23 July 2015

1979 tahun bencana alam di Flores Timur

Harian Kompas edisi Selasa 21 Juli 1979 memuat arsip berita lawas satu alinea di halaman 1. Judulnya: Gelombang raksasa hantam Flores Timur.

Ceritanya, pada 18 Juli 1979 terjadi tsunami di pantai selatan Pulau Lembata (dulu Lomblen) yang menewaskan 154 warga Waiteba, Lebala, dan Bala. Air laut masuk ke daratan dan menyapu kampung sederhana di pulau yang saat itu masuk wilayah Kabupaten Flores Timur.

Saat itu belum ada telepon seluler. Telepon biasa pun belum masuk Lembata. Listrik pun tak ada. Jaringan jalan pun belum ada. Sehingga tim SAR kesulitan mengevakuasi korban serta membantu warga di lokasi bencana alam. "Kami di Lembata benar-benar takut karena sebagian besar kampung berada di pinggir laut," kata Kopong, warga Lembata di Jawa Timur.

Dulu istilah tsunami belum populer. Warta berita di RRI Kupang menggunakan istilah gelombang pasang. Nah, tsunami ini membuat warga Lembata di pantai selatan dan pantau utara (kampung halaman saya) selalu deg-degan setiap kali melihat gelombang pasang.

Sekitar lima bulan sebelumnya, 27 Februari 1979, juga terjadi bencana alam di Flores Timur yang sangat dahsyat. Banjir bandang, lumpur, batu-batuan menerjang Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Korban jiwanya bukan ratusan, tapi ribuan orang. Kalau tidak salah banjir di Larantuka ini dinyatakan sebagai bencana nasional.

Orang Flores Timur dan Lembata tak akan pernah lupa bencana alam dahsyat di Larantuka ini. Maklum, dulu diciptakan lagu yang sangat populer untuk menggambarkan betapa dahsyatnya bencana alam di kota Reinha (julukan Larantuka). De Rozen Group yang dipimpin MT de Rosary, musisi top asal Larantuka yang sangat terkenal di NTT, menulis lagu yang membuat warga Flores Timur, khususnya Larantuka sering menangis.


Begini antara lain syairnya:

"Dua tujuh malam Rabu
Pebruari bulan itu
Tujuh sembilan yang kelabu
Tak dapat kulupakan

Lumpur batu yang mengganas
Tak berperi dan berbelas
Merenggut harta korban jiwa
Tak dapat kulukiskan...."

Wow, rasanya merinding saat saya menyenandungkan lagu kenangan lama tentang bencana Larantuka itu. Padahal kejadiannya sudah lama sekali. Saya membayangkan wilayah Lohayong yang ditimpuk batu-batu besaaar, Lokea, Balela, Postoh, dsb. Namun ada keajaiban: beberapa kapel untuk menghormati Tuan Ma (Tuan Ma) dan Tuan Ana (Yesus Kristus) luput dari terjangan banjir. Lumpur, batu, potongan batang kayu... seakan menghindari gereja-gereja kecil itu.

Orang Flores Timur yang mayoritas Katolik sejak dulu dikenal punya devosi kuat terhadap Bunda Maria. Maka bencana alam ini juga dilihat dari kacamata iman. Semacam ujian iman dari Tuhan agar warga kembali ke pangkuan sang Pencipta. Mungkin saja selama ini warga asyik sendiri dengan urusan duniawi, minum tuak, arak, ngomong kosong, dsb.

Refren lagu karya MT de Rosary seperti menjadi kesimpulan bencana alam di Flores Timur.

"Oh Tuhan...
Apa salah dan dosaku
Derita ini bertubi menimpa
Andaikan ini jawaban kehendakMu
Tak kuingkari salib kota Reinha..."

Belakangan, setelah berada di Jawa Timur, saya jadi tahu bahwa bencana alam di Larantuka pun diabadikan dalam lagu milik SAS, grup rock asal Surabaya, dengan judul Larantuka. Lirik lagu tentang bencana alam dahsyat itu ditulis Sutanto Supiadhy, sekarang Prof Dr Sutanto Supiadhy, guru besar hukum tata negara di Untag Surabaya, yang juga seniman. Beliau ini meskipun profesor selalu jadi teman diskusi yang sangat asyik dengan orang-orang yang jauh lebih muda.

Lagu Larantuka dari SAS ini kemudian dipopulerkan lagi oleh Boomerang, band cadas dari Surabaya. "Di ujung timur Flores...." begitu antara lain lirik lagu mengenang bencana di Flores Timur itu.

1 comment:

  1. Tsunami Flores tahun 1979 saya tidak tahu atau sudah lupa, tetapi Tsunami tahun 1992 saya masih ingat betul. Bahkan Tsunami 1992 merupakan bagian Suratan dalam kehidupan saya.
    Tahun 1985 saya pernah melamar pekerjaan ke- Keuskupan Ende/Flores.
    Bersamaan surat lamaran, saya lampirkan ijasah2 dan Curriculum vitae.
    Setelah 2 bulan saya mendapat surat balasan dari Flores. Surat balasan tersebut ditulis dan ditanda-tangani oleh seorang Ibu, mungkin nona sekretaris Keuskupan.
    Isinya sayang agak mengecewakan. Si-Ibu menulis; dia tidak bisa mengerti, mengapa ada seorang Indonesia, yang telah puluhan tahun menetap dan bekerja di-Eropa, mau pulang ke-Indonesia, bahkan kepulau Flores.
    Dia juga menulis, mau datang, datanglah, kebetulan beberapa Pukesmas milik Keuskupan sedang tutup, karena tidak ada dokternya, tetapi jangan mengharapkan uang gaji.
    Astaga, jika seandainya saya mata-duiten, masakah saya pergi ke Flores untuk cari uang. Penghasilan saya satu jam kerja di Eropa minimum 100 Euro.
    Apakah seorang Indonesia tidak boleh berdharma-bakti, berbuat caritativ sesama manusia ? Mengapa harus ber-syak-wasangka dan curiga ? Yang saya butuhkan hanya bantuan birokrasi bukan material.
    Yo wis, lek sampeyan curiga yang bukan2, aku kerja terus di-Eropa, ngumpulkan duit.
    Ketika terjadi Tsunami tahun 1992, saya melihat kejadian itu melalui televisi, lantas saya berkata kepada istri-saya; coba-o kita pulang ke Flores, mungkin kita semuanya sudah mati.
    Hal diatas pernah saya keluhkan kepada seorang teman kuliah yang pulang ke Jakarta. Dia bilang begini : Lu jangan sok jadi orang baik di Indonesia, tidak ada orang yang kamsia kepada lu, bahkan lu ditertawai sebagai orang gendheng.
    Misalnya; kalau lu stir mobil di Indonesia, lalu terjadi kecelakaan nabrak orang, lu tidak bersalah, si-korban yang menyeberang jalan tanpa lihat kiri-kanan, jangan se-kali2 lu turun mobil untuk menolong, tetapi langsung lari kekantor polisi membuat laporan. Sebab kalau lu turun menolong, lu bakal dihakimi oleh massa, digebuki sampai mampus. Sebab itu gua selalu pakai sopir, gua tidak berani stir sendiri di Jakarta. Nasib manusia memang sudah ada yang mengatur. Mertua-saya selalu berkata: manusia punya usaha, tetapi Tuhan punya kuasa.

    ReplyDelete