16 July 2015

Idulfitri tanpa spasi

Sudah lama pusat bahasa, juga beberapa pakar bahasa, menyerukan agar kata Idulfitri ditulis serangkai (tanpa spasi). Bukan Idul Fitri. Tapi kampanye yang cukup gencar sejak 20-an tahun lalu itu gagal. Sebagian besar media massa tetap menulis dua kata: Idul Fitri (pakai spasi).

Mengapa Idulfitri tanpa spasi?

Begini penjelasan pusat bahasa. Idulfitri merupakan kata serapan dari bahasa Arab: Id al-fitr. Artinya, hari raya berbuka atau makan dan minum setelah sebulan berpuasa.

Karena Id atau Idul dalam bahasa Arab merupakan bentuk terikat, maka penulisannya tanpa spasi alias melekat pada kata -fitri atau -adha. Jadi Idulfitri dan Iduladha. Bukan Idul Fitri dan Idul Adha.

Karena Idul berarti hari raya, kita tidak perlu mengatakan, "Selamat hari raya Idulfitri!" Cukuplah "selamat Idulfitri!" Lebih singkat, hemat kata dan aksara.

Mengapa kampanye Idulfitri ini gagal? Menurut saya, penyuluhan bahasa Indonesia soal Idulfitri dan Iduladha itu hanya dilakukan lewat selebaran tipis yang dibagikan kepada beberapa wartawan yang kebetulan mampir ke balai bahasa (cabang pusat bahasa di tingkat provinsi). Koran-koran besar macam Kompas dan Jawa Pos tidak diajak sosialisasi.

Kompas malah konsisten dengan Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan, ada kecenderungan kata-kata majemuk yang selama puluhan tahun tanpa spasi dibuat terpisah oleh redaksi Kompas. Contoh: sepakbola jadi sepak bola, bulutangkis jadi bulu tangkis. Kompas juga sengaja tidak mengikuti ketentuan Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk beberapa kata. Contoh: hektare (KBBI) jadi hektar, silaturahmi (KBBI) jadi silaturahim.

Beberapa kasus kecil tapi sangat mendasar ini semakin menunjukkan betapa sulitnya membuat standar bahasa Indonesia. Tidak ada otoritas bahasa meskipun sejak Orde Baru sudah ada lembaga yang bernama pusat bahasa. Karena itu, bahasa Indonesia yang cenderung labil, tidak konsisten, asal paham mustahil jadi bahasa internasional.
Jangankan cuma masalah spasi atau tanpa spasi untuk Idulfitri, menentukan kriteria hilal untuk Idulfitri saja tidak pernah ada kata sepakat di Indonesia.

1 comment:

  1. Kailasa Tour and Travel12:59 PM, July 21, 2015

    om hurek, translasi bahasa Arab ke dalam huruf Latin memang sangat rumit... karena kebetulan bahasa dan huruf Arab tidak mengenal spasi dan ada partikel "al" yg bisa berubah jadi "il" atau "ul" dan dilekatkan ke konsonan sebelumnya (dan bisa berubah jadi "as", "ar", "at" tergantung konsonan yg mengikutinya)... ditambah lagi huruf Arab jarang menggunakan vokal...

    contohnya ya kata Idulfitri ini, dalam huruf Latin bisa ditulis jadi "Eid al fitr", "Eid ul fitr", "Eidul-fitr", atau di Malaysia menjadi "Aidil Fitri"... urutan huruf Arab-nya adalah Ain-Ya-Dal-Alif-Lam-Fa-Tha-Ra... "Ain" dan "Ya" kalau digabung bisa dibaca "ai", "ei", atau "ii"... orang2 di luar Arab banyak yg gak mau ambil pusing, di India dan Pakistan hari raya ini cukup disebut "Eid", sedangkan di Turki disebut dgn "Bayram"...

    kasus yg serupa misalnya "Darussalam", kenapa tidak dipisah menjadi "Darus Salam", "Darul Salam", atau seperti nama ibukota Tanzania "Dar Es Salaam"??? sedangkan di negara tetangga, nama2 negeri ditulis seperti "Selangor Darul Ehsan" (bukan Darulehsan) atau "Johor Darul Takzim" (bukan Darultakzim atau Darut-Takzim)...

    dulu juga pernah dibahas di koran Pikiran Rakyat ttg bagaimana mengeja nama mantan penguasa Libya, Muammar Qaddafi... karena banyak media2 yg menulisnya menjadi "Gaddafi" atau "Khadafy"... urutan huruf Arab-nya Alif-Lam-Qaf-Dzal-Alif-Fa-Ya, paling tepat sebenarnya dieja "Al-Qadzafi"...

    ReplyDelete