06 July 2015

Timnas Fiji vs Mikronesia 38-0

Laga final Cile vs Argentina kemarin sangat tidak menarik. Kita, khususnya saya, kecewa berat karena selama 90 menit tidak ada gol. Diperpanjang 30 menit skor masih 0-0. Lalu adu penalti, sejenis judi balbalan, yang dimenangi tuan rumah. Cile juara Copa America 2015.

Saya pun malas membaca ulasan bola di ESPN dan Goal yang selalu berbobot itu. Beda dengan ulasan pengamat-pengamat di Jakarta yang sangat dangkal. Bicara sedikit sudah diputus iklan. Beda dengan analis-analis bola masa lalu macam Eddy Sofyan atau John Halmahera di TVRI yang sangat dalam. Maklum, TVRI waktu itu haram iklan.

Nah, di tengah kekecewaan itu ada berita sepak bola yang sangat menarik di Telegraph. Tim nasional Fiji mencukur gundul Mikronesia di ajang Pacific Games dengan skor 38-0. Skor super besar ini bahkan tak pernah saya bayangkan dalam hidup. Dulu Persebaya pernah kalah (tepatnya ngalah) 0-12 dari Persipura di kompetisi perserikatan. Skandal yang kemudian disebut sepak bola gajah.

Laga di Port Moresby ini bukan sepak bola gajah yang sudah diatur mafia balbalan. Ini kompetisi resmi yang diakui FIFA. Bukan pertandingan tarkam (antarkampung). Di babak pertama timnas Fiji bahkan sudah unggul 21-0.

"Antonio Tuivuna mencetak 10 gol," tulis Telegraph.

Wow, bikin hatrik (3 gol) saja sulitnya minta ampun. Argentina dan Cile bahkan gagal bikin satu gol di final Piala Amerika. Kok Antonio bisa borong 10 gol? Aneh bin ajaib dan hebat.

Skor ajaib 38-0 ini sekaligus memecahkan rekor sebelumnya ketika Australia mempermalukan American Samoa 31-0 di kualifikasi Piala Dunia zona Oceania tahun 2002. Timnas Australia memang selalu menang dengan skor-skor ajaib di kawasan Pasifik. Itu sebabnya, Australia pindah ke zona Asia yang dianggap lebih kompetitif.

Mikronesia. Negara macam mana pula itu? Eyang Google pasti bisa menjawab dengan jitu dan lengkap. Negara kecil ini sebelumnya dikalahkan Tahiti dengan skor 30-0 dalam kejuaraan yang diikuti 24 tim nasional. Ajaib juga.

Tentu saja skor besar 10-0, 20-0, 30-0, atau 38-0 menunjukkan betapa jomplangnya kekuatan kedua tim. Yang satu terlalu kuat, sedangkan satunya lagi tidak bisa apa-apa. "Kalau sampai kalah 38 gol mungkin kipernya nggak ada," kata Syamsul, orang Madura yang gila Real Madrid.

Andaikan skornya bukan 38-0, tapi 38-23... penonton lebih terhibur. Ini juga jadi pelajaran bagi para pemain sepak bola agar tidak lupa tugas pokoknya mencetak gol sebanyak-banyaknya. Jangan puas dengan 0-0, kemudian mengadu nasib dengan adu penalti.

No comments:

Post a Comment