11 July 2015

Kuliah ekonomi Dr Darmin Nasution di televisi



Sudah sangat lama kita tidak menyaksikan diskusi ekonomi yang dalam di televisi. Sudah lama TV-TV nasional lebih asyik memberi tempat untuk guyonan (yang tidak lucu), gosip artis, talkshow dangkal, sinetron yang gitu-gitu aja, debat hukum ala pokrol bambu.

Tidak ada acara yang agak berat macam kuliah ekonomi Prof Sumitro di TVRI masa lalu. Atau keterangan Prof Sadly, Dr Radius Prawiro, Dr Ali Wardana, Dr Hartarto dsb dsb. Atau keterangan Prof Subroto soal harga minyak, OPEC, dsb. Obrolan ekonomi kelas berat itu sih cerita lawas. Ketika negara Orde Baru sangat kuat dan TVRI jadi satu-satunya televisi di Indonesia.

Karena itu, dua hari lalu saya terkejut menyaksikan kuliah ekonomi Dr Darmin Nasution yang disiarkan langsung di Metro TV dan Kompas TV. Benar-benar kejutan! Pak Darmin bicara di depan Presiden Jokowi, menteri-menteri, pengusaha-pengusaha top, para VVIP di negeri ini. Saya juga baru tahu kalau Dr Darmin Nasution ternyata seorang dosen yang sangat hebat.

Kuliah ekonominya sangat dalam. Pakai data. Statistik. Kurva naik, turun. Tapi bahasanya dibuat sederhana dan jernih. Ketua ISEI ini menyampaikan perkembangan ekonomi dunia, tren ekonomi Indonesia, menyoroti berbagai ketimpangan dengan bahasa halus. Tapi juga mengapresiasi langkah-langkah pemerintahan Jokowi selama ini meski tidak menggembirakan.

Ulasan Dr Darmin Nasution yang tajam mengingatkan saya pada begawan ekonomi Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo di masa lalu. Juga teknokrat-teknokrat ekonomi Orde Baru. Oh ya, Prof Emil Salim yang juga piawai bicara ekonomi kelas berat juga hadir di seminar ini. Beliau manggut-manggut, sesekali merengut dan tersenyum.

Syukurlah, saya yang tidak biasa nonton TV siang hari, entah kenapa, tiba-tiba menyetel Metro TV. Sehingga bisa ikut menikmati kuliah ekonomi Darmin Nasution yang bagus itu. Syukurlah, masih ada TV yang mau memberi slot waktunya untuk tayangan berat tanpa iklan itu. Salut untuk Metro TV dan Kompas TV.

Selama ini dialog ekonomi bukannya tidak ada di televisi. Tapi program itu sifatnya obrolan, dikemas ringan, ala hiburan, dan cenderung di permukaan. Televisi hanya membutuhkan pengamat-pengamat yang bicara cepat, nerocos, nyelekit, pokoke rame. Bukan pengamat tipe dosen kelas berat macam Prof Sumitro atau Dr Darmin Nasution.

Setelah mendengarkan kuliah di televisi itu, saya berpendapat Presiden Jokowi rugi besar kalau tidak menarik Darmin Nasution sebagai menteri senior atau menteri perekonomian atau posisi lain di tim ekonomi. Sayang banget, begawan-begawan seperti Pak Darmin tidak dimanfaatkan jasanya untuk Indonesia.

5 comments:

  1. Tokoh ekonomi yang ditarik ke kabinet itu tergantung kebijakannya nanti bisa menguntungkan partai pendukung atau tidak. Jokowi boleh berkeinginan, tetapi Megawati dan Surya Paloh bisa mem-veto. Seperti Sri Mulyani dulu, kurang apa? Pandai, bersih, berani bertindak, dan cekatan. Tetapi, karena beliau berseberangan dengan Ketua Golkar Aburizal Bakrie, ya gak bisa. Masa beliau berani tagih ARB, mau suruh dia bayar tunggakan pajak Bakrie yang trilyunan? Masa beliau berani tolak ARB mau masukkan dana talangan Lapindo ke APBN? Ya pasti Golkar bikin perkara di parlemen, dicarikan kasus ini kasus itu. Bahkan bekas bos beliau mantan Wapres Budiono pun dibidik. JK pun mau menyingkirkan SMI. SBY pun tak berkutik setelah ARB tak bisa dikendalikan. SMI yang mau berbakti untuk negara pun terpaksa menerima posisi sebagai petinggi Bank Dunia dengan gaji yang jauh lebih tinggi (ironis kagak?). Reformasi belum selesai, terus berjuang.

    ReplyDelete
  2. Maaf saya taunya pak Darmin belom Profesor, dia masih Doktor dari Sorborn University, France. Memang beliau dahulunya dari Lulusan Ekonomi Universitas Indonesia. Sri Mulyani pernah menjadi Sekertaris beliau saat menjabat Ketua LPEM dari Universitas Indonesia.Sayang sekali saya tidak liat program trsbt. di Metro TV. Kalau melihat rekam jejaknya beliau termasuk orang yang tidak punya ambisi, apalagi untuk menjadi seorang menteri, banyak orang yag miss kepadanya ketika ada beberapa kasus perpajakan di Indonesia, memang dia pernah menjabat Dirjen pajak,tetapi pada era dia hal hal tsbt belum ada, atau mungkin saja belum diketahuinya.

    ReplyDelete
  3. Wkwkwkwk, rupanya Jokowi membaca blog Bung Lambertus!

    ReplyDelete
  4. hehehe... bukan Jokowi yg baca blog ini tapi saya yg bisa membaca isyarat Jokowi waktu membawa semua menterinya untuk dikuliahi Dr Darmin Nasution di forum ISEI. Itu sinyal yg sangat jelas bahwa Pak Darmin tidak lama lagi akan dipercaya menduduki jabatan sangat penting di tim ekonomi Jokowi. kamsia

    ReplyDelete
  5. Wih pak Darmin mah bukan orang partai, dia tidak punya kepentingan untuk membangun partai. Sepertinya banyak orang partai atau pengusaha Indonesia yang tidak senang sama beliau. Karena banyak kepentingan mereka yang 'Tidak' bisa berjalan oleh kebijakan yang diambil pak Darmin.Hahhhaha...

    ReplyDelete