04 July 2015

Sapto Adi ketua tunanetra di Sidoarjo



Beberapa tahun lalu, saya pernah bertemu Sapto Adi dalam sebuah pameran di Museum Mpu Tantular Sidoarjo. Orangnya tunanetra tapi selalu antusias bercerita. Tentang organisasi yang ia pimpin: Persatuan Tunanetra Indonesia alias Pertuni Sidoarjo. Mas Sapto ini ketua umumnya.

Minggu lalu, saat blusukan ke kawasan Terik, Krian, saya tertarik melihat papan nama Pertuni di pinggir jalan. Mungkin rumah mas Sapto, sekaligus sekretariat Pertuni Sidoarjo. Ternyata betul. Mas Sapto yang buka pijat refeksi, ijazah dari Malang, membukakan pintu. Dan kami ngobrol layaknya orang yang sudah lama berkenalan.

"Kegiatan bulan suci Ramadan ini padat banget. Teman-teman diundang mengisi pengajian di mana-mana," kata Sapto Adi yang selalu tersenyum kalau bicara.

Lalu ia menyebut beberapa orang buta di Sidoarjo, anggota Pertuni, yang jagoan menghafal Alquran. Mereka sering jadi bintang di acara pengajian. Kalau orang awas (istilah Sapto untuk mata normal) pintar hafal Alquran itu biasa. Tapi kalau orang buta hafal kitab suci berbahasa Arab klasik itu, dengan pelafalan yang bagus, suara merdu, jelas luar biasa.

Mas Sapto kemudian masuk ke ruang kerjanya dan membawa beberapa proposal dan agenda kegiatan Pertuni. Agar saya baca dan komentari. Intinya menggalang bantuan bagi para tunanetra yang belum mampu mencari nafkah sendiri. Dari sekitar 150 anggota Pertuni di Sidoarjo, sebagian masih bergantung pada orang tua atau kenalan atau famili jauh.

Pertuni sendiri sejak dulu ingin menjadikan anggotanya mandiri. Cacat mata bukan halangan untuk sekolah, kuliah, atau bekerja. Mas Sapto menyebut beberapa tunanetra yang sudah lulus S1 di Universitas Negeri Surabaya. Meskipun buta, mereka bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Bikin skripsi dan lulus.

"Kami tidak minta dikasihani. Kami hanya minta kesempatan dan perlakukan yang sama. Insyallah, kami juga bisa kok," kata mas Sapto Adi yang tengah ditunggui seorang bapak yang ingin pijat refleksi.

Dibandingkan 10 atau 20 tahun lalu, menurut dia, pemerintah mulai peduli pada tunanetra baik yang sudah gabung di pertuni maupun belum. Peluang untuk belajar terbuka lebar. Bahkan sekolah-sekolah biasa sudah lama menerima kaum tunanetra di Sidoarjo. "Kalau dulu sangat-sangat jarang ada tunanetra yang kuliah dan jadi sarjana," katanya.

Sayang, saat ini masih banyak orang tua yang malu atau minder punya anak tunanetra. Ada yang malah menganggap kutukan dari Tuhan. Akibatnya, anak-anak tunanetra itu disembunyikan di rumah. Tidak diberi kesempatan sekolah atau bersosialisasi di luar. "Jelas aja anak itu tidak akan bisa mandiri. Wong tunanetra yang dididik di Malang saja sulit mandiri, apalagi yang seperti itu," katanya.

Mas Sapto kemudian menyebut seorang anggota Pertuni, usianya 21 tahun, namanya saya lupa, yang belum pernah mencicipi sekolah. Di usia dewasa itu dia tidak tamat SD, tak bisa membaca, dsb dsb. Mas Sapto akhirnya memutuskan dibawa ke Malang. Untuk dilatih sebagai tukang pijat di lembaga diklat khusus milik Dinas Sosial Jawa Timur.

Kok tunanetra selalu diarahkan jadi tukang pijat? "Soalnya, pijat itu pekerjaan yang paling gampang. Mau jadi wartawan ya nggak mungkin," kata mas Sapto tertawa kecil. Hehehe... iso-iso ae Cak!

Pelatihan jadi tukang pijat di Malang pun tidak lama. Cukup mengerti otot, urut-urutan pijat.. sudah bisa langsung praktik. Lama-lama jadi tukang pijat kawakan seperti mas Sapto ini. Berkat usaha pijat refleksi, Sapto bisa menghidupi istri (buta) dan seorang anaknya (awas). "Alhamdulillah, anak saya awas. Ayah ibunya buta, tapi anak saya awas dan akan bertumbuh seperti masyarakat lain yang normal," katanya.

Obrolan dengan mas Sapto makin lama makin menarik. Sayang, si calon pasien yang ikut nguping obrolan kami ini berkali-kali memberi isyarat agar mas Sapto segera memijat bapak itu. Lumayan, sekali pijat bayar Rp 50 ribu!

Saya pun pamit pulang! Matur nuwun!

6 comments:

  1. Lawan kata buta itu benar awas? Setahu saya celik

    ReplyDelete
  2. Kembali ke Kamus Besar Bahasa Indonesia:
    AWAS = 1 dapat melihat baik-baik; tajam penglihatan: ia sudah tua, tetapi matanya masih --; 2 tajam tiliknya; dapat mengetahui (melihat) segala yg gaib (rahasia dsb): ia mencari dukun yg --; 3 memperhatikan dng baik; waspada: kita harus tetap -- thd gerak-gerik musuh; 4 hati-hati; ingat: -- ada ular; -- copet;

    Kesimpulan: istilah AWAS yang selalu dipakai teman2 Pertuni ini sangat tepat meskipun sangat jarang dipakai masyarakat biasa yang awas.
    Kata CELIK memang lawannya BUTA, sama artinya dengan AWAS. Makin banyak sinonim kan makin bagus. Banyak pilihan kata.

    Dulu, pertama kali bertemu dengan tokoh2 tunanetra macam Sapto atau Kiki (penyanyi top yang hafal ratusan lagu pop Mandarin di Surabaya), saya juga terkejut karena kata AWAS ini sangat sering dipakai. Saya langsung periksa kamus dan ternyata hasilnya seperti itu.

    ReplyDelete
  3. Saya setuju sinonim kata AWAS = WASPADA.
    Banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang tak ada lawan-katanya, misalnya :
    Butahuruf, apakah boleh ditulis Awashuruf atau Celikhuruf ?
    Kalau susah mencari lawan-kata, tulis saja kata TIDAK diawalnya.
    Banyak orang memakai kata Melekhuruf sebagai opposition-nya Butahuruf, namun
    banyak orang yang buta tetapi melek, kepriye saiki mas .
    Apa lawan kata BIRU ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih penjelasannya. Ternyata ada sedikit nuansa yang berbeda. Celik artinya sekedar melek (dalam Bhs Jawa), sedangkan awas itu mampu melihat dengan baik. Orang yang melek walaupun bisa melihat tetapi tidak dengan baik artinya masih dianggap buta secara hukum.

      Delete
    2. Buta huruf lawan katanya ialah mampu baca. Melek huruf juga baik. Biru itu tidak ada lawannya karena warna itu merupakan spektrum jadi yang ada lawannya hanya yang di ujung satu: hitam dan ujung lainnya: putih. Kalau mengerti fisika gak akan tanya seperti itu.

      Delete
    3. Setiap anak SD diajari oleh ibu-guru : Warna bendera nasional Republik Indonesia adalah Sang Saka Merah-Putih. Jadi ibu-guru bukan seorang fisikus, melainkan seorang seniwati pelukis.
      Inilah kesimpulannya, dalam kehidupan se-hari2 tidak ada istilah hitam-putih, semuanya tergantung dari sudut pandang masing-masing. Orang hidup harus ada kompromi.
      Isaac Newton dan penganutnya, berpendapat tidak ada warna-dasar, putih dan hitam, dengan alat bukti spektrum.
      Ibu guru dan mayoritas orang Indonesia, bilang ada warna putih dan hitam, buktinya ada baju putih dan baju hitam.

      Delete