03 July 2015

Orang sipil numpang kendaraan militer



Kita prihatin pesawat TNI AU, Hercules C130, jatuh di Medan dan menewaskan semua 122 penumpang dan krunya. Semoga kita bisa memetik hikmah kebijaksanaan dalam tragedi yang kesekian kalinya itu. Dan semoga tidak terjadi lagi. (Harapan dan doa standar orang Indonesia yang sulit dikabulkan Tuhan karena yang namanya kecelakaan pesawat, kapal laut, mobil, sepeda motor... pasti selalu akan terjadi.)

Seperti biasa, selepas kejadian banyak orang Indonesia yang tiba-tiba jadi ahli pesawat terbang. Katanya, pilot error, pesawat yang sudah tua, 50 tahun beroperasi, cuaca, dsb dsb. Kemudian, ini yang paling banyak, mengapa pesawat militer kok mengangkut warga sipil. Mestinya kan cuma tentara (dan polisi) saja yang naik Hercules itu?

Begitulah, sebagian orang Indonesia, termasuk pejabatnya, suka kura-kura dalam perahu. Seakan-akan tidak tahu bahwa sejak dulu pesawat angkut militer ya biasa dinunuti istri, anak, tetangga, atau kenalan tentara yang punya akses ke pesawat itu. Mereka tahu persis jadwal pesawat ke mana, ada tidak kursi kosong dsb.

"Saya sering ke mana-mana pakai Hercules. Alhamdulillah, efisien, murah (tidak bayar), gak ribet di bandara... dan selamat. Gak kalah sama pesawat penumpang biasa. Cuma suara mesinnya bising banget," ujar kenalan senior yang bukan tentara tapi punya akses kuat ke militer.

Kok anda yang sipil bisa ikut Hercules? Apa gak diperiksa dulu? "Jelas diperiksalah. Akses untuk sipil sangat sangat terbatas. Saya kan bukan sipil biasa. Saya kan ikut dalam misi jurnalistik untuk militer juga," kata sang senior top itu.

Karena itu, meski sering angkut keluarga tentara, Hercules tidak sembarangan menerima penumpang. Tidak ada yang namanya komersialisasi pesawat militer seperti dituduhkan beberapa orang di televisi.

"Cuma sedikit uang rokoklah untuk teman. Anda naik ojek aja bayar, masa naik pesawat jarak jauh kok gak kasih uang rokok. Hidup di dunia itu harus saling membantu," kata teman senior yang dulu aktif dalam misi SAR di seluruh Indonesia itu. Paling seru waktu keliling bersama helikopter Nomad untuk mencari bangkai Adam Air yang hilang di Sulawesi Barat awal 2006 (kalau gak salah).
Kemarin di televisi, saya lihat Menteri Jonan juga bicara agak keras soal orang sipil di dalam pesawat militer itu. Jonan yang arek Surabaya ini terkesan tegas, keras, hitam putih... tanpa kompromi. Pesawat militer ya hanya untuk tentara, titik! Aneh kalau sipil numpang Hercules.

"Kita bicara aturan," kata Jonan yang bicara seakan-akan Indonesia ini USA yang bisa membeli pesawat militer untuk air force-nya.

Indonesia ini memang beda. Menteri Jonan mungkin lupa bahwa dalam rangka angkutan untuk mudik Lebaran, setiap tahun TNI AL menyediakan kapal perang yang besar-besar itu untuk mengangkut ribuan masyarakat sipil. KSAL Laksamana Ade Supandi di Sidoarjo pekan lalu mengatakan TNI AL menyediakan enam kapal perangnya untuk mendukung angkutan Lebaran. Kalau tidak muat juga akan ditambah.

Dari dulu juga begitu. Kapal-kapal militer dipakai untuk angkut penumpang sipil. Dan tidak ada yang protes atau marah-marah. Malah (hampir) semua orang mengapresiasi TNI AL yang tanggap akan kebutuhan masyarakat yang kesulitan kendaraan untuk mudik. Lha, mengapa banyak pengamat (asli dan dadakan) celometan di media massa menyalahkan Hercules yang angkut orang sipil?

Tragedi Hercules di Medan ini kebetulan terjadi bersamaan dengan uji kepatutan calon panglima TNI. Semacam isyarat dan Yang Kuasa bahwa pesawat-pesawat militer lawas, usia seketan itu, sudah layak diremajakan. Orang Indonesia akhirnya terbelalak ketika tahu bahwa Hercules era Presiden Sukarno, 1964, masih dipakai militer kita. Dan jumlahnya bukan dua atau lima tapi belasan atau 20an. Banyak banget.

TNI Angkatan Udara pun sudah lama berangan-angan punya pesawat militer baru, canggih, modern, tidak ketinggalan zaman. Tapi uangnya dari mana? Kalaupun ada sedikit uang, biasanya tuan-tuan anggota parlemen di Senayan lebih suka gunakan untuk bikin gedung baru, uang reses, dana dapil, dan sebagainya dan sebagainya. Anggaran militer bukan prioritas di Indonesia.

Boro-boro membeli pesawat baru, katanya honor pilot Hercules itu lebih kecil ketimbang upah minimum buruh pabrik di Sidoarjo (Rp 2,7 juta sebulan). Padahal, pilot itu risiko dan tanggung jawabnya luar biasa. "Sistem insentif di militer kita masih belum diatur layaknya pegawai pajak," kata Dr Indria Samego, pengamat militer beneran.

Mudah-mudahan Presiden Jokowi yang dulu getol menyerukan revolusi mental itu bisa merevolusi alautsista (opo maneh kuwi?) di tubuh militer kita. Malu deh kelihatan sama tetangga sebelah kalau pesawat-pesawat kita ternyata buatan tahun 1950an. Bisa digertak sama si Malaysia itu!

9 comments:

  1. Begitulah, sebagian orang Indonesia, termasuk pejabatnya, suka kura-kura dalam perahu. Kalau pesawat AURI mengangkut warga sipil, saya sungguh tidak tahu, tetapi kalau kapal perang ALRI dan truck TNI suka ngangkut muatan barang2 dagangan warga sipil, saya sudah tahu sejak tahun '60-an.
    Memakai jasa truck TNI biayanya lebih murah dan lebih aman, tidak perlu takut biaya siluman ( uang rokok pak polisi, pegawai timbangan dan palakan preman Wonokromo ) disepanjang jalan, kecuali itu truck2 TNI lebih baru dan jarang mogok dibandingkan truck swasta. Muatan berapa ton-pun diangkut, sedangkan truck swasta kebanyakan hanya memiliki daya angkut kelas II, hanya boleh maximal 4 ton, jadi harus pakai uang tempel di timbangan.
    Memimpin atau memerintah negara Indonesia tidaklah sedemikian mudah, seperti angan2 saudara Jonan dan Ahok ( tegas, keras, hitam-putih, bicara aturan, tanpa kompromi ). Apakah Bung Karno, Bung Hatta, para Menteri dan pejabat generasi ayah-saya, tidak memikirkan hal2 tersebut ? Mereka semuanya juga orang2 yang pandai, nasionalis dan berintegritas !
    Ditahun '60-an ada lagu berjudul Abu Nawas, saya hanya ingat syair-nya yang telah diubah oleh anak2 muda zaman itu :
    Hasibuan namanya menghadap raja, tiga bulan lamanya turunkan harga,
    kalau tidak berhasil, penggal kepala !
    Jika seandainya keterpurukan negeri Indonesia semata-mata kelalaian generasi ayah-saya ( generasi Bung Karno & Bung Hatta ), mengapa setelah Bung Karno lengser, dinegari Republik Indonesia, rakyatnya tetap miskin, walaupun negara Indonesia adalah sebuah negara yang alamnya terkaya diatas bumi ?
    Kasian para anggota tentara yang pangkatnya kroco, gaji mereka sedemikian rendah, sehingga perlu mencari penghasilan sampingan, demi untuk menyambung hidup belaka. Waktu saya dinas di-militer, uang saku harian hanya cukup untuk membeli 2 bungkus rokok.

    ReplyDelete
  2. di Indonesia ada ungkapan: PERWIRA GEMBIRA, PRAJURIT MENJERIT.

    ReplyDelete
  3. pesawat berusia 50 tahun jelas sudah terlalu uzur meskipun dirawat dengan sangat baik.

    ReplyDelete
  4. Pada waktu sebagai anak buah pak Dahlan Iskan, pak Jonan mengurusi kereta api, semua penumpang diharuskan bayar tanpa terkecuali, pak DI dg gayanya tersendiri memberi contoh dg membayar ticket ka rombongannya.

    Memang tertib itu enak tetapi juga tidak enak bagi sebagian yg terkena, diperlukan aturan yg lebih baik dan bijak agar orang atau warga tidak usah melanggar aturan.

    Pak Jonan tentu seorang menteri yg baik, tetapi tanpa didukung oleh aturan negara yg baik, Jonan bisa bisa tampak seperti orang yg tidak punya hati, orang yg baik tetapi jadi tampaknya jahat.

    Ada gubernur yg ingin memberi gaji aparatnya dg baik, agar aparatnya tudak usah ngobyek dan tidak usah melanggar aturan, langkah semacam itu patut dihargai.

    Di negara yg membutuhkan rekrutmen anggota militer, negara memberi berbagai potongan harga bagi anggota militer, seperti beaya pendidikan, transportasi, medikal dll, potongan harga ditanggung negara bukan ditanggung perusahaan,

    Kita memang masih dalam proses untuk menjadi benar dan tertib, dan itu sudah berlangsung terlalu lama, sudah nyaris 70 tahun kita mengurus diri kita sendiri dan masih belum tertib, semoga kita segera bisa tertib, jadi teringat ucapan orang orang yg kebayakan sudah wafat, yg dulu suka merindukan jaman normal yg katanya tertib.

    Om, kalau boleh usul itu new comments bisa ga ditambah dari 5 menjadi 10 items, thank you om.

    ReplyDelete
  5. Singapura, negara sebesar upil, anggaran militer-nya 9,249 milliard US$ per tahun.
    Indonesia, negara sebesar gajah, anggaran militernya 7 milliard US$.
    Orang2 Indonesia ingin sekali negaranya aman, tertib dan makmur seperti Singapur, alhasil pejabat2 muda meniru gaya Lee Kuan-yew cilik. Sayangnya mereka lupa budaya, sifat orang Indonesia dan issue sara yang sangat komplex.
    Sampai awal tahun '60-an asosiasi kita orang Indonesia jika mendengar kata Singapur adalah identik dengan sarang judi, madat, pelacuran dan gangster.
    Lee Kuan-yew sangat berhasil membenahi negara Singapura, dengan ketegasan,
    kekerasan, hitam-putih, aturan dan tanpa kompromi. Apakah hanya bermodal cara2 tersebut Singapura bisa maju ? Nonsense !
    Lee Kuan-yew, seorang lawyer dan ekonom lulusan Inggris tentu saja banyak membaca buku2 sejarah Eropa, sehingga beliau mengambil kesimpulan :
    " Pecunia non olet ".
    Tanpa bermodal pokok, uang2 orang Indonesia yang dideposito-kan di Singapura, mana mungkin negara itu bisa maju. Sekarang Singapura sudah sedemikian kaya, sehingga tidak butuh lagi uang dari Indonesia. Uang terus mengalir dari orang2 kaya asal Tiongkok, Thailand, India, Pakistan, Vietnam, Philippina,............ bahkan dari Eropa dan Amerika.
    Lee Kuan-yew beruntung, mayoritas penduduk negaranya ( 75% ) adalah etnis Chinese, jadi tidak mengenal masalah sara.
    Gubernur DKI bertindak benar 100%, melarang penyembelihan hewan kurban di-trottoir, dipinggir jalan atau dihalaman sekolah, dengan alasan hygiene dll. Namun rakyat Jakarta marah, mengungkit issue sara. Inilah Indonesia, susah diatur !
    Justru suasana Indonesia yang agak ambruladul, membuat kita betah hidup di Indonesia, semuanya bisa diatur dengan duit. Banyak Gayus-Gayus, Rudi-Rudi, Angie-Angie, dll.
    Bayangkan seandainya orang2 baik seperti Kwiek Kian-gie jadi RI-1, Ahok jadi Mendagri, Jonan jadi Menteri Keuangan, Mari, Theresia,..dll. jadi Menteri2 Negara,
    mungkin 50 tahun kemudian Indonesia akan menjadi Negara Adijaya.
    Mungkin....? Mungkin juga banyak orang2 kaya akan minggat, Tenglang ciak tenglang, Hoping ciak kuping. Dilemma, dilemma !
    Saya pernah mendengar ucapan seorang Bankir-Indonesia yang sangat terkenal:
    Lu jangan suka kritik Teng-lang Indonesia ! Gua ini seorang Bankir, jadi tahu masalah yang sebenarnya. Lu tahu ! Teng-lang kekantor-gua, ngemis2 memohon pinjam uang untuk modal berusaha, buka toko atau bangun pabrik. Sebaliknya pejabat2 pribumi kekantor-gua bawa uang kontan ber-karung2, mereka lempar itu uang keatas meja-gua, mereka bilang : tolong diuruskan uang2 itu ! Mereka tidak tahu uang2 itu buat apa ! Itulah Indonesia ! Dilemma, dilemma !

    ReplyDelete
  6. godaan pilot2 pesawat militer minggat jadi pilot pesawat komersial sangat besar. jaman sekarang godaan uang itu sulit dilawan.

    ReplyDelete
  7. Gw cek dulu deh gan" dari atas semua cerita dan komennya"(koreksi).... Gw baca tuh "hanya militer saja yang boleh menaiki kendaraan militer termasuk tentara dan polisi" hah.. Polisi?? Gan polisi ituu termasuk Sipil Lhoo.." 2. Gw cek komentar di atas ke 2__ Perwira gembira prajurit menjeritt.. Nih gw koreksi "Gan emang dikira perwira pertamanya gajadi prajurit?? Dia malah jadi prajurit lanjutan mass ada latihan khususnya salahsatunya (terjun lanjutan:itu yang terjun kita yang buka sendiri dengan kesadaran kita diatas sana )dan malah prajurit ituu dia masuk tamtama salah sendiri bekal psikolognya kurang??,,lanjut deh.. Nih ataz saya " Pilot pesawat militer minggat jadi pesawat komersil.. Setau ane "sumber temen kantor sendiri" Polit Militer itu walaupun sudah pensiun atau pecat dia akan membawa pernah jadi militer gan dan gaboleh dia jadi komersil karena pernah jadi militer


    Itu aja gan"

    ReplyDelete
  8. Ikut berbelasungkawa atas kematian 122 kru dan penumpang pesawat hercules TNI AU di Medan, semoga diberi tempat yg layak di sisiNya. Kita harus dukung TNI yg selama ini selalu membantu rakyat khususnya di daerah2 terpencil yg gak punya sarana transportasi. Jangan mengecam TNI kalau gak tahu situasi di lapangan.

    ReplyDelete
  9. Sudah seharusnya kendaraan militer tidak digunakan utk komersial, karena akan cepat rusak.
    Upah tentara harus dinaikan dahulu baru disiplin ditegakkan, sehingga tidak ada alasan lagi kendaraan militer dipakai usaha sampingan oknum tentara.

    ReplyDelete