi bahasa Indonesia hanya pakai satu E untuk tulisan. Vokal E pada BEBAN dan BENTENG jelas beda bunyinya tapi tulisannya sama. Toh orang Indonesia dianggap bisa membedakannya tanpa harus dikasih tanda e' seperti ejaan lama.

    Romanisasi bahasa Tionghoa itu gunanya untuk sedikit membantu kita yang tidak berbahasa Mandarin. Tidak bisa menggantikan aksara hanzhi meskipun versi ABCD sudah diberi begitu banyak simbol untuk mendekati bunyi Tionghoa.

    Setahu saya, semua orang yang belajar bahasa Tionghoa (nama resmi bahasa Mandarin di Indonesia) pasti dipaksa belajar menulis dan membaca hanzhi. Nggak ada belajar bahasa Tionghoa hanya dengan hanyu pinyin!

    ReplyDelete
  9. Yang terkenal di surabaya adalah BEBEK PEKING... maknyus!!!

    Anak2 muda mungkin gak tau kalo PEKING itu dulu sering diajarkan di sekolah2 : Poros Jakarta Peking...

    Bebek Beijing belum ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bebek, Peking. Kalau ayam, atau tepatnya nasi ayam, Hainam (Hainan). Dulu ada di restoran Tionghwa di Jalan Pasar Besar, seberangnya kedai sate Madiun. Entah sekarang.

      Delete