18 August 2015

Ayo Kerja! Kerja Apa???



Berbeda dengan tema hari kemerdekaan sebelumnya, apalagi selama 32 tahun Orde Baru, tahun 2015 ini temanya sangat swasta: "Ayo Kerja!"

Singkat, padat, enak, bukan tipe bahasa birokrasi. Khas Jokowi yang menamakan kabinetnya Kabinet Kerja. Pilihan kata Jokowi, gaya bicara, pidato, bahasa tubuh Jokowi... masih terlihat seperti rakyat kebanyakan. Bukan birokrat sipil atau militer.

Dulu, di masa Orde Baru, tema hari kemerdekaan selalu panjang dengan susunan kata yang sama dari tahun ke tahun. "Dengan semangat proklamasi kemerdekaan, kita tingkatkan... menuju masyarakat adil dan makmur!" Bedanya cuma satu dua kata di titik-titik itu.

Ayo Kerja! juga mengingatkan kita pada tagline Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN: "Kerja! Kerja! Kerja!" Dulu ada embel-embel dua kata di depannya: "Jauhi Politik!" Lengkapnya: "Jauhi Politik! Kerja Kerja Kerja!"

Ajakan bekerja dari Presiden Jokowi, menteri-menteri, parlemen, gubernur, bupati dsb itu bagus. Semua orang harus bekerja agar bisa makan. Pertanyaannya, kerja apa? Apakah negara sudah menyediakan lapangan kerja yang banyak? Sektor swasta menggeliat sehingga menyerap banyak pekerja?

Ajakan "ayo kerja" hanya jadi bahan tertawaan kalau Indonesia belum bisa menyediakan lapangan kerja untuk rakyatnya sendiri. Jutaan orang Indonesia masih bekerja di luar negeri sebagai TKI. Jumlah TKI di Malaysia bahkan lebih banyak dari penduduk Singapura. Apalagi Brunei atau Timor Leste.

Ayo Kerja! hanya akan efektif kalau Jokowi dan Kabinet Kerja bisa menciptakan Indonesia yang ekonominya jaya sakti sehingga lapangan kerja begitu banyaknya. Tak usah jauh-jauh ke Amerika, Malaysia sejak dulu kekurangan tenaga kerja kasar karena rakyatnya bekerja di sektor-sektor yang tidak kasar dengan penghasilan tinggi. Boleh dikata, hampir semua keluarga di Malaysia punya mobil di rumahnya.

Di usia republik yang makin tua, 70 tahun, saya teringat warga keturunan Jawa di Suriname. Mereka baru saja memperingati 125 tahun kedatangan orang Jawa di negara kecil di kawasan Amerika Latin itu. Mereka dikirim sebagai kuli-kuli kontrak oleh Belanda dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan.

Namun, mereka banting tulang, kerja kerja kerja... dan anak cucu menikmati hasil keringat sang leluhur. "Sekarang ini di semua rumah orang Jawa paling tidak ada dua mobil," kata Salimin, tokoh Jawa di Suriname (kalau tidak salah ingat namanya).

Sebaliknya, wong Jawa di Jawa, orang Indonesia masih begini-begini saja meskipun sudah banting tulang selama 70 tahun menjadi Indonesia. Dulu, Orde Baru dengan program pelita (pembangunan lima tahun) menjanjikan Indonesia akan tinggal landas, maju dan makmur, pada pelita ke-4 atau tahun 1990an.

"Tapi janji tinggal janji... adil makmur hanya mimpi," begitu syair sebuah lagu pop lawas karya Rinto Harahap.

Setelah janji manis adil makmur ala Orde Baru mbeleset, dolar tembus Rp 15000, tidak ada lagi janji-janji rezim baru pasca Orde Baru. Visi jangka panjang ala Vision 2020 Malaysia pun tak ada lagi.

Jokowi pun hanya bisa mengajak rakyatnya ayo kerja kerja kerja. Kerja di Malaysia? Hongkong, Taiwan, Arab Saudi?

Merdeka!!!

1 comment:

  1. Kailasa Tour and Travel8:51 AM, August 23, 2015

    om hurek. begini menurut saya kurangnya lapangan kerja karena kita sendiri yg kurang spirit kewirausahaan... jadi kita tidak berani memulai usaha skala kecil untuk membantu orang2 di sekitar kita... ini soal mental...

    kemudian kenapa harus malu dgn pekerja2 kita di luar negeri yah??? toh mereka juga berkontribusi besar untuk ekonomi negeri ini...

    ReplyDelete