06 July 2015

Pabrik lampu Philips di Sidoarjo tutup



Terus terang, sudah lama saya penasaran dengan lampu Philips yang terang terus itu. Setiap kali membeli dop baru, saya baca di kemasan, bagian bawah, tulisan Made in China. Lampu hemat energi itu dibuat di Tiongkok?

Aneh, bagi saya yang sering melintas di Berbek Industri, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Bukankah pabrik Philips Indonesia sejak dulu ada di Berbek Industri? Mengapa lampu-lampu yang dijual di Surabaya dan Sidoarjo made in China? Bukan made in Sidoarjo, Indonesia? Ada apa dengan Philips?

Saya pun mampir ke kawasan pabrik Philips di Berbek Industri, Waru. Oh, ternyata ada spanduk dari Jones Lang Lasalle (JLL), agen properti yang biasa menangani penjualan properti besar. Ada tulisan di spanduk di pagar pabrik yang punya sekitar 900 pekerja itu: FOR SALE. Eks pabrik Philips itu dijual.

"Pabrik Philips di Berbek memang sudah tidak beroperasi. Sekarang aset-asetnya sedang dalam proses penjualan," ujar Joseph Lukito, pimpinan JLL Surabaya, yang saya kontak via telepon.

JLL juga memasang iklan di Jawa Pos ihwal penjualan lahan dan bangunan eks pabrik Philips yang pernah sangat terkenal itu. Menurut Joseph, luas tanah eks pabrik Philips Indonesia di Berbek ini 7,1 hektare. Sedangkan luas bangunannya 5,6 hektare. Joseph enggan menyebutkan nilai aset Philips tersebut. "Kalau soal harga, kami harus negosiasi secara tertutup."

Joseph juga menolak menyebutkan alasan penjualan pabrik yang memproduksi aneka jenis lampu tersebut. Alasannya, penutupan pabrik di Berbek merupakan kebijakan manajemen Philips. Namun, dia membantah spekulasi yang mengaitkan penghentian operasi Philips lantaran upah minimum kabupaten (UMK) Sidoarjo yang terlalu tinggi, Rp 2,7 juta sebulan.

"Yang jelas, bukan UMK. Itu sepenuhnya keputusan anajemen Philips," tegasnya. Joseph yang lulusan Ubaya ini yakin lahan seluas 7,1 hektare di kawasan industri di dekat perbatasan Sidoarjo-Surabaya itu masih prospektif untuk industri.

Penutupan pabrik Philips di kawasan Berbek, Waru, ini jelas sangat mengagetkan. Betapa tidak. Saat bertemu para wartawan beberapa bulan lalu, Operations Manager Philips Lighting Indonesia Maciej Bartnicki memuji Indonesia sebagai salah satu negara dengan pasar lampu yang tumbuh paling pesat di dunia. Posisi pasar Indonesia bahkan relatif setara dengan Tiongkok dan India.

"Maka, kami akan mempertahankan dan menggenjot kinerja pabrik Philips di Indonesia," ujar Maciej Bartnicki ketika mengunjungi SDN Berbek, Waru.

Namun, situasi ekonomi dan investasi di dunia terus berubah seiring derasnya perputaran roda globalisasi. Mendadak kita di Sidoarjo dikejutkan oleh keputusan Philips Indonesia untuk menjual asetnya di Berbek Industri.

Mudah-mudahan gubernur Jawa Timur dan bupati Sidoarjo, yang setiap tahun dapat investment award sebagai kabupaten paling kondusif untuk investasi, tanggap dengan kebijakan Philips ini. Sayang kalau pabrik tua yang berdiri pada tahun 1940 hengkang ke negara lain yang dianggap lebih ramah investasi.

6 comments:

  1. Barang apakah zaman sekarang yang tidak ada cap-nya Made in China ? Sejak 20 tahun terachir Tiongkok telah menjadi pabriknya dunia. Di Tiongkok berkeliaran mobil2 merek VW, BMW, Audi, Mercedes, Peugeot, Citroen, Fiat, Skoda, Honda, Toyota, Mitsubishi, Suzuki, Hyundai,... dll. yang 100% komponen-nya Made in China. Tentu saja ada barang2 sejenis diatas yang diimport dari negeri asalnya, namun dengan harga jual 3 kali lipat. Saya pribadi membeli mobil yang Made in China, dengan alasan, murah, dan tiap 5 tahun bisa ganti mobil baru 3 kali.
    Harapan Indonesia bisa menggantikan posisi Tiongkok sebagai world extended work bench lumayan bagus, sebab upah buruh di Tiongkok sekarang sudah relativ tinggi. 15 tahun silam gaji babu hanya 300 Renminbi, sekarang digaji 2000 RMB masih ngomel, mintanya 3000 RMB. Babu China juga menuntut jam kerja disesuaikan dengan jam kerja PNS. Pukul 7 pagi kita juragan harus sudah selesai sarapan, pukul 11 sudah diteriaki disuruh makan siang, sebab setelah pukul 12 siang orang China harus tidur siang dan tidak boleh diganggu sampai pukul 15.
    Pukul 18 petang kita dipaksa makan malam, sebab pukul 19 babunya harus nonton TV atau ngeloyong dengan teman2-nya kepusat kota. Kamar tidurnya harus ada AC dan kamar mandi harus ada air panas. Padahal rumah2 mereka dikampung hanyalah semacam gubuk, tidak punya kamar mandi dan WC.
    Istri-saya ngomel; wis ta' lah, wong cino ora kenek disayangi, dikeki ati jaluk rempelo.
    Mengapa saya ngelantur tentang babu-china ? Sebab beberapa bulan lalu, saya membaca disebuah Blog, diskusi tentang PRT ( TKW ) dari Filipina dan dari Indonesia, mereka membandingkannya dengan PRT pribumi-china.
    Ada satu tacik dari Indonesia yang ikut nimbrung didiskusi itu. Si-tacik-Indonesia
    menulis sbb.: Saya ingin sekali mempekerjakan seorang PRT dari China, dengan alasan:
    supaya anak2 saya bisa belajar bahasa Mandarin dari si-PRT. Saya hampir tiap bulan gonta-ganti PRT-Indonesia, sebab perbedaan budaya dan dia-nya malas.
    Sudikah anda2 membantu saya, dengan syarat si-PRT-China hanya boleh pulang kenegerinya setiap 2 tahun sekali ?
    Membaca tulisan tsb., hati-saya mendidih, menggerutu: Jancuk, tacik yang tidak tahu diuntung ! Diberi rempela minta ceker ayam !
    Saya pikir, hai tacik, bersediakah lu membayar 5000 RMB setiap bulan dan menanggung biaya ticket kapal terbang pergi-pulang. Seandainya lu istri konglomerat, yang mana uang bukan jadi persoalan, maka gua ingin bertanya; bisa
    tahankah lu menghadapi sifat babu-China yang tidak kenal sopan-santun, sekarepe dewe, jorok. Lu harus makan duduk semeja dengan dia, atau dia mengambil lauk-pauk yang enak2 terlebih dahulu, lalu sisanya diberikan ke-juragan.
    Lu berani marah2 kepadanya ? Lu akan dilaporkan ke-Kedutaan Besar RRT atau ke-Konsulat ! Mengapa repot2, kasih PRT-Indonesia-lu tiap bulan 3000 RMB plus
    uang mudik lebaran dengan karcis kapal terbang, niscaya PRT-lu bakal matur- nuwun dan setia. Mungkin si-tacik seorang manusia cerewet, querulant.



    ReplyDelete
    Replies
    1. kamsia Xiangshen, cerita dan ulsan yg tajam, selalu menarik diikuti meskipun pahit. di Surabaya pernah ada kejadian seperti itu. ada seorang tuan majikan punya simpanan xiaojiae yg cantik dari zhongguo. jadi wanita simpanan, ditaruh di apartemen, lama2 nonan cungkuo ini terus berulah, mata duitan, akhirnya si tuan ngamuk. nona cungkuo ini dibuang di jalan.

      nah, mengadulah nona itu ke konjen, minta dipulangkan, konjen gak punya duit untuk biaya pemulangan. kemudian seorang tante yg dermawan di surabaya ongkosin dia pulang. nona itu berjanji akan mengembalikan uang setelah berada di Tiongkok. sampai sekarang janji tinggal janji.

      kalau pembantunya xiaojie asli zhongguo yg muda, cantik, langsing... bisa2 si majikan laki2 kecantol sama itu nona. kasihan istri yg asli. salam teh pahit.

      Delete
  2. philips sudah lama goyang.. banyak saingannya

    ReplyDelete
  3. Philips Indonesia tutup bukan karena banyak saingannya, atau karena kenaikam UMK melainkan karena produknya yang kurang diminati para konsumen sebab PT Philips Indonesia yang berlokasi di kawasan SIER hanya memproduksi lampu pijar dan TL saja. sedangkan lampu pijar dan TL untuk saat ini sudah termasuk lampu jadul dan kalah bersaing dengan lampu SL dan LED. kalau boleh ngasih contoh nasibnya nggak jauh beda dengan pabrik pita casset atau negatip Film. pertanyaannya sekarang kenapa nggak invest untuk product lainnya ............????????

    ReplyDelete
    Replies
    1. INI JAWABAN YANG BENAR - confirmed dr aku mantan pegawai Philips Ralin 8 tahun!

      Delete
  4. invest butuh modal, sdm dan teknologi serta research. apakah management philips surabaya sudah siap? sedangkan project HTL dan T5 saja sudah gagal

    ReplyDelete