02 July 2015

Pejabat Jatim jadi bintang iklan



Pagi ini Gus Ipul, wakil gubernur Jawa Timur, tampil di halaman 1 koran di Surabaya. Bukan dalam berita atau foto peristiwa, tapi iklan Tolak Angin Sidomuncul. Gus Ipul alias Saifullah Yusuf pakai baju takwa bersama artis Nadine Chandrawinata tersenyum lepas.

"Wong ndeso... wong kutho minum Tolak Angin," kata Gus Ipul. Di televisi juga iklan yang dibintangi gus asal Pasuruan ini sering nongol. Saya sih kurang percaya kalau Gus Ipul sering minum jamu tolak angin itu.

Bulan lalu, media sosial dan online juga ramai menyoroti Abah Ipul (Saiful Ilah), bupati Sidoarjo. Gara-gara Abah Ipul jadi bintang iklan rumah susun (flat) di kawasan Tambakoso, Kecamatan Waru. "Rumah susun untuk masyarakat kelas menengah bawah ini berkat ide dan gagasan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah," begitu klaim pengembang Sipoa Group itu.

Namanya juga tahun politik, yang mengecam Abah Ipul ini umumnya pihak-pihak yang berseberangan dengan sang ketua PKB Sidoarjo itu. Wong rusunawa milik Pemkab Sidoarjo aja gak laku, sulit dijual, kok bupatinya malah jadi bintang iklan apartemen swasta?

Anehnya, hehehe... semakin dikecam di Facebook, iklan-iklan perumahan yang dibintangi Bupati Saiful Ilah makin banyak. Di sepanjang jalan utama dari perbatasan Surabaya-Sidoarjo sampai Sidoarjo kota penuh dengan umbul-umbul Abah Ipul jualan rumah.

"Saya selalu mendukung pihak swasta yang mau menyediakan rumah murah untuk warga Sidoarjo. Wong tujuannya baik," kata Abah Ipul santai. Yang pasti, Abah Ipul bisa promosi gratis menjelang pilkada 9 Desember 2015.

Gus Ipul dan Abah Ipul tidak bisa disalahkan menjadi bintang produk swasta. Sebab, sebelumnya pejabat-pejabat lain di pusat juga melakukan hal yang sama. Menteri yang masih aktif pun pernah jadi bintang iklan jamu dan produk lain. Toh, tidak ada yang protes.

Yang jadi masalah, sampai sekarang kayaknya belum ada kode etik pejabat di Indonesia. Mungkin sudah ada tapi saya belum tahu. Menjadi iklan produk tertentu membuat si pejabat tidak bisa netral dan independen lagi. Abah Saiful bisa dianggap sudah memihak pengembang tertentu, Sipoa, ketimbang menjadi pengayom puluhan pengembang di Kabupaten Sidoarjo.

Apakah pak bupati juga mau kalau diajak untuk mempromosikan perumahan-perumahan lain? Begitu pula Gus Ipul, wagub Jatim, terkesan jadi corongnya perusahaan jamu konglomerat ketimbang mempromosikan jamu-jamu industri kecil di Jawa Timur.

Mengapa Gus Ipul tidak jadi bintang produk-produk UKM saja? Mengapa malah mempromosikan pabrik raksasa yang sudah kaya raya begitu?

No comments:

Post a Comment