14 July 2015

Tradisi Mudik yang Luar Biasa di Jawa

Ada dua tema yang selalu dibahas dalam 10 terakhir bulan Ramadan: mudik dan iktikaf. Tapi yang paling seru pasti mudik. Sebab mudik atau kembali ke kampung halaman ini melibatkan puluhan juta orang Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Di luar Jawa, apalagi wilayah kepulauan yang gelombangnya besar, mudik belum jadi tradisi yang kuat.

Mudik di dalam provinsi Jawa Timur, yang punya 38 kota/kabupaten, sangat nyaman. Bisa pakai kendaraan sendiri, jaraknya pun tak seberapa jauh. Gubernur Soekarwo malah sejak dulu menyediakan fasilitas untuk mudik gratis. Yang mau mudik lewat laut, di Kepulauan Sumenep, pun disediakan kapal-kapal gratis.

"Nanti baliknya juga kita sediakan bus dan kapal," kata Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim Soekarwo. Pakde selalu bilang pemerintah harus hadir dalam event tahunan mudik karena melibatkan jutaan penduduk Jatim.

Sangat beda dengan NTT yang sejak dulu pemerintahnya gak ngurus masalah mudik massal ini. Rakyat NTT dibiarkan keleleran, bingung cari kapal, tiket naik tajam menjelang Natal atau tahun baru. Di Jawa Timur ini mudik ke mana saja gratis. Lebih tepatnya dibayar dengan uang rakyat alias APBD.

Mudik lintas provinsi di Jawa juga tetap mudah karena jalan darat sudah bagus sejak zaman Belanda. Arus mudik jadi semrawut karena banyaknya mobil dan motor pada saat bersamaan. Sudah pasti macet. Tapi tetap saja asyik karena ada rest area untuk istirahat sejenak. Kemacetan inilah yang justru jadi pengalaman para mudik dari masa ke masa.

Orang bukannya kapok mudik, malah makin ketagihan. Argumentasi serasional apa pun, biaya yang mahal, capek, macet, kecelakaan lalu lintas dsb dsb tidak akan bisa menggerus budaya dan tradisi mudik, khususnya di Jawa. Apalagi televisi-televisi setiap tahun merayakan mudik massal dengan liputan selama tiga minggu atau satu bulan. Liputan mudik ini banyak iklannya bung!

Bagi saya, yang paling mengharukan adalah mudik para buruh migran alias TKI. Dua pekan sebelum Lebaran terminal kedatangan di Bandara Juanda selalu ramai oleh TKI dari Malaysia, Hongkong, dan Timur Tengah. Penjemputnya keluarga besar dari kampung.

Kita tahu penghasilan TKI ini bukanlah orang-orang kaya yang bisa naik pesawat antarnegara. Tapi kalau sudah bicara mudik, apa pun mereka lakukan agar bisa berhari raya bersama keluarga di kampung. Ongkos pesawat mungkin jauh lebih mahal daripada gaji bulanan buruh migran ini.

Saya jadi ingat pepatah lama di Jawa: mangan ora mangan kumpul! Berkumpul bersama keluarga saat Idulfitri punya makna kultural, religius, tradisi yang luar biasa tingginya di tanah air, khususnya di Jawa dan Madura. Soalnya, saya kenal beberapa orang muslim Batak (antara lain bu Nasution) yang tidak pernah pulang kampung selama puluhan tahun. Ada juga orang NTB yang santri, yang juga tidak pernah mudik saat Lebaran.

"Mudik itu tradisi di Jawa. Kita di NTB hampir tidak ada tradisi mudik," kata orang Sumbawa ini enteng. "Biaya mudik ke NTB itu mahal kalau pakai pesawat untuk 5 orang. Ya kalau saya ini orang kaya," katanya.


Sent from my BlackBerry

6 comments:

  1. Kailasa Tour and Travel9:20 AM, July 22, 2015

    om hurek, sebenarnya bukan hanya di Jawa, di Sumatera pun tradisi mudik juga terlihat... sayangnya luput dari media... misalnya bagaimana pemerintah di Sumut dan Riau membenahi ruas jalan Lintas Timur untuk persiapan lebaran, dan situasi di pool2 bis di Medan yg ramai sekali, tidak kalah dgn terminal2 di Jakarta atau Surabaya... tujuan utamanya ke Tapanuli Selatan, Sumatera Barat, dan Aceh... sebaliknya, warga Sumatera Utara yg merantau di Riau, Sumatera Selatan, bahkan ada juga yg dari Jawa Timur, pulang ke tempat asalnya...

    H-7 sebelum lebaran, saya ikut memantau ke pool bis Antar Lintas Sumatera di Klender, Jakarta Timur... ramai sekali sampai penuh sesak... mayoritas penumpangnya dari suku Mandailing, ingin pulang ke daerah2 seperti Panyabungan, Kotanopan, Padang Sidempuan, dan sekitarnya...

    sedangkan di Terminal Rawamangun (Jakarta Timur), ketika pagi dan siang anda akan lebih banyak mendengarkan bahasa Minang dan Batak, bahasa para calon penumpang yg akan pulang ke Sumatera... sore dan malam, baru mulai banyak bahasa Jawa, artinya penumpangnya mau pulang ke Jateng, DIY, dan Jatim...

    perkumpulan2 suku Minang di perantauan banyak yg menggelar acara "Pulang Basamo" alias mudik bersama... mereka naik mobil bareng2, atau sewa bis... Unit Kebudayaan Minangkabau di kampus tempat saya kuliah juga selalu bikin tiap tahun...

    sayang memang ini luput dari jangkauan media nasional...

    ReplyDelete
  2. Tradisi mudik terluar biasa ada di Tiongkok. Setiap Sin-cia, 220 juta rakyat RRT bermudik. Mudik berikutnya adalah mudik Ceng-beng.
    220 juta manusia setara dengan seluruh jumlah penduduk Indonesia. Biasanya perjalanan mereka selalu lancar, kecuali jika ada badai salju. Tidak ada bantuan finansial dari pemerintah, bahkan harga tiket dan makanan melambung dua kali lipat. Infra-struktur negara China memang sudah sangat maju. Tahun '80-an Indonesia sudah punya jalan Tol Jagorawi, sedangkan rakyat Tiongkok masih ngengkol sepeda reyok yang tanpa lampu. Para tourist Indonesia yang pernah
    melancong ke Tiongkok, akan berdetak kagum melihat jalan2 Tol, jalur2 kereta-api dan lapangan2 terbang di China. Sebaliknya, tourist2 bule dalam hatinya heran melihat kemajuan Tiongkok yang dicapai hanya dalam kurun waktu 30 tahun, tetapi dimulutnya selalu mengeluarkan kritikan dan celaan. Dasar bule yang tidak rela melihat bangsa kulit berwarna bisa maju menyaingi mereka.
    Sudah tiba saatnya kita orang2 Asia meninggalkan inferior-komplex menghadapi orang bule, mereka cuma menang LAGAK dan SOK.
    Saya pribadi tidak terpengaruh dengan kebiasaan mudik, sebab bagi saya kebiasaan itu adalah semacam Masochismus. Jika saya kangen sama sanak-saudara dan kerabat, maka saya sak-det-sak-nyet mengunjungi mereka, tidak perlu menunggu Sin-cia, Natal atau Idul Fitri. Bahkan ngobrolnya bisa lebih enak, karena tidak banyak tamu. Tetapi hari raya Ceng-beng bagi saya mempunyai arti yang luar biasa, kepercayaan menghormati leluhur, atau rasa penyesalan ( mengapa gua sewaktu mereka masih hidup kurang berbakti ).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemajuan infrastruktur Tiongkok memang luar biasa. Thn 1987 saya berkunjung ke sana, orang-orang masih naik sepeda pancal di-mana2. Belum ada jalan tol ke segala penjuru negeri. Belum ada kereta api cepat. 25 tahun kemudian (2012) saya keliling Tiongkok lagi dari selatan (Yunnan, Guilin, Sichuan) ke utara, semua sudah berubah. Shanghai dan Beijing sudah modern sekali. Sepeda jarang (sebenarnya sayang). Transportasi massal sudah dibangun dengan kereta bawah tanah. Jalan raya sampai ke pelosok-pelosok. Booking pesawat dengan mudah dilakukan online. Sedangkan di Indonesia, mau bangun MRT di Jakarta gak pernah kedaden. Sulit sekali, hehehe. Saya menilai, walaupun di RRT juga banyak korupsi, tetapi pemerintah / partai komunis Tiongkok memang terutama bekerja untuk rakyat (sebagian masuk kantong pribadi), sedangkan di Indonesia, para politikusnya terutama bekerja untuk kantong partai dan pribadi, baru sebagian diberikan ke rakyat.

      Delete
    2. Mengenai kritikan dan celaan, itu bukan orang bule saja. Orang yang berkunjung dari negara yang maju dan bersih seperti Jepang dan Korea (yang baru saja saya kunjungi) pun ingin fasilitas WC yang bersih dan rumah makan yang bersih. Sedangkan di Tiongkok yang begitu besar, tingkat pendidikan dan pengertian rakyatnya masih jomplang. Jadi fasilitas di luar hotel-hotel berbintang di kota besar masih tertinggal jauh. Juga kebiasaan rakyatnya yang baru kaya masih ndeso, seperti buang sampah sembarangan di tempat wisata yang sebenarnya indah, ndodok di atas toilet duduk, berdahak dan buang ludah sembarangan, tidak mau antre, makan waktu lama untuk ambil foto narsis di mana masih banyak orang antre foto, tentunya membuat para pelancong merasa tidak nyaman. Itu bukan lagak atau sok, tetapi normal.

      Delete
    3. Uraian engkoh diatas, owe setujui seratus persen, mergone engkoh dan owe podo-podo wong cino. Kita Tionghoa Indonesia kesal melihat kelakuan orang2 China yang sifatnya OKB ndeso, walaupun Ibu Pertiwi Indonesia bukanlah termasuk negara yang maju dan bersih, namun setidaknya kita dilahirkan dari kalangan yang previleg di Indonesia.
      Kita mengeritik tingkah laku orang2 Tiongkok, karena kesal dan sayang, seperti halnya kita memarahi anak sendiri yang ndableg.
      Lain halnya jika orang bule yang mengeritik dan mencela, sebab,
      in medias res, kritikan dan celaan mereka berdasarkan Chauvinismus. Semoga engkoh bisa maklum, arti yang mendalam maksud owe.

      Delete
    4. Engkong yang pinter, saya bisa mengerti pandangan engkong, tetapi tetap tidak setuju menggebyah uyah semua bule sebagai chauvinists. Mungkin karena kita dari generasi berbeda, di mana engkong mengalami diskriminasi secara langsung di alam penjajahan oleh bule2 yang sok. Sedangkan saya dari generasi berikutnya, yang mengalami hidup di tanah seberang dan berteman dengan bule2 non-kolonialis, yang tulus dan tidak sombong. Sama seperti saya juga tidak setuju dengan cercaan yang banyak engkong lontarkan untuk Tionghoa Indonesia, menggebyah uyah mereka sebagai kaum yang manja dan memandang rendah terhadap golongan pegawai rendah dan batur. Kulit saya Cina, hati saya Jawa-Surabaya, dan otak saya Barat. Bagaimana mungkin saya bisa menjelekkan Cina, Jawa, atau Barat. Semuanya saya hargai dan semuanya saya pahami kejelekannya (walaupun tidak saya terima).


      Delete