29 July 2015

Ludruk makin ditinggalkan penonton



Secara umum kondisi ludruk di Kabupaten Sidoarjo senen-kemis. Dari 20-an grup ludruk yang tercatat di Disporabudpar Sidoarjo, tak sampai lima grup yang aktif menggelar pertunjukan.

Ludruk Irama Baru di kawasan Balongbendo tergolong istimewa. Pada bulan Syawal ini Irama Baru memiliki enam tanggapan. Sebelum puasa lalu, tepatnya bulan Ruwah, ludruk pimpinan Hadi Wijaya itu bahkan main sembilan kali dalam sebulan.

"Sangat bagus kalau sebuah grup ludruk dapat tanggapan sampai sembilan kali sebulan," kata Prof Dr Henricus Supriyanto, pakar ludruk dari Universitas Negeri Surabaya kepada saya.

Berdasar pengamatan Henri, sapaan akrab Prof Henricus Supriyanto, krisis yang dialami kesenian tradisional di Jawa Timur, khususnya ludruk, sudah lama terjadi. Bahkan, sejak zaman Orde Baru ludruk-ludruk yang ada mulai ditinggalkan penontonnya. Apalagi setelah bermunculan televisi swasta di tanah air.

Masyarakat punya begitu banyak alternatif hiburan tanpa harus keluar rumah. Di sisi lain, kualitas permainan ludruk-ludruk yang ada tak bisa mengimbang masyarakat yang semakin maju dan modern. "Terus terang, seniman-seniman ludruk kita tidak kreatif," kata pria yang dijuluki doktor ludruk itu.

Miskinnya kreativitas itu terlihat dari gaya lawakan hingga adegan di atas panggung yang begitu-begitu saja. Kurang menyesuaikan diri dengan selera dan karakter penonton yang sudah jauh berubah.

Grup-grup yang mampu bertahan pun terpaksa lebih banyak mengeksploitasi dagelan, memperbanyak tandak, dan nyanyian. Begitu lawakan selesai, penonton ramai-ramai meninggalkan arena pertunjukan. "Karena memang tidak menarik. Ini masalah kreativitas seniman-seniman ludruk itu sendiri," kata profesor yang pernah menjadi pemimpin grup ludruk itu.

Masih banyak kelemahan lain yang disebut Prof Henri. Termasuk ketiadaan organisasi yang menjadi jujukan ludruk-ludruk di Jatim. Yang terjadi sekarang grup ludruk ibarat perusahaan yang dikendalikan oleh juragannya. Beda dengan ludruk-ludruk pada era 1960-an dan awal 1970-an yang selalu dipadati penonton.

Meski begitu, Prof Henri mengaku optimistis akan terjadi kebangkitan ludruk di Jatim yang dimotori seniman-seniman generasi muda. Gaya ludruk modern itu nantinya jauh berbeda dengan ludruk-ludruk lawas yang senen-kemis itu.

Di tangan anak-anak muda berpendidikan tinggi, melek teknologi, paham selera penonton, ludruk yang merupakan kesenian rakyat khas Jatim itu bakal mendapat tempat lagi di masyarakat. "Saya optimistis ludruk tidak akan hilang. Cuma modelnya saja yang disesuaikan dengan perkembangan zaman," katanya.

No comments:

Post a Comment