05 July 2015

Argentina pantas kalah - final Copa America 2015



Apa enaknya menonton sepak bola tanpa gol selama 90 menit? Diperpanjang 30 menit pun masih tetap 0-0? Benar-benar tidak asyik. Hambar. Ibarat sayur tanpa garam. Sudah bela-belain begadang, korupsi jam tidur, laganya membosankan.

Begitulah final Copa America 2015, Cile vs Argentina. Kedua tim nasional yang punya pemain-pemain top dunia, salah satunya super star Messi, gagal menyuguhkan permainan cantik plus gol-gol indah ala Amerika Latin. Mbulet aja, muter-muter, tetap tidak ada gol.

Mestinya setelah imbang 0-0 selama 90 menit ya langsung adu penalti. Seperti aturan federasi balbalan Amerika Selatan di babak penyisihan grup. Eh, ternyata di partai final di Santiago, Cile, ini malah diperpanjang seperti biasanya: 2 x 15 menit.

Berani taruhan, tidak mungkin ada gol! Begitu keyakinan saya. Dan benar... nihil gol. Sang juara harus ditentukan lewat adu penalti. Kalau sudah begitu, saya ingin Argentina dengan sang Messi(ah) perlu dipermalukan. Siapa suruh tidak bisa bikin gol? Buat apa ada Messi, pemain terbaik dunia itu?

Akhirnya, saya bisa tertawa sendiri melihat tendangan Higuain melambung jauh ke langit ketujuh. Selamat untuk Argentina... yang kalah. Messi dkk tertunduk lesu. Betapa sulit membayangkan Argentina bisa memenangi Piala Dunia atau Piala Amerika dalam 10 tahun ke depan.

Dulu Argentina pernah gilang-gemilang ketika ada sang mahabintang Diego Maradona di lapangan. Maradona mencapai puncak keemasan, dengan gol tangan Tuhan yang kontroversial itu, pada usia 25 tahun. Kalau tidak salah usia Messi sudah 28 atau 29. Hanya keajaiban yang bisa membuat Messi bisa meraih dua trofi utama itu bersama tim nasional Argentina.

Messi sepertinya ditakdirkan untuk hanya masuk final (Piala Dunia 2014 ketemu Jerman di final dan kalah). Messi hanya berjaya luar biasa di klub Barcelona. Di Barca, ibaratnya Messi leyeh-leyeh pun sudah menang besar dan juara terus. Sebaliknya, di timnas Messi tidak punya teman main yang benar-benar klik macam di Barca.

Secara umum Copa America 2015 sangat tidak menarik ditonton. Aksi-aksi individual yang ciamik ala Amerika Latin tidak kelihatan. Gaya tarian Samba bahkan sudah lama hilang sepeninggal mas Ronaldinho yang rancak itu. Atau si Kuncung Ronaldo yang haus gol. Atau Romario, bintang lawas Brasil, yang benar-benar saya sukai.

Kalau tidak segera berbenah, bakat-bakat alam yang luar biasa dari Amerika Latin hanya jadi pemasok klub-klub elite di Eropa. Setelah menua di Eropa, mau pensiun baru kembali memperkuat klub-klub setempat yang tidak menarik.

Keperkasaan dan keindahan tim nasional Brasil dan Argentina sepertinya tinggal kenangan. Salam balbalan!

No comments:

Post a Comment