10 July 2015

Musim dingin di tengah kemarau yang bikin sakit

Musim dingin sedang terjadi di Jawa Timur sejak pertengahan Juni lalu. Bulan Juli 2015 ini puncaknya "musim dingin" di Surabaya dan Sidoarjo, kota pesisir yang terkenal sebagai daerah panas. Tapi musim dingin hanya terjadi malam hari.

Siang hari panas nian. Rumput-rumput kering, banyak tanaman mati kepanasan, kebakaran lebih sering terjadi. Kalau tidak salah suhu siang hari bisa tembus 37 derajat Celcius. Panas yang sangat kering. Beda dengan sumuknya Surabaya saat musim hujan.

Setelah umat muslim buka puasa, terjadi perubahan temperatur yang drastis. Makin malam makin dingin. Saya pun mengigil ketika tidak pakai jaket saat melintas dari Sidoarjo ke Surabaya pukul 00.30. Jelang dinihari angka di termometer bisa 23 derajat. Ada teman yang bilang suhu pernah tembus 20 derajat. Silakan mandi tengah malam!

Tahun 2015 ini kontras panas siang dan malam yang dingin (lebih tepat sejuk) lebih terasa. Tahun lalu, 2014, rasanya tidak seekstrem tahun ini.

Maka, kondisi tubuh saya drop. Biasanya paling tahan flu, kali ini kena flu yang parah. Sudah satu minggu gak sembuh-sembuh. Badan panas, hidup tersumbat, tenggorokan sakit, malam bicara karena pita suara pun ikut terimbas "musim dingin" yang selalu jatuh pada musim kemarau itu.

Musim bediding! Itulah nama musim dingin di Jawa (pada malam hari) dan ekstrem panas pada siang hari. Debu-debu beterbangan karena tak ada setitik air, apalagi hujan, membasahi bumi. Tanaman-tanaman yang rajin kita sirami pun terlihat seperti tidak pernah disiram.

Setiap bulan Juni hingga Agustus selalu terjadi musim bediding yang bikin kita kedinginan itu. Bukankah sejuk itu bagus? Tidak perlu jauh-jauh ke Prigen, Pacet, atau Batu hanya untuk mencari hawa sejuk? Benar. Namun, sejuknya bediding ini bisa membuat kita keok jika kondisi tubuh tidak kuat menghadapi perbedaan suhu yang ekstrem antara siang dan malam.

No comments:

Post a Comment