31 August 2015

Presenter TV Tidak Boleh Tua



Christiane Amanpour dari CNN, 57 tahun, mewawancarai Presiden Jokowi sambil blusukan.

Betapa bedanya presenter (atau host atau anchor atau apalah namanya) televisi berita asing dan Indonesia. Saya perhatikan TV-TV asing macam BBC, CNN, atau Aljazeera selalu menyajikan wawancara yang lancar, mengalir, enak. Sang presenter menguasai persoalan yang ditanyakan.

Begitu narasumber menjawab, si presenter bule itu sudah siap nerocos menggali informasi baru. Dengan bahasa yang sopan tapi mengena. Obrolan jadi asyik meskipun dengan tokoh antagonis. "Seperti ngobrol dengan teman lama," begitu resep wawancara dari jurnalis senior Bapak Atmakusumah.

Mengapa para jurnalis televisi berita asing begitu gayeng dalam reportase dan wawancara? Bung, mereka punya pengalaman panjang di lapangan. Banyak riset. Banyak baca. Banyak diskusi. Banyak sekolah. Mereka sekolah di universitas terkemuka. Ada yang PhD, menulis buku macam-macam. Dus, bukan jurnalis karbitan.

Tapi, akibat dari banyak-banyak-banyak ini, usia presenter CNN, BBC, dsb biasanya sudah matang. Rambut sudah banyak ubannya. Usia mereka di atas 35 tahun. Bahkan tak jarang jurnalis-jurnalis di atas 50 tahun pun masih memandu program berita di televisi.

Saya perhatikan seorang wanita jurnalis CNN, yang dulu sangat terkenal karena liputan perang teluk, Christiane Amanpour, masih jadi presenter berita. Acaranya sangat berbobot. Sang jurnalis, si tukang tanya-tanya, bahkan lebih tahu dan pintar daripada pakar yang ditanya.

Inilah yang terbalik di Indonesia. Makin lama saya melihat presenter-presenter berita kita makin muda, cantik, gak kalah sama artis sinetron. Bedaknya tebal, bajunya bagus-bagus, riasannya oke punya. Usia cewek-cewek ini biasanya paling tinggi 28 tahun.

Saya sudah lama kangen presenter-presenter lama macam Ira Koesno, Dana Iswara, Desi Anwar, atau Ibu Tuty Adhitama di TVRI zaman dulu. Jurnalis-jurnalis yang lebih yunior, tapi matang, macam Kania Sutisnawinata pun sudah lama hijrah dari Metro TV.

Mbak Najwa Shihab asyik dengan Mata Najwa, bukan berita-berita harian yang paling kita butuhkan. Mbak Desi Anwar masih di TV, tapi urusan manajemen. Dia punya acara santai yang bukan hard news. Rossiana Silalahi juga begitu.

Rupanya siklus presenter berita di televisi kita mirip artis musik atau film/sinetron. Ketika usia sudah masuk 27, kemudian menikah, pengelola TV sudah menyiapkan penggantinya. Cewek-cewek likuran (20an tahun) yang nampang di Liputan 6, Apa Kabar Indonesia, Metro Hari Ini dsb.

Yang usia 30+ pelan-pelan menyingkir ke belakang. Jadi produser, manajemen, atau bikin partai baru macam Grace Natalie dari tvOne (sebelumnya di SCTV). Atau jadi PR perusahaan besar macam Wianda atau Catherine. Hehehe....

Lantas, kita, pemirsa pun disuguhi berita yang dipandu presenter-presenter muda belia, cakep, wangi.. tapi masih minim wawasan. Jelas saja dia kepontal-kepontal memahami persoalan sosial politik budaya keamanan pendidikan kurs rupiah ekonomi teknolog dsb yang tidak sederhana.

Kasihan adik-adik presenter muda itu! Terlalu cepat ditampilkan di layar karena para seniornya sudah digeser lebih dulu. Jangan heran bila Bapak SBY, mantan presiden kita, hanya mau menerima para wartawan senior untuk diwawancarai.

"Saya butuh para pemimpin redaksi atau setidaknya waki pemimpin redaksi," kata SBY beberapa waktu lalu di Hotel Shangri-La Surabaya.

Bukan hanya SBY. Banyak pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat yang kurang sreg diwawancarai jurnalis-jurnalis yang usianya di bawah 25 tahun.

"Capek kalau ngomong sama wartawan-wartawan anyar. Saya bicara panjang lebar tapi gak nyambung. Kalau wartawan-wartawan lawas, saya ngomong dua kalimat, dia sudah tahu maksudnya," kata Tuan Liem, pengusaha Tionghoa terkenal di Surabaya.

Yah, kalau mau televisi-televisi berita kita berkualitas kayak CNN, ABC, atau BBC, ya presenter-presenter kawakan macam Andy Flores Noya, Desi Anwar, Rossiana Silalahi, Najwa Shihab, Putra Nababan, Grace Natalie... harus tetap berada di garis depan. Sebab masyarakat sebetulnya tidak membutuhkan wajah-wajah cakep, muda, tapi masih minim wawasan.

Kalau mau lihat wajah-wajah cakep, penuh riasan, bedak tebal, muda remaja, tinggal geser ke Inbox atau Dahsyat. Bukan di program berita.

Dagelan Politik dari Surabaya

Pantas saja ludruk mati di Surabaya. Sebab dagelannya kalah lucu ketimbang dagelan politisi. Kemarin kita kembali disuguhi dagelan politik: pasangan Rasiyo-Dhimam Abror tidak memenuhi syarat untuk maju dalam pemilihan kepala daerah di Surabaya pada 9 Desember 2015.

Rasiyo-Abror digugurkan KPU Sidoarjo karena surat rekomendasi dari pengurus pusat PAN ternyata tidak identik dengan versi digital (scan) yang dipakai saat pendaftaran lalu. Katanya, surat asli yang fotokopinya dikirim ke KPU Surabaya itu hilang. Dibawa kabur oleh seseorang yang tidak disebutkan namanya. Tentu saja orang Partai Amanat Nasional (PAN) juga.

Katanya, surat rekomendasi itu mau dijual dengan harga miliaran rupiah. Tapi tidak laku. Karena surat aslinya hilang, pengurus pusat PAN di Jakarta membuat surat baru. Ya, tentu saja tidak bisa identik dengan versi scan saat pendaftaran itu.

Sangat lucu! Lebih lucu daripada Srimulat yang sudah lama mati itu. Tapi kita tidak bisa tertawa lepas kayak nonton ludruk di THR atau Wonokromo. Kita hanya bisa bilang, "Juancuuuuk tenan! Juangkreeeek! Dagelan politisi gombaaaal!"

Dagelan sebelumnya tidak kalah lucu. Beberapa menit sebelum penutupan pendaftaran, Dhimam Abror dan Haries Purwoko datang ke KPU Surabaya. Warga Surabaya, kecuali politisi Koalisi Majapahit, senang karena pemilihan wali kota tidak perlu ditunda hingga 2017. Pasangan Risma-Whisnu punya calon lawan tanding.

Eh, tiba-tiba Haries izin ke toilet. Setelah itu melarikan diri tak tentu rimbanya. Dhimam Abror dinyatakan tidak sah karena tidak punya pasangan calon wakil wali kota. Mungkin baru pertama kali di Indonesia ada bakal calon yang kabur ke WC dan menghilang.

Indonesia tertawa! Srimulat dan grup-grup ludruk makin sulit menyaingi kekonyolan politisi di Surabaya.

Kabarnya KPU Surabaya kembali membuka pendaftaran bakal calon 6-8 September 2015. Rasiyo dan Abror tidak boleh mendaftar lagi karena sudah TMS: tidak memenuhi syarat.

Kita tunggu saja dagelan macam apa lagi yang dimainkan para aktor politik Kota Buaya. Politik memang panggung sandiwara. Mungkin dagelan berikut jauh lebih lucu ketimbang dua dagelan sebelumnya.

Yang namanya dalang gak akan kehabisan lakon!


Sent from my BlackBerry

30 August 2015

Teater Lekture tidak mati-mati (kayak Waska)



Jarang ada teater yang bisa bertahan lama. Apalagi di kota kecil macam Sidoarjo, Jawa Timur. Karena itu, keberadaan Teater Lekture Sidoarjo yang genap 60 tahun pada 5 Oktober 2015 layak diapresiasi. Angkat topi untuk Bung Mulyono Muksim, Bung Asmoro Darmo, dan para senior Lekture Sidoarjo yang berhasil mempertahankan teater rintisan almarhum Achmad Djafar ini.

Selama dua hari, 22--23 Agustus 2015, Teater Lekture mengadakan pertunjukan di Gedung Cak Durasim Surabaya. Lakon klasik karya Arifin C Noer berjudul Umang-Umang. Naskah panjang, cerita absurd, dan menguras energi penonton selama 2,5 jam. Tapi kursi-kursi terisi hingga 90 persen. Meskipun banyak penonton yang kabur setelah pertunjukan berjalan 90an menit.

Para penggemar teater tentu tidak asing lagi dengan Umang-Umang yang menampilkan puluhan orang dari dunia hitam. Raja rampok Waska jadi pimpinan komunitas maling, pelacur, jambret, pemalak, gelandangan, dukun, tukang sihir, penggali kubur, dsb. Waska punya jalinan asmara dengan Bigayah, tapi tak ada yang namanya akad nikah.

Waska sang pimpinan bajingan bersama asistennta Borok dan Ranggong dielu-elukan anak buahnya. Ketika Waska sakit berat, sekarat, komunitas maling ini geger berat. Mereka sibuk berdoa agar si Waska tidak sampai mati. Segala cara dilakukan agar Waska, nabinya para garong, hidup kekal selama-lamanya.

Cerita absurd yang benar-benar menyita energi baik pemain maupun penonton. Jelas tidak gampang. Masyarakat yang tiap hari dihajar cerita sinetron yang linear, gampang ditebak, banyak dagelan, niscaya berpikir keras untuk mengikuti khotbah-khotbah Arifin C Noer lewat mulut tokoh-tokohnya.

Waska paling banyak khotbah, kalimat-kalimat panjang, bahasa baku... membuat suaranya serak. Tapi, syukurlah, Gedung Cak Durasim punya akustik yang baik. Sehingga penonton bisa mendengar suara para pemain yang bicara langsung, tanpa mikrofon. Mereka harus hafal kalimat-kalimat panjang, nyaris tanpa improvisasi, selama 90 menit.

"Durasinya sudah kami kurangi tinggal 2,5 jam. Kalau taat naskah bisa 4 jam lebih," kata Bung Asmoro Darmo, ketua Teater Lekture Sidoarjo.

Bung Darmo sengaja menampilkan pemain-pemain muda untuk regenerasi. Hanya satu mahasiswa, pemeran waria yang suaranya paling terang dan menggemaskan. Pemain-pemain lain masih SMA/SMK, bahkan SD. Namun, karena minimnya jam terbang, eksekusi naskah Umang-Umang ini belum bisa maksimal.

Banyak komentar, apresiasi, juga kritik untuk pementasan Umang-Umang di Surabaya ini. Kalau dicari-cari kelemahan sih pasti ada saja. Tapi mana ada teater di Jatim yang bisa bertahan selama 60 tahun? Dengan kondisi yang serba terbatas?

"Dalam setahun paling banyak ada dua teater di Jatim yang mengajukan pementasan secara mandiri. Termasuk Lekture Sidoarjo ini. Makanya, saya sangat mengapresiasi Teater Lekture," kata Kepala Taman Budaya Jatim Suyatno.

Di masa lalu, khususnya tahun 1980an, pertunjukan teater pernah berjaya di Sidoarjo dan kota-kota lain. Waktu itu masyarakat sangat haus hiburan bermutu. Bung Mulyono mengenang, dulu pertunjukan Teater Lekture bahkan sempat mengalahkan konser dangdut Rhoma Irama di Sidoarjo.

"Karcis teater kami Rp 250, sementara konser Rhoma Irama Rp 150. Dua malam berturut-turut penonton penuh sesak. Itu pengalaman manis yang tidak pernah saya lupakan," kata Bung Mulyono, sutradara Teater Lekture sekarang.

Waktu terus berputar. Satu demi satu grup teater gulung tikar. Yang tersisa hanya teater-taeter sekolahan sebatas kegiatan ekstrakurikuler pelajar. Gedung pertunjukan yang biasa dipakai Lekture pun sudah jadi bangunan jangkung, kantor, atau ruko. Bioskop-bioskop lawas yang juga sering disulap jadi arena teater pun tak ada lagi.

"Kami sebetulnya ingin mengadakan pertunjukan di Sidoarjo. Sebab Teater Lekture ini sudah menyatu dengan masyarakat Sidoarjo. Tapi mau bagaimana lagi? Di Sidoarjo tidak ada gedung pertunjukan," kata Bung Mulyono.

Bung Mulyono sendiri sangat yakin Teater Lekture masih terus bertahan di tengah kesulitan. Termasuk perbedaan pandangan di kalangan senior yang menimbulkan dualisme: Teater Lekture Sidoarjo dan Teater Lekture Indonesia. Sebab regerasi di teater ini mulai membuahkan hasil. Buktinya, putra Bung Mul mampu menjadi pemeran utama Waska.

Tinggal bagaimana menjaga stamina, napas panjang, karena seni teater ini membutuhkan para petarung yang pantang menyerah. Juga perlu merawat pita suara, minum wedhang jahe, agar suaranya Waska Raja Garong tidak serak-serak hilang.

Selamat untuk Teater Lekture Sidoarjo! Semoga panjang umur seperti Waska yang tidak mati-mati (karena makan obat sakti dari dukun tua)!

Chelsea makin jelek aja

Apa boleh buat, malam Minggu ini kita hanya bisa menonton siaran langsung Liga Inggris. Tak ada lagi Liga Spanyol di RCTI. Liga Italia dan Liga Jerman pun tak lagi disiarkan televisi biasa. Kalau mau nonton ya harus berlangganan.

Maka, saya pun terpaksa menonton Chelsea vs Crystal Palace. Mulai menit 1 hingga 90 + 5. Dari sinilah saya makin tahu kelemahan Chelsea yang dilatih Mourinho itu. Begitu banyak kelemahan elementer yang anehnya dilakukan sang juara Liga Inggris musim lalu itu.

Pemain-pemain Crystal rupanya sejak awal sudah hafal kelemahan-kelemahan dan kecerobohan pemain-pemain Chelsea. Syukurlah, Chelsea dipermalukan di kandang sendiri dengan 1-2. Sebetulnya skor bisa 1-4 atau 1-5 kalau kipernya bukan Courtouis.

Tapi kekalahan kedua, dari 3 pertandingan, sudah cukup untuk menyadarkan kita bahwa Chelsea bukan lagi favorit juara. Bisa masuk 4 besar saja sudah bagus. Dan, kayaknya Mourinho akan dipecat jika kalah lagi dua kali berturut-turut.

Sudah lama saya tidak memelototi pertandingan-pertandingan Liga Inggris secara penuh. Biasanya hanya beberapa big match saja. Itu pun tidak sampai 90 menit. Beda dengan laga Barcelona atau Real Madrid yang biasa saya nikmati sampai tuntas. Nah, pertandingan Chelsea vs Crystal beberapa menit lalu makin menyadarkan saya bahwa kualitas Liga Inggris masih kalah sama Spanyol, Jerman, atau Italia.

Betapa tidak. Chelsea, juara bertahan, bisa membeli pemain-pemain terbaik di dunia, berapa pun harganya, ternyata sangat keropos. Lini tengahnya mati. Operan-operannya sering meleset. Sangat sulit menguasai bola dalam waktu lama. Diego Costa terlalu mudah jatuh. Bukannya mencari ruang kosong, Costa suka menabrak pemain lawan... dan jatuh sendiri.

Eden Hazard pun tak mampu menghidupkan permainan Chelsea. Maka, syukurlah, Chelsea keok di kandang sendiri. Dikalahkan Crystal Palace yang nota bene bukan tim papan atas. Kalau kalah dari MU, City, Arsenal, atau Liverpool, apalagi Barca dan Madrid, masih bisa diterima. Tapi kalah sama Crystal Palace? Yang pemain-pemainnya tidak terkenal?

Kompetisi masih sangat panjang. Baru 4 pertandingan. Tapi, bagi saya, penampilan Chelsea yang di bawah standar bisa menjadi gambaran tim-tim Premier League di Liga Champion nanti. Chelsea bisa dipastikan akan sulit bersaing dengan klub-klub elite macam PSG, Juventus, Bayern Munchen, Valencia. Apalagi Real Madrid dan Barcelona.

Jose Mourinho biasanya selalu punya kambing hitam ketika timnya kalah. Biasanya Mou juga punya resep yang jitu untuk membenahi timnya agar bisa bangkit lagi. Tapi, melihat 4 pertandingan Chelsea, rasanya kok sangat berat mengembalikan Chelsea sebagai the winning team kayak musim lalu.

28 August 2015

Orang Hitam Sulit Dapat Pacar



Obrolan di warung kopi Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo, kali ini sangat menarik. Banyak sisi-sisi kehidupan para pengungsi asal Afghanistan, Pakistan, Iran, Myanmar, Somalia, Sudan, dan beberapa negara lain muncul dalam obrolan santai. Juga pengungsi Syiah asal Sampang, Madura, yang entah kapan dipulangkan ke kampung halaman mereka.

Empat tower rusunawa di Puspa Agro ini memang sudah lama jadi tempat penampungan pengungsi. Para imigran itu biasa jalan-jalan, belanja, ngopi, cangkrukan... dan pacaran di kompleks itu. Ada saja wanita-wanita lokal yang rela dipacari pengungsi-pengungsi dari negara-negara berkonflik itu.

"Si Riza (Pakistan) itu pacarnya cantik-cantik dan muda. Sekarang ini ceweknya dari Krian," tutur mbak Sri juragan kopi kepada saya.

Meski imigran-imigran ini cuma dibekali jatah Rp 1,2 juta sebulan dari IOM (organisasi urusan migrasi internasional), para pencari suaka masih bisa menyisihkan duit untuk pacaran. Kalau cowoknya cakep, muda, putih kayak si Riza, gampanglah dia mendapat nona manis.

Saya lihat sendiri si nona berputar-putar dengan motornya untuk ngapelin Riza. Maklum, para pengungsi dilarang keluar dari kompleks rusunawa. Kalau ketahuan bisa gawat. "Pokoknya pengungsi yang kulit putih, ganteng, mudah dapat pacar," kata Sri.

Hehehe... Itu sih semua orang tahu. Tapi Sri menambahkan, pengungsi asal Afghanistan, Pakistan, atau Iran, yang punya modal tampang bagus, juga ramah dan mudah bergaul. Mereka pun paling cepat menguasai bahasa Indonesia. Beda dengan pengungsi-pengungsi hitam asal Somalia dan negara Afrika hitam lain yang cenderung rombongan dan eksklusif.

"Orang-orang hitam itu gak ada yang mau. Tampangnya gak menarik, mereka juga sangat fanatik agamanya. Suka melecehkan kita yang dianggap masih kurang Islam," kata Sri yang berbusana muslim.

Suatu ketika mbak Sri dites menghafal kitab suci Alquran oleh beberapa cowok Somalia. Karuan saja Sri kelabakan karena tidak hafal. Tahu tapi tidak mendalam. Si Somalia yang fanatik itu kemudian marah-marah. "Kamu ini katanya Islam kok tidak hafal Quran? Kafir kamu!" ujar Sri menirukan ucapan salah satu imigran hitam itu.

"Kamu wong ireng, ngapain minggat dari negara kamu? Sudah ditampung di sini, dikasih makan, tidur gratis... kok malah marah-marah sama orang Indonesia! Pulang aja ke Somalia sana!!!!" gantian mbak sri membentak orang yang kulitnya hitam kayak kopi itu.

Bukan hanya Sri yang didamprat oleh para fundamentalis hitam dari Somalia itu. Beberapa pedagang di Puspa Agro juga dikhotbahi agar segera berubah jadi orang Islam yang bener. "Tapi ada juga yang kepergok pacaran sama janda tua. Gantian saya yang teriak, haram haram haram! Bukan muhrimnya kamu!" Si Somalia yang kesepian di rusunawa pun hanya bisa nyengir kuda.

"Wis lah, pokoknya wong-wong ireng iku gak enak blas. Sudah jelek, hitam, suka mencampuri urusan keagamaan kita. Kalau ketemu yang diomongin mesti soal-soal agama... dan bikin panas kuping. Lha, siapa yang mau dipacari sama Somalia?" kata Sri lantas tertawa keras.

Tiba-tiba pedagang makanan yang lain, namanya juga Sri, muncul dan nguping omongan Sri juragan warkop itu. "Sampeyan gelem pacaran sama pengungsi di sebelah itu?" pancing saya menggoda Sri yang gemuk dan STW itu.

"Apa??? Pacaran sama pengungsi? Sama Somalia? Sorry ya!!! Saya ini, meskipun sudah STW, masih laku lho! Zaman sekarang ini gak perlu ganteng. Yang perlu itu uang! Pengungsi itu gak punya uang! Emangnya kita makan gantengnya si Iran, Pakistan?" kata tante gemuk itu dengan nada tinggi.

Wow, rupanya pedagang-pedagang di Puspa Agro sudah paham betul kelakuan para imigran asing itu. Bahkan, beberapa di antaranya pernah jadi korban mabok cinta sesaat dari para pencari suaka politik. "Uang saya dibawa cowok (pengungsi), tapi sampai sekarang belum dikembalikan," kata seorang wanita STW yang pernah menjalin asmara dengan pengungsi.

Pelajaran moral:
Jadi orang hitam itu gak enak!
Gak ada (jarang ada) gadis/janda yang mau dipacari!
Lebih setia istri karena sulit selingkuh (biasanya ditolak cewek).

27 August 2015

Rezeki nomplok dari orang mati

Ada pemandangan menarik di koran Jawa Pos hari ini. Empat setengah halaman koran berpembaca terbanyak di Indonesia itu diisi iklan dukacita mendiang mama pengusaha keramik terkenal. Nilai rupiahnya jelas tidak sedikit.

Alhamdulillah, rezeki nomplok untuk surat kabar tersebut! Orang-orang yang bekerja di media massa, khususnya surat kabar, sangat menyadari pentingnya orang Tionghoa yang sejak Hindia Belanda punya kebiasaan beriklan di media massa. Iklan-iklan itulah yang antara lain menghidupi media massa.

Seorang tokoh surat kabar nasional sering berpesan kepada para wartawan, khususnya yang masih muda-muda, agar menjaga hubungan baik dengan warga Tionghoa. Jangan termakan isu-isu sektarian, rasial, SARA dsb yang sering kita dengan di masyarakat yang memojokkan orang Tionghoa.
Ingat, orang Tionghoa itulah yang bakal pasang iklan di mediamu. Orang Tionghoa sudah ratusan tahun menyadari (dan merasakan) manfaat beriklan. Orang Indonesia, yang bukan Tionghoa, juga sudah mulai sadar iklan tapi belum semasif para huaqiao di seluruh dunia.

"Kalau kita baik sama kawan-kawan Tionghoa, insyaallah, gampang diajak kerja sama. Minimal dia akan pasang iklan ucapan belasungkawa kalau ada keluarganya yang meninggal dunia. Kalau anda memusuhi orang Tionghoa ya akan ditinggal," kata sang wartawan senior.

Betul juga. Ucapan sang senior ini terus dibuktikan koran-koran di kota besar. Setiap hari ada saja iklan dukacita di Jawa Pos dll. Ada yang iklan kecil, sedangan, besar, kemudian super besar. Hari ini iklan orang mati malah mendominasi halaman-halaman Jawa Pos. Luar biasa!

Berbeda dengan Tionghoa, memasang iklan dukacita belum jadi kebiasaan di kalangan pribumi. Orang-orang kita (Jawa, Madura, Sunda, Batak, Flores dsb) sering terheran-heran mengapa orang Tionghoa suka membelanjakan duit besar untuk iklan kematian di surat kabar. Banyak kenalan saya malah tertawa melihat iklan kematian di surat kabar.

"Jangan tertawa Bung! Ceritanya panjang. Maknanya sangat dalam," begitu kata-kata saya setiap mendengar obrolan di warung kopi yang menyinggung iklan kematian.
Biasanya saya mengarang sendiri beberapa teori dan analisis tentang alasan orang Tionghoa suka memasang iklan dukacita. Tentu saja dari perspektif orang media yang memang sangat membutuhkan iklan-iklan sebagai sumber hidup bisnis media. Syukurlah, cara berpikir orang Tionghoa berbeda jauh dari para komentator asongan di warkop itu.
Kalau kita jeli, sebetulnya iklan dukacita terbesar dalam sejarah Indonesia bukan dari kalangan Tionghoa, tapi bumiputra. Yakni iklan ucapan dukacita atas meninggalnya Ibu Tien, istri Presiden Soeharto. Waktu itu koran-koran di tanah air benar-benar panen rezeki dari iklan dukacita.

Karena halaman koran saat itu masih dibatasi, pemerintah bahkan mengizinkan penambahan halaman agar bisa memuat iklan-iklan kematian Ibu Tien. Perusahaan-perusahaan seakan berlomba pasang iklan setengah halaman, bahkan satu halaman. Ramai luar biasa!

Setelah fenomena iklan dukacita Ibu Tien, kita tidak lagi melihat iklan-iklan kematian yang luar biasa masif di Indonesia. Bahkan, ketika Pak Harto meninggal iklannya pun tidak banyak.

22 August 2015

Hilangnya La Liga di TV kita



Mulai pekan ini, penggemar Barcelona tidak bisa lagi menyaksikan aksi-aksi ciamik Messi, Suarez, Neymar dkk di lapangan. Penggemar Real Madrid pun tak bisa melihat si CR7 membusungkan dana, ini dadaku, mana dadamu, memamerkan guratan ototnya usai mencetak gol.

Kita hanya bisa melihat cuplikannya di televisi atau internet. Sekilas saja. Sebab RCTI mulai tahun ini angkat bendera putih tinggi-tinggi. Gak kuat bayar hak siar Liga Spanyol alias La Liga. Sebetulnya kita di Indonesia sih tetap bisa menonton dengan mudah, gambar lebih bagus, pertandingan lebih banyak. Tapi ya itu, harus berlangganan TV berbayar. Gak gratisan lagi.

Mengubah mental gratisan, yang diperkenalkan RCTI sejak awal mengudara pada tahun 1980an dengan Liga Italia alias Serie A, menjadi pelanggan TV berbayar memang tidak mudah. Tapi di mana-mana memang begitu. Kalau mau nonton tayangan bagus, bermutu, tidak banjir iklan, banjir presenter waria kemayu, ya bayar.
Keputusan RCTI menghentikan siaran langsung La Liga sekaligus menghapus citra stasiun itu menjadi pelopor virus kompetisi liga sepak bola Eropa di Indonesia. Di awal berdirinya, RCTI dikenal orang karena Seputar Indonesia, program berita yang angle-nya beda dengan TVRI. Gaya penyampai berita di RCTI lebih santai, agak informal, dan cerdas. Beda dengan penyiar-penyiar TVRI yang cuma membacakan teks, mirip baca koran saja.

Sampai sekarang saya masih terkenang gaya presenter Adolf Posumah, Desi Anwar, dan Dana Iswara, yang kemudian menjadi benchmark saya dalam menilai presenter-presenter berita di TV sekarang. Selain Seputar Indonesia, tayangan Liga Italia membuat RCTI menjadi jujukan semua orang Indonesia yang gila bola.

Dalam perkembangannya, kualitas Liga Italia merosot sampai ke titik terendah. Lalu muncul TV7 (sekarang Trans 7) yang rutin menayangkan Liga Inggris. Amboi, suasana pertandingannya jauh lebih heboh daripada Italia. Permainan lebih cepat, lebih keras, lebih semangat. Bintang-bintangnya pun lebih bersinar. Maka penggemar bola di tanah air makin terbius dengan Premier League.

RCTI makin asyik dengan sinetron dan berita-berita politik pesanan pemiliknya HT. Tapi tengah malam kita masih bisa menyaksikan La Liga. Khususnya laga-laga yang melibatkan dua raksasa: Barcelona dan Real Madrid. Sebab hanya dua klub itu yang disukai publik di seluruh dunia. Kualitas Barca dan Real Madrid jauh melampui 18 klub yang lain.

Yah, masih syukur Liga Inggris masih ditayangkan SCTV dan Indosiar yang satu manajemen. Itu pun bukan partai paling heboh. Andaikan ada 5 pertandingan yang dimainkan bersamaan, SCTV/Indosiar biasanya hanya kebagian laga yang dianggap paling jelek. Namanya juga gratisan. Kalau mau lihat super big matches ya harus nyetel si Bein TV itu.

Tentu saja ada segi positif di balik hilangnya La Liga di televisi gratisan. Kita bisa tidur lebih nyenyak, tak perlu nyetel alarm agar bangun 01.30 atau 03.00 demi memuaskan kesenangan kita menonton bola dengan mengorbankan kesehatan. Berbeda dengan Liga Inggris, yang menyesuaikan jadwal laga agar ramah Asia, Liga Spanyol sejak dulu sangat berorientasi Eropa. Gak peduli kalau di Indonesia pukul 01.30 itu orang sedang nyenyak-nyenyaknya tidur.

21 August 2015

Selamat Jalan Pelatih Suharno



Ribuan penggemar sepak bola di Kabupaten Sidoarjo menundukkan kepala, berbelasungkawa, atas meninggalnya Suharno, 55 di Malang. Pelatih asal Klaten yang malang melintang di jagat sepak bola nasional. Pria humoris tapi sangat disiplin itu terakhir melatih Arema Cronus.

Pelatih Suharno tak bisa dipisahkan dari Gelora Putra (GPD) yang kemudian berubah nama menjadi Deltra Putra Sidoarjo (Deltras). Bahkan, ketika masih menjadi pemain, Suharno merupakan pemain andalan Perkesa 78, klub galatama yang bermarkas di Sidoarjo. Perkesa kemudian pindah markas ke Jogjakarta pada 1987. Sejak itu Sidoarjo hilang dari peta balbalan nasional sebelum muncul GPD yang tak lain jelmaan Gelora Dewata.

Kepiawaian Suharno membaca permainan, skill individu yang tinggi, kerja sama apik, membuat Suharno sangat menonjol. Saat itu Perkesa Sidoarjo cukup disegani di tanah air.

Selepas menjadi asisten pelatih Niac Mitra sembari bermain di klub jawara galatama Surabaya itu, Suharno mulai merintis karir sebagai head coach di kesebelasan Gelora Dewata, Bali. Klub ini kemudian hijrah ke Sidoarjo, ganti nama menjadi GPD, kemudian diambil alih Pemkab Sidoarjo menjadi Deltras. Pada musim kompetisi 2002-2003 itu Suharno menjadi pelatih kepala Deltras di Liga Bank Mandiri.

Itulah era keemasan Deltras FC. Cukup banyak pemain nasional bergabung dengan tim berjuluk The Lobster seperti I Putu Gede, Anang Maaruf, Budi Sudarsono, Agung Prasetyo, dan Isdiantono. Saat itu Stadion Gelora Delta begitu meriah setiap kali Deltras memainkan laga kandang.

Di awal musim, tim besutan Suharno bahkan sempat menjadi juara paro musim alias capolista. Namun, di akhir musim Deltras tercecer di urutan ke-10. Saat itulah Suharno diincar klub-klub besar sehingga tidak bisa bertahan lama di Sidoarjo.

Meski hanya semusim melatih Deltras, ribuan Deltamania alias penggemar bola di Kota Delta tak pernah melupakan kontribusi salah satu pelatih tersukses di Liga Indonesia itu. Setelah sesi latihan yang disiplin, serius, dan keras, Suharno selalu terlihat akrab dengan siapa saja. Ngobrol santai, akrab, dan tak lupa menyapa lawan bicaranya dengan sapaan "Dulur".

"Dulur, sebuah klub itu akan maju kalau ada sinergi antara pemain, pelatih, asisten pelatih, manajemen, suporter, media massa, sponsor, dan sebagainya. Kita semua saling membutuhkan," katanya.

Karena itu, ketika melihat antusiasme penonton terhadap Deltras kian menurun, stadion makin sepi, Suharno secara halus meminta semua elemen untuk duduk bersama, melakukan pembenahan. Sayang, Suharno tak bisa berlama-lama di Kota Delta karena sudah digaet klub lain, kalau tidak salah Pupuk Kaltim.

Sejak itu kita di Sidoarjo hanya bisa mengikuti sentuhan tangan midas Suharno yang selalu sukses menangani klub-klub Liga Indonesia. Saat ini Deltras bahkan terjun bebas ke kompetisi amatir yang disebut Liga Nusantara. Polesan Suharno yang halus, taktis, ciamik itu sepertinya tinggal kenangan.

Selamat jalan Pak Suharno! Selamat beristirahat dalam damai di sisi-Nya! (*)

18 August 2015

Sulitnya Membaca Novel Grotta Azzura



Dulu Grotta Azzura itu saya kira nama orang. Soalnya, putra Prof Ignatius Clemens Sudjarwadi, guru besar sastra Universitas Jember, memang bernama Grotta Azzura. Meskipun beliau profesor, saya mahasiswa, saya akrab sama beliau dan istri karena sama-sama satu lingkungan satu paroki.

Jarang ada seorang guru besar, profesor, yang sibuk, rajin ikut kegiatan rohani macam doa lingkungan, aksi puasa pembangunan, pertemuan bulan kitab suci dsb seperti Pak IC. Salut Prof!!! Nah, saya selalu ditugasi beliau jadi dirigen kalau ada doa lingkungan (kring) karena dianggap cukup paham notasi (angka) yang tercetak di buku nyanyian Katolik yang bernama Madah Bakti dan Puji Syukur.

Aneh, profesor Jawa asli, asal Jogja, kok menamakan anaknya Grotta Azzura. Bahasa Italia yang tak pernah kita dengar. Saya sungkan bertanya sama Pak Prof IC. Belakangan saya baru ngeh setelah menemukan buku bekas di pasar loak Jalan Semarang, Surabaya, judulnya Grotta Azzura. Novel 556 halaman karya S Takdir Alisjahbana.

Wow, rupanya novel panjang, persis kuliah filsafat, penuh pergulatan pemikiran timur vs barat inilah yang jadi inspirasi Pak IC memberi nama anaknya. Prof IC dikenal luas sebagai penyair, dramawan, budayawan, punya kelompok teater sendiri. Beliau berguru pada sahabatnya WS Rendra, embahnya Bengkel Teater di Jogja.

Sekitar tujuh tahun lalu saya mencoba membaca novel atau roman dengan tagline "kisah cinta dan cita" itu. Baru 5 halaman saya sudah lelah. Wow, bukan novel sembarangan. Di halaman 7, STA sudah bahas masalah otonomi daerah. Mirip makalah seminar saja.

"Orang takut bahwa dengan autonomi itu masuk konsep federasi, meskipun orang tahu bahwa hampir segala negara besar dan kaya yang ada di dunia sekarang ini bersifat federasi: Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jerman Barat, malahan Soviet Rusia sekalipun...," tulis STA.

Makin ke dalam materi percakapan para tokoh semakin berat. Lebih berat ketimbang seminar filsafat atau politik di kampus-kampus kita hari ini. Apalagi obrolan sosial politik kelas talkshow di televisi-televisi kita yang dangkal itu. Dialog di Grotta Azzura ini menurut saya terlalu dalam, indepth thinking, sehingga kelezatan cerita ala novel atau roman hampir tidak ada. Ada guyonan tapi humor intelektual kelas filsuf.

Saya pun memaksakan diri membaca halaman demi halaman Grotta Azzura tapi makin lama makin kehilangan energi. Tapi gagal dan gagal lagi. Lalu novel terbitan 1970 itu saya simpan. Beberapa bulan kemudian saya coba membaca lagi. Meneruskan dari halaman yang sudah ditandai meskipun sudah lupa cerita sebelumnya. Tapi tidak sampai 11 halaman gak kuat. Berhenti lagi.

Begitulah. Akhirnya, tanpa terasa sudah tujuh tahun saya gagal menyelesaikan novel Grotta Azzura. Cuma sampai halaman 173. Artinya belum sampai 50 persen isi buku STA saya baca.

Minggu lalu, setelah jeda dua tahun, saya mencoba membaca lagi Grotta Azzura. Tapi gagal lagi. Cuma nambah 2 halaman saja.

Di halaman 173, omongan Janet memberi kuliah panjang lebar tentang kenaifan yang segar, seni yang diletan, seni Andre Malraux, dunia yang baru, kebudayaan Eropa dsb dsb. STA rupanya sedang memasukkan ide-ide filsafat dan cita-cita kebudayaannya lewat mulut para tokoh di novel Grotta Azzura.

Pramoedya Ananta Tour juga biasa memasukkan ajaran dan pandangannya lewat mulut para tokohnya. Tapi tetap cair, enak, dan membuat kita ingin cepat-cepat menyelesaikan roman atau novel tetralogi Pulau Buru. Begitu juga Romo Mangun yang juga suka khotbah lewat tokoh-tokoh novelnya. Tapi STA di Grotta Azzura ini lain dari lain bobot akademisnya. Alur cerita hampir tidak ada saking buanyaaak khotbah-khotbah filsafat, seni budaya, politik dsb.

"Roman seorang profesor," begitu komentar majalah Express edisi 24 Oktober 1970.

Ah, saya masih penasaran dengan roman sang profesor ini. Mudah-mudahan tahun ini bisa saya tamatkan.

Ayo Kerja! Kerja Apa???



Berbeda dengan tema hari kemerdekaan sebelumnya, apalagi selama 32 tahun Orde Baru, tahun 2015 ini temanya sangat swasta: "Ayo Kerja!"

Singkat, padat, enak, bukan tipe bahasa birokrasi. Khas Jokowi yang menamakan kabinetnya Kabinet Kerja. Pilihan kata Jokowi, gaya bicara, pidato, bahasa tubuh Jokowi... masih terlihat seperti rakyat kebanyakan. Bukan birokrat sipil atau militer.

Dulu, di masa Orde Baru, tema hari kemerdekaan selalu panjang dengan susunan kata yang sama dari tahun ke tahun. "Dengan semangat proklamasi kemerdekaan, kita tingkatkan... menuju masyarakat adil dan makmur!" Bedanya cuma satu dua kata di titik-titik itu.

Ayo Kerja! juga mengingatkan kita pada tagline Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN: "Kerja! Kerja! Kerja!" Dulu ada embel-embel dua kata di depannya: "Jauhi Politik!" Lengkapnya: "Jauhi Politik! Kerja Kerja Kerja!"

Ajakan bekerja dari Presiden Jokowi, menteri-menteri, parlemen, gubernur, bupati dsb itu bagus. Semua orang harus bekerja agar bisa makan. Pertanyaannya, kerja apa? Apakah negara sudah menyediakan lapangan kerja yang banyak? Sektor swasta menggeliat sehingga menyerap banyak pekerja?

Ajakan "ayo kerja" hanya jadi bahan tertawaan kalau Indonesia belum bisa menyediakan lapangan kerja untuk rakyatnya sendiri. Jutaan orang Indonesia masih bekerja di luar negeri sebagai TKI. Jumlah TKI di Malaysia bahkan lebih banyak dari penduduk Singapura. Apalagi Brunei atau Timor Leste.

Ayo Kerja! hanya akan efektif kalau Jokowi dan Kabinet Kerja bisa menciptakan Indonesia yang ekonominya jaya sakti sehingga lapangan kerja begitu banyaknya. Tak usah jauh-jauh ke Amerika, Malaysia sejak dulu kekurangan tenaga kerja kasar karena rakyatnya bekerja di sektor-sektor yang tidak kasar dengan penghasilan tinggi. Boleh dikata, hampir semua keluarga di Malaysia punya mobil di rumahnya.

Di usia republik yang makin tua, 70 tahun, saya teringat warga keturunan Jawa di Suriname. Mereka baru saja memperingati 125 tahun kedatangan orang Jawa di negara kecil di kawasan Amerika Latin itu. Mereka dikirim sebagai kuli-kuli kontrak oleh Belanda dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan.

Namun, mereka banting tulang, kerja kerja kerja... dan anak cucu menikmati hasil keringat sang leluhur. "Sekarang ini di semua rumah orang Jawa paling tidak ada dua mobil," kata Salimin, tokoh Jawa di Suriname (kalau tidak salah ingat namanya).

Sebaliknya, wong Jawa di Jawa, orang Indonesia masih begini-begini saja meskipun sudah banting tulang selama 70 tahun menjadi Indonesia. Dulu, Orde Baru dengan program pelita (pembangunan lima tahun) menjanjikan Indonesia akan tinggal landas, maju dan makmur, pada pelita ke-4 atau tahun 1990an.

"Tapi janji tinggal janji... adil makmur hanya mimpi," begitu syair sebuah lagu pop lawas karya Rinto Harahap.

Setelah janji manis adil makmur ala Orde Baru mbeleset, dolar tembus Rp 15000, tidak ada lagi janji-janji rezim baru pasca Orde Baru. Visi jangka panjang ala Vision 2020 Malaysia pun tak ada lagi.

Jokowi pun hanya bisa mengajak rakyatnya ayo kerja kerja kerja. Kerja di Malaysia? Hongkong, Taiwan, Arab Saudi?

Merdeka!!!

17 August 2015

Tiongkok masih raja bulutangkis



Syukurlah, masih ada greget bulutangkis di Indonesia. Di sebuah warung kopi di Sidoarjo, kemarin, pengunjung sangat antusias menonton partai final kejuaraan dunia 2015 di Jakarta yang disiarkan langsung Kompas TV.

Suasana di warkop itu cukup heboh. Mirip nonton pertandingan Persebaya 1927 atau Arema. Dari 5 partai, Tiongkok merebut 3 partai sekaligus: tunggal putra (Chen Long), ganda putri Tian Qing/Zhao Yunlei, dan ganda campuran Zhang Nan/Zhao Yunlei.
Indonesia sukses di ganda putra. Hendra Setiawan/M Ahsan mempermalukan Liu Xiaolong/Qiu Zihan dengan 21-17 dan 21-14. Partai ganda laki ini paling seru. Henda/Ahsan begitu cerdik sehingga pasangan Liu/Qiu yang badannya gempal kewalahan. Beberapa orang melompat kegirangan begitu Henda/Ahsan memastikan meraih juara dunia 2015.

"Alhamdulillah, Indonesia menang. Masa China terus! Masa kita dijajah China! Bosan kalau yang menang China China China China," kata cak Amir.

"Wong penduduknya 1,5 miliar, bibit pemainnya banyak. Sementara bibit-bibit pemain bulutangkis kita sedikit," tukas cak Joko.

Masalahnya bukan penduduk banyak atau sedikit, sergah cak Syamsul. Indonesia dulu juga menangan di bulutangkis. Rudy Hartono juara All England 7 atau 8 kali. Kemudian generasinya Alan Budikusumah, Ardy B Wiranata, Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat dsb. Kemudian prestasi bulutangkis kita anjlok drastis. Masih lumayan Henda/Ahsan menang atas Tiongkok.

Namanya juga obrolan warung kopi, analisis badminton ini melebar ke mana-mana. Apalagi kalau sudah menyangkut Tiongkok, Tionghoa, China, dan sejenisnya. Saya cermati masih banyak orang yang iri melihat kedigdayaan Tiongkok di pentas olahraga dunia. Termasuk bulutangkis.

"Ah, seandainya teman-teman di warkop ini sedikit membaca beberapa tulisan lama di blog ini. Tentang perjalanan Tong Sin Fu. Tentang PP 10 yang kontroversial itu. Tentang sulitnya para maestro bulutangkis keturunan Tionghoa mendapat status WNI dsb dsb," batin saya.

Setiap kali mendengar celotehan orang-orang di warkop, pinggir jalan, kampung soal bulutangkis, saya selalu ingat beberapa tulisan di blog ini. Bagaimana pemain-pemain muda dari Hindia Belanda, yang keturunan Tionghoa, terusir dari negara yang kemudian menjadi Republik Indonesia. Kemudian mereka-mereka itu mengajari orang-orang Tiongkok main bulutangkis.

Anak-anak muda Zhongguo, yang orang tuanya pada 1950-an masih sangat miskin, tak punya harta benda, pontang-panting di lapangan, berlatih super keras, agar bisa main bulutangkis. Akhirnya, bulutangkis perlahan-lahan dikenal warga Tiongkok. Dan perlahan-lahan pula pemain-pemain Tiongkok berprestasi di level dunia.

Sebaliknya, di bekas Hindia Belanda, bulutangkis perlahan-lahan makin tidak populer. Makin jarang kita lihat lapangan bulutangkis di kampung-kampung. Beberapa gedung olahraga khusus bulutangkis di Sidoarjo sudah berubah jadi minimarket. Tidak ada lagi pertandingan bulutangkis antarkampung seperti saat saya kecil di NTT dulu.

Salahkah Tiongkok yang berguru bulutangkis pada pemain-pemain kita tempo doeloe? Salahkah Tiongkok kalau saat ini masih merajalela di dunia bulutangkis? Salah siapa kalau Indonesia makin keteteran?

Boring Chelsea Sulit Juara

Setelah liburan panjang, liga-liga Eropa mulai bergulir lagi. Kita, yang suka bola, dapat hiburan gratis nonton pertandingan-pertandingan bola kelas dunia meskipun harus mengurangi jam tidur.

Liga Inggris masih jadi favorit orang Indonesia karena selalu seru. Padahal, kita tahu, tim-tim Inggris selalu kalah kelas ketika bermain di Liga Champions atau Liga Eropa. Jangankan melawan Barcelona atau Real Madrid, dua klub Spanyol yang memang luar biasa, melawan PSG saja kedodoran. Chelsea dipermalukan PSG yang main 10 orang sejak menit awal. Padahal, Chelsea itu juara Liga Inggris musim lalu.

Begitulah. Kekalahan Chelsea atas PSG sangat sulit saya lupakan. Momen ini merupakan puncak kebosanan saya pada tim asuhan Mourinho itu. Saya tak lagi ngoyo menonton Chelsea yang saya anggap masih jauh di bawah Barca, Real Madrid, Bayern, atau PSG. Dulu saya hampir tidak pernah melewatkan pertandingan Chelsea atau Manchester United.

Semalam saya niati untuk nonton Manchester City vs Chelsea. Sebelum pertandingan saya saya ingin agar Chelsea kalah. Bukan kalah tipis, tapi skor yang agak besar. Pelajaran buat si Mourinho dan Chelsea yang membosankan itu. Syukurlah, keinginan saya terkabul. Chelsea akhirnya dicukur gundul 3-0. Saya pun tertawa-tawa sendiri melihat pertahanan Chelsea yang konyol dan rapuh.

Ini baru dua pertandingan awal. Musim masih panjang. Masih 36 pertandingan lagi. Tapi, melihat laga-laga pramusim Chelsea serta pertandingan City vs Chelsea, rasanya kok sulit bagi Chelsea untuk mempertahankan gelar juara. Bisa masuk 4 besar saja sudah bagus banget. City kelihatannya meyakinkan. MU kurang meyakinkan tapi ada tanda-tanda menangan. Buat apa main bagus kalau kalahan?

Nah, Chelsea termasuk tim yang biasa main jelek tapi menangan itu. Liverpool, Arsenal, MU, City, dan Chelsea masih tetap bersaing untuk meraih takhta juara Premier League musim ini. Tapi saya yakin musim ini Chelsea tidak akan juara. Prediksi saya selaku pemerhati bola kelas warkop akan dilihat pada akhir musim nanti.

Liga Spanyol jelas boring dari masa ke masa. Hampir pasti juaranya Barcelona. Real Madrid dengan pelatih baru, Benitez, masih harus adaptasi dengan gaya dan skema permainan yang baru. Barcelona, meskipun disikat Bilbao 4-0, masih terlalu jauh dari 18 tim lain.

12 August 2015

Cewek Taiwan vs Cewek Tiongkok



Semaju-majunya Tiongkok, sistem politiknya masih represif. Hanya satu partai yang boleh hidup, yakni Partai Komunis Tiongkok. Tidak ada ruang untuk demokrasi. Apalagi mengecam pemerintah yang komunis tulen.

Cungkuo sangat ketat melakukan sensor informasi. Internet dipelototi setiap menit dan detik. Jangan harap rakyat meledek atau memaki-maki gubernur atau presiden seperti di Indonesia setelah reformasi. Syair lagu-lagu pop pun diteliti oleh komite khusus. Kalau liriknya dianggap provokatif, cabul, mengandung kekerasan, ngeledek pemerintah, dan sejenisnya akan dibredel.

Selasa 11 Agustus 2015, kementerian kebudayaan Cungkuo melarang 120 lagu pop yang cukup disukai anak-anak muda. Saya ingat dua judul lagu: Saya Cinta Cewek Taiwan dan Tak Ada Uang Tak Ada Teman. Musiknya sendiri sih biasa-biasa saja. Band-band Indonesia umumnya masih lebih bagus ketimbang musisi Tiongkok atau Taiwan.

Saya jadi geli sendiri membaca larangan lagu soal cewek Taiwan itu. Bukan apa-apa. Syair lagu itu membandingkan cewek Taiwan dan cewek Tiongkok yang sama-sama cakep tapi karakternya sangat berbeda. Intinya, cewek Cungkuo itu brengsek, kampungan, dan mata duitan.

Hehehe....

Saya langsung teringat omongan teman saya yang alumni Taiwan (S1), kemudian ambil S2 di Tiongkok. Meski sangat sebagian besar income-nya dari hasil bisnis dengan jaringan di Tiongkok, sering jadi pemandu wisata dan pendidikan ke Cungkuo, selera ceweknya tidak berubah. Su Xiangshen itu sama sekali tidak tertarik dengan cewek Cungkuo.

"Cewek-cewek Cungkuo itu kan cakep, Bung?"

"Cakep apanya? Lebih banyak yang jorok. Malas mandi dan dandan."

"Kok di Surabaya cewek-cewek Cungkuo kelihatan cakep dan gaul kayak artis?"

"Hehehe.... Itu kan sudah di luar negaranya. Dia mesti dandan biar laku. Wong mereka itu banyak yang jadi wanita simpanan. Saya ini belasan tahun tinggal di Taiwan dan Cungkuo. Makanya saya tau betul cewek-cewek di sana. Sampai baunya pun saya hafal," kata xiangshen yang juga laoshi Mandarin itu.

"Berarti Anda cinta cewek Taiwan?"

"Oh tidak. Saya cinta yang Indonesia saja. Istri saya kan orang Indonesia, keturunan Tionghoa. Lebih aman dan hemat. Kawin sama cewek Taiwan atau Tiongkok itu cepat bikin bangkrut. Saya nggak selera sama Cungkuo," katanya tegas.

Xiangshen ini bercerita cewek-cewek yang malas dandan ini bukan karena kurang duit untuk membeli sabun, bedak, dan berbagai perlengkapan kosmetik. Mereka terlalu sibuk belajar belajar belajar belajar... karena tuntutan pendidikan di Tiongkok luar biasa tingginya. Agar bisa jadi pegawai negeri nilainya harus istimewa. Jadi apa saja bukan hanya ijazah, tapi juga nilai rata-rata A+ atau 90 ke atas.

"Persaingan begitu ketat di Tiongkok. Makanya anak-anak sekolah, mahasiswa, di sana tidak punya waktu untuk pacaran. Saya paling malas naik bus umum di Tiongkok. Kenapa? Bau keringat mereka gak enak blasss. Banyak rambutan di ketiak cewek-cewek karena nggak pernah dicukur," kata xiangshen yang galak sama Cungkuo tapi senang duit dari negara berpenduduk 1,3 miliar itu.
Tidak hanya penyanyi Taiwan yang meledek cewek-cewek atau orang Cungkuo. Beberapa waktu lalu saya bertemu Catherine asal Hongkong yang mengikuti sebuah konferensi internasional kristiani di Surabaya. Saat ditanya tentang Tiongkok yang makin maju dan kelebihan uang, investasi di mana-mana, Catherine langsung nyengir kuda.

"Ngapain kamu bahas Tiongkok? Tidak ada demokrasi di sana. Tidak ada kebebasan sipil. Bahkan penguasa komunis di Tiongkok pun sampai mengatur bahasa dan tulisan yang kami pakai di Hongkong. Kamu jangan terpukau dengan Tiongkok yang kelihatan hebat dari luar," kata Catherine yang lebih suka berbahasa Inggris ketimbang bahasa Mandarin.

Dia bilang bahasa Mandarin versi Beijing dipaksakan oleh penguasa komunis di wilayah Hongkong. Padahal sejak dulu penduduk Hongkok punya dialek sendiri dan sudah biasa berbahasa Inggris selama dikuasai British. Catherine khawatir lama-lama rezim komunis ini juga mengintervensi gereja-gereja di Hongkong seperti di wilayah Tiongkok.

Manusia tidak hanya hidup dari roti saja, katanya.

11 August 2015

Prof Adrian Vickers teliti perupa di Jawa Timur



Prof Adrian Vickers dari The University of Sydney, Australia, kemarin blusukan ke kawasan Sekardangan, Sidoarjo. Di Rumah Budaya Pecantingan, Adrian menggali informasi tentang perkembangan seni rupa di Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota lain di Jawa Timur sejak 1960-an sampai sekarang.

"Kebetulan di Sidoarjo ini ada beberapa pelukis senior yang bisa jadi narasumber untuk riset saya. Salah satunya Herman Benk," ujar Adrian yang dikenal sebagai pakar masalah Asia Tenggara, khususnya Indonesia, itu.

Menurut Adrian, selama ini orang Barat hanya mengenal Jogjakarta dan Bali sebagai sentra kesenian, khususnya seni rupa, di Indonesia. Padahal, sejak dulu di Jawa Timur ada geliat seni rupa meskipun tidak segencar di Jogja dan Bali. Dia mengaku tertarik untuk menggali informasi dari para seniman era 1970-an yang aktif berkesenian di Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan sekitarnya.

"Sayang, sebagian seniman senior sudah meninggal dunia. Tapi masih untung saya bisa bertemu dengan Pak Benk dan beberapa seniman senior lainnya," kata Profesor Adrian yang sangat fasih berbahasa Indonesia.

Sementara itu, Herman Benk menjelaskan, kehidupan kesenian di Jawa Timur sejak dulu tidak terpusat pada lembaga atau akademi tertentu. Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) pun sebetulnya bukan akademi layaknya perguruan tinggi, melainkan semacam sanggar untuk kumpul-kumpul seniman dan calon seniman. Para pelukis umumnya bergerak sendiri-sendiri bersama komunitasnya.

"Lain dengan di Jogja yang punya ISI (Institut Seni Indonesia). Ada IKIP Surabaya tapi tidak fokus di kesenian. Makanya, seniman yang berlatar belakang akademis sangat sedikit di Jawa Timur," katanya.

Herman Benk sendiri dulunya sempat mencicipi sekolah seni rupa di Jogja. Pilihan nekat yang ditentang orang tuanya yang Tionghoa. Benk diminta berdagang karena kehidupan seniman tidak menentu. Penghasilan tidak pasti. Benk kemudian kembali ke Surabaya dan menjadi pelukis poster film untuk bioskop-bioskop di kota pahlawan.

Kini, di usia senja, Benk masih tetap melukis, bikin sketsa, senang berdiskusi membahas seni rupa. Dia juga rajin mempublikasikan sketsa-sketsanya di Facebook. "Keliru kalau saya dibilang seniman. Saya bukan seniman. Saya ini narsis kok!" ujar Benk di hadapan Prof Adrian usai menyedot asap nikotin yang jadi teman karibnya.

Dr Siobhan Campbell dari Sydney tingkepan di Sidoarjo



Minggu lalu Dr Siobhan Campbell dari University of Sydney datang ke kawasan Pecantingan, Sekardangan, Sidoarjo. Bukan untuk penelitian, cari data tentang seni budaya, yang menjadi spesialisasinya, tapi untuk tingkepan. Mbak Siobhan memang lagi hamil tujuh bulan.

Sesuai tradisi Jawa, wanita yang hamil tujuh bulan perlu mengikuti ritual tingkepan. Upacara sederhana, pengajian, undang warga sekitar, makan bersama. Sama-sama mendoakan agar anak pertama Siobhan Campbell lahir dengan selamat. Suami mbak Siobhan tak lain mas Jumaadi, seniman asli Sidoarjo yang tinggal di Sydney.

Tresno jalan soko kulino. Cinta itu tumbuh karena sering bertemu, kumpul di tempat yang sama. Maka Jumaadi yang lukisan-lukisannya sarat dengan nuansa desa, sawah, gunung, petani, perambah hutan... itu kecantol sama Siobhan, dosen di Sydney. Kebetulan Dr Siobhan juga indonesianis yang sejak sekolah menengah cinta berat sama budaya Indonesia. Siobhan melakukan kajian mendalam terhadap tradisi seni lukis tradisional di Kamasan, Bali.

"Saya cinta budaya Indonesia dan orang Indonesia," kata mbak Siobhan yang njawani itu.

Saat berada di Sidoarjo, Siobhan Campbell selalu terlihat seperti wanita Jawa di pedesaan tempo doeloe yang ramah dan cekatan meladeni tamu. Menawari tamu mencicipi jajan pasar, ngopi atau minum teh. Saya sendiri jadi sungkan dilayani oleh seorang indonesianis terkenal yang bakal meneruskan tradisi indonesianis-indonesianis senior yang makin tua dan sebagian sudah meninggal dunia.

Siobhan Campbell bersyukur bisa menekuni hobinya, blusukan ke kampung-kampung sederhana, menikmati seni budaya nusantara, sekaligus meraih gelar PhD lewat riset tentang budaya Indonesia. Di usia yang sangat muda dia sudah dapat gelar doktor. Lalu mulai serius bikin program "buat anak" agar rumah tangganya dengan mas Jumaadi lebih berwarna. Lebih ceria kalau ada anak, begitu keinginan ibu mertua dan keluarga besar suaminya di Sidoarjo.

Setiap kali berkunjung ke Sidoarjo, Siobhan selalu ditanya anaknya sudah berapa. Kapan punya anak. Kok sibuk penelitian, seminar, workshop, bikin buku terus sih? Intelektual sekelas Siobhan Campbell rasanya risih juga kalau terus-menerus dicecar pertanyaan yang sama.

"Alhamdulillah, Siobhan sudah tujuh bulan (hamil). Kami mau bikin tingkepan khusus untuk dia," kata ibu mertua Siobhan kepada saya seminggu setelah Lebaran.

Keluarga besar di Sidoarjo sih ingin Siobhan lebih lama tinggal di kota petis ini. Syukur-syukur sampai melahirkan anak pertamanya. Tapi Siobhan harus segera kembali ke Sydney untuk mengajar lagi di universitas. "Masa izin saya sudah habis. Saya bisa susah kalau terlalu lama tidak masuk," kata Siobhan seraya tersenyum manis.

Siobhan bilang dosen-dosen di Australia bukan tipe PNS di Indonesia yang mendapat gaji tetap dari bulan ke bulan, tahun ke tahun. Siobhan harus mengajukan proposal setiap semester/tahun agar mendapat job di universitas. Karena itu, dosen yang tahun ini mengajar di universitas A misalnya belum tentu masih mengajar di universitas yang sama.

"Kalau proposalnya ditolak ya nganggur dia. Jangan dikira jadi dosen di Australia itu enak. Jadi seniman di Australia juga perlu kerja sangat keras agar bisa hidup," ujar mas Jumaadi yang setia menemani sang istri yang lagi hamil besar itu.

09 August 2015

Khotbah TUTU KODA ala misionaris Belanda


Almarhum Pater Lambertus Padji Seran SVD, salah satu pelopor khotbah gaya TUTU KODA KIRING ala Flores Timur.

Baru saja saya ikut misa di sebuah paroki di Surabaya. Gerejanya bagus, sejuk (pakai AC), umatnya banyak, kolektenya juga hebat. Tapi khotbahnya, menurut saya, kok menjemukan. Bikin ngantuk. Sang gembala seperti hanya membaca artikel di koran, sementara jemaat sulit mengikuti uraian beliau.

Intronya sih bagus. Cerita pengalaman sang pengkhotbah melayani umat di pedalaman yang haus ekaristi. Kalau di Surabaya misa digelar tiap hari, pastornya banyak, kornya bagus, di luar Jawa kadang 2-3 bulan tidak ada misa karena kurang pastor. Tidak ada ekaristi. Umat Katolik hanya bikin ibadat sabda tanpa imam macam di pedalaman Flores Timur, kampung halaman saya, dulu. Maklum, di pedalaman Flores Timur, dulu, satu pastor harus melayani 20 gereja yang saling berjauhan. Di Surabaya, 2-4 pastor hanya melayani SATU gereja paroki.

Saya berusaha menyimak khotbah minus humor itu secara saksama. Wow, uraiannya runut, dalam, merujuk bacaaan pertama, kedua, ketiga, dengan titik tekan Yesus sebagai roti kehidupan. Bukankah Ia anak Yusuf, yang ibu bapaknya kita kenal?

Cuma, ya, itu tadi, khotbah itu hambar karena tak punya daya pikat. Mirip khotbah dua romo senior di Paroki Jember tahun akhir 1990-an yang sangat akademis. Mirip kuliah agama Katolik di kampus saja. Tahu-tahu khotbahnya selesai, sementara kita lupa pesan apa yang bisa dibawa pulang dari homili tersebut.

Sembari mendengar uraian tentang roti kehidupan, pikiran saya mengembara ke masa anak-anak di NTT. Masa ketika pastor yang bertugas di gereja desa, Atawatung, Kecamatan Ileape, Kabupaten Flores Timur, dilayani Pater Geurtz SVD dan Pater Van de Leur SVD, dua pastor asal Belanda yang sangat unik. Pater Geurtz sering jalan kaki atau naik motor gede, ditemani kuda putihnya, ketika keliling gereja-gereja desa. Pater Van de Leur naik sepeda pancal dengan kecepatan tinggi.

Metode homili atau khotbah dua imam misionaris generasi terakhir di Indonesia itu benar-benar nancap di benak saya sampai sekarang. Begitu juga gaya khotbah Pater Lambertus Padji Seran SVD (yang membaptis saya, nama permandian saya mengikuti nama beliau, Lambertus, apalagi almarhum ini dulu sering menginap di rumah saya.) Gaya khotbah pater-pater lama itu dalam bahasa Lamaholot disebut TUTU NUAN atau KODA KIRING. Bahasa kerennya story telling.

Pater Geurtz, Pater Van de Leur, atau Pater Lambert selalu bercerita. Omong-omong seperti sedang berbincang di rumah sambil ngopi atau minum tuak. Suasananya santai, informal, sering pakai bahasa daerah Lamaholot karena sebagian besar umat (saat itu) memang kurang paham bahasa Indonesia. Gaya romo-romo tua yang sudah almarhum semua ini spontan, tidak pakai baca, dan selalu ada humornya. Umat sering dibuat tersenyum atau ketawa-ketawa, tapi juga kecut karena disindir.

Yah, mungkin karena di desa, yang tidak ada listriknya, serba sederhana, pendidikan rendah, sanga pastor Belanda itu menyesuaikan diri dengan daya serap umat. Pastor-pastor pribumi generasi pertama macam Pater Lambert pun begitu. Pater Lambert yang asli Adonara Timur ini bahkan lebih seru karena bicaranya keras dengan logat Adonara yang sangat kental. Khotbahnya pun dalam bahasa Lamaholot. Tidak paka baca!

Setelah pindah ke Larantuka, ibukota kabupaten Flores Timur, pusat misi Katolik yang terkenal sejak zaman Portugis, saya masih menemukan khotbah gaya KODA KIRING atau story telling alias naratif ini pada Pater Paulus Due SVD (sekarang almarhum). Pandai benar Pater Paulus bercerita. Suaranya tinggi, jago nyanyi prefasi, bisa ngomong ngalor-ngidul dan panjaaaang. Tapi, karena cerita yang kaya humor, umat Katolik di Larantuka selalu dibuat senyam-senyum menyimak homili beliau.

Berbeda dengan Pater Paulus, masih di Katedral Larantuka, Romo Gorys Kedang asal Lembata punya gaya yang sangat berbeda. Khotbah-khotbahnya disusun rapi, ilmiah, dan pakai baca. Seingat saya beliau sering mengutip majalah Prisma yang berat itu. Juga filsuf-filsuf terkenal untuk memperkaya khotbahnya. Meskipun pakai baca, Romo Gorys sering membumbui homilinya dengan humor atau cerita-cerita lucu.

Nah, pengalaman semasa di SD dan SMP di bumi NTT inilah yang sering muncul ketika saya mendengar khotbah yang menjemukan. Sang gembala seperti asyik membaca makalahnya sendiri tanpa peduli respons jemaat. Khotbah jadi tidak hidup. Tahu-tahu khotbahnya selesai, sementara kita tidak tahu apa poin khotbahnya.

Homili atau khotbah yang hidup tidak berarti sang pengkhotbah harus teriak-teriak, banyak memekikkan "Haleluya", minta jemaat tepuk tangan ala karismatik. Mendiang Pater Geurtz SVD di Flores Timur itu bicaranya halus, tenang, tapi gaya TUTU KODA KIRING alias story telling-nya sangat menarik. Orang-orang desa di pelosok NTT itu sepertinya tidak rela kalau khotbahnya harus diakhiri. Saking menariknya.

Di Surabaya dan Sidoarjo ini, saya perhatikan ada banyak romo yang gaya homilinya mirip pater-pater misionaris lawas. Misalnya Romo Didik di Katedral Surabaya, Romo Eko Budi Susilo (Nganjuk), Romo Kurdo Irianto (Cepu), Romo Tondowidjojo (Kristus Raja, Surabaya), Romo Gani CM (Widodaren), Romo Senti (Surabaya, seminari tinggi), Romo Jus (Sidoarjo)....

Tapi masih banyak romo yang masih asyik dengan makalahnya sendiri, dengan bahasa buku (ilmiah). Padahal, setahu saya, gaya TUTU KODA alias spoken language itu jauh lebih disukai umat ketimbang written language ala makalah teologis. Khotbah pakai baca itu gak enak.

Mengapa komunitas karismatik sering mengudang romo-romo dari luar? Mengapa umat Katolik sering "jajan" mengikuti kebaktian kebangunan rohani di gereja-gereja aliran karismatik?

Salah satu sebabnya ya ingin mendengar khotbah yang hidup, yang tidak bikin ngantuk. Itulah gaya KODA KIRING yang sejak dulu diperkenalkan pater-pater misionaris di Indonesia. Saya banget kalau romo-romo kita yang asli Indonesia malah melupakan gaya lama yang justru masih sangat relevan itu.

05 August 2015

Dr Jarot Iswanto ahli hisab dari Unmuh Sidoarjo



Setiap menjelang bulan Ramadan dan Syawal, ilmu falak atau astronomi naik daun. Umat Islam ingin tahu tinggi hilal (bulan sabit pertama), usia hilal, bisa dilihat atau tidak, dsb. Ini penting untuk menentukan awal dan akhir ibadah puasa. Selalu ada polemik soal hilal dalam sidang isbat yang diadakan kementerian agama.

Di Jawa Timur, salah satu ahli hisab (astronom) terkemuka adalah Dr Jarot Iswanto. Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini sejak 2003 jadi pelatih para ahli hisab dan rukyat di Jawa Timur. Pria kelahiran 23 Januari 1964 ini memberikan pengetahuan dasar ilmu falak, perlengkapan, teknik melihat hilal, ketinggian dsb.

"Rukyat itu pasti menggunakan data hisab (perhitungan). Kedua metode ini tidak bisa dipisahkan," kata pengajar ilmu falak Unmuh Sidoarjo ini. Dengan perhitungan astronomis, maka posisi hilal bisa dipastikan. Teleskop pun diarahkan ke koordinat itu.

Menekuni ilmu falak selama bertahun-tahun, khususnya setelah aktif di badan diklat dan litbang kementerian agama, membuat Dr Jarot Iswanto punya semua data posisi dan ketinggian hilal dari tahun ke tahun. Dia juga punya semacam kalkulator khusus untuk menghitung koordinat, ketinggian, usia hilal dsb. Termasuk apakah hilal itu bisa dilihat atau tidak.
Data ilmiah itu kemudian diperkuat dengan pengamatan langsung di sejumlah titik di lapangan. Pengamatan hilal ini selalu dilakukan pada tanggal hari ke-28 penanggalan Hijriah. Di Jawa Timur antara lain di pantai Kenjeran, Tanjungkodok Lamongan, atau Condrodipo Gresik. Jika tak ada halangan seperti hujan, awan tebal, dsb biasanya perhitungan ilmu falak itu tidak meleset.

"Ilmu falak itu sangat menarik karena langsung diterapkan untuk peribadahan umat Islam. Termasuk untuk menentukan arah kiblat secara akurat," kata doktor lulusan Unmuh Surabaya ini.

Sinyo Aliandoe legenda bola dari Flores



Minggu lalu saya membaca kliping majalah Tempo lama, 1980an, tentang liga sepakbola utama (galatama). Kompetisi yang pernah sukses besar di tanah air. Kompetisi yang kemudian ditinggalkan penonton karena skandal suap pemain Perkesa 78 Sidoarjo.

Di berita itu saya ketemu nama Sinyo Aliandoe, pelatih hebat di era galatama. Bagi orang NTT, khususnya Flores Timur, Sinyo Aliandoe jauh lebih terkenal ketimbang bupati-bupati lawas karena prestasinya yang luar biasa di sepakbola. Om Sinyo lahir di Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1938.

Kemudian Sinyo Aliandoe malang melintang di Jakarta sebagai pemain dan pelatih top. Tahun 1964 Om Sinyo ikut membawa Persidja juara nasional. Sejak itulah Sinyo jadi langganan tim nasional. Setelah itu Sinyo jadi coach tim-tim besar di Indonesia. Bahkan sukses menangani tim nasional Indonesia di beberapa turnamen.

Pagi ini, 5 Agustus 2015, saya terkejut membaca berita di Jawa Pos. Sinyo Aliandoe berjuang melawan demensia! Di usia 77 tahun Om Sinyo tergeletak lemah di kamar tidur. Tak bisa apa-apa. Memori yang hilang alias demensia membuat Om Sinyo lupa apa saja.

"Papa jalan paling jauh dari kamar tidur ke ruang makan," kata Theodorus Aliandoe, putra kedua Om Sinyo.

Kondisi Om Sinyo menurun drastis sejak ditinggal mati istrinya Theresia pada September 2013. Beliau sering nyasar ke mana-mana karena lupa jalan pulang. Nomor rumah, alamat, dsb tak diingat Om Sinyo. "Papa pernah dibawa ke kantor polisi," tutur Theo.

Saya tak tega melihat foto Sinyo Aliandoe dan membaca cerita anaknya itu. Gak nyangka om yang dulu begitu berwibawa di lapangan, tegas, sering dalam mendisiplinkan pemain itu akhirnya tergeletak tak berdaya. Ibarat pelita yang kehilangan minyak.

Saya pertama kali berkenalan dan berjabat tangan dengan Om Sinyo ketika mantan pemain nasional ini melatih Arema Malang. Saat itu Arema belum sekuat sekarang. Persema justru jauh lebih hebat. Arema bermaterikan pemain-pemain yang belum terkenal ditambah pemain-pemain buangan dari klub lain. Di antaranya Panus Korwa, Jamrawi, dan Mahdi Haris.

Meski begitu, Om Sinyo dengan telaten membangun tim yang kemudian dikenal sebagai Singo Edan yang haus gol itu. Polesan Om Sinyo membuat Arema langsung melejit di galatama. Bahkan jadi juara galatama beberapa tahun kemudian. Nama Sinyo Aliandoe niscaya tercatat di hati jutaan penggemar Arema karena beliaulah yang menciptakan sistem permainan, taktik, dan karakter Singo Edan.

Sebagai orang NTT, saya tentu sangat bangga dan kagum luar biasa dengan sosok Sinyo Aliandoe. Bayangkan, tahun 1960an, ketika NTT masih sangat ndeso, tak ada listrik, sebagian besar penduduk masih buta huruf, ada putra Nagi yang bisa melejit hingga ke Jakarta sebagai bintang sepakbola. Jadi langganan tim nasional.

Ironisnya, saat ini, ketika NTT tak lagi terisolasi, hampir semua kota kabupaten didatangi pesawat setiap hari, televisi masuk rumah penduduk, anak-anak muda rajin main HP, justru tidak ada pemain bola asal NTT yang mampu menembus tim nasional. Ada satu orang Alor yang kemarin memperkuat timnas U-19 tapi cuma cadangan saja.

Rasanya sampai sekarang belum ada orang NTT sekaliber Sinyo Aliandoe di kancah sepakbola nasional. Semoga Om Sinyo diberi kekuatan fisik oleh Tuhan. Paling tidak dikembalikan sebagian memorinya yang hilang itu. Kita hanya bisa berdoa dari jauh!

04 August 2015

Risma Berhak Menang WO 5-0



Permainan politik di pilkada itu mirip sepak bola. Ada pemain, wasit, ofisial, panitia, penonton, lapangan dsb. Ada law of the game atau aturan main dari FIFA/PSSI yang di pilkada namanya undang-undang politik serta peraturan KPU.

Di Surabaya hanya satu pasangan, Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana dari PDI Perjuangan yang daftar ke KPU. Sedang partai-partai lain yang gabung di Koalisi Majapahit tidak mendaftarkan calon. Dhimam Abror, mantan pemimpin redaksi Jawa Pos, sudah datang ke KPU Surabaya untuk daftar, tapi tiba-tiba calon wali kotanya, Haris, kabur. Merasa tidak siap dan keluarganya minta mundur.

KPU sebagai panitia pertandingan memberi kesempatan sampai pukul 23.59 agar mas Abror bisa menghadirkan pendampingnya. Cukup menandatangani formulir yang sudah disiapkan. Persyaratan yang lain bisa menyusul. Padahal deadlie-nya pukul 16.00 WIB. Jadi, ada toleransi 8 jam.

Tapi, seperti diduga, Koalisi Majapahit tidak mau daftar. Buat apa mencalonkan kalau pasti kalah? Bu Risma terlalu kuat. Partai-partai tidak mau jadi calon boneka. Buat apa habis miliaran rupiah untuk pilkada, sementara hasilnya pasti kalah? Begitu kira-kira cara berpikir AH Thony dkk dari Koalisi Majapahit.

Akhirnya, KPU Surabaya menyatakan bahwa pilkada Surabaya ditunda hingga 2017. Tidak mungkin ada pemilihan wali kota kalau calonnya cuma satu. Mana ada pertandingan sepak bola hanya ada satu tim?

Saya jadi ingat Persebaya beberapa tahun lalu. Kasusnya mirip bola politik pilkada ini. Karena merasa dicurangi, semua sudah diatur, pasti kalah, Persebaya tidak mau masuk ke stadion. Boikot. Akhirnya lawannya yang masuk ke stadion dinyatakan menang 5-0. Persebaya kalah WO.

Bukan itu saja. Persebaya juga dihukum denda besar dan degradasi ke divisi utama. Itulah awal mula kisruh Persebaya yang tidak berujung sampai saat ini.

Kembali ke politik pilkada. Risma-Wisnu sudah masuk ke lapangan. Wasit sudah siap. Ribuan, bahkan jutaan penonton sudah heboh di stadion. Duit-duit sponsor sudah dihamburkan untuk gaji pemain dsb dsb. Televisi sudah siap menyiarkan pertandingan itu secara langsung. Eh, ternyata Risma-Wisnu tidak punya lawan.

Kalau di sepak bola sangat jelas: Risma-Wisnu wajib dinyatakan menang 5-0. Koalisi Majapahit kalah WO yang sangat memalukan. Sangat tidak sportif. Melupakan etika bermain yang harus dipegang teguh politisi. Lha, partai-partai itu yang menyusun UU pilkada, bikin berbagai persyaratan, kok tiba-tiba boikot pilkada? Hanya karena takut kalah sama Bu Risma?

Di sepak bola (olahraga), sportivitas adalah segalanya. Maka, memboikot pertandingan, kalah WO, adalah kehinaan yang luar biasa. Orang sangat menghargai Tahiti (kalau gak salah) yang mau bermain di Piala Konfederasi melawan Spanyol, atau Uruguay meskipun kalah 20-0 atau 30-0.

Semua orang tahu kalau Tahiti bisa saja kalah 100-0 melawan Spanyol yang saat itu berstatus juara dunia. Pemerintah dan pelatih Tahiti juga pasti tahu bahwa timnya akan kebanjiran gol di atas 15 biji. Tapi Tahiti tidak bermental pengecut ala Koalisi Majapahit. Tetap bermain meskipun kalah dengan begitu banyak gol.

Maka, bagi saya, pilkada di Surabaya (dan kota-kota lain yang calonnya cuma satu) tidak perlu ditunda sampai dua tahun lagi. Siapa yang bisa jamin tahun 2017 nanti calonnya lebih dari satu? Satu-satunya calon yang sudah daftar ke KPU itu langsung ditetapkan sebagai pemenang. Menang WO!

Dan, lagi-lagi seperti sepak bola, partai-partai yang memboikot pilkada itu harus diberi sanksi berat. Jangan salahkan Bu Risma kalau dia terlalu kuat untuk dikalahkan! Partai-partai di Koalisi Majapahit itu justru konyol karena tidak mampu menemukan tokoh yang setidaknya bisa mengimbangi Bu Risma.


Sent from my BlackBerry

03 August 2015

43 tahun ejaan yang disempurnakan

Bulan Agustus ini, tepatnya 15 Agustus 2015, ejaan yang disempurnakan genap berusia 43 tahun. STW alias setengah tuwek, jelang lansia. EYD ini menggantikan ejaan Suwandi alias ejaan Republik yang berlaku sejak 1947.

EYD dan ejaan Suwandi sebetulnya beda tipis. Djakarta jadi Jakarta, Surabaja jadi Surabaya, Patjitan jadi Pacitan, Djuanda jadi Juanda, chusus jadi khusus, sjarat jadi syarat. Selain itu, kata depan di- dan ke- yang sebelumnya ditulis serangkai dengan kata dasar dipisahkan.

Meski sudah 40 tahun lebih, kalau dicermati, masih banyak orang Indonesia yang belum fasih menerapkan EYD. Termasuk kalangan wartawan, penulis buku, profesor, dan orang-orang yang setiap hari bergulat dengan kata-kata. Masih banyak orang Indonesia yang belum bisa membedakan kata depan di dan awalan di-. Kacau! Seorang editor akan cepat botak kalau terus-menerus mengoreksi EYD tingkat sekolah dasar.

Setelah diresmikan Presiden Soeharto (nama ini pakai ejaan Belanda, bukan Suwandi, bukan EYD), paling tidak ada masa transisi selama 10 tahun. Untuk pembiasaan. Setelah itu, mestinya, rakyat Indonesia memakai EYD secara "murni dan konsekuen" (pinjam jargon Orde Baru). Tak perlu lagi menggunakan ejaan lawas (Belanda dan Suwandi) yang sudah lama pensiun itu.

Tapi, anehnya, sampai sekarang masih banyak nama-nama orang yang pakai ejaan lama. Sucipto ditulis Soetjipto atau Sutjipto. Yohanes ditulis Johanes. Yusuf jadi Jusuf atau Joesoef. Kalau eyang-eyang yang lahir jauh sebelum 1972 sih masih bisa diterima karena nama-nama itu terkait dokumen kependudukan, surat-surat berharga, dan sebagainya.

Lha, saya sering melihat anak-anak muda kelahiran tahun 1990-an, bahkan 2000-an, masih pakai ejaan lawas. Kok bisa orang tuanya tidak sadar kalau EYD sudah lama berlaku? Malah di Sidoarjo ada beberapa perumahan yang pakai ejaan lawas: Pondok Tjandra misalnya. Mengapa tidak ditulis Pondok Candra saja?

Setahu saya rezim Orde Baru dulu, kementerian pendidikan dan kebudayaan, hanya memberi peluang pemakaian ejaan lama hanya untuk nama orang. Nama-nama tempat, termasuk nama jalan, ya mestinya pakai EYD. Maka, sangat tepat PT Angkasa Pura 1 memberi nama Bandara Juanda, bukan Bandara Djoeanda.

Seharusnya Bandara Soekarno-Hatta juga ditulis Bandara Sukarno-Hatta sesuai EYD. Pemerintah mestinya jadi teladan dalam pemakaian EYD. Biarkan saja ejaan Suwandi dan ejaan Hindia Belanda dipakai di buku-buku tempo doeloe untuk kajian sejarah, nostalgia, dan kesenangan pribadi.

Oh ya, sampai sekarang pun masih banyak orang Indonesia yang menulis kata ulang pakai angka 2 di artikel atau tulisan resmi. Padahal, EYD mengharuskan kata ulang ditulis penuh dengan tanda hubung antarkata. Lebih hemat pakai angka 2 memang. Tapi itu hanya cocok untuk tulisan informal di media sosial, pesan pendek (SMS), atau catatan pribadi.

Sudah lama EYD dikritik karena mengandung cukup banyak kekurangan. Yang paling jelas adalah tidak adanya pembedaan e' (benar) dan e (pepet). Ini membuat orang luar Jawa, khususnya Indonesia timur, khususnya NTT, khususnya Sumba dan Timor, yang seenaknya membunyikan e (pepet) dengan e'.
Orang Sumba dan Kupang bahkan hampir tidak mengenal e (pepet). Semuanya dianggap e' (benar). Contoh: Be'ta be'tul-be'tul sonde' de'ngar apa yang e'ngkau katakan.
Sebaliknya, orang Jawa sering menganggap e' benar dari kata-kata Indonesia timur dengan e lemah. Fam atau marga Hurek selalu dibunyikan Hurek (e lemah) bukan Hure'k.

01 August 2015

Bunyi Pinyin untuk Orang Indonesia



Oleh Wens Gerdyman
Arek Tionghoa Surabaya, Tinggal di Meiguo (USA)
 
 
Pinyin ialah sistem penulisan fonetik yang dikembangkan oleh pusat bahasa pemerintah Zhongguo (Zhongguo = Bahasa Mandarin dari Tiongkok, atau negara Cina) setelah era RRT (Republik Rakyat Tiongkok) sejak tahun 1949. Karena aksara Zhongwen (Zhongwen = Bahasa Cina) itu rumit, dan tingkat rakyat yang buta huruf di Tiongkok saat itu sangat tinggi, diperlukan inovasi untuk memudahkan rakyat Tiongkok belajar membaca.
 
Inisiatif yang dilakukan oleh pemerintah Zhongguo saat itu ialah menyederhanakan banyak aksara Zhongwen yang terlalu sulit menjadi jian-ti-zi (aksara yang disederhanakan) dari fan-ti-zi (aksara tradisional). Sekaligus dengan inisiatif tersebut, pemerintah Zhongguo memperkenalkan cara baru untuk belajar melafalkan aksara Zhongwen.
 
Jika sebelumnya untuk belajar membaca orang harus menguasai sistem fonetik BoPoMoFo (sistem ini, yang masih digunakan di Taiwan, pada dasarnya mirip dengan katakana / hiragana dalam Bahasa Jepang, atau hanacaraka dalam Bahasa Jawa), sekarang cukup menggunakan abjad Romawi. Sistem yang baru ini disebut Pinyin.
 
Akan tetapi, karena tidak semua bunyi Zhongwen ada di dalam abjad Romawi yang baku, para pakar yang menciptakan Pinyin itu secara kreatif menggunakan huruf-huruf tertentu untuk mewakili bunyi Zhongwen yang khas, yang bukan merupakan bunyi standar aslinya dari huruf tersebut dalam bahasa-bahasa Barat.
 
Misalnya, huruf q yang dalam Bahasa Latin, Inggris, dan bahasa-bahasa Barat lainnya digunakan untuk kata-kata semacam quorum, quality, question, quando, quick (yangselalu berbunyi "kw.."), di dalam sistem Pinyin, huruf q digunakan untuk bunyi c'h, yang selalu diikuti oleh bunyi vokal "i" atau "ü". Misalnya udara atau energi (qi, dibunyikan "c'hi") atau pergi (qu, dibunyikan c'hü) – umlaut berarti seperti dalam Bahasa Jerman, bibir dimonyongkan.
 
Efek samping dari keputusan tersebut ialah kebingungan orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan abjad Romawi untuk bahasa mereka sendiri. Misalnya orang Indonesia – baik Tionghoa, Jawa, Flores, atau dari etnis manapun – sudah biasa menggunakan huruf "t" untuk bunyi dental (lidah diletakkan di belakang rangkaian gigi atas) yang tidak meletup, misalnya "tahu"; dan menggunakan huruf "d" untuk bunyi dental yang meletup (ada hembusan angin dari rongga dada ke rongga mulut), misalnya "dodol".
 
Dalam Pinyin, pemakaian huruf-huruf tersebut terbalik. Misalnya, Pinyin menggunakan "d" untuk bunyi dental yang tidak meletup dalam kata doufu (Mandarin untuk "tahu"), dan menggunakan huruf "t" untuk bunyi dental yang meletup dalam kata "tong" (Mandarin untuk "sama", baca: t'hong, tanda 'h untuk mewakili letupan angin dari rongga dada tatkala lidah dilepaskan dari rangkaian gigi).
 
Berikut ini, dijelaskan huruf-huruf Pinyin yang bermasalah untuk lidah dan otak orang Indonesia yang sudah terbiasa dengan penggunakan abjad Romawi untuk Bahasa Indonesia, yang banyak dipengaruhi bahasa Inggris, Belanda, dan Arab.
 
* b dan p
 
Huruf p dan b dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "p" dalam bahasa Indonesia. Bedanya, huruf p pinyin diucapkan seperti p'h. Tanda 'h maksudnya ialah pada waktu mengucapkan bunyi p tersebut, hembuskan udara dari dalam perut lewat tenggorokan.
 
Huruf b dalam Pinyin diucapkan persis seperti bunyi "p'" dalam bahasa Indonesia, tanpa hembusan udara dari dalam perut lewat tenggorokan; yang digunakan hanyalah udara dari rongga mulut.
 
Contoh penggunaan:
"pa" (takut), diucapkan seperti p'a
"baba" (bapak), diucapkan seperti papa
 
* Variasi b, p, m, f dengan huruf vocal "o"
 
Apabila diikuti oleh huruf "o", bunyinya seakan ditambahi huruf "u" di tengahnya. Misalnya:
 
"bo" (paman), diucapkan seperti puo
"po" (nenek atau ibu), diucapkan seperti p'uo
"mo" (iblis), diucapkan seperti muo
"fo" (Buddha), diucapkan seperti fuo
 
* t dan d
 
Huruf t dan d dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "t" dalam bahasa Indonesia. Bedanya, huruf t pinyin diucapkan seperti t'h. Tanda 'h maksudnya ialah pada waktu mengucapkan bunyi t tersebut, hembuskan udara dari dalam perut lewat tenggorokan.
 
Huruf d dalam Pinyin diucapkan persis seperti bunyi "t" dalam bahasa Indonesia, tanpa hembusan udara dari dalam perut lewat tenggorokan; yang digunakan hanyalah udara dari rongga mulut.
 
Contoh penggunaan:
"ta" (dia), diucapkan seperti t'a
"da" (besar), diucapkan seperti ta
"die" (ayah), diucapkan seperti tie
 
 
* j dan z
 
Dua huruf ini dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "c" dalam bahasa Indonesia, atau bunyi "tj" dalam ejaan lama / Bahasa Belanda. Untuk mudahnya, bayangkan huruf "t" di depan j atau z tersebut.
 
Lantas, bilamana j atau z digunakan untuk mewakili bunyi "c" tersebut?
 
j selalu digunakan bila kata tersebut mengandung vocal i atau ü, misalnya
jiang (sungai, baca seperti ciang)
jun (pejabat, baca seperti cyün)
 
z selalu digunakan bila kata Zhongwen tersebut tidak mengandung vocal i atau ü, misalnya:
zao (baca seperti bunyi Indonesia cao)
zen (baca seperti bunyi Indonesia cên)
zuo (duduk, baca seperti bunyi Indonesia cuo)
zong (baca seperti bunyi Indonesia cong)
 
* q dan c
 
Dua huruf ini dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "c'h" dalam bahasa Indonesia. Tanda 'h maksudnya ialah pada waktu mengucapkan bunyi q atau c tersebut, hembuskan udara dari dalam perut lewat tenggorokan. Lantas, bilamana q atau c digunakan?
 
q selalu digunakan bila kata tersebut mengandung vocal i atau ü, misalnya
qiang (baca c'hiang, artinya kuat)
qu (baca c'hü, artinya pergi)
 
c selalu digunakan bila kata Zhongwen tersebut tidak mengandung vocal i atau ü,
cao (baca c'hao)
cen (c'hen)
cuo (c'huo)
cong (c'hong)
 
 
* Variasi z, c, s dengan huruf h
 
Apabila pinyin z, c, dan s diikuti huruf h, bunyi tersebut harus diubah dengan cara meletakkan ujung lidah di langit-langit mulut (alveolar), bukan di belakang rangkaian gigi. Dalam bahasa-bahasa Tionghoa di selatan, bunyi ini tidak dibedakan. Maka, kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia yang nenek moyangnya dari Fujian atau Hokkian, bunyi ini tidak lazim, makanya sering dirancukan dengan bunyi pinyin yang tanpa huruf h.
 
Contoh:
 
Zong vs. Zhong
Cong vs. Chong
 
Hampir sama, tetapi berbeda. Bedanya ialah di mana ujung lidah diletakkan. Yang satu (tanpa h) lidah di belakang rangkaian gigi, yang satunya lagi (dengan h), lidah di langit-langit mulut.
 
* Variasi z, c, s dengan i vs. e
 
Apabila mengikuti pinyin z, c, atau s, pinyin i dan e dibaca seperti bunyi ê dalam bahasa Indonesia. Lantas, apa bedanya? Bedanya ialah dengan pinyin i, kata si bukan diucapkan seperti bunyi Indonesia "si" (yang itu sih dituliskan sebagai "xi"), akan tetapi diucapkan sê dengan merapatkan rangkaian gigi atas dan bawah. Sedangkan dengan pinyin e, kata se (misalnya ular) diucapkan sebagai sê sambil menurunkan rahang bawah.
 
Contoh:
·         Si (empat) vs. Shi (sepuluh). Oleh orang Tionghoa di Jawa generasi tua (yang sekarang sudah kakek nenek), "shi" sering diucapkan seperti "sêk" untuk membedakan dengan si (empat, yang diucapkan seperti sê). Maka "empat puluh" dalam bahasa Mandarin logat Jawa diucapkan "sê-sêk". Lho, emangnya asma, kok sesek J?
·         chi (makan), diucapkan seperti c'hê dengan merapatkan rangkaian gigi atas dan rangkaian gigi bawah (jangan lupa meletakkan lidah pada alveolar)
·         che (mobil), diucapkan seperti c'hê juga, tetapi sambil menurunkan rahang bawah
 
Sulit, ya? Latihan beberapa kali pasti bisa.
 
 
*g dan k
 
Huruf g dan k dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "k" dalam bahasa Indonesia. Bedanya, huruf k pinyin diucapkan seperti k'h. Tanda 'h maksudnya ialah pada waktu mengucapkan bunyi k tersebut, hembuskan udara dari dalam perut lewat tenggorokan.
 
Huruf g dalam Pinyin diucapkan persis seperti bunyi "k" dalam bahasa Indonesia, tanpa hembusan udara dari dalam perut lewat tenggorokan; yang digunakan hanyalah udara dari rongga mulut.
 
Contoh:
"gao" (tinggi), diucapkan seperti kao
"kao" (ujian), diucapkan seperti k'hao
 
"Gaokao" dalam Zhongwen artinya ujian lulus SMA atau ujian masuk perguruan tinggi.
 
* x dan s
 
Dua huruf ini dalam Pinyin digunakan untuk mewakili bunyi "s" dalam bahasa Indonesia. Perhatikan bahwa huruf x tidak digunakan sama sekali untuk mewakili bunyi "ks" seperti dalam bahasa-bahasa turunan Latin. Lantas, bilamana x atau s digunakan?
 
x selalu digunakan sebagaiman huruf s apabila kata tersebut mengandung vocal i atau ü, misalnya
xiang (harum)
xun (baca syün)
xüe (belajar, oleh orang Tionghoa tua di Jawa sering dilafalkan tidak baku menjadi "siok", misalnya siok-siauw untuk menyebut xue-xiao (sekolah)
 
s selalu digunakan bila kata Zhongwen tersebut tidak mengandung vocal i atau ü, misalnya
sao (kurang)
Song (nama dinasti Tiongkok)
 
 
* i vs. ü
 
Seperti dalam Bahasa Jerman, ü (umlaut) berarti bibir dimonyongkan.
Bunyi ü dalam Zhongwen selalu mengikuti pinyin j, q, atau x. Orang-orang Tiongkok selatan sering tidak membedakan ü dari i; misalnya pergi (qu, harusnya dibunyikan c'hü) –
seringkali dirancukan dengan energi (qi, dibunyikan "c'hi").
 
Begitulah bunyi-bunyi pinyin yang membingungkan bagi lidah dan otak orang Indonesia.Tetapi, bila kita sudah mengerti bunyi-bunyi yang sulit tersebut, dengan mudah kita mampu membaca pinyin seperti penutur asli dari Zhongguo.
 
Tambahan
 
Artikel ini sama sekali tidak membicarakan tentang intonasi. Singkatnya, di dalam bahasa Mandarin, ada 4 nada bunyi. Ini nanti saja dulu, karena akan lebih membingungkan lagi jika mempelajari sebelum menguasai cara pembacaannya dulu.
 
1.    Nada ke-1 (datar):  —
2.    Nada ke-2 (naik):   ⁄
3.    Nada ke-3 (rendah): ˇ
4.    Nada ke-4 (tegas): \
 
Latihan
 
Sebagai penutup, coba ucapkan nama-nama dan kata-kata berikut ini (tanpa intonasi dulu):
 
·         Deng Xiao-ping (nama pemimpin RRT di era 1980- dan 1990-an)
·         Zhao Jian-hua (bekas pebulutangkis lawan bebuyutan Liem Swie King)
·         Lin Shui-jing (Liem Swie King dalam bahasa Mandarin)
·         Li Guang-yao (eks-PM Singapuramendiang Lee Kuan Yew)
·         Beijing (ibukota Tiongkok, yang dulu dikenal dengan nama Peking)
·         Yin-du-ni-xi-ya (Indonesia dalam ejaan Pinyin)
·         Deng Li-jün (mendiang penyanyi Teresa Teng)
·         Dinasti Qing (dinasti kekaisaran terakhir di Tiongkok)
·         gao kao (ujian masuk perguruan tinggi)
·         ting de dong (mudêng, mengerti apa yang didengar)
·         pao bu dao (lari tak terkejar)
·         ke kou ke le (Coca Cola)
·         Cao Xian (Joseon, nama lama untuk Korea, berdasarkan dinasti terakhir kerajaan Korea)
·         qüan dao (kuntao, ilmu beladiri tangan kosong)
·         tai qüan dao (tae kwon do, ilmu beladiri dari Korea)
·         jui qüan (jurus mabuk)
·         tian long ba bu (delapan langkah naga langit)
·         bai-fa-mo-nü (wanita iblis berambut putih)
·         yi-mao-qiu (bulutangkis)
·         gong-xi-fa-cai (selamat / semoga makmur, diucapkan pas tahun baru Imlek)
·         Huang Rong (Oey Yong, jagoan wanita dalam cerita Pahlawan Pemanah Burung Rajawali)
·         Guo Jing (Kwee Tjeng, jagoan dalam cerita Pahlawan Pemanah Burung Rajawali)
·         lao-qian-bei (orang tua yang dihormati, dalam terjemahan cerita silat Indonesia ditulis lauw-tjian-pwee, menurut Bahasa Hokkian)