19 July 2015

Macet abadi di Tanahmerah Bangkalan



Jauh sebelum ada jembatan Suramadu, jalan raya di Tanahmerah Bangkalan selalu macet. Anak kecil pun tahu penyebabnya adalah pasar tradisional di kiri kanan jalan plus tumpah ke badan jalan. Anehnya, dari dulu Pemerintah Kabupaten Bangkalan tak punya solusi cerdas. Pasar dibiarkan semrawut, jalan raya antarkabupaten pun dibiarkan macet.

Setelah jembatan Suramadu dioperasikan, otomatis volume kendaraan dari Surabaya ke Madura meningkat drastis. Bisa empat atau lima kali lipat dibandingkan sebelum ada jembatan di atas laut sepanjang 5,4 km itu. Tapi rupanya Bupati Fuad Amin, yang sekarang ditahan KPK karena korupsi, tak banyak action. Tak ada penertiban pedagang, relokasi pasar, atau bikin semacam jalan arteri di Tanahmerah.

Tidak jelas apa saja yang dilakukan Bupati Fuad selama 10 tahun jadi bupati Bangkalan. Sebab, kondisi jalan raya di wilayahnya tak banyak berubah dibandingkan zaman Orde Baru. "Orang Madura itu ngeyel, sulit ditertibkan," kata kenalan yang asli Pamekasan.

Kalau sulit ditertibkan, mengapa cuma Bangkalan saja yang semrawut? Kabupaten Sampang, Pamekasan, dan Sumenep kok bisa lancar dan tertib? Bangkalan pun sebenarnya cuma di Tanahmerah dan sedikit di Galis, yang juga punya pasar di pinggir jalan?

Setelah Fuad Amin lengser, bupati Bangkalan diganti anaknya, Momon. Masuk rekor Muri sebagai bupati termuda di Indonesia, usianya 20-an tahun. Fuad Amin jadi ketua DPRD Bangkalan sebelum dicokok KPK.

Momon belum lama jadi bupati. Kinjerjanya belum bisa dinilai sekarang. Tapi, berbeda dengan para bupati di Jawa Timur (luar Pulau Madura) yang selalu habis-habisan memperbaiki lancar untuk kelancaran arus mudik dan balik Lebaran, Pemkab Bangkalan seperti tenang-tenang saja. Sumber utama kemacetan di Pulau Madura, kawasan Tanahmerah, tidak diapa-apakan.

Maka, sudah pasti kemacetan terjadi setiap saat di pasar lama itu. Khususnya di saat arus mudik ini. Puluhan polisi tak bisa berbuat banyak karena jalan alternatif tidak ada. Jalan lewat kampung tidak mungkin dilewati mobil. Sepeda motor pun sulit melintas karena terlalu banyak lubang dan batu-batuan tajam berwarna putih.
Setelah saya blusukan ke jalan kampung ini, sebetulnya dinas PU bina marga Bangkalan bisa dengan mudah meningkatkan jalan desa ini menjadi jalan alternatif. Semacam arteri di Tanahmerah. Hanya dengan sedikit sentuhan, pengerasan, disiram aspal, sudah bagus. Jaraknya pun tak sampai lima kilometer. Akan lebih bagus lagi kalau dibeton agar kuat.

Bukankah Bangkalan dapat dana bagi hasil gas yang besar? Investasi juga berdatangan setelah ada Suramadu. Ke mana larinya duit-duit itu? Mungkin pemkab punya proyek lain yang dianggap lebih penting ketimbang menyelesaikan kemacetan abadi di Tanahmerah.

Menjadikan jalan desa sebagai arteri juga tidak perlu menggusur rumah-rumah penduduk. Sebab, jalannya sudah ada. Beda dengan arteri Porong yang terpaksa menggusur tanah dan bangunan ratusan warga. Pemkub cukup memperlebar jalan agar bisa dilalui kendaraan roda empat dua arah.

Anehnya, selama ini para tokoh, ulama, pengamat, LSM, budayawan setempat lebih sibuk bicara soal gerbangsalam, perda syariat, industrialisasi dan maksiat, tapi lupa membahas kemacetan di Tanahmerah.

Semoga Bupati Momon yang masih sangat muda, masih banyak energi, mau mengatasi persoalan lama di Tanahmerah. Sebelum masa jabatannya berakhir. Syukur-syukur tahun depan arus mudik Lebaran tidak nyantol lagi di Tanahmerah.

4 comments:

  1. iya nih..jalur biasa aja macetnya minta main.. apalagi arus mudik.. gak kebayang dahhh.. woyy pak bupati.. tolong kenapa ini.. buat kasus macet di tanah merah

    ReplyDelete
  2. Jangan berharap terlalu banyak dr keturunan koruptor. Pak Lambertus, anda ini cocoknya menjadi staf ahli walikota atau bahkan gubernur. Karena Anda suka blusukan dan mampu menganalisa permasalahan dengan tepat

    ReplyDelete
  3. Harapan tinggal harapan. Kemacetan di pasar tanahmerah masih stabil. Bahkan lebih parah. Pemkab Bangkalan belum melakukan apa2 selain polisi yg diturunkan utk mengatur lalu lintas. Kamis lalu ada ratusan kendaraan warga tionghoa yg menuju ke Kelenteng Kwan Im Kiong di Pamekasan juga terkena macet parah.

    Kita tidak perlu jadi staf ahli bupati untuk melihat permasalahan kronis di depan mata hehe... Solusinya pun sudah jelas. Sebaiknya pasar itu direlokasi agak masuk dari jalan raya trans Madura itu. Dulu Pasar Porong di Sidoarjo juga mirip Tanahmerah dan Gelis di Bangkalan tapi tidak separah di Madura itu. Pasar Porong kemudian digeser sekitar 1,5 km ke barat jalan raya. Kemudian terjadi lumpur Lapindo, pasar baru itu jadi tempat penampungan ribuan pengungsi. Pasar lama lalu dibongkar dijadikan taman yg luas dan indah.

    Kalau pasar gak boleh dipindah ya bikin jalan arteri kayak Porong juga. Lebih mudah karena jalan desanya sudah ada dan cukup lebar. Jalan itu aja yg ditingkatkan, dilebarkan sedikit dan dimuluskan. Insyallah, desa yg dilalui jalan arteri itu bakal cepat maju. Saat ini kondisinya masih sangat parah jalan maupun kampungnya.

    Sayang banget, pembangunan jembatan suramadu tidak didukung pengembangan infrastruktur jalan raya di pulau madura.

    ReplyDelete
  4. Memang di sayangkan, kabupaten sebagai akses masuknya pulau madura, di kelola para koruptor.. problem kecil tapi terus diabaikan shg menjadi kronis.. smoga cepat sadar para penguasanya..

    ReplyDelete