25 July 2015

Pabrik gula di Sidoarjo kesulitan tebu

Saya baca di koran terbitan Jakarta edisi Sabtu 25 Juli 2015 soal industri gula. Dewan gula mendesak pemerintah segera membangun pabrik gula berbasis tebu. Mungkin pabrik gula baru di luar Pulau Jawa.

Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, empat pabrik gula sedang musim giling hingga Desember. Isunya justru kurangnya pasokan tebu sebagai bahan baku gula. Ini karena sudah lama sawah-sawah berubah jadi perumahan, ruko, gudang dsb. Anak-anak muda juga enggan jadi petani. Akibatnya, pabrik gula peninggalan Belanda yang jumlahnya belasan (ada yang bilang 16, ada versi menyebut 14, lain lagi 11) sekarang tinggal 4. Yakni PG Kremboong, PG Watoetoelis, PG Toelangan, dan PG Candi Baru (Tjandi).

Sebuah pabrik gula tak akan bisa hidup jika tidak ada tebu yang akan digiling. Maka empat pabrik gula itu pun lama-lama akan tutup jika pasokan tebu tidak ada lagi. "Kami kesulitan mencari petani yang mau garap lahan tebu," kata Zainal Arifin, direktur PG Watoetoelis di Kecamatan Prambon.

Pabrik gula lawas di dekat perbatasan dengan Kabupaten Mojokerto itu punya 500 ha lahan tebu di Sidoarjo. Luasan yang terus menyusut. Karena kesulitan mendapatkan petani (warga Sidoarjo sekarang lebih suka bekerja di pabrik, kantor, PNS, politisi, pedagang, atau buka usaha sendiri), PG Watotoelis mengembangkan mekanisasi pertanian. Semua proses budidaya tebu pakai mesin. Mulai pembibitan, olah tanam, pemupukan, hingga panen (penebangan) pakai mesin. Tenaga kerja bisa dihemat.

"Sudah 35 persen mekanisasi," kata Zainal Arifin. Dia ingin dalam dua tiga tahun ke depan semuanya sudah mekanis. Satu orang bisa menggarap satu kavling lahan tebu dengan bantuan mesin itu.

Masih lumayan PG Watoetoelis berusaha mempertahankan lahan tebu meskipun tidak gampang. Pabrik Gula Toelangan malah sudah dua tahun ini mengandalkan pasokan tebu 100 persen dari luar Kabupaten Sidoarjo. Semua tebu dipasok dari luar daerah macam Mojoketo, Malang, Madura, Jombang. Tebu-tebu asal Sidoarjo yang dulu dipasok ke PG Toelangan dialihkan ke pabrik tetangganya, yakni PG Kremboong.

Sampai kapan PG Toelangan bertahan kalau hanya mengandalkan pasokan tebu dari luar Sidoarjo? Waktu yang akan menjawab, kata orang bijak. Sayang sekali kalau PG Toelangan yang jadi bahan cerita Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, dengan tokoh Nyai Ontosoroh asal Tulangan, ini bakal mengalami nasib seperti pabrik-pabrik gula sebelumnya macam di Ketegan (Taman), Wonoayu, Sruni (Gedangan), Porong, Buduran, Waru, atau Krian.

Kota Surabaya tempo doeloe juga punya buanyaaak pabrik gula. Mungkin lebih banyak ketimbang Sidoarjo. Tapi seiring transformasi ekonomi, perubahan zaman, sudah puluhan tahun tak ada satu pun pabrik gula yang tersisa. Karena memang tak ada sawah di Surabaya. Apalagi yang luasnya ratusan atau ribuan hektare untuk skala industri.

Karena itu, pemerintah harus melakukan kajian yang sangat mendalam jika ingin membangun pabrik-pabrik gula yang baru. Lokasinya di mana? Perkebunan tebunya bagaimana? Petani penggarapnya apa cukup? Kualitas tebu seperti rendemen bagaimana? Dan, yang paling penting, berapa lama PG itu bisa bertahan?

Belajar dari kasus pabrik gula di Sidoarjo (Jawa umumnya), industri yang berbasis pertanian tidak akan bisa bertahan lama. Beda dengan industri logam atau kimia yang tahan zaman. Berdasar pengalaman, petani biasanya hanya bertahan satu atau dua generasi. Anaknya si petani bisanya bertekad tidak akan pernah jadi petani kayak orang tuanya.

Beda dengan dokter yang selalu ingin anak, cucu, cicit, dst mengikuti jejak eyangnya sebagai dokter.

2 comments:

  1. Siapakah Dewan gula yang mendesak pemerintah membangun pabrik gula baru ? Apa gunanya pabrik baru, jika tidak ada bahan bakunya ?
    Menanam tebu lebih mudah daripada menanam padi, tetapi memanen tebu dengan cara di Indonesia, sangat sengsara dan memeras tenaga.
    Siapakah yang sudi anak- dan cucu-nya menjadi kuli penebang tebu ? Barang siapa yang mengenal lapangan, kondisi, perkebunan tebu di Indonesia akan ingat pidato presiden Sukarno; " exploitation de l'homme par l'homme ".
    Membangun pabrik gula semudah membalikkan tangan, tinggal pesan dan membeli dari Korea, Jepang atau China. Yang prioritas adalah modernisasi infrastuktur diperkebunan tebu.
    Saya menulis ini, bukannya sok serba tahu, tetapi setelah mendengarkan keluhan abang-saya selama 30 tahun. Abang-saya spesialis pengangkutan-pengiriman panenan tebu kepabrik gula.
    Tiga bulan sebelum engkoh meninggal dunia, dia masih berpesan kepada saya : Kalau di Eropa ada Traktor besar bekas yang dijual, tolong lu belikan gua satu unit, lalu kirim ke Indonesia.
    Koh, untuk apa lu beli traktor ? Untuk menarik truck2-gua yang tenggelam dikubangan lumpur perkebunan tebu !
    Aduh Koh, mengapa lu tidak berhenti saja ngangkut tebu ? Habis lu suruh gua kerja apa ! Lu berhenti saja bekerja, kalau lu butuh uang, biarlah gua yang membantu. Ah, tidak enak kalau nganggur dan tergantung sama orang lain, walaupun saudara sendiri ! Ya, begitulah ajaran moral & etika Cina, 道 德 .

    ReplyDelete
  2. Klo ada pabrik yg mau di bongkar/ dijual dgn mesin2nya khusus daerah surabaya dan sekitarnya..hubungi no 082234439291..trims

    ReplyDelete