03 August 2015

43 tahun ejaan yang disempurnakan

Bulan Agustus ini, tepatnya 15 Agustus 2015, ejaan yang disempurnakan genap berusia 43 tahun. STW alias setengah tuwek, jelang lansia. EYD ini menggantikan ejaan Suwandi alias ejaan Republik yang berlaku sejak 1947.

EYD dan ejaan Suwandi sebetulnya beda tipis. Djakarta jadi Jakarta, Surabaja jadi Surabaya, Patjitan jadi Pacitan, Djuanda jadi Juanda, chusus jadi khusus, sjarat jadi syarat. Selain itu, kata depan di- dan ke- yang sebelumnya ditulis serangkai dengan kata dasar dipisahkan.

Meski sudah 40 tahun lebih, kalau dicermati, masih banyak orang Indonesia yang belum fasih menerapkan EYD. Termasuk kalangan wartawan, penulis buku, profesor, dan orang-orang yang setiap hari bergulat dengan kata-kata. Masih banyak orang Indonesia yang belum bisa membedakan kata depan di dan awalan di-. Kacau! Seorang editor akan cepat botak kalau terus-menerus mengoreksi EYD tingkat sekolah dasar.

Setelah diresmikan Presiden Soeharto (nama ini pakai ejaan Belanda, bukan Suwandi, bukan EYD), paling tidak ada masa transisi selama 10 tahun. Untuk pembiasaan. Setelah itu, mestinya, rakyat Indonesia memakai EYD secara "murni dan konsekuen" (pinjam jargon Orde Baru). Tak perlu lagi menggunakan ejaan lawas (Belanda dan Suwandi) yang sudah lama pensiun itu.

Tapi, anehnya, sampai sekarang masih banyak nama-nama orang yang pakai ejaan lama. Sucipto ditulis Soetjipto atau Sutjipto. Yohanes ditulis Johanes. Yusuf jadi Jusuf atau Joesoef. Kalau eyang-eyang yang lahir jauh sebelum 1972 sih masih bisa diterima karena nama-nama itu terkait dokumen kependudukan, surat-surat berharga, dan sebagainya.

Lha, saya sering melihat anak-anak muda kelahiran tahun 1990-an, bahkan 2000-an, masih pakai ejaan lawas. Kok bisa orang tuanya tidak sadar kalau EYD sudah lama berlaku? Malah di Sidoarjo ada beberapa perumahan yang pakai ejaan lawas: Pondok Tjandra misalnya. Mengapa tidak ditulis Pondok Candra saja?

Setahu saya rezim Orde Baru dulu, kementerian pendidikan dan kebudayaan, hanya memberi peluang pemakaian ejaan lama hanya untuk nama orang. Nama-nama tempat, termasuk nama jalan, ya mestinya pakai EYD. Maka, sangat tepat PT Angkasa Pura 1 memberi nama Bandara Juanda, bukan Bandara Djoeanda.

Seharusnya Bandara Soekarno-Hatta juga ditulis Bandara Sukarno-Hatta sesuai EYD. Pemerintah mestinya jadi teladan dalam pemakaian EYD. Biarkan saja ejaan Suwandi dan ejaan Hindia Belanda dipakai di buku-buku tempo doeloe untuk kajian sejarah, nostalgia, dan kesenangan pribadi.

Oh ya, sampai sekarang pun masih banyak orang Indonesia yang menulis kata ulang pakai angka 2 di artikel atau tulisan resmi. Padahal, EYD mengharuskan kata ulang ditulis penuh dengan tanda hubung antarkata. Lebih hemat pakai angka 2 memang. Tapi itu hanya cocok untuk tulisan informal di media sosial, pesan pendek (SMS), atau catatan pribadi.

Sudah lama EYD dikritik karena mengandung cukup banyak kekurangan. Yang paling jelas adalah tidak adanya pembedaan e' (benar) dan e (pepet). Ini membuat orang luar Jawa, khususnya Indonesia timur, khususnya NTT, khususnya Sumba dan Timor, yang seenaknya membunyikan e (pepet) dengan e'.
Orang Sumba dan Kupang bahkan hampir tidak mengenal e (pepet). Semuanya dianggap e' (benar). Contoh: Be'ta be'tul-be'tul sonde' de'ngar apa yang e'ngkau katakan.
Sebaliknya, orang Jawa sering menganggap e' benar dari kata-kata Indonesia timur dengan e lemah. Fam atau marga Hurek selalu dibunyikan Hurek (e lemah) bukan Hure'k.

No comments:

Post a Comment