17 July 2015

Libur Lebaran, Gunung Raung, Pamekasan

Tiket pesawat ke Kupang, NTT, di musim Lebaran ini Rp700an. Jauh lebih murah ketimbang musim libur Natal dan tahun baru yang hampir Rp 1500. Sekitar lima tahun lalu tiket Lion Air rute Surabaya-Kupang cuma Rp 340an. Lebih murah ketimbang ke Jakarta.

Sayang, peluang untuk memanfaatkan libur Lebaran yang cukup lama, dan serentak, itu dijegal oleh Gunung Raung. Gunung yang tidak begitu terkenal dan dilupakan orang karena jarang membuat berita. Beda dengan Kelud atau Merapi yang memang news maker. Tapi si Raung ini sekali meraung membuat ratusan penerbangan di Juanda, Malang, Bali, Lombok, Banyuwangi... terganggu.

Beda dengan letusan Kelud yang dahsyat, tapi jauh dari jalur penerbangan. Begitu juga Merapi yang jauh di Jogja. Gunung Raung membuat warga yang ingin terbang ke Bali, Lombok, Kupang... gigit jari. Mengapa erupsi kok pas cuti bersama? Libur Lebaran? Rupanya Gunung Raung berhasil mencuri perhatian kita yang sudah lama mengabaikan gunung setinggi 3,3 km di kawasan Bondowoso itu.

Apa boleh buat. Safety first! Keselamatan adalah segalanya. Apalagi untuk pesawat terbang. Kita belum lupa Hercules di Medan atau AirAsia yang pilotnya belum ditemukan sampai sekarang.

Apa boleh buat, kita dipaksa alam untuk mengisi liburan Idulfitri ini dengan cara lain. Banyak objek wisata di Jawa Timur yang belum kita nikmati. Kota-kota kecil yang menunggu didatangi.

Maka, ketimbang mikirin Raung yang tak menentu, saya memutuskan jalan-jalan ke Madura. Bertemu Pak Kosala Mahinda, pemilik Kelenteng Kwan Im Kiong di pantai Talangsiring, Pamekasan, yang sangat terkenal di kalangan warga Tionghoa. Kelenteng ini punya tempat ibadah untuk 5 agama: Buddha, Tao, Konghucu, Islam, dan Hindu.

"Libur Lebaran ini saya malah sangat sibuk karena banyak tamu dari jauh. Kebanyakan dari Jakarta dan sekitarnya," kata Pak Kosala sambil tersenyum.

Beberapa rombongan dari Jakarta memang sudah bermalam satu dua hari di Kwan Im Kiong. Tidak perlu khawatir, ada penginapan yang bisa menampung 1000 orang. Ada kantin untuk makan minum. Semuanya komplet. Setiap tahun kelenteng di Desa Polagan, dekat hutan bakau ini, mengadakan tiga hajatan besar yang semuanya terkait Dewi Kwan Im.

"Kalau perayaan Dewi Kwan Im saya sediakan konsumsi untuk ribuan umat yang ke sini. Makan, minum, penginapan gratis. Kalau sekarang penginapannya gratis, tapi makan minumnya silakan bayar sendiri di kantin," kata Pak Kosala yang alumnus Universitas Kristen Petra Surabaya.

Rombongan dari Jakarta ini ada yang rutin ke Kwan Im Kiong Pamekasan, tapi lebih banyak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Madura. Semuanya mengaku jauh-jauh dari Jakarta, macet berjam-jam bersama para pemudik, tidak sekadar berlibur atau bertualang, tapi untuk pencerahan. "Suasananya sangat bagus untuk refreshing dan pencerahan. Kita butuh keheningan seperti ini," kata seorang bapak yang datang bersama istri, dua anak, dan mertuanya.

Selain Kosala dan 20 karyawan, Kwan Im Kiong (penduduk setempat menyebut Vihara, bukan kelenteng) tidak punya biarawan/biarawati atau pembimbing rohani macam di tempat retret Katolik. Pengunjung bebas melakukan ritual, sembahyang, meditasi, atau sekadar duduk-duduk menikmati nyanyian alam, burung berkicau, dan aroma garam dari kawasan sekitar kelenteng.

Pengunjung yang beragama Hindu juga bisa melakukan ritual di pura yang baru direnovasi. Pura satu-satunya di Pulau Madura itu dekat dengan vihara dan lithang (tempat ibadah Konghucu). Yang Islam juga bisa salat di musala, tak jauh dari pagoda. Yang Kristen belum ada gereja atau kapel. Cukup jalan-jalan, membaca buku, atau meditasi di mana saja.

Di Kwan Im Kiong ini saya menikmati liburan yang agak anti-mainstream. Bertemu orang-orang Jakarta yang sengaja menghabiskan waktu dengan meditasi meditasi meditasi. Saya pun mencoba belajar meditasi tapi betapa sulitnya. Pikiran cepat melayang ke mana-mana, sulit dikendalikan.

No comments:

Post a Comment