30 July 2015

Tan Mei Hwa calon boneka di Sidoarjo?



Tan Mei Hwa ikut pemilihan bupati Sidoarjo? Apa gak salah dengar?

Maklum, selama ini di Sidoarjo nama sang ustadah keturunan Tionghoa ini tidak pernah disebut-sebut menjelang pendaftaran 26 Juni 2015. Tan Mei Hwa lebih sibuk ceramah, pengajian di televisi, keliling ke berbagai kota.

Tapi tiba-tiba dia dipasangkan dengan Utsman Ihsan, cabup yang diusung Gerindra dan PKS. "Apa benar anda jadi calon bupati?" tanya saya lewat telepon. Sudah lama banget Tan Mei Hwa jadi salah satu narasumber saya saat mengangkat berita-berita komunitas Tionghoa di Surabaya. Ustad yang aktif di komunitas muslim Tionghoa, PITI, ini sangat mudah dikontak kapan saja.

"Hehehe... Masih dalam proses. Saya belum bisa memastikan. Tunggu beberapa hari lagi ke depan," kata Tan yang sarjana hukum ini. "Saya lagi sibuk (mengisi) acara halalbihalal di mana-mana. Sekarang lagi ke Lamongan," kata wanita bersuara agak cempreng ini.

Tapi nama anda sudah muncul di media massa?

"Saya malah belum baca koran," jawabnya diplomatis.

Tapi anda siap kalau diusung Gerindra-PKS di pilkada Sidoarjo? Tan tak langsung menjawab. "Insya Allah," katanya serius.

Meski di telepon, obrolan dengan Tan Mei Hwa berlangsung gayeng. Saya bilang terkejut mendengar Tan terjun ke politik. Sebab selama ini orang tahunya Tan Mei Hwa itu ustadah keturunan Tionghoa yang populer di JTV Surabaya, julukannya Bu Nyai Gaul, gaya ceramahnya dibumbui humor dsb dsb. Semuanya jauh dari politik.

Sejak kapan anda ikut politik?

"Mas, sebelum reformasi saya sudah belajar politik. Ikut PPP tahun 1990an. Waktu itu partai hanya tiga, PPP, Gokar, PDI, dan saya memilih aktif di PPP. Sekalian belajar dan mendalami Islam. Jadi, keliru kalau saya ini dibilang pendatang baru di politik."

Wow, saya baru tahu sekarang. Masih aktif di PPP?

Ibu Tan bilang, setelah reformasi dia lebih aktif di dunia dakwah dan bisnis. Dia punya beberapa bisnis, jadi konsultan di Surabaya. Sejak muncul di JTV dengan tagline Bu Nyai Gaul, Tan Mei Hwa makin sibuk ceramah di mana-mana. Karena itu, aktivitasnya di partai berkurang drastis. Tapi belakangan Tan mengaku masuk dalam lingkaran Partai Gerindra.

Dua hari kemudian muncul kabar dari Surabaya. Pasangan Utsman Ihsan dan Tan Mei Hwa resmi maju dalam pilkada Sidoarjo. Sebelumnya sudah ada 2 pasangan, yakni Saiful Ilah-Nur Ahmad Syaifuddin dan Hadi Sutjipto-Abdul Kholik.

Pasangan Saiful-Nur dianggap paling kuat, karena incumbent, dananya buanyaak, menang di semua survei. Hadi Sutjipto yang wakil bupati pun tak bisa diremehkan. Keduanya punya jaringan yang sangat luas. Adapun Utsman Ihsan, mantan ketua DPRD Sidoarjo, pernah masuk penjara gara-gara kasus korupsi berjemaah. Waktu itu semua anggota dewan 1999-04 dijebloskan ke penjara.

Lantas, anda merasa punya peluang di pilkada Sidoarjo? Melawan calon petahana?

"Bismillah, saya dan Abah Utsman berusaha untuk menang. Saya serius. Jangan dikira saya dan abah (Utsman) calon penggembira atau boneka," katanya tegas.

Tan Mei Hwa mengaku punya modal sosial berupa jamaah pengajian yang sudah dibina dalam 20 tahun terakhir. Dia juga dekat dengan ibu-ibu nahdliyin, muhammadiyah, dsb. Tan pun merasa punya banyak gagasan untuk memajukan Kabupaten Sidoarjo. "Insya Allah," katanya.

Apa pun kata orang, tampilnya Tan Mei Hwa di gelanggang politik pilkada Sidoarjo kembali memperlihatkan bahwa warga Tionghoa makin melek politik. Tak lagi alergi politik seperti era Orde Baru selama 30an tahun. Sebelumnya Abah Anton, ketua PITI Malang, bahkan terpilih jadi wali kota Malang. Atau yang paling ngetop tentulah Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama gubernur DKI Jakarta.

Saya selalu ingat guyonan Tan Mei Hwa dalam beberapa kali ceramahnya tentang ajakan untuk mencari ilmu bahkan hingga ke negeri China. Ungkapan ini sangat populer di kalangan umat Islam.

"Lha, sekarang ini sudah buanyaaak orang China di sini. Ya, belajar saja sama orang-orang China di sini (Indonesia). Tidak perlu jauh-jauh ke negeri China segala!" katanya dengan suara renyah.

Bu Nyai Gaul, selamat memasuki rimba raya politik pilkada! Semoga tidak dikadalin!

BACA JUGA

Tan Mei Hwa Bu Nyai Gaul, ustadah Tionghoa di Surabaya.

8 comments:

  1. Jika ditinjau dari segi nama, bisa disimpulkan bahwa kakek-moyang Bu Nyai Gaul berasal dari kabupaten Quanzhou - Hokkian. Jika kalian pernah melancong kekota Quanzhou, maka kalian tidak akan heran melihat Tan Mei-hua menjadi ustadah.
    Dikota Quanzhou sejak zaman Song-dinasty sudah ada Mesjid yang letaknya berdampingan dengan kelenteng Taoismus, biara Buddha, bahkan ada tempat ibadah untuk kaum Manichaeismus, penganut Zarathustra.
    Jika kalian masih kuat jalan, cobalah setelah melihat patung Lao-tze dibukit Qing-yuan, terus berjalan kaki melalui jalan terjal setapak mengeliligi bukit, disana sangat bagus pemandangannya, bisa lihat kota Quanzhou dari atas, yang konon bentuknya seperti ikan-mas, sehingga kota itu disebut Li-cheng, Carp City, ( Waktu saya lihat, tidak tampak bentuknya seperti ikan, walaupun sudah dijelaskan oleh saudara sepupu berulang-ulang kali, dasar watak Indonesia, walaupun tidak yakin dan tidak ngerti, tetapi bilang, ya, ya,ya, mangut2 ). Jalan terus, maka sampailah kalian kekuburan orang2 Cina yang beragama Islam. Bacalah nama2 dibatu nisan, semuanya pakai nama2 muslim plus nama cina-nya. Jadi nama2 muslim itu sama seperti nama permandian diagama Katolik. Nama asli pemberian kakek-moyang tetap dipertahankan, sebab bagi budaya orang Cina, adalah suatu kemurtatan, pietyless, melupakan nama marga ( She ).
    Ini membuktikan toleransi orang2 Cina-hokkien dalam soal beragama.
    Manichaeismus, penganut2 Zarathustra inilah yang dicerita silat To-Liong-To, disebut Beng-kauw, dengan lakonnya Kim-mo-say-ong. Kalau tidak salah ibunya Thio Boe-kie juga pengikut Zarathrustra.

    ReplyDelete
  2. Tan Mei Hwa bukan calon boneka ? Bung Hurek, tentu saja BUKAN, mana ada nyonya Tionghoa yang mau jadi boneka ! Malah sebaliknya, kita kaum lelaki adalah kuda dan sapi, sedangkan si-nyonya adalah KUSIR.
    Tan Mei-hwa ( 陈梅花 ) yang artinya Tan, si-Bunga Plum ( Plumblossom ).
    Bunga Plum ( 梅花 ) dalam budaya Cina sangat dipuja, sedangkan budaya Jepang memuja bunga cherry ( sakura ).
    Dikebun rumah saya juga ada pohon Plum yang ditanam istri saya 30 tahun silam.
    Begitu musim salju berachir, maka kembang plum langsung mekar, mendahului daun2-nya. Sedangkan kembang cherry baru mekar setelah kena panasnya sinar matahari. Jadi mei-hua muncul duluan daripada sakura.
    Mei-hua memiliki 5 lembaran yang dalam filsafat Tao diibaratkan sebagai 5 kebahagiaan: Kesehatan, Umur-panjang, Kekayaan, Kebijaksanaan, dan Mati secara alami.
    Jadi Mei-hwa adalah simbol pembaharuan, simbol datangnya musim semi yang indah, simbol munculnya kehidupan baru bagi rakyat jelata.
    Semoga tacik Mei-hwa, setelah berkuasa, tidak melupakan Toleransi kakek-nenek-moyangnya dalam hal beragama. Semoga jangan jadi orang fanatik dalam soal agama. Kalau Mei-hua ndableg, nanti encek geret lu ke Quanzhou untuk belajar dari negeri China.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bunga Mei-hwa ialah bunga nasional Republic of China (Taiwan). Ada lagunya yang terkenal Mei-hua dinyanyikan oleh Teresa Teng, dikarang oleh Liu-jia-chang. Sedangkan di RRT bunga favorit rakyatnya ialah Peony.

      Delete
  3. Tan Mei-hwa itu mualaf, bukan muslim asli karena leluhurnya Islam dari Tiongkok. Saya amati di Jawa Timur sangat jarang ada orang Tionghoa yang leluhurnya muslim dari Zhongguo. Kebanyakan masuk Islam saat dewasa karena pernikahan dsb.
    Pendiri PITI HM Yunus Yahya yang juga jadi Islam setelah sangat dewasa. Sejak adanya PITI itu, makin banyak muslim Tionghoa yang aktif berdakwah. Sekarang bos PITI namanya Anton Medan Tan Hok Liang. Bulan puasa lalu, Ustad Anton Medan kasih ceramah di Penjara Sidoarjo. Cerita2 tentang masa lalu yang gelap, kemudian taubat, lebih dekat Allah SWT dsb dsb.
    Beberapa tahun lalu ada mahasiswa asal Tiongkok yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Anak2 muda ini leluhurnya di Tiongkok memang Islam. Sehari-hari mereka bahkan selalu berbahasa Arab di kampus. Sekali2 saja pakai bahasa Tionghoa.
    Kamsia atas komentar dan penjelasan Xiangshen yang selalu lengkap dan punya latar belakang sejarah. Saya selalu senang membaca dan dapat tambahan pengetahuan yang ciamik. Selamat minum teh pahit Tiongkok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Hurek, riko sangat sopan, sudah tahu sebab musababnya, tetapi pura2 pilon. Kita orang Cina sangat flexibel, kalau masih ada jalan yang
      lebih mudah, mengapa harus pilih jalan yang susah ! Bagaikan pohon bambu, kemana angin berhembus, kesana kita merebah.
      Ditaman rumah-saya di Tiongkok, saya tanami ber-macam2 pohon: mangga, jambu air, jambu kluthuk, jeruk, kelapa, pinang, bambu, tanjung, pisang kepok, salak, lechi, lengkeng, sirsak, blimbing dan segala rempah2 yang tumbuh di Indonesia. Binatang2 yang saya pelihara juga binatang2
      yang saya miliki waktu kanak2 di Bali.
      Saya sudah sering kali mengalami Taifun di Tiongkok, yang paling dahsyat adalah Taifun Nesat, September 2011. Pohon2 yang berbatang keras banyak yang patah atau tumbang, tetapi si-bambu dan -pinang yang lentur tidak ada yang rusak.
      Leluhur kita yang merantau keselatan, Nan-yang, sebagian kecil (minoritas)
      pasti ada yang beragama Islam, namun situasi zaman Belanda dan pendudukan Jepang, lebih menguntungkan jika kita mengaku Buddhist dan
      juga urusan dagang dengan sesama Hoakiao yang mayoritas penganut konfucianist-taoist, lebih baik urusan agama kita cutikan dulu. Sekarang agama yang cuti, bisa, malah harus diaktifkan kembali, malahan harus di-kobar2-kan. Bapak ilmu hayat menyebut fenomena itu sebagai mimikri.

      Delete
    2. Orang muslim di Tiongkok ada dua golongan besar. Yang pertama ialah Orang Hui, yang sebenarnya sudah membaru secara etnis dan bahasa dengan Orang Han, tetapi mempertahankan adat istiadat Islam (punya masjid, sembahyang 5 waktu, tidak makan babi, merayakan Iduladha dan Idulfitri, dll.)

      Yang satunya ialah Orang Uyghur di Propinsi Xinjiang. Yang ini lagi panas dengan pemerintah, karena ada gerakan separatis mau merdeka dari RRT. Ada juga etnis lain seperti Kazakh, Uzbek, dll. yang tinggal di Xinjiang tetapi oleh Orang Han kebanyakan digebyah uyah sama dengan Orang Uyghur.

      Delete
    3. Orang Tionghoa yang muslim (Hui) sudah datang di Nusantara sejak kunjungan Laksamana Cheng Ho (resminya ditulis Zheng He, tidak resminya disebut Sampo Toalang alias Sampo Taijin alias Sampokong). Turunannya ada yang tinggal dan sudah berbaur turun temurun, Bung Lambertus, tidak tersisa lagi budaya Tionghoanya. Jika Bung Lambertus pindah agama menjadi Islam di pulau Jawa, tak jamin keturunanmu akan menjadi Orang Jawa 100%. Begitulah cara kerjanya dunia ini.

      Delete
  4. Kamsia atas tambahan informasi dan pencerahannya. Begitulah, muslim Tionghoa asal etnis HUI dari Tiongkok rupanya sudah tidak bisa dikenai lagi karena sudah beranak pinak beberapa generasi. Laksamana Cheng Hoo masih disebut-sebut sampai sekarang, bahkan jadi ikon muslim Tionghoa di Indonesia, khususnya komunitas PITI. Masjid Cheng Hoo didirikan di mana2, lengkapnya Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo.

    Kalau orang Tionghoa yang aslinya sudah Kristen dari negeri Tiongkok, kemudian migrasi ke Hindia Belanda, sebelum 1945, justru cukup banyak. Dan biasanya orang2 Kristen from China ini sangat taat kekristenannya, umumnya Calvinist alias Protestan dan reformed. Mereka ini jago2 apaolgetika seperti Pendeta Dr Stephen dan saudara-saudaranya. Mereka juga punya gereja kristen tionghoa yang punya kebaktian berbahasa Mandarin, bahkan pada masa Orde Baru ketika bahasa Tionghoa ini dilarang pemerintah.

    Oh ya, orang2 Kristen Tionghoa (asli keturunan Kristen dari Tiongkok, bukan kristen karismatik yang baru muncul tahun 1980an) ini juga sangat unggul di bidang musik klasik, nyanyi klasik seriosa. Ngalah-ngalahi wong bule Eropa, apalagi Amerika. Salam damai.

    ReplyDelete