18 July 2015

Umat Katolik di Madura yang terisolir



Di malam takbiran, 16 Juli 2015, saya duduk tak jauh dari Gereja Katolik Santa Maria Ratu Para Rasul Pamekasan. Luar biasa ramai karena ada pawai kendaraan hias plus takbiran di alun-alun kota yang disebut Arek Lancor. Nah, Gereja Katolik itu berdiri megah di lingkaran alun-alun itu.

Cukup menarik karena gereja besar (untuk ukuran Madura yang 99,99 persen) tak jauh dari masjid jamik di Pamekasan. Ini paling tidak menunjukkan bahwa toleransi antarumat berbeda agama di Pamekasan sangat bagus. Paroki Pamekasan merupakan salah satu dari tiga paroki di Pulau Madura. Hanya Kabupaten Sampang yang tidak punya Gereja Katolik. Dari dulu Kabupaten Sampang merupakan satu-satunya kabupaten/kota di Jawa Timur yang tidak punya gereja. Umat Katolik di Sampang biasanya mengadakan misa mingguan di sebuah gudang tua milik seorang pengusaha Tionghoa yang beragama Katolik.

"Umat Katolik di Madura ini sedikit, tapi cukup dinamis. Aktivitas di lingkungan, wilayah, paroki lumayan bagus. Enggak kalah sama Surabaya," kata Pak Yosef, umat Katolik di Sampang.

Hanya saja, anak-anak muda yang tamat SMP atau SMA otomatis keluar dari Madura untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, umat kristiani (tak hanya Katolik) niscaya berkurang. Umat Katolik dari luar yang masuk hampir tidak ada. Sehingga kegiatan parokinya didominasi orang-orang tua yang sebagian Tionghoa.

Sejak dulu keberadaan 3 paroki di Pulau Madura ini unik sekaligus mencemaskan. Mengapa? Ketiga paroki itu (Bangkalan, Pamekasan, Sumenep) ikut Keuskupan Malang, bukan Keuskupan Surabaya. Karena itu, romo-romo yang bertugas di Madura adalah karmelit (Ordo Carmel alias OCarm), sama seperti romo-romo di Malang, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Banyuwangi. Pembagian wilayah keuskupan di Jatim ini sejak zaman Belanda dan masih bertahan sampai sekarang.

Karena ikut Keuskupan Malang, umat Katolik di Keuskupan Surabaya sejak dulu kurang memiliki kedekatan dengan saudara-saudara seiman di Madura. Sama-sama Katolik tapi beda keuskupan. Karena itu, meskipun sudah ada jembatan Suramadu, makin banyak orang Surabaya yang lan-jalan ke Madura, tidak ada aktivitas yang berbau gerejawi. Sekadar mampir di gereja, ngobrol sama pengurus dewan paroki, mampir ke pastoran pun nyaris tak ada.

Sebaliknya, umat Katolik dari Keuskupan Malang juga jarang yang main-main ke Madura karena terlalu jauh. Harus lewat Surabaya. Maka tidak ada misalnya pertemuan skala besar tingkat Keuskupan Malang yang diadakan di Pulau Madura. Dulu, ketika masih jadi umat Paroki Jember, saya bahkan tidak tahu bahwa Madura itu ikut Keuskupan Malang dan dilayani imam-imam karmelit. Saya baru tahu setelah ketemu Pastor Hidin Situmorang OCarm di Bangkalan beberapa tahun lalu. Sebelum ada jembatan Suramadu.

Sebagai orang awam, umat Katolik biasa, saya pun berpikir. Mengapa paroki-paroki di Madura itu tidak diserahkan saja ke Keuskupan Surabaya? Bukankah Madura dan Surabaya sudah menyatu berkat jembatan Suramadu?

Saya yakin seyakin-yakinnya secara pastoral paroki-paroki di Madura akan lebih hidup kalau ditangani Keuskupan Surabaya. Seandainya 3 paroki di Madura itu masuk wilayah Keuskupan Surabaya, bisa dipastikan umat Katolik di Madura lebih dinamis. Pelatihan petugas liturgi tak perlu jauh-jauh ke Malang. Tim liturgi dari Surabaya akan senang sekali turun langsung ke Madura sambil lan-jalan makan bebek Sincay yang terkenal itu. Romo-romo dari Surabaya pun akan di-rolling setiap tiga tahun seperti di Keuskupan Surabaya.

Sejak dulu saya melihat umat Katolik di Keuskupan Surabaya, yang wilayahnya hingga Cepu dan Rembang itu, senang anjangsana untuk menemui para mantan romo parokinya. Karena di-rolling tiga tahunan, banyak paroki yang harus dikunjungi. Nah, Pulau Madura tidak mungkin dikunjungi karena romo-romo karmelit di Madura (hampir) mustahil bertugas di Keuskupan Surabaya. Sebaliknya, romo-romo yang ada di Keuskupan Surabaya pun (hampir) mustahil bertugas di Madura.

Menurut saya, yang awam, kuncinya ada di Keuskupan Malang dan Ordo Karmel untuk menyerahkan 3 paroki itu di Pulau Madura itu ke Keuskupan Surabaya. Sudah banyak contoh paroki-paroki yang awalnya dikelola kongregasi diserahkan ke Keuskupan Surabaya. Contoh: Paroki Sakramen Mahakudus (Pagesangan) dan Paroki Santo Paulus (Juanda, Sidoarjo), diserahkan ordo SVD ke imam-imam diosesan Keuskupan Surabaya.

2 comments:

  1. saya rindu sekali jika gereja-gereja katolik bisa ikut keuskupan surabaya

    ReplyDelete
  2. Saya kejawen,
    Saya mempelajari juga semua itu, baik katolik, islam, buddha.
    Ternyata semua sama saja pada intinya, tidak ada beda.
    Pada intinya juga sama seperti ilmu jawa, yaitu manunggaling kawula gusti.
    Sama saja, hanya karena banyak orang yang tidak tahu.


    ReplyDelete