08 July 2015

Orang Timor Nginang di Surabaya

Pagi ini, 8 Juni 2015, saya dapat pengalaman menarik saat ngopi, baca koran Jawa Pos, usai nggowes sepeda pancal di wilayah Ngagel, Kertajaya, Karangmenjangan, kembali ke Pucang. Tiba-tiba datang seorang laki-laki potongan Flobamora (nama lain NTT: Flores Sumba Timor Alor). Dia mendekat dan duduk di samping saya.

Mulut laki-laki itu kemerahan, kunyah terus. Hehehe... jadi ingat kampung halaman Lembata, Flores Timur, dan NTT umumnya. Sudah pasti bung ini orang Timor atau Sabu atau Rote. "Bung dari Timor kok?" tanya saya.

"Betul. Beta asal Soe," jawabnya mantap. Soe ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan, salah satu kabupaten di Pulau Timor, NTT.

Obrolan makin lancar, pakai bahasa Melayu Kupang: beta, sonde, kermana, selalu pakai e benar meskipun logat bahasa Indonesia yang benar seharusnya e pepet. Bung Melki namanya, baru dua bulan bekerja di sebuah ekspedisi di Pucang. Tapi dia tidak kerasan dengan gaji Rp 70 ribu atau Rp 80 ribu sehari. Kalo sonde kerja ya sonde dapat uang.

"Hari Sabtu beta mau pigi ke Malaysia. Beta biasa pegang ringgit. Pegang uang rupiah beta rasa sonde senang. Uang rupiah cepat habis na," kata bung Melki nerocos terus.

Kayaknya senang dapat teman bicara sesama orang NTT. Bung ini cerita banyak pengalaman merantau di Malaysia Timur, kemudian Malaysia Barat, pulang ke NTT, uang habis.. transit sebentar di Surabaya, lalu balik lagi ke Malaysia. Beta senang dengar dia punya cerita yang lucu, sedih, tragis, apa adanya.

Tapi beta lebih tertarik dengan bung Melki punya kecanduan makan sirih pinang. "Beta lebih baik sonde (tidak) makan dua hari daripada sonde makan sirih pinang. Beta sonde tahan kalau sonde makan sirih pinang," ujar bung Melki yang membuat saya tertawa ngakak. Orang-orang di warung kopi ini (kebetulan banyak yang tidak puasa) rupanya heran mengapa dua orang NTT ini ngobrol asyik dan ketawa sendiri.

Rupanya bung Melki baru saja jalan-jalan ke Pasar Pucang. Ketemulah ia dengan daun sirih, pinang, kapur dsb di lapak penjualan bunga untuk kebutuhan nyekar di makam. Si pedagang heran melihat Melki membeli bahan-bahan nginang itu. Karena di Jawa tidak ada kebiasaan nginang, Melki berusaha mencari kapur yang aslinya untuk bangunan.

"Kapur di sini makan kitong punya mulut. Beda dengan kapur di NTT," katanya. Hehehe... Ya jelas beda bung! Mengunyah kapur bangunan jelas bisa merusak mulut, lidah, dsb. Tapi Melki punya strategi untuk menjinakkan kapur ganas di Surabaya.

"Bung sonde merokok? Merokok kan bisa mengganti sirih pinang? Kalau bung pigi Malaysia, sonde ada sirih pinang, bung makan apa?" pancing saya.

"Oh, di Malaysia juga banyak sirih pinang. Lebih gampang cari sirih pinang di Malaysia daripada di sini. Di Surabaya ada tapi sirihnya sirih liar. Beda dengan sirih di beta pu kampung yang rasanya enak," kata bung Melki yang mulutnya makin memerah karena nginang itu.

Bung Melki mengaku harus sangat hemat agar bisa nginang setiap hari. Dia bilang cukup dengan Rp 2000 bisa nginang dua hari. Kalau merokok, tidak akan cukup sehari Rp 10 ribu. "Kalau beta disuruh pilih merokok atau siring-pinang, beta pilih sirih-pinang. Beta sonde bisa lepas," katanya tetap tersenyum.

Beta jadi ingat suasana di luar terminal Pelabuhan Tenau, Kupang, beberapa waktu lalu. Sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal, wow... betapa banyaknya manusia-manusia Flobamora yang nginang. Tua muda, laki perempuan, ramai-ramai nginang.

"Orang Timor, Sabu Rote memang tidak bisa lepas dari sirih pinang. Kecanduan seperti narkoba," kata seorang teman dari Flores Timur yang sudah karatan di Kupang.

Di Flores, khususnya Kabupaten Lembata dan Flores Timur, budaya nginang lebih banyak dilakoni ibu-ibu dan nenek-nenek. Jarang sekali ada laki-laki yang nginang. Wanita pun makin lama makin meninggalkan tradisi lama itu. Saya perhatikan wanita yang kelahiran di atas tahun 1980 sangat jarang yang makan sirih-pinang. Apalagi yang lahir tahun 1990an dan 2000an. Wanita-wanita muda di kampung sekarang ini lebih banyak makan pulsa seluler.

"Bang, tolong isi pulsa sedikit," begitu bunyi SMS khas dari kampung.

Beda banget dengan pesan zaman dulu: Kalau pulang kampung, jangan lupa beli sirih pinang!

Bung Melki yang asli Soe ini meskipun sudah sering merantau ke Malaysia, Surabaya, Pontianak, rupanya masih setia melestarikan tradisi nenek moyang Flobamora. Dia sonde peduli rokok, pulsa, pokoknya nginang nginang nginang... nginang terus.

Bung Melki, selamat berjuang di Malaysia, banyak ringgit, dan tetap kunyah sirih pinang!

No comments:

Post a Comment