16 July 2015

Lebaran serentak lebih baik

Syukurlah, Idulfitri 1436 bisa dirayakan serentak. Penetapan Lebaran versi Muhammadiyah yang sudah dilakukan jauh hari sebelumnya akhirnya dikonfirmasi dalam sidang isbat yang dipimpin menteri agama. Muhammadiyah dari dulu pakai hitungan astronomis, tidak pakai lihat hilal, dsb.

Versi Muhammadiyah tidak perlu teleskop yang mahal dan canggih. Tidak perlu petugas yang memantau hilal di puluhan atau ratusan titik di seluruh Indonesia. Sangat hemat. "Kami juga melihat hilal, tapi melihat pakai ilmu. Tidak perlu melihat pakai mata atau teropong. Toh, hasilnya insyallah sama," kata teman saya yang Muhammadiyah.

Sudah lama negara-negara maju, termasuk Tiongkok, bersaing untuk misi luar angkasa. Kirim astronot ke planet lain. Bukan cuma bulan yang paling dekat bumi. Bahkan para ilmuwan terus bikin riset agar, siapa tahu, manusia bisa hidup di planet lain. Lha, kok kita di Indonesia setiap tahun masih ribut soal anaknya bulan alias hilal itu!

Seandainya sidang isbat, yang juga diikuti pengurus Muhammadiyah, menetapkan Idulfitri jatuh pada 18 Juli 2015, apakah umat Muhammadiyah juga berlebaran pada tanggal itu? Pasti tidak. Apa pun hasil isbat, Muhammadiyah (dan beberapa ormas Islam lain) punya ketentuan sendiri. Kalau tahun 2015 ini tanggal Idulfitrinya sama, itu semata-mata karena alasan konjungsi, ketinggian, dan umur si anak bulan tadi.

Maka, kalaupun si hilal tidak bisa dilihat dengan mata/teropong, Muhammadiyah akan tetap berlebaran pada 17 Juli 2015. Sementara versi pemerintah (menag) tentulah keesokan harinya. Digenapkan jadi 30 hari puasanya.

Meski bukan muslim, sehingga tak punya kepentingan langsung dengan sidang isbat, saya sejak dulu sering merenung sendiri. Misalkan suatu ketika menteri agamanya orang Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin dari NTB itu, bagaimana dengan sidang isbat? Sang menteri manut dengan ormasnya atau mengikuti suara mayoritas ormas?

Andaikan Idulfitrinya berbeda, apakah sang menteri yang Muhammadiyah itu melaksanakan salat Id pada tanggal versi pemerintah atau Muhammadiyah? Posisi sang menteri jadi serba sulit, bak makan buah simalakama.
Lalu, apakah sidang isbat itu masih diperlukan ketika beberapa ormas Islam sudah menetapkan tanggal Idulfitri sendiri? Dan mereka tak akan terpengaruh dengan versi pemerintah? "Pemerintah cukup menetapkan hari libur nasional. Tidak usah menetapkan tanggal Idulfitri," kata seorang tokoh Muhammadiyah beberapa tahun lalu ketika terjadi perbedaan hari Lebaran.

Tapi jauh lebih banyak tokoh muslim, ulama, khususnya nahdliyin, yang ingin agar pemerintah memimpin sidang isbat, menetapkan Idulfitri, Iduladha dsb seperti selama ini. Sebab pemerintah itu ulil amri. Indonesia yang 90 persen penduduknya Islam sangat memerlukan pimpinan dari ulil amri atau pemerintah. Apa jadinya kalau ormas Islam menetapkan Lebaran sendiri-sendiri?

"Indonesia ini sangat beda dengan Malaysia. Malaysia itu negara Islam, ada mutfi yang punya otoritas untuk menentukan kapan Idulfitri. Dan semuanya manut. Di Indonesia tidak bisa begitu," kata Prof Azyumardi Azra di Metro TV sekitar setengah jam lalu.

Mengikuti uraian Prof Azyumardi yang bernas itu, tampaknya ormas-ormas Islam belum bersepakat soal kriteria hilal, ketinggian, harus dilihat atau tidak, dsb. Selama kriteria atau parameter astronomis ini belum disepakati, kata beliau, umat Islam akan selalu deg-degan menunggu pengumuman hasil sidang isbat.

"Saya sering ditanya kapan Idulfitri ya nggak bisa jawab. Saya hanya bilang, kalau Anda Muhammadiyah ya 17 Juli, tapi kalau bukan ya tunggu sidang isbat," kata Azyumardi Azra yang tulisan-tulisannya selalu saya ikuti itu.

Akhirnya, selamat Idulfitri 1436 untuk umat Islam di seluruh Indonesia! Mohon maaf lahir dan batin!

No comments:

Post a Comment