30 July 2015

Tan Mei Hwa calon boneka di Sidoarjo?



Tan Mei Hwa ikut pemilihan bupati Sidoarjo? Apa gak salah dengar?

Maklum, selama ini di Sidoarjo nama sang ustadah keturunan Tionghoa ini tidak pernah disebut-sebut menjelang pendaftaran 26 Juni 2015. Tan Mei Hwa lebih sibuk ceramah, pengajian di televisi, keliling ke berbagai kota.

Tapi tiba-tiba dia dipasangkan dengan Utsman Ihsan, cabup yang diusung Gerindra dan PKS. "Apa benar anda jadi calon bupati?" tanya saya lewat telepon. Sudah lama banget Tan Mei Hwa jadi salah satu narasumber saya saat mengangkat berita-berita komunitas Tionghoa di Surabaya. Ustad yang aktif di komunitas muslim Tionghoa, PITI, ini sangat mudah dikontak kapan saja.

"Hehehe... Masih dalam proses. Saya belum bisa memastikan. Tunggu beberapa hari lagi ke depan," kata Tan yang sarjana hukum ini. "Saya lagi sibuk (mengisi) acara halalbihalal di mana-mana. Sekarang lagi ke Lamongan," kata wanita bersuara agak cempreng ini.

Tapi nama anda sudah muncul di media massa?

"Saya malah belum baca koran," jawabnya diplomatis.

Tapi anda siap kalau diusung Gerindra-PKS di pilkada Sidoarjo? Tan tak langsung menjawab. "Insya Allah," katanya serius.

Meski di telepon, obrolan dengan Tan Mei Hwa berlangsung gayeng. Saya bilang terkejut mendengar Tan terjun ke politik. Sebab selama ini orang tahunya Tan Mei Hwa itu ustadah keturunan Tionghoa yang populer di JTV Surabaya, julukannya Bu Nyai Gaul, gaya ceramahnya dibumbui humor dsb dsb. Semuanya jauh dari politik.

Sejak kapan anda ikut politik?

"Mas, sebelum reformasi saya sudah belajar politik. Ikut PPP tahun 1990an. Waktu itu partai hanya tiga, PPP, Gokar, PDI, dan saya memilih aktif di PPP. Sekalian belajar dan mendalami Islam. Jadi, keliru kalau saya ini dibilang pendatang baru di politik."

Wow, saya baru tahu sekarang. Masih aktif di PPP?

Ibu Tan bilang, setelah reformasi dia lebih aktif di dunia dakwah dan bisnis. Dia punya beberapa bisnis, jadi konsultan di Surabaya. Sejak muncul di JTV dengan tagline Bu Nyai Gaul, Tan Mei Hwa makin sibuk ceramah di mana-mana. Karena itu, aktivitasnya di partai berkurang drastis. Tapi belakangan Tan mengaku masuk dalam lingkaran Partai Gerindra.

Dua hari kemudian muncul kabar dari Surabaya. Pasangan Utsman Ihsan dan Tan Mei Hwa resmi maju dalam pilkada Sidoarjo. Sebelumnya sudah ada 2 pasangan, yakni Saiful Ilah-Nur Ahmad Syaifuddin dan Hadi Sutjipto-Abdul Kholik.

Pasangan Saiful-Nur dianggap paling kuat, karena incumbent, dananya buanyaak, menang di semua survei. Hadi Sutjipto yang wakil bupati pun tak bisa diremehkan. Keduanya punya jaringan yang sangat luas. Adapun Utsman Ihsan, mantan ketua DPRD Sidoarjo, pernah masuk penjara gara-gara kasus korupsi berjemaah. Waktu itu semua anggota dewan 1999-04 dijebloskan ke penjara.

Lantas, anda merasa punya peluang di pilkada Sidoarjo? Melawan calon petahana?

"Bismillah, saya dan Abah Utsman berusaha untuk menang. Saya serius. Jangan dikira saya dan abah (Utsman) calon penggembira atau boneka," katanya tegas.

Tan Mei Hwa mengaku punya modal sosial berupa jamaah pengajian yang sudah dibina dalam 20 tahun terakhir. Dia juga dekat dengan ibu-ibu nahdliyin, muhammadiyah, dsb. Tan pun merasa punya banyak gagasan untuk memajukan Kabupaten Sidoarjo. "Insya Allah," katanya.

Apa pun kata orang, tampilnya Tan Mei Hwa di gelanggang politik pilkada Sidoarjo kembali memperlihatkan bahwa warga Tionghoa makin melek politik. Tak lagi alergi politik seperti era Orde Baru selama 30an tahun. Sebelumnya Abah Anton, ketua PITI Malang, bahkan terpilih jadi wali kota Malang. Atau yang paling ngetop tentulah Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama gubernur DKI Jakarta.

Saya selalu ingat guyonan Tan Mei Hwa dalam beberapa kali ceramahnya tentang ajakan untuk mencari ilmu bahkan hingga ke negeri China. Ungkapan ini sangat populer di kalangan umat Islam.

"Lha, sekarang ini sudah buanyaaak orang China di sini. Ya, belajar saja sama orang-orang China di sini (Indonesia). Tidak perlu jauh-jauh ke negeri China segala!" katanya dengan suara renyah.

Bu Nyai Gaul, selamat memasuki rimba raya politik pilkada! Semoga tidak dikadalin!

BACA JUGA

Tan Mei Hwa Bu Nyai Gaul, ustadah Tionghoa di Surabaya.

29 July 2015

Ludruk makin ditinggalkan penonton



Secara umum kondisi ludruk di Kabupaten Sidoarjo senen-kemis. Dari 20-an grup ludruk yang tercatat di Disporabudpar Sidoarjo, tak sampai lima grup yang aktif menggelar pertunjukan.

Ludruk Irama Baru di kawasan Balongbendo tergolong istimewa. Pada bulan Syawal ini Irama Baru memiliki enam tanggapan. Sebelum puasa lalu, tepatnya bulan Ruwah, ludruk pimpinan Hadi Wijaya itu bahkan main sembilan kali dalam sebulan.

"Sangat bagus kalau sebuah grup ludruk dapat tanggapan sampai sembilan kali sebulan," kata Prof Dr Henricus Supriyanto, pakar ludruk dari Universitas Negeri Surabaya kepada saya.

Berdasar pengamatan Henri, sapaan akrab Prof Henricus Supriyanto, krisis yang dialami kesenian tradisional di Jawa Timur, khususnya ludruk, sudah lama terjadi. Bahkan, sejak zaman Orde Baru ludruk-ludruk yang ada mulai ditinggalkan penontonnya. Apalagi setelah bermunculan televisi swasta di tanah air.

Masyarakat punya begitu banyak alternatif hiburan tanpa harus keluar rumah. Di sisi lain, kualitas permainan ludruk-ludruk yang ada tak bisa mengimbang masyarakat yang semakin maju dan modern. "Terus terang, seniman-seniman ludruk kita tidak kreatif," kata pria yang dijuluki doktor ludruk itu.

Miskinnya kreativitas itu terlihat dari gaya lawakan hingga adegan di atas panggung yang begitu-begitu saja. Kurang menyesuaikan diri dengan selera dan karakter penonton yang sudah jauh berubah.

Grup-grup yang mampu bertahan pun terpaksa lebih banyak mengeksploitasi dagelan, memperbanyak tandak, dan nyanyian. Begitu lawakan selesai, penonton ramai-ramai meninggalkan arena pertunjukan. "Karena memang tidak menarik. Ini masalah kreativitas seniman-seniman ludruk itu sendiri," kata profesor yang pernah menjadi pemimpin grup ludruk itu.

Masih banyak kelemahan lain yang disebut Prof Henri. Termasuk ketiadaan organisasi yang menjadi jujukan ludruk-ludruk di Jatim. Yang terjadi sekarang grup ludruk ibarat perusahaan yang dikendalikan oleh juragannya. Beda dengan ludruk-ludruk pada era 1960-an dan awal 1970-an yang selalu dipadati penonton.

Meski begitu, Prof Henri mengaku optimistis akan terjadi kebangkitan ludruk di Jatim yang dimotori seniman-seniman generasi muda. Gaya ludruk modern itu nantinya jauh berbeda dengan ludruk-ludruk lawas yang senen-kemis itu.

Di tangan anak-anak muda berpendidikan tinggi, melek teknologi, paham selera penonton, ludruk yang merupakan kesenian rakyat khas Jatim itu bakal mendapat tempat lagi di masyarakat. "Saya optimistis ludruk tidak akan hilang. Cuma modelnya saja yang disesuaikan dengan perkembangan zaman," katanya.

25 July 2015

Pabrik gula di Sidoarjo kesulitan tebu

Saya baca di koran terbitan Jakarta edisi Sabtu 25 Juli 2015 soal industri gula. Dewan gula mendesak pemerintah segera membangun pabrik gula berbasis tebu. Mungkin pabrik gula baru di luar Pulau Jawa.

Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, empat pabrik gula sedang musim giling hingga Desember. Isunya justru kurangnya pasokan tebu sebagai bahan baku gula. Ini karena sudah lama sawah-sawah berubah jadi perumahan, ruko, gudang dsb. Anak-anak muda juga enggan jadi petani. Akibatnya, pabrik gula peninggalan Belanda yang jumlahnya belasan (ada yang bilang 16, ada versi menyebut 14, lain lagi 11) sekarang tinggal 4. Yakni PG Kremboong, PG Watoetoelis, PG Toelangan, dan PG Candi Baru (Tjandi).

Sebuah pabrik gula tak akan bisa hidup jika tidak ada tebu yang akan digiling. Maka empat pabrik gula itu pun lama-lama akan tutup jika pasokan tebu tidak ada lagi. "Kami kesulitan mencari petani yang mau garap lahan tebu," kata Zainal Arifin, direktur PG Watoetoelis di Kecamatan Prambon.

Pabrik gula lawas di dekat perbatasan dengan Kabupaten Mojokerto itu punya 500 ha lahan tebu di Sidoarjo. Luasan yang terus menyusut. Karena kesulitan mendapatkan petani (warga Sidoarjo sekarang lebih suka bekerja di pabrik, kantor, PNS, politisi, pedagang, atau buka usaha sendiri), PG Watotoelis mengembangkan mekanisasi pertanian. Semua proses budidaya tebu pakai mesin. Mulai pembibitan, olah tanam, pemupukan, hingga panen (penebangan) pakai mesin. Tenaga kerja bisa dihemat.

"Sudah 35 persen mekanisasi," kata Zainal Arifin. Dia ingin dalam dua tiga tahun ke depan semuanya sudah mekanis. Satu orang bisa menggarap satu kavling lahan tebu dengan bantuan mesin itu.

Masih lumayan PG Watoetoelis berusaha mempertahankan lahan tebu meskipun tidak gampang. Pabrik Gula Toelangan malah sudah dua tahun ini mengandalkan pasokan tebu 100 persen dari luar Kabupaten Sidoarjo. Semua tebu dipasok dari luar daerah macam Mojoketo, Malang, Madura, Jombang. Tebu-tebu asal Sidoarjo yang dulu dipasok ke PG Toelangan dialihkan ke pabrik tetangganya, yakni PG Kremboong.

Sampai kapan PG Toelangan bertahan kalau hanya mengandalkan pasokan tebu dari luar Sidoarjo? Waktu yang akan menjawab, kata orang bijak. Sayang sekali kalau PG Toelangan yang jadi bahan cerita Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, dengan tokoh Nyai Ontosoroh asal Tulangan, ini bakal mengalami nasib seperti pabrik-pabrik gula sebelumnya macam di Ketegan (Taman), Wonoayu, Sruni (Gedangan), Porong, Buduran, Waru, atau Krian.

Kota Surabaya tempo doeloe juga punya buanyaaak pabrik gula. Mungkin lebih banyak ketimbang Sidoarjo. Tapi seiring transformasi ekonomi, perubahan zaman, sudah puluhan tahun tak ada satu pun pabrik gula yang tersisa. Karena memang tak ada sawah di Surabaya. Apalagi yang luasnya ratusan atau ribuan hektare untuk skala industri.

Karena itu, pemerintah harus melakukan kajian yang sangat mendalam jika ingin membangun pabrik-pabrik gula yang baru. Lokasinya di mana? Perkebunan tebunya bagaimana? Petani penggarapnya apa cukup? Kualitas tebu seperti rendemen bagaimana? Dan, yang paling penting, berapa lama PG itu bisa bertahan?

Belajar dari kasus pabrik gula di Sidoarjo (Jawa umumnya), industri yang berbasis pertanian tidak akan bisa bertahan lama. Beda dengan industri logam atau kimia yang tahan zaman. Berdasar pengalaman, petani biasanya hanya bertahan satu atau dua generasi. Anaknya si petani bisanya bertekad tidak akan pernah jadi petani kayak orang tuanya.

Beda dengan dokter yang selalu ingin anak, cucu, cicit, dst mengikuti jejak eyangnya sebagai dokter.

23 July 2015

1979 tahun bencana alam di Flores Timur

Harian Kompas edisi Selasa 21 Juli 1979 memuat arsip berita lawas satu alinea di halaman 1. Judulnya: Gelombang raksasa hantam Flores Timur.

Ceritanya, pada 18 Juli 1979 terjadi tsunami di pantai selatan Pulau Lembata (dulu Lomblen) yang menewaskan 154 warga Waiteba, Lebala, dan Bala. Air laut masuk ke daratan dan menyapu kampung sederhana di pulau yang saat itu masuk wilayah Kabupaten Flores Timur.

Saat itu belum ada telepon seluler. Telepon biasa pun belum masuk Lembata. Listrik pun tak ada. Jaringan jalan pun belum ada. Sehingga tim SAR kesulitan mengevakuasi korban serta membantu warga di lokasi bencana alam. "Kami di Lembata benar-benar takut karena sebagian besar kampung berada di pinggir laut," kata Kopong, warga Lembata di Jawa Timur.

Dulu istilah tsunami belum populer. Warta berita di RRI Kupang menggunakan istilah gelombang pasang. Nah, tsunami ini membuat warga Lembata di pantai selatan dan pantau utara (kampung halaman saya) selalu deg-degan setiap kali melihat gelombang pasang.

Sekitar lima bulan sebelumnya, 27 Februari 1979, juga terjadi bencana alam di Flores Timur yang sangat dahsyat. Banjir bandang, lumpur, batu-batuan menerjang Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Korban jiwanya bukan ratusan, tapi ribuan orang. Kalau tidak salah banjir di Larantuka ini dinyatakan sebagai bencana nasional.

Orang Flores Timur dan Lembata tak akan pernah lupa bencana alam dahsyat di Larantuka ini. Maklum, dulu diciptakan lagu yang sangat populer untuk menggambarkan betapa dahsyatnya bencana alam di kota Reinha (julukan Larantuka). De Rozen Group yang dipimpin MT de Rosary, musisi top asal Larantuka yang sangat terkenal di NTT, menulis lagu yang membuat warga Flores Timur, khususnya Larantuka sering menangis.


Begini antara lain syairnya:

"Dua tujuh malam Rabu
Pebruari bulan itu
Tujuh sembilan yang kelabu
Tak dapat kulupakan

Lumpur batu yang mengganas
Tak berperi dan berbelas
Merenggut harta korban jiwa
Tak dapat kulukiskan...."

Wow, rasanya merinding saat saya menyenandungkan lagu kenangan lama tentang bencana Larantuka itu. Padahal kejadiannya sudah lama sekali. Saya membayangkan wilayah Lohayong yang ditimpuk batu-batu besaaar, Lokea, Balela, Postoh, dsb. Namun ada keajaiban: beberapa kapel untuk menghormati Tuan Ma (Tuan Ma) dan Tuan Ana (Yesus Kristus) luput dari terjangan banjir. Lumpur, batu, potongan batang kayu... seakan menghindari gereja-gereja kecil itu.

Orang Flores Timur yang mayoritas Katolik sejak dulu dikenal punya devosi kuat terhadap Bunda Maria. Maka bencana alam ini juga dilihat dari kacamata iman. Semacam ujian iman dari Tuhan agar warga kembali ke pangkuan sang Pencipta. Mungkin saja selama ini warga asyik sendiri dengan urusan duniawi, minum tuak, arak, ngomong kosong, dsb.

Refren lagu karya MT de Rosary seperti menjadi kesimpulan bencana alam di Flores Timur.

"Oh Tuhan...
Apa salah dan dosaku
Derita ini bertubi menimpa
Andaikan ini jawaban kehendakMu
Tak kuingkari salib kota Reinha..."

Belakangan, setelah berada di Jawa Timur, saya jadi tahu bahwa bencana alam di Larantuka pun diabadikan dalam lagu milik SAS, grup rock asal Surabaya, dengan judul Larantuka. Lirik lagu tentang bencana alam dahsyat itu ditulis Sutanto Supiadhy, sekarang Prof Dr Sutanto Supiadhy, guru besar hukum tata negara di Untag Surabaya, yang juga seniman. Beliau ini meskipun profesor selalu jadi teman diskusi yang sangat asyik dengan orang-orang yang jauh lebih muda.

Lagu Larantuka dari SAS ini kemudian dipopulerkan lagi oleh Boomerang, band cadas dari Surabaya. "Di ujung timur Flores...." begitu antara lain lirik lagu mengenang bencana di Flores Timur itu.

19 July 2015

Macet abadi di Tanahmerah Bangkalan



Jauh sebelum ada jembatan Suramadu, jalan raya di Tanahmerah Bangkalan selalu macet. Anak kecil pun tahu penyebabnya adalah pasar tradisional di kiri kanan jalan plus tumpah ke badan jalan. Anehnya, dari dulu Pemerintah Kabupaten Bangkalan tak punya solusi cerdas. Pasar dibiarkan semrawut, jalan raya antarkabupaten pun dibiarkan macet.

Setelah jembatan Suramadu dioperasikan, otomatis volume kendaraan dari Surabaya ke Madura meningkat drastis. Bisa empat atau lima kali lipat dibandingkan sebelum ada jembatan di atas laut sepanjang 5,4 km itu. Tapi rupanya Bupati Fuad Amin, yang sekarang ditahan KPK karena korupsi, tak banyak action. Tak ada penertiban pedagang, relokasi pasar, atau bikin semacam jalan arteri di Tanahmerah.

Tidak jelas apa saja yang dilakukan Bupati Fuad selama 10 tahun jadi bupati Bangkalan. Sebab, kondisi jalan raya di wilayahnya tak banyak berubah dibandingkan zaman Orde Baru. "Orang Madura itu ngeyel, sulit ditertibkan," kata kenalan yang asli Pamekasan.

Kalau sulit ditertibkan, mengapa cuma Bangkalan saja yang semrawut? Kabupaten Sampang, Pamekasan, dan Sumenep kok bisa lancar dan tertib? Bangkalan pun sebenarnya cuma di Tanahmerah dan sedikit di Galis, yang juga punya pasar di pinggir jalan?

Setelah Fuad Amin lengser, bupati Bangkalan diganti anaknya, Momon. Masuk rekor Muri sebagai bupati termuda di Indonesia, usianya 20-an tahun. Fuad Amin jadi ketua DPRD Bangkalan sebelum dicokok KPK.

Momon belum lama jadi bupati. Kinjerjanya belum bisa dinilai sekarang. Tapi, berbeda dengan para bupati di Jawa Timur (luar Pulau Madura) yang selalu habis-habisan memperbaiki lancar untuk kelancaran arus mudik dan balik Lebaran, Pemkab Bangkalan seperti tenang-tenang saja. Sumber utama kemacetan di Pulau Madura, kawasan Tanahmerah, tidak diapa-apakan.

Maka, sudah pasti kemacetan terjadi setiap saat di pasar lama itu. Khususnya di saat arus mudik ini. Puluhan polisi tak bisa berbuat banyak karena jalan alternatif tidak ada. Jalan lewat kampung tidak mungkin dilewati mobil. Sepeda motor pun sulit melintas karena terlalu banyak lubang dan batu-batuan tajam berwarna putih.
Setelah saya blusukan ke jalan kampung ini, sebetulnya dinas PU bina marga Bangkalan bisa dengan mudah meningkatkan jalan desa ini menjadi jalan alternatif. Semacam arteri di Tanahmerah. Hanya dengan sedikit sentuhan, pengerasan, disiram aspal, sudah bagus. Jaraknya pun tak sampai lima kilometer. Akan lebih bagus lagi kalau dibeton agar kuat.

Bukankah Bangkalan dapat dana bagi hasil gas yang besar? Investasi juga berdatangan setelah ada Suramadu. Ke mana larinya duit-duit itu? Mungkin pemkab punya proyek lain yang dianggap lebih penting ketimbang menyelesaikan kemacetan abadi di Tanahmerah.

Menjadikan jalan desa sebagai arteri juga tidak perlu menggusur rumah-rumah penduduk. Sebab, jalannya sudah ada. Beda dengan arteri Porong yang terpaksa menggusur tanah dan bangunan ratusan warga. Pemkub cukup memperlebar jalan agar bisa dilalui kendaraan roda empat dua arah.

Anehnya, selama ini para tokoh, ulama, pengamat, LSM, budayawan setempat lebih sibuk bicara soal gerbangsalam, perda syariat, industrialisasi dan maksiat, tapi lupa membahas kemacetan di Tanahmerah.

Semoga Bupati Momon yang masih sangat muda, masih banyak energi, mau mengatasi persoalan lama di Tanahmerah. Sebelum masa jabatannya berakhir. Syukur-syukur tahun depan arus mudik Lebaran tidak nyantol lagi di Tanahmerah.

18 July 2015

Umat Katolik di Madura yang terisolir

Di malam takbiran, 16 Juli 2015, saya duduk tak jauh dari Gereja Katolik Santa Maria Ratu Para Rasul Pamekasan. Luar biasa ramai karena ada pawai kendaraan hias plus takbiran di alun-alun kota yang disebut Arek Lancor. Nah, Gereja Katolik itu berdiri megah di lingkaran alun-alun itu.

Cukup menarik karena gereja besar (untuk ukuran Madura yang 99,99 persen) tak jauh dari masjid jamik di Pamekasan. Ini paling tidak menunjukkan bahwa toleransi antarumat berbeda agama di Pamekasan sangat bagus. Paroki Pamekasan merupakan salah satu dari tiga paroki di Pulau Madura. Hanya Kabupaten Sampang yang tidak punya Gereja Katolik. Dari dulu Kabupaten Sampang merupakan satu-satunya kabupaten/kota di Jawa Timur yang tidak punya gereja. Umat Katolik di Sampang biasanya mengadakan misa mingguan di sebuah gudang tua milik seorang pengusaha Tionghoa yang beragama Katolik.

"Umat Katolik di Madura ini sedikit, tapi cukup dinamis. Aktivitas di lingkungan, wilayah, paroki lumayan bagus. Enggak kalah sama Surabaya," kata Pak Yosef, umat Katolik di Sampang.

Hanya saja, anak-anak muda yang tamat SMP atau SMA otomatis keluar dari Madura untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, umat kristiani (tak hanya Katolik) niscaya berkurang. Umat Katolik dari luar yang masuk hampir tidak ada. Sehingga kegiatan parokinya didominasi orang-orang tua yang sebagian Tionghoa.

Sejak dulu keberadaan 3 paroki di Pulau Madura ini unik sekaligus mencemaskan. Mengapa? Ketiga paroki itu (Bangkalan, Pamekasan, Sumenep) ikut Keuskupan Malang, bukan Keuskupan Surabaya. Karena itu, romo-romo yang bertugas di Madura adalah karmelit (Ordo Carmel alias OCarm), sama seperti romo-romo di Malang, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Banyuwangi. Pembagian wilayah keuskupan di Jatim ini sejak zaman Belanda dan masih bertahan sampai sekarang.

Karena ikut Keuskupan Malang, umat Katolik di Keuskupan Surabaya sejak dulu kurang memiliki kedekatan dengan saudara-saudara seiman di Madura. Sama-sama Katolik tapi beda keuskupan. Karena itu, meskipun sudah ada jembatan Suramadu, makin banyak orang Surabaya yang lan-jalan ke Madura, tidak ada aktivitas yang berbau gerejawi. Sekadar mampir di gereja, ngobrol sama pengurus dewan paroki, mampir ke pastoran pun nyaris tak ada.

Sebaliknya, umat Katolik dari Keuskupan Malang juga jarang yang main-main ke Madura karena terlalu jauh. Harus lewat Surabaya. Maka tidak ada misalnya pertemuan skala besar tingkat Keuskupan Malang yang diadakan di Pulau Madura. Dulu, ketika masih jadi umat Paroki Jember, saya bahkan tidak tahu bahwa Madura itu ikut Keuskupan Malang dan dilayani imam-imam karmelit. Saya baru tahu setelah ketemu Pastor Hidin Situmorang OCarm di Bangkalan beberapa tahun lalu. Sebelum ada jembatan Suramadu.

Sebagai orang awam, umat Katolik biasa, saya pun berpikir. Mengapa paroki-paroki di Madura itu tidak diserahkan saja ke Keuskupan Surabaya? Bukankah Madura dan Surabaya sudah menyatu berkat jembatan Suramadu?

Saya yakin seyakin-yakinnya secara pastoral paroki-paroki di Madura akan lebih hidup kalau ditangani Keuskupan Surabaya. Seandainya 3 paroki di Madura itu masuk wilayah Keuskupan Surabaya, bisa dipastikan umat Katolik di Madura lebih dinamis. Pelatihan petugas liturgi tak perlu jauh-jauh ke Malang. Tim liturgi dari Surabaya akan senang sekali turun langsung ke Madura sambil lan-jalan makan bebek Sincay yang terkenal itu. Romo-romo dari Surabaya pun akan di-rolling setiap tiga tahun seperti di Keuskupan Surabaya.

Sejak dulu saya melihat umat Katolik di Keuskupan Surabaya, yang wilayahnya hingga Cepu dan Rembang itu, senang anjangsana untuk menemui para mantan romo parokinya. Karena di-rolling tiga tahunan, banyak paroki yang harus dikunjungi. Nah, Pulau Madura tidak mungkin dikunjungi karena romo-romo karmelit di Madura (hampir) mustahil bertugas di Keuskupan Surabaya. Sebaliknya, romo-romo yang ada di Keuskupan Surabaya pun (hampir) mustahil bertugas di Madura.

Menurut saya, yang awam, kuncinya ada di Keuskupan Malang dan Ordo Karmel untuk menyerahkan 3 paroki itu di Pulau Madura itu ke Keuskupan Surabaya. Sudah banyak contoh paroki-paroki yang awalnya dikelola kongregasi diserahkan ke Keuskupan Surabaya. Contoh: Paroki Sakramen Mahakudus (Pagesangan) dan Paroki Santo Paulus (Juanda, Sidoarjo), diserahkan ordo SVD ke imam-imam diosesan Keuskupan Surabaya.

17 July 2015

Libur Lebaran, Gunung Raung, Pamekasan

Tiket pesawat ke Kupang, NTT, di musim Lebaran ini Rp700an. Jauh lebih murah ketimbang musim libur Natal dan tahun baru yang hampir Rp 1500. Sekitar lima tahun lalu tiket Lion Air rute Surabaya-Kupang cuma Rp 340an. Lebih murah ketimbang ke Jakarta.

Sayang, peluang untuk memanfaatkan libur Lebaran yang cukup lama, dan serentak, itu dijegal oleh Gunung Raung. Gunung yang tidak begitu terkenal dan dilupakan orang karena jarang membuat berita. Beda dengan Kelud atau Merapi yang memang news maker. Tapi si Raung ini sekali meraung membuat ratusan penerbangan di Juanda, Malang, Bali, Lombok, Banyuwangi... terganggu.

Beda dengan letusan Kelud yang dahsyat, tapi jauh dari jalur penerbangan. Begitu juga Merapi yang jauh di Jogja. Gunung Raung membuat warga yang ingin terbang ke Bali, Lombok, Kupang... gigit jari. Mengapa erupsi kok pas cuti bersama? Libur Lebaran? Rupanya Gunung Raung berhasil mencuri perhatian kita yang sudah lama mengabaikan gunung setinggi 3,3 km di kawasan Bondowoso itu.

Apa boleh buat. Safety first! Keselamatan adalah segalanya. Apalagi untuk pesawat terbang. Kita belum lupa Hercules di Medan atau AirAsia yang pilotnya belum ditemukan sampai sekarang.

Apa boleh buat, kita dipaksa alam untuk mengisi liburan Idulfitri ini dengan cara lain. Banyak objek wisata di Jawa Timur yang belum kita nikmati. Kota-kota kecil yang menunggu didatangi.

Maka, ketimbang mikirin Raung yang tak menentu, saya memutuskan jalan-jalan ke Madura. Bertemu Pak Kosala Mahinda, pemilik Kelenteng Kwan Im Kiong di pantai Talangsiring, Pamekasan, yang sangat terkenal di kalangan warga Tionghoa. Kelenteng ini punya tempat ibadah untuk 5 agama: Buddha, Tao, Konghucu, Islam, dan Hindu.

"Libur Lebaran ini saya malah sangat sibuk karena banyak tamu dari jauh. Kebanyakan dari Jakarta dan sekitarnya," kata Pak Kosala sambil tersenyum.

Beberapa rombongan dari Jakarta memang sudah bermalam satu dua hari di Kwan Im Kiong. Tidak perlu khawatir, ada penginapan yang bisa menampung 1000 orang. Ada kantin untuk makan minum. Semuanya komplet. Setiap tahun kelenteng di Desa Polagan, dekat hutan bakau ini, mengadakan tiga hajatan besar yang semuanya terkait Dewi Kwan Im.

"Kalau perayaan Dewi Kwan Im saya sediakan konsumsi untuk ribuan umat yang ke sini. Makan, minum, penginapan gratis. Kalau sekarang penginapannya gratis, tapi makan minumnya silakan bayar sendiri di kantin," kata Pak Kosala yang alumnus Universitas Kristen Petra Surabaya.

Rombongan dari Jakarta ini ada yang rutin ke Kwan Im Kiong Pamekasan, tapi lebih banyak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Madura. Semuanya mengaku jauh-jauh dari Jakarta, macet berjam-jam bersama para pemudik, tidak sekadar berlibur atau bertualang, tapi untuk pencerahan. "Suasananya sangat bagus untuk refreshing dan pencerahan. Kita butuh keheningan seperti ini," kata seorang bapak yang datang bersama istri, dua anak, dan mertuanya.

Selain Kosala dan 20 karyawan, Kwan Im Kiong (penduduk setempat menyebut Vihara, bukan kelenteng) tidak punya biarawan/biarawati atau pembimbing rohani macam di tempat retret Katolik. Pengunjung bebas melakukan ritual, sembahyang, meditasi, atau sekadar duduk-duduk menikmati nyanyian alam, burung berkicau, dan aroma garam dari kawasan sekitar kelenteng.

Pengunjung yang beragama Hindu juga bisa melakukan ritual di pura yang baru direnovasi. Pura satu-satunya di Pulau Madura itu dekat dengan vihara dan lithang (tempat ibadah Konghucu). Yang Islam juga bisa salat di musala, tak jauh dari pagoda. Yang Kristen belum ada gereja atau kapel. Cukup jalan-jalan, membaca buku, atau meditasi di mana saja.

Di Kwan Im Kiong ini saya menikmati liburan yang agak anti-mainstream. Bertemu orang-orang Jakarta yang sengaja menghabiskan waktu dengan meditasi meditasi meditasi. Saya pun mencoba belajar meditasi tapi betapa sulitnya. Pikiran cepat melayang ke mana-mana, sulit dikendalikan.

16 July 2015

Idulfitri tanpa spasi

Sudah lama pusat bahasa, juga beberapa pakar bahasa, menyerukan agar kata Idulfitri ditulis serangkai (tanpa spasi). Bukan Idul Fitri. Tapi kampanye yang cukup gencar sejak 20-an tahun lalu itu gagal. Sebagian besar media massa tetap menulis dua kata: Idul Fitri (pakai spasi).

Mengapa Idulfitri tanpa spasi?

Begini penjelasan pusat bahasa. Idulfitri merupakan kata serapan dari bahasa Arab: Id al-fitr. Artinya, hari raya berbuka atau makan dan minum setelah sebulan berpuasa.

Karena Id atau Idul dalam bahasa Arab merupakan bentuk terikat, maka penulisannya tanpa spasi alias melekat pada kata -fitri atau -adha. Jadi Idulfitri dan Iduladha. Bukan Idul Fitri dan Idul Adha.

Karena Idul berarti hari raya, kita tidak perlu mengatakan, "Selamat hari raya Idulfitri!" Cukuplah "selamat Idulfitri!" Lebih singkat, hemat kata dan aksara.

Mengapa kampanye Idulfitri ini gagal? Menurut saya, penyuluhan bahasa Indonesia soal Idulfitri dan Iduladha itu hanya dilakukan lewat selebaran tipis yang dibagikan kepada beberapa wartawan yang kebetulan mampir ke balai bahasa (cabang pusat bahasa di tingkat provinsi). Koran-koran besar macam Kompas dan Jawa Pos tidak diajak sosialisasi.

Kompas malah konsisten dengan Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan, ada kecenderungan kata-kata majemuk yang selama puluhan tahun tanpa spasi dibuat terpisah oleh redaksi Kompas. Contoh: sepakbola jadi sepak bola, bulutangkis jadi bulu tangkis. Kompas juga sengaja tidak mengikuti ketentuan Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk beberapa kata. Contoh: hektare (KBBI) jadi hektar, silaturahmi (KBBI) jadi silaturahim.

Beberapa kasus kecil tapi sangat mendasar ini semakin menunjukkan betapa sulitnya membuat standar bahasa Indonesia. Tidak ada otoritas bahasa meskipun sejak Orde Baru sudah ada lembaga yang bernama pusat bahasa. Karena itu, bahasa Indonesia yang cenderung labil, tidak konsisten, asal paham mustahil jadi bahasa internasional.
Jangankan cuma masalah spasi atau tanpa spasi untuk Idulfitri, menentukan kriteria hilal untuk Idulfitri saja tidak pernah ada kata sepakat di Indonesia.

Lebaran serentak lebih baik

Syukurlah, Idulfitri 1436 bisa dirayakan serentak. Penetapan Lebaran versi Muhammadiyah yang sudah dilakukan jauh hari sebelumnya akhirnya dikonfirmasi dalam sidang isbat yang dipimpin menteri agama. Muhammadiyah dari dulu pakai hitungan astronomis, tidak pakai lihat hilal, dsb.

Versi Muhammadiyah tidak perlu teleskop yang mahal dan canggih. Tidak perlu petugas yang memantau hilal di puluhan atau ratusan titik di seluruh Indonesia. Sangat hemat. "Kami juga melihat hilal, tapi melihat pakai ilmu. Tidak perlu melihat pakai mata atau teropong. Toh, hasilnya insyallah sama," kata teman saya yang Muhammadiyah.

Sudah lama negara-negara maju, termasuk Tiongkok, bersaing untuk misi luar angkasa. Kirim astronot ke planet lain. Bukan cuma bulan yang paling dekat bumi. Bahkan para ilmuwan terus bikin riset agar, siapa tahu, manusia bisa hidup di planet lain. Lha, kok kita di Indonesia setiap tahun masih ribut soal anaknya bulan alias hilal itu!

Seandainya sidang isbat, yang juga diikuti pengurus Muhammadiyah, menetapkan Idulfitri jatuh pada 18 Juli 2015, apakah umat Muhammadiyah juga berlebaran pada tanggal itu? Pasti tidak. Apa pun hasil isbat, Muhammadiyah (dan beberapa ormas Islam lain) punya ketentuan sendiri. Kalau tahun 2015 ini tanggal Idulfitrinya sama, itu semata-mata karena alasan konjungsi, ketinggian, dan umur si anak bulan tadi.

Maka, kalaupun si hilal tidak bisa dilihat dengan mata/teropong, Muhammadiyah akan tetap berlebaran pada 17 Juli 2015. Sementara versi pemerintah (menag) tentulah keesokan harinya. Digenapkan jadi 30 hari puasanya.

Meski bukan muslim, sehingga tak punya kepentingan langsung dengan sidang isbat, saya sejak dulu sering merenung sendiri. Misalkan suatu ketika menteri agamanya orang Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin dari NTB itu, bagaimana dengan sidang isbat? Sang menteri manut dengan ormasnya atau mengikuti suara mayoritas ormas?

Andaikan Idulfitrinya berbeda, apakah sang menteri yang Muhammadiyah itu melaksanakan salat Id pada tanggal versi pemerintah atau Muhammadiyah? Posisi sang menteri jadi serba sulit, bak makan buah simalakama.
Lalu, apakah sidang isbat itu masih diperlukan ketika beberapa ormas Islam sudah menetapkan tanggal Idulfitri sendiri? Dan mereka tak akan terpengaruh dengan versi pemerintah? "Pemerintah cukup menetapkan hari libur nasional. Tidak usah menetapkan tanggal Idulfitri," kata seorang tokoh Muhammadiyah beberapa tahun lalu ketika terjadi perbedaan hari Lebaran.

Tapi jauh lebih banyak tokoh muslim, ulama, khususnya nahdliyin, yang ingin agar pemerintah memimpin sidang isbat, menetapkan Idulfitri, Iduladha dsb seperti selama ini. Sebab pemerintah itu ulil amri. Indonesia yang 90 persen penduduknya Islam sangat memerlukan pimpinan dari ulil amri atau pemerintah. Apa jadinya kalau ormas Islam menetapkan Lebaran sendiri-sendiri?

"Indonesia ini sangat beda dengan Malaysia. Malaysia itu negara Islam, ada mutfi yang punya otoritas untuk menentukan kapan Idulfitri. Dan semuanya manut. Di Indonesia tidak bisa begitu," kata Prof Azyumardi Azra di Metro TV sekitar setengah jam lalu.

Mengikuti uraian Prof Azyumardi yang bernas itu, tampaknya ormas-ormas Islam belum bersepakat soal kriteria hilal, ketinggian, harus dilihat atau tidak, dsb. Selama kriteria atau parameter astronomis ini belum disepakati, kata beliau, umat Islam akan selalu deg-degan menunggu pengumuman hasil sidang isbat.

"Saya sering ditanya kapan Idulfitri ya nggak bisa jawab. Saya hanya bilang, kalau Anda Muhammadiyah ya 17 Juli, tapi kalau bukan ya tunggu sidang isbat," kata Azyumardi Azra yang tulisan-tulisannya selalu saya ikuti itu.

Akhirnya, selamat Idulfitri 1436 untuk umat Islam di seluruh Indonesia! Mohon maaf lahir dan batin!

14 July 2015

Tradisi Mudik yang Luar Biasa di Jawa

Ada dua tema yang selalu dibahas dalam 10 terakhir bulan Ramadan: mudik dan iktikaf. Tapi yang paling seru pasti mudik. Sebab mudik atau kembali ke kampung halaman ini melibatkan puluhan juta orang Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Di luar Jawa, apalagi wilayah kepulauan yang gelombangnya besar, mudik belum jadi tradisi yang kuat.

Mudik di dalam provinsi Jawa Timur, yang punya 38 kota/kabupaten, sangat nyaman. Bisa pakai kendaraan sendiri, jaraknya pun tak seberapa jauh. Gubernur Soekarwo malah sejak dulu menyediakan fasilitas untuk mudik gratis. Yang mau mudik lewat laut, di Kepulauan Sumenep, pun disediakan kapal-kapal gratis.

"Nanti baliknya juga kita sediakan bus dan kapal," kata Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim Soekarwo. Pakde selalu bilang pemerintah harus hadir dalam event tahunan mudik karena melibatkan jutaan penduduk Jatim.

Sangat beda dengan NTT yang sejak dulu pemerintahnya gak ngurus masalah mudik massal ini. Rakyat NTT dibiarkan keleleran, bingung cari kapal, tiket naik tajam menjelang Natal atau tahun baru. Di Jawa Timur ini mudik ke mana saja gratis. Lebih tepatnya dibayar dengan uang rakyat alias APBD.

Mudik lintas provinsi di Jawa juga tetap mudah karena jalan darat sudah bagus sejak zaman Belanda. Arus mudik jadi semrawut karena banyaknya mobil dan motor pada saat bersamaan. Sudah pasti macet. Tapi tetap saja asyik karena ada rest area untuk istirahat sejenak. Kemacetan inilah yang justru jadi pengalaman para mudik dari masa ke masa.

Orang bukannya kapok mudik, malah makin ketagihan. Argumentasi serasional apa pun, biaya yang mahal, capek, macet, kecelakaan lalu lintas dsb dsb tidak akan bisa menggerus budaya dan tradisi mudik, khususnya di Jawa. Apalagi televisi-televisi setiap tahun merayakan mudik massal dengan liputan selama tiga minggu atau satu bulan. Liputan mudik ini banyak iklannya bung!

Bagi saya, yang paling mengharukan adalah mudik para buruh migran alias TKI. Dua pekan sebelum Lebaran terminal kedatangan di Bandara Juanda selalu ramai oleh TKI dari Malaysia, Hongkong, dan Timur Tengah. Penjemputnya keluarga besar dari kampung.

Kita tahu penghasilan TKI ini bukanlah orang-orang kaya yang bisa naik pesawat antarnegara. Tapi kalau sudah bicara mudik, apa pun mereka lakukan agar bisa berhari raya bersama keluarga di kampung. Ongkos pesawat mungkin jauh lebih mahal daripada gaji bulanan buruh migran ini.

Saya jadi ingat pepatah lama di Jawa: mangan ora mangan kumpul! Berkumpul bersama keluarga saat Idulfitri punya makna kultural, religius, tradisi yang luar biasa tingginya di tanah air, khususnya di Jawa dan Madura. Soalnya, saya kenal beberapa orang muslim Batak (antara lain bu Nasution) yang tidak pernah pulang kampung selama puluhan tahun. Ada juga orang NTB yang santri, yang juga tidak pernah mudik saat Lebaran.

"Mudik itu tradisi di Jawa. Kita di NTB hampir tidak ada tradisi mudik," kata orang Sumbawa ini enteng. "Biaya mudik ke NTB itu mahal kalau pakai pesawat untuk 5 orang. Ya kalau saya ini orang kaya," katanya.


Sent from my BlackBerry

11 July 2015

Universitas Jenggala Sidoarjo Hijrah ke Sumatera



Kalau melintas ke kawasan Sekardangan, Sidoarjo, ada kampus Universitas Jenggala alias Unggala yang lumayan megah. Tapi sudah lama tidak ada kegiatan perkuliahan di itu. Kampus Unggala kini malah lebih dikenal sebagai kompleks SMA Unggala Sidoarjo.

Universitas Jenggala ke mana? Bukankah itu kampus yang pernah terkenal di Sidoarjo? "Unggala sudah lama buyar. Nggak ada kuliah lagi. Yayasan cuma pertahankan SMA Unggala saja," kata Mulyono, alumnus Unggala yang asli Sidoarjo.

Unggala buyar? Tutup? Atau dijual? Kalau dijual, harganya berapa?

Saya pikir, Unggala diambil alih yayasan lain untuk dijadikan universitas dengan nama baru. Mekanisme alih kelola (take over) ini memang harus dilakukan karena kementerian pendidikan dan kebudayaan sudah lama melarang pendirian universitas baru di Indonesia.

Sistem alih kelola inilah yang membuat di Surabaya bisa muncul Universitas Ciputra dan Universitas Pelita Harapan. Kedua perguruan tinggi swasta itu bisa dipastikan menggunakan izin lama milik perguruan tinggi swasta yang (biasanya) kurang laku. Lalu ganti nama. Mirip alih kelola klub sepak bola di Indonesia.

Saya bertanya ke beberapa warga di depan kampus Unggala Sidoarjo. Tidak ada jawaban memuaskan. Mereka tidak tahu, dan tidak mau tahu, urusan Unggala. Apa lagi soal alih kelola yang memang sedikit rahasia itu. Syukurlah, saat ini kita punya Mbah Google yang siap menjawab kita punya pertanyaan. Termasuk nasib Unggala Sidoarjo. (Bayangkan, Google lebih tahun daripada orang-orang di dekat kampus Unggala.)

Dari Google, akhirnya tahulah saya bahwa Unggala Sidoarjo diambil alih oleh Yayasan Pendidikan Islam Bende Seguguk Kayuagung di Kabupaten Ogen Kumering Ilir, Sumatera Selatan. Yayasan milik Muhammadiyah setempat itu ingin membangun perguruan tinggi bermutu di Ogen Kumering Ilir dengan dukungan pemerintah kabupaten setempat.

Sesuai aturan kementerian pendidikan, yayasan itu melakukan survei ke beberapa perguruan tinggi di Pulau Jawa. Mendekati kampus-kampus yang sepi mahasiswa alias senen-kemis hidupnya. Yayasan Unggala Sidoarjo akhirnya bersedia bekerja sama dengan yayasan Muhammadiyah dari Sumsel tersebut.

"Yayasan Bende Seguguk Kayuagung sepakat untuk bekerja sama dengan Yayasan Universitas Jenggala Sidoarjo mengadakan perjanjian alih kelola, perubahan nama, dan pindah lokasi dari Universitas Jenggala Sidoarjo Jawa Timur menjadi Universitas Islam Ogan Kumering Ilir (Uniski), Kayuagung. Melalui Yayasan Pendidikan Islam Bende Seguguk Kayuagung ini, maka berdirilah Universitas Islam OKI (Uniski) Kayuagung," tulis lama resmi Uniski Kayuagung, Sumatera Selatan.

Akhirnya, izin penyelenggaraan Uniski (alias eks Unggala Sidoarjo) diterbitkan menteri pendidikan nasional melalui surat keputusan nomor 148/D/O/2007 tanggal 7 Agustus 2007. Universitas Islam OKI (Uniski) Kayuagung memiliki 4 fakultas: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Hukum, Fakultas Perikanan, dan Fakultas Teknik.

Dengan demikian, terhitung mulai 7 Agustus 2007 tidak ada lagi Universitas Jenggala alias Unggala di Sidoarjo. Unggala sudah hijrah nun jauh ke Sumatera Selatan menjadi universitas baru yang diberi nama Uniski Kayuagung milik perguruan Muhammadiyah Ogan Kumering Ilir.

Semoga Uniski bisa berkembang menjadi universitas yang maju dan menghasilkan para alumni yang berguna untuk bangsa dan negara. Bukan universitas yang cuma menerima mahasiswa-mahasiswa tua, karyawan, PNS, polisi, tentara, dan orang-orang yang hanya membutuhkan ijazah sarjana untuk kenaikan pangkat, karir, dan gengsi -- seperti image Unggala di Sidoarjo dulu.

Kuliah ekonomi Dr Darmin Nasution di televisi



Sudah sangat lama kita tidak menyaksikan diskusi ekonomi yang dalam di televisi. Sudah lama TV-TV nasional lebih asyik memberi tempat untuk guyonan (yang tidak lucu), gosip artis, talkshow dangkal, sinetron yang gitu-gitu aja, debat hukum ala pokrol bambu.

Tidak ada acara yang agak berat macam kuliah ekonomi Prof Sumitro di TVRI masa lalu. Atau keterangan Prof Sadly, Dr Radius Prawiro, Dr Ali Wardana, Dr Hartarto dsb dsb. Atau keterangan Prof Subroto soal harga minyak, OPEC, dsb. Obrolan ekonomi kelas berat itu sih cerita lawas. Ketika negara Orde Baru sangat kuat dan TVRI jadi satu-satunya televisi di Indonesia.

Karena itu, dua hari lalu saya terkejut menyaksikan kuliah ekonomi Dr Darmin Nasution yang disiarkan langsung di Metro TV dan Kompas TV. Benar-benar kejutan! Pak Darmin bicara di depan Presiden Jokowi, menteri-menteri, pengusaha-pengusaha top, para VVIP di negeri ini. Saya juga baru tahu kalau Dr Darmin Nasution ternyata seorang dosen yang sangat hebat.

Kuliah ekonominya sangat dalam. Pakai data. Statistik. Kurva naik, turun. Tapi bahasanya dibuat sederhana dan jernih. Ketua ISEI ini menyampaikan perkembangan ekonomi dunia, tren ekonomi Indonesia, menyoroti berbagai ketimpangan dengan bahasa halus. Tapi juga mengapresiasi langkah-langkah pemerintahan Jokowi selama ini meski tidak menggembirakan.

Ulasan Dr Darmin Nasution yang tajam mengingatkan saya pada begawan ekonomi Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo di masa lalu. Juga teknokrat-teknokrat ekonomi Orde Baru. Oh ya, Prof Emil Salim yang juga piawai bicara ekonomi kelas berat juga hadir di seminar ini. Beliau manggut-manggut, sesekali merengut dan tersenyum.

Syukurlah, saya yang tidak biasa nonton TV siang hari, entah kenapa, tiba-tiba menyetel Metro TV. Sehingga bisa ikut menikmati kuliah ekonomi Darmin Nasution yang bagus itu. Syukurlah, masih ada TV yang mau memberi slot waktunya untuk tayangan berat tanpa iklan itu. Salut untuk Metro TV dan Kompas TV.

Selama ini dialog ekonomi bukannya tidak ada di televisi. Tapi program itu sifatnya obrolan, dikemas ringan, ala hiburan, dan cenderung di permukaan. Televisi hanya membutuhkan pengamat-pengamat yang bicara cepat, nerocos, nyelekit, pokoke rame. Bukan pengamat tipe dosen kelas berat macam Prof Sumitro atau Dr Darmin Nasution.

Setelah mendengarkan kuliah di televisi itu, saya berpendapat Presiden Jokowi rugi besar kalau tidak menarik Darmin Nasution sebagai menteri senior atau menteri perekonomian atau posisi lain di tim ekonomi. Sayang banget, begawan-begawan seperti Pak Darmin tidak dimanfaatkan jasanya untuk Indonesia.

10 July 2015

Musim dingin di tengah kemarau yang bikin sakit

Musim dingin sedang terjadi di Jawa Timur sejak pertengahan Juni lalu. Bulan Juli 2015 ini puncaknya "musim dingin" di Surabaya dan Sidoarjo, kota pesisir yang terkenal sebagai daerah panas. Tapi musim dingin hanya terjadi malam hari.

Siang hari panas nian. Rumput-rumput kering, banyak tanaman mati kepanasan, kebakaran lebih sering terjadi. Kalau tidak salah suhu siang hari bisa tembus 37 derajat Celcius. Panas yang sangat kering. Beda dengan sumuknya Surabaya saat musim hujan.

Setelah umat muslim buka puasa, terjadi perubahan temperatur yang drastis. Makin malam makin dingin. Saya pun mengigil ketika tidak pakai jaket saat melintas dari Sidoarjo ke Surabaya pukul 00.30. Jelang dinihari angka di termometer bisa 23 derajat. Ada teman yang bilang suhu pernah tembus 20 derajat. Silakan mandi tengah malam!

Tahun 2015 ini kontras panas siang dan malam yang dingin (lebih tepat sejuk) lebih terasa. Tahun lalu, 2014, rasanya tidak seekstrem tahun ini.

Maka, kondisi tubuh saya drop. Biasanya paling tahan flu, kali ini kena flu yang parah. Sudah satu minggu gak sembuh-sembuh. Badan panas, hidup tersumbat, tenggorokan sakit, malam bicara karena pita suara pun ikut terimbas "musim dingin" yang selalu jatuh pada musim kemarau itu.

Musim bediding! Itulah nama musim dingin di Jawa (pada malam hari) dan ekstrem panas pada siang hari. Debu-debu beterbangan karena tak ada setitik air, apalagi hujan, membasahi bumi. Tanaman-tanaman yang rajin kita sirami pun terlihat seperti tidak pernah disiram.

Setiap bulan Juni hingga Agustus selalu terjadi musim bediding yang bikin kita kedinginan itu. Bukankah sejuk itu bagus? Tidak perlu jauh-jauh ke Prigen, Pacet, atau Batu hanya untuk mencari hawa sejuk? Benar. Namun, sejuknya bediding ini bisa membuat kita keok jika kondisi tubuh tidak kuat menghadapi perbedaan suhu yang ekstrem antara siang dan malam.

09 July 2015

ATN Sidoarjo akhirnya dibekukan



Akademi Teknik Nasional (ATN) Sidoarjo dua pekan lalu dibekukan oleh kementerian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi. Perguruan tinggi yang beralamat di Jalan Kusuma, Berbek Nomor 9-11, Kecamatan Waru, Sidoarjo, ini dinilai lalai dalam memberikan laporan rutin kepada koordinator perguruan tinggi swasta (kopertis) Jawa Timur di Surabaya.

Dhanu Lukmantoro, ketua Perkumpulan pendidikan dan kesehatan keluarga besar H Soedarmo, yang mengelola kampus ini, mengaku tidak terkejut dengan sanksi pembekuan yang dijatuhkan kementerian pendidikan tinggi melalui kopertis. Namun, dia meminta agar pihaknya diberi kesempatan untuk mengurus sejumlah persyaratan yang ditetapkan kopertis.

"Kopertis itu seharusnya melakukan pembinaan. Bukan malah menutup kampus kami," ujar Dhanu Lukmantoro kepada Lambertus Hurek di ruang kerjanya.

ATN Sidoarjo yang menyelenggarakan program studi diploma tiga (D3) teknik mesin dan teknik elektronika ini semula bermarkas di Jl Ngagel Madya 35 Surabaya. Didirikan pada 7 Juli 1976 dengan nama ATN Surabaya, kampus ini dulu menjadi jujukan para lulusan sekolah teknik menengah (STM) maupun SMA yang orang tuanya tidak mampu. Pada 1990, ATN boyongan ke Berbek, Waru, dan ganti nama menjadi ATN Sidoarjo. Namun, karena kampusnya berada di tengah kampung, mahasiswanya makin lama makin berkurang.

"Kami biasanya mengadakan kuliah sore sampai malam hari pukul 22.00. Fasilitas gedung, laboratorium, dosen, dan sebagainya lengkap. Nah, pihak kopertis biasanya datang survei pada siang hari. Ya, jelas tidak menemukan kegiatan perkuliahan," ujar Dhanu.

Pria yang juga kepala SMK Darma Siswa Berbek ini mengaku beberapa kali mendatangi kantor kopertis di Surabaya untuk menyelesaikan persoalan administrasi. Namun, pihak kopertis menolak dengan alasan sudah melewati deadline. Akhirnya, sejak dua tahun lalu ATN Sidoarjo tidak lagi menerima mahasiswa baru. "Jadi, sekarang ini nonaktif, tapi tidak tutup. Kami kan masih punya izin dari pemerintah," tegasnya.

Dhanu berharap, Pemkab Sidoarjo melalui dinas pendidikan ikut membantu memberikan rekomendasi agar ATN Sidoarjo bisa beroperasi lagi seperti dulu. Apalagi, menurut dia, ATN merupakan salah satu perguruan tinggi berpengalaman di Kabupaten Sidoarjo. "Mana ada kampus yang uang kuliahnya cuma Rp 150 ribu per bulan? Biaya kuliah di sini sengaja dibuat murah agar anak-anak keluarga miskin bisa menempuh pendidikan tinggi," katanya.

Karena tidak lagi menerima mahasiswa selama dua tahun terakhir, menurut Dhanu, para dosen pun otomatis dinonaktifkan. Namun, mereka menyatakan siap kembali ke kampus jika ATN dihidupkan kembali. "Dosen, tenaga administrasi, gedung, laboratorum, dan sebagainya bukan masalah bagi kami. Begitu pembekuan ini dicabut, kami siap menyelenggarakan kuliah lagi."

Hanya saja, Dhanu mengakui tidak mudah mengembalikan image ATN Sidoarjo yang sudah telanjur diberitakan sebagai salah satu dari 19 perguruan tinggi di Jatim yang dinonaktifkan oleh kopertis. Apalagi, persaingan antara kampus-kampus di Surabaya dan Sidoarjo saat ini makin ketat. "Tapi, insya Allah, kami terus berusaha agar ATN Sidoarjo bisa aktif lagi."

08 July 2015

Orang Timor Nginang di Surabaya

Pagi ini, 8 Juni 2015, saya dapat pengalaman menarik saat ngopi, baca koran Jawa Pos, usai nggowes sepeda pancal di wilayah Ngagel, Kertajaya, Karangmenjangan, kembali ke Pucang. Tiba-tiba datang seorang laki-laki potongan Flobamora (nama lain NTT: Flores Sumba Timor Alor). Dia mendekat dan duduk di samping saya.

Mulut laki-laki itu kemerahan, kunyah terus. Hehehe... jadi ingat kampung halaman Lembata, Flores Timur, dan NTT umumnya. Sudah pasti bung ini orang Timor atau Sabu atau Rote. "Bung dari Timor kok?" tanya saya.

"Betul. Beta asal Soe," jawabnya mantap. Soe ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan, salah satu kabupaten di Pulau Timor, NTT.

Obrolan makin lancar, pakai bahasa Melayu Kupang: beta, sonde, kermana, selalu pakai e benar meskipun logat bahasa Indonesia yang benar seharusnya e pepet. Bung Melki namanya, baru dua bulan bekerja di sebuah ekspedisi di Pucang. Tapi dia tidak kerasan dengan gaji Rp 70 ribu atau Rp 80 ribu sehari. Kalo sonde kerja ya sonde dapat uang.

"Hari Sabtu beta mau pigi ke Malaysia. Beta biasa pegang ringgit. Pegang uang rupiah beta rasa sonde senang. Uang rupiah cepat habis na," kata bung Melki nerocos terus.

Kayaknya senang dapat teman bicara sesama orang NTT. Bung ini cerita banyak pengalaman merantau di Malaysia Timur, kemudian Malaysia Barat, pulang ke NTT, uang habis.. transit sebentar di Surabaya, lalu balik lagi ke Malaysia. Beta senang dengar dia punya cerita yang lucu, sedih, tragis, apa adanya.

Tapi beta lebih tertarik dengan bung Melki punya kecanduan makan sirih pinang. "Beta lebih baik sonde (tidak) makan dua hari daripada sonde makan sirih pinang. Beta sonde tahan kalau sonde makan sirih pinang," ujar bung Melki yang membuat saya tertawa ngakak. Orang-orang di warung kopi ini (kebetulan banyak yang tidak puasa) rupanya heran mengapa dua orang NTT ini ngobrol asyik dan ketawa sendiri.

Rupanya bung Melki baru saja jalan-jalan ke Pasar Pucang. Ketemulah ia dengan daun sirih, pinang, kapur dsb di lapak penjualan bunga untuk kebutuhan nyekar di makam. Si pedagang heran melihat Melki membeli bahan-bahan nginang itu. Karena di Jawa tidak ada kebiasaan nginang, Melki berusaha mencari kapur yang aslinya untuk bangunan.

"Kapur di sini makan kitong punya mulut. Beda dengan kapur di NTT," katanya. Hehehe... Ya jelas beda bung! Mengunyah kapur bangunan jelas bisa merusak mulut, lidah, dsb. Tapi Melki punya strategi untuk menjinakkan kapur ganas di Surabaya.

"Bung sonde merokok? Merokok kan bisa mengganti sirih pinang? Kalau bung pigi Malaysia, sonde ada sirih pinang, bung makan apa?" pancing saya.

"Oh, di Malaysia juga banyak sirih pinang. Lebih gampang cari sirih pinang di Malaysia daripada di sini. Di Surabaya ada tapi sirihnya sirih liar. Beda dengan sirih di beta pu kampung yang rasanya enak," kata bung Melki yang mulutnya makin memerah karena nginang itu.

Bung Melki mengaku harus sangat hemat agar bisa nginang setiap hari. Dia bilang cukup dengan Rp 2000 bisa nginang dua hari. Kalau merokok, tidak akan cukup sehari Rp 10 ribu. "Kalau beta disuruh pilih merokok atau siring-pinang, beta pilih sirih-pinang. Beta sonde bisa lepas," katanya tetap tersenyum.

Beta jadi ingat suasana di luar terminal Pelabuhan Tenau, Kupang, beberapa waktu lalu. Sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal, wow... betapa banyaknya manusia-manusia Flobamora yang nginang. Tua muda, laki perempuan, ramai-ramai nginang.

"Orang Timor, Sabu Rote memang tidak bisa lepas dari sirih pinang. Kecanduan seperti narkoba," kata seorang teman dari Flores Timur yang sudah karatan di Kupang.

Di Flores, khususnya Kabupaten Lembata dan Flores Timur, budaya nginang lebih banyak dilakoni ibu-ibu dan nenek-nenek. Jarang sekali ada laki-laki yang nginang. Wanita pun makin lama makin meninggalkan tradisi lama itu. Saya perhatikan wanita yang kelahiran di atas tahun 1980 sangat jarang yang makan sirih-pinang. Apalagi yang lahir tahun 1990an dan 2000an. Wanita-wanita muda di kampung sekarang ini lebih banyak makan pulsa seluler.

"Bang, tolong isi pulsa sedikit," begitu bunyi SMS khas dari kampung.

Beda banget dengan pesan zaman dulu: Kalau pulang kampung, jangan lupa beli sirih pinang!

Bung Melki yang asli Soe ini meskipun sudah sering merantau ke Malaysia, Surabaya, Pontianak, rupanya masih setia melestarikan tradisi nenek moyang Flobamora. Dia sonde peduli rokok, pulsa, pokoknya nginang nginang nginang... nginang terus.

Bung Melki, selamat berjuang di Malaysia, banyak ringgit, dan tetap kunyah sirih pinang!

Ajaib! Vanuatu kalahkan Mikronesia 46-0

Masih soal balbalan, kompetisi antarnegara di kawasan Pasifik. Beberapa menit lalu saya baca di ESPN, salah satu laman bola favorit saya setelah Goal, tentang extraordinary score. 46-0.

Rasanya mau ketawa, sedih, heran, tapi memang begitulah sepak bola Pacific Game. Skor-skornya selalu ajaib. Beda dengan Copa America baru-baru ini yang sulit bukan main mencetak gol alias 0-0 melulu. Tapi kok bisa sampai 46 gol dalam sebuah pertandingan?

Mikronesia yang penduduknya tak sampai 200 ribu jiwa ini bakal tercatat sebagai negara yang paling lemah sepak bolanya di seluruh dunia. Dalam tiga pertandingan saja, Mikronesia kebobolan 114 gol. Luar biasa!

Pertama, dicukur Fiji 38-0. Kedua dipermalukan Tahiti 30-0. Dan, ketiga, disikat Vanuatu 46 gol. Artinya, rata-rata setiap dua menit terjadi satu gol. Saya bisa bayangkan betapa lucu dan anehnya sepak bola seperti itu. Mungkin lebih lucu ketimbang galatawa ala Srimulat Surabaya. Pertandingan bola galatawa yang dipimpin Cak Tarsan pun tak pernah sampai banjir gol seperti itu.

ESPN menulis:

"Jean Kaltak scored 16 goals for Vanuatu, who had to win by at least 37 goals to stand a chance of finishing in the two top and qualifying for the knockout rounds. But as Fiji and Tahiti played out a goalless draw in the final group game, Vanuatu had to settle for third place and were knocked out of the Pacific Games.

"In Tahiti's 30-0 win over Micronesia, there were seven hat tricks, including a double hat trick for one player. Antonio Tuivuna scored 10 goals for Fiji against Micronesia. The Pacific Games is for under-23 teams, so Vanuatu's score will not stand as a world record for full international matches."


Benar-benar keajaiban dunia! Jean Kaltak dari Vanuatu mencetak 16 gol dalam satu pertandingan. Saat digulung Tahiti 30-0, ada 7 kali hatrik, termasuk hatrik ganda. Antonio Tuivuna dari Fiji mencetak 10 gol ke gawang Mikronesia.

Bagaimana kalau tim nasional Indonesia uji coba lawan Mikronesia yang ajaib itu? Akankah Indonesia bisa mencetak lebih dari 10 gol? Melihat permainan timnas U-23 di SEA Games, pertengahan Juni 2015, saya ragu Indonesia bisa menang lebih dari 5 gol. Indonesia malah jadi bulan-bulanan lawan yang sama-sama makan nasi, sama-sama pendek, sama-sama dunia ketiga.

Kayaknya Indonesia, yang sedang dihukum FIFA, lebih cocok bergabung ke Pacific Games bersama Mikronesia, Fiji, Vanuatu, Tahiti, dan sejenisnya.

06 July 2015

Pabrik lampu Philips di Sidoarjo tutup



Terus terang, sudah lama saya penasaran dengan lampu Philips yang terang terus itu. Setiap kali membeli dop baru, saya baca di kemasan, bagian bawah, tulisan Made in China. Lampu hemat energi itu dibuat di Tiongkok?

Aneh, bagi saya yang sering melintas di Berbek Industri, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Bukankah pabrik Philips Indonesia sejak dulu ada di Berbek Industri? Mengapa lampu-lampu yang dijual di Surabaya dan Sidoarjo made in China? Bukan made in Sidoarjo, Indonesia? Ada apa dengan Philips?

Saya pun mampir ke kawasan pabrik Philips di Berbek Industri, Waru. Oh, ternyata ada spanduk dari Jones Lang Lasalle (JLL), agen properti yang biasa menangani penjualan properti besar. Ada tulisan di spanduk di pagar pabrik yang punya sekitar 900 pekerja itu: FOR SALE. Eks pabrik Philips itu dijual.

"Pabrik Philips di Berbek memang sudah tidak beroperasi. Sekarang aset-asetnya sedang dalam proses penjualan," ujar Joseph Lukito, pimpinan JLL Surabaya, yang saya kontak via telepon.

JLL juga memasang iklan di Jawa Pos ihwal penjualan lahan dan bangunan eks pabrik Philips yang pernah sangat terkenal itu. Menurut Joseph, luas tanah eks pabrik Philips Indonesia di Berbek ini 7,1 hektare. Sedangkan luas bangunannya 5,6 hektare. Joseph enggan menyebutkan nilai aset Philips tersebut. "Kalau soal harga, kami harus negosiasi secara tertutup."

Joseph juga menolak menyebutkan alasan penjualan pabrik yang memproduksi aneka jenis lampu tersebut. Alasannya, penutupan pabrik di Berbek merupakan kebijakan manajemen Philips. Namun, dia membantah spekulasi yang mengaitkan penghentian operasi Philips lantaran upah minimum kabupaten (UMK) Sidoarjo yang terlalu tinggi, Rp 2,7 juta sebulan.

"Yang jelas, bukan UMK. Itu sepenuhnya keputusan anajemen Philips," tegasnya. Joseph yang lulusan Ubaya ini yakin lahan seluas 7,1 hektare di kawasan industri di dekat perbatasan Sidoarjo-Surabaya itu masih prospektif untuk industri.

Penutupan pabrik Philips di kawasan Berbek, Waru, ini jelas sangat mengagetkan. Betapa tidak. Saat bertemu para wartawan beberapa bulan lalu, Operations Manager Philips Lighting Indonesia Maciej Bartnicki memuji Indonesia sebagai salah satu negara dengan pasar lampu yang tumbuh paling pesat di dunia. Posisi pasar Indonesia bahkan relatif setara dengan Tiongkok dan India.

"Maka, kami akan mempertahankan dan menggenjot kinerja pabrik Philips di Indonesia," ujar Maciej Bartnicki ketika mengunjungi SDN Berbek, Waru.

Namun, situasi ekonomi dan investasi di dunia terus berubah seiring derasnya perputaran roda globalisasi. Mendadak kita di Sidoarjo dikejutkan oleh keputusan Philips Indonesia untuk menjual asetnya di Berbek Industri.

Mudah-mudahan gubernur Jawa Timur dan bupati Sidoarjo, yang setiap tahun dapat investment award sebagai kabupaten paling kondusif untuk investasi, tanggap dengan kebijakan Philips ini. Sayang kalau pabrik tua yang berdiri pada tahun 1940 hengkang ke negara lain yang dianggap lebih ramah investasi.

Timnas Fiji vs Mikronesia 38-0

Laga final Cile vs Argentina kemarin sangat tidak menarik. Kita, khususnya saya, kecewa berat karena selama 90 menit tidak ada gol. Diperpanjang 30 menit skor masih 0-0. Lalu adu penalti, sejenis judi balbalan, yang dimenangi tuan rumah. Cile juara Copa America 2015.

Saya pun malas membaca ulasan bola di ESPN dan Goal yang selalu berbobot itu. Beda dengan ulasan pengamat-pengamat di Jakarta yang sangat dangkal. Bicara sedikit sudah diputus iklan. Beda dengan analis-analis bola masa lalu macam Eddy Sofyan atau John Halmahera di TVRI yang sangat dalam. Maklum, TVRI waktu itu haram iklan.

Nah, di tengah kekecewaan itu ada berita sepak bola yang sangat menarik di Telegraph. Tim nasional Fiji mencukur gundul Mikronesia di ajang Pacific Games dengan skor 38-0. Skor super besar ini bahkan tak pernah saya bayangkan dalam hidup. Dulu Persebaya pernah kalah (tepatnya ngalah) 0-12 dari Persipura di kompetisi perserikatan. Skandal yang kemudian disebut sepak bola gajah.

Laga di Port Moresby ini bukan sepak bola gajah yang sudah diatur mafia balbalan. Ini kompetisi resmi yang diakui FIFA. Bukan pertandingan tarkam (antarkampung). Di babak pertama timnas Fiji bahkan sudah unggul 21-0.

"Antonio Tuivuna mencetak 10 gol," tulis Telegraph.

Wow, bikin hatrik (3 gol) saja sulitnya minta ampun. Argentina dan Cile bahkan gagal bikin satu gol di final Piala Amerika. Kok Antonio bisa borong 10 gol? Aneh bin ajaib dan hebat.

Skor ajaib 38-0 ini sekaligus memecahkan rekor sebelumnya ketika Australia mempermalukan American Samoa 31-0 di kualifikasi Piala Dunia zona Oceania tahun 2002. Timnas Australia memang selalu menang dengan skor-skor ajaib di kawasan Pasifik. Itu sebabnya, Australia pindah ke zona Asia yang dianggap lebih kompetitif.

Mikronesia. Negara macam mana pula itu? Eyang Google pasti bisa menjawab dengan jitu dan lengkap. Negara kecil ini sebelumnya dikalahkan Tahiti dengan skor 30-0 dalam kejuaraan yang diikuti 24 tim nasional. Ajaib juga.

Tentu saja skor besar 10-0, 20-0, 30-0, atau 38-0 menunjukkan betapa jomplangnya kekuatan kedua tim. Yang satu terlalu kuat, sedangkan satunya lagi tidak bisa apa-apa. "Kalau sampai kalah 38 gol mungkin kipernya nggak ada," kata Syamsul, orang Madura yang gila Real Madrid.

Andaikan skornya bukan 38-0, tapi 38-23... penonton lebih terhibur. Ini juga jadi pelajaran bagi para pemain sepak bola agar tidak lupa tugas pokoknya mencetak gol sebanyak-banyaknya. Jangan puas dengan 0-0, kemudian mengadu nasib dengan adu penalti.

05 July 2015

Argentina pantas kalah - final Copa America 2015



Apa enaknya menonton sepak bola tanpa gol selama 90 menit? Diperpanjang 30 menit pun masih tetap 0-0? Benar-benar tidak asyik. Hambar. Ibarat sayur tanpa garam. Sudah bela-belain begadang, korupsi jam tidur, laganya membosankan.

Begitulah final Copa America 2015, Cile vs Argentina. Kedua tim nasional yang punya pemain-pemain top dunia, salah satunya super star Messi, gagal menyuguhkan permainan cantik plus gol-gol indah ala Amerika Latin. Mbulet aja, muter-muter, tetap tidak ada gol.

Mestinya setelah imbang 0-0 selama 90 menit ya langsung adu penalti. Seperti aturan federasi balbalan Amerika Selatan di babak penyisihan grup. Eh, ternyata di partai final di Santiago, Cile, ini malah diperpanjang seperti biasanya: 2 x 15 menit.

Berani taruhan, tidak mungkin ada gol! Begitu keyakinan saya. Dan benar... nihil gol. Sang juara harus ditentukan lewat adu penalti. Kalau sudah begitu, saya ingin Argentina dengan sang Messi(ah) perlu dipermalukan. Siapa suruh tidak bisa bikin gol? Buat apa ada Messi, pemain terbaik dunia itu?

Akhirnya, saya bisa tertawa sendiri melihat tendangan Higuain melambung jauh ke langit ketujuh. Selamat untuk Argentina... yang kalah. Messi dkk tertunduk lesu. Betapa sulit membayangkan Argentina bisa memenangi Piala Dunia atau Piala Amerika dalam 10 tahun ke depan.

Dulu Argentina pernah gilang-gemilang ketika ada sang mahabintang Diego Maradona di lapangan. Maradona mencapai puncak keemasan, dengan gol tangan Tuhan yang kontroversial itu, pada usia 25 tahun. Kalau tidak salah usia Messi sudah 28 atau 29. Hanya keajaiban yang bisa membuat Messi bisa meraih dua trofi utama itu bersama tim nasional Argentina.

Messi sepertinya ditakdirkan untuk hanya masuk final (Piala Dunia 2014 ketemu Jerman di final dan kalah). Messi hanya berjaya luar biasa di klub Barcelona. Di Barca, ibaratnya Messi leyeh-leyeh pun sudah menang besar dan juara terus. Sebaliknya, di timnas Messi tidak punya teman main yang benar-benar klik macam di Barca.

Secara umum Copa America 2015 sangat tidak menarik ditonton. Aksi-aksi individual yang ciamik ala Amerika Latin tidak kelihatan. Gaya tarian Samba bahkan sudah lama hilang sepeninggal mas Ronaldinho yang rancak itu. Atau si Kuncung Ronaldo yang haus gol. Atau Romario, bintang lawas Brasil, yang benar-benar saya sukai.

Kalau tidak segera berbenah, bakat-bakat alam yang luar biasa dari Amerika Latin hanya jadi pemasok klub-klub elite di Eropa. Setelah menua di Eropa, mau pensiun baru kembali memperkuat klub-klub setempat yang tidak menarik.

Keperkasaan dan keindahan tim nasional Brasil dan Argentina sepertinya tinggal kenangan. Salam balbalan!

04 July 2015

Sapto Adi ketua tunanetra di Sidoarjo



Beberapa tahun lalu, saya pernah bertemu Sapto Adi dalam sebuah pameran di Museum Mpu Tantular Sidoarjo. Orangnya tunanetra tapi selalu antusias bercerita. Tentang organisasi yang ia pimpin: Persatuan Tunanetra Indonesia alias Pertuni Sidoarjo. Mas Sapto ini ketua umumnya.

Minggu lalu, saat blusukan ke kawasan Terik, Krian, saya tertarik melihat papan nama Pertuni di pinggir jalan. Mungkin rumah mas Sapto, sekaligus sekretariat Pertuni Sidoarjo. Ternyata betul. Mas Sapto yang buka pijat refeksi, ijazah dari Malang, membukakan pintu. Dan kami ngobrol layaknya orang yang sudah lama berkenalan.

"Kegiatan bulan suci Ramadan ini padat banget. Teman-teman diundang mengisi pengajian di mana-mana," kata Sapto Adi yang selalu tersenyum kalau bicara.

Lalu ia menyebut beberapa orang buta di Sidoarjo, anggota Pertuni, yang jagoan menghafal Alquran. Mereka sering jadi bintang di acara pengajian. Kalau orang awas (istilah Sapto untuk mata normal) pintar hafal Alquran itu biasa. Tapi kalau orang buta hafal kitab suci berbahasa Arab klasik itu, dengan pelafalan yang bagus, suara merdu, jelas luar biasa.

Mas Sapto kemudian masuk ke ruang kerjanya dan membawa beberapa proposal dan agenda kegiatan Pertuni. Agar saya baca dan komentari. Intinya menggalang bantuan bagi para tunanetra yang belum mampu mencari nafkah sendiri. Dari sekitar 150 anggota Pertuni di Sidoarjo, sebagian masih bergantung pada orang tua atau kenalan atau famili jauh.

Pertuni sendiri sejak dulu ingin menjadikan anggotanya mandiri. Cacat mata bukan halangan untuk sekolah, kuliah, atau bekerja. Mas Sapto menyebut beberapa tunanetra yang sudah lulus S1 di Universitas Negeri Surabaya. Meskipun buta, mereka bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Bikin skripsi dan lulus.

"Kami tidak minta dikasihani. Kami hanya minta kesempatan dan perlakukan yang sama. Insyallah, kami juga bisa kok," kata mas Sapto Adi yang tengah ditunggui seorang bapak yang ingin pijat refleksi.

Dibandingkan 10 atau 20 tahun lalu, menurut dia, pemerintah mulai peduli pada tunanetra baik yang sudah gabung di pertuni maupun belum. Peluang untuk belajar terbuka lebar. Bahkan sekolah-sekolah biasa sudah lama menerima kaum tunanetra di Sidoarjo. "Kalau dulu sangat-sangat jarang ada tunanetra yang kuliah dan jadi sarjana," katanya.

Sayang, saat ini masih banyak orang tua yang malu atau minder punya anak tunanetra. Ada yang malah menganggap kutukan dari Tuhan. Akibatnya, anak-anak tunanetra itu disembunyikan di rumah. Tidak diberi kesempatan sekolah atau bersosialisasi di luar. "Jelas aja anak itu tidak akan bisa mandiri. Wong tunanetra yang dididik di Malang saja sulit mandiri, apalagi yang seperti itu," katanya.

Mas Sapto kemudian menyebut seorang anggota Pertuni, usianya 21 tahun, namanya saya lupa, yang belum pernah mencicipi sekolah. Di usia dewasa itu dia tidak tamat SD, tak bisa membaca, dsb dsb. Mas Sapto akhirnya memutuskan dibawa ke Malang. Untuk dilatih sebagai tukang pijat di lembaga diklat khusus milik Dinas Sosial Jawa Timur.

Kok tunanetra selalu diarahkan jadi tukang pijat? "Soalnya, pijat itu pekerjaan yang paling gampang. Mau jadi wartawan ya nggak mungkin," kata mas Sapto tertawa kecil. Hehehe... iso-iso ae Cak!

Pelatihan jadi tukang pijat di Malang pun tidak lama. Cukup mengerti otot, urut-urutan pijat.. sudah bisa langsung praktik. Lama-lama jadi tukang pijat kawakan seperti mas Sapto ini. Berkat usaha pijat refleksi, Sapto bisa menghidupi istri (buta) dan seorang anaknya (awas). "Alhamdulillah, anak saya awas. Ayah ibunya buta, tapi anak saya awas dan akan bertumbuh seperti masyarakat lain yang normal," katanya.

Obrolan dengan mas Sapto makin lama makin menarik. Sayang, si calon pasien yang ikut nguping obrolan kami ini berkali-kali memberi isyarat agar mas Sapto segera memijat bapak itu. Lumayan, sekali pijat bayar Rp 50 ribu!

Saya pun pamit pulang! Matur nuwun!

03 July 2015

Puasa gadget lebih berat

Puasa makan dan minum itu sangat berat... buat yang belum biasa. Tapi bisa dibayangkan puasa gadget?

Orang-orang modern rasanya sulit hidup tanpa gadget di dekatnya. Di toilet pun, maaf, banyak orang masih asyik main gadget untuk update status, berceloteh, unggah apa saja dsb dsb. Dunia seakan runtuh tanpa gadget.

Makin sering eksis di media sosial, punya banyak teman, follower, banyak komen sepertinya terbang ke langit ketujuh. Saya perhatikan di komunitas forum Sidoarjo ada member yang aktifnya luar biasa. Ada-ada saja foto, pesan, dan makanan buatannya yang muncul di komunitas itu.

Di bulan puasa ini malah lebih aktif lagi. Sebab, puasa Ramadan memang tidak termasuk puasa gadget. "Saya perbanyak pesan-pesan islami sesuai suasana bulan suci," kata mbak yang cantik itu.

Gak puasa gadget sekalian? "Hah, puasa gadget? Bisnis saya kan mengandalkan gadget. Kalau puasa gadget ya bisnis saya gak jalan," kata mbak D itu.

Bisa dimengerti. Mbak D cukup sukses dengan bisnis kuliner berkat sosialisasi dan promosi yang sangat kencang di media sosial. Orderannya menumpuk via media sosial. Boleh dikata gadget-nya menyala 24 jam.

Tapi ada juga teman yang berhasil puasa gadget selama satu bulan. Mbak M ini sengaja mematikan semua gadget-nya dan hanya mengandalkan ponsel lawas untuk menelepon dan SMS. Tak ada ping. Tak ada jalur ke internet. "Saya hanya lihat e-mail sekali-sekali lewat komputer kantor," katanya.

Awalnya sih berat. Tapi lama-lama ya biasa juga menjalani puasa gadget selama satu bulan. Banyak hal yang bisa dia kerjakan saat puasa gadget itu. Salah satunya adalah membaca buku. "Waktu masih gila gadget, saya jarang baca buku. Baca buku sebentar, ping, konsentrasi hilang. Bukunya ditinggal," katanya lalu tertawa.

Setelah puasa gadget 40 hari, prapaskah itu, mbak M aktif lagi dengan gadget-nya. Tapi tidak segencar dulu. Saya perhatikan dalam seminggu belum tentu ada update isu baru. Padahal, dulu, sehari bisa 5 kali si M ini mengunggah apa saja untuk ditanggapi teman-temannya.

Puasa gadget di Jawa, khususnya kota-kota yang jaringan selulernya sempurna, memang sangat tidak mudah. Puasa gadget justru sangat mudah dilakukan di pedalaman NTT yang fasilitasnya serba minim. Gadget secanggih apa pun jadi benda yang tak ada gunanya di kampung saya itu karena... tidak ada sinyal seluler.

Obrolan ngalor ngidul ala dunia maya pun hilang. Itulah puasa gadget yang paling sempurna di dunia.

Orang sipil numpang kendaraan militer



Kita prihatin pesawat TNI AU, Hercules C130, jatuh di Medan dan menewaskan semua 122 penumpang dan krunya. Semoga kita bisa memetik hikmah kebijaksanaan dalam tragedi yang kesekian kalinya itu. Dan semoga tidak terjadi lagi. (Harapan dan doa standar orang Indonesia yang sulit dikabulkan Tuhan karena yang namanya kecelakaan pesawat, kapal laut, mobil, sepeda motor... pasti selalu akan terjadi.)

Seperti biasa, selepas kejadian banyak orang Indonesia yang tiba-tiba jadi ahli pesawat terbang. Katanya, pilot error, pesawat yang sudah tua, 50 tahun beroperasi, cuaca, dsb dsb. Kemudian, ini yang paling banyak, mengapa pesawat militer kok mengangkut warga sipil. Mestinya kan cuma tentara (dan polisi) saja yang naik Hercules itu?

Begitulah, sebagian orang Indonesia, termasuk pejabatnya, suka kura-kura dalam perahu. Seakan-akan tidak tahu bahwa sejak dulu pesawat angkut militer ya biasa dinunuti istri, anak, tetangga, atau kenalan tentara yang punya akses ke pesawat itu. Mereka tahu persis jadwal pesawat ke mana, ada tidak kursi kosong dsb.

"Saya sering ke mana-mana pakai Hercules. Alhamdulillah, efisien, murah (tidak bayar), gak ribet di bandara... dan selamat. Gak kalah sama pesawat penumpang biasa. Cuma suara mesinnya bising banget," ujar kenalan senior yang bukan tentara tapi punya akses kuat ke militer.

Kok anda yang sipil bisa ikut Hercules? Apa gak diperiksa dulu? "Jelas diperiksalah. Akses untuk sipil sangat sangat terbatas. Saya kan bukan sipil biasa. Saya kan ikut dalam misi jurnalistik untuk militer juga," kata sang senior top itu.

Karena itu, meski sering angkut keluarga tentara, Hercules tidak sembarangan menerima penumpang. Tidak ada yang namanya komersialisasi pesawat militer seperti dituduhkan beberapa orang di televisi.

"Cuma sedikit uang rokoklah untuk teman. Anda naik ojek aja bayar, masa naik pesawat jarak jauh kok gak kasih uang rokok. Hidup di dunia itu harus saling membantu," kata teman senior yang dulu aktif dalam misi SAR di seluruh Indonesia itu. Paling seru waktu keliling bersama helikopter Nomad untuk mencari bangkai Adam Air yang hilang di Sulawesi Barat awal 2006 (kalau gak salah).
Kemarin di televisi, saya lihat Menteri Jonan juga bicara agak keras soal orang sipil di dalam pesawat militer itu. Jonan yang arek Surabaya ini terkesan tegas, keras, hitam putih... tanpa kompromi. Pesawat militer ya hanya untuk tentara, titik! Aneh kalau sipil numpang Hercules.

"Kita bicara aturan," kata Jonan yang bicara seakan-akan Indonesia ini USA yang bisa membeli pesawat militer untuk air force-nya.

Indonesia ini memang beda. Menteri Jonan mungkin lupa bahwa dalam rangka angkutan untuk mudik Lebaran, setiap tahun TNI AL menyediakan kapal perang yang besar-besar itu untuk mengangkut ribuan masyarakat sipil. KSAL Laksamana Ade Supandi di Sidoarjo pekan lalu mengatakan TNI AL menyediakan enam kapal perangnya untuk mendukung angkutan Lebaran. Kalau tidak muat juga akan ditambah.

Dari dulu juga begitu. Kapal-kapal militer dipakai untuk angkut penumpang sipil. Dan tidak ada yang protes atau marah-marah. Malah (hampir) semua orang mengapresiasi TNI AL yang tanggap akan kebutuhan masyarakat yang kesulitan kendaraan untuk mudik. Lha, mengapa banyak pengamat (asli dan dadakan) celometan di media massa menyalahkan Hercules yang angkut orang sipil?

Tragedi Hercules di Medan ini kebetulan terjadi bersamaan dengan uji kepatutan calon panglima TNI. Semacam isyarat dan Yang Kuasa bahwa pesawat-pesawat militer lawas, usia seketan itu, sudah layak diremajakan. Orang Indonesia akhirnya terbelalak ketika tahu bahwa Hercules era Presiden Sukarno, 1964, masih dipakai militer kita. Dan jumlahnya bukan dua atau lima tapi belasan atau 20an. Banyak banget.

TNI Angkatan Udara pun sudah lama berangan-angan punya pesawat militer baru, canggih, modern, tidak ketinggalan zaman. Tapi uangnya dari mana? Kalaupun ada sedikit uang, biasanya tuan-tuan anggota parlemen di Senayan lebih suka gunakan untuk bikin gedung baru, uang reses, dana dapil, dan sebagainya dan sebagainya. Anggaran militer bukan prioritas di Indonesia.

Boro-boro membeli pesawat baru, katanya honor pilot Hercules itu lebih kecil ketimbang upah minimum buruh pabrik di Sidoarjo (Rp 2,7 juta sebulan). Padahal, pilot itu risiko dan tanggung jawabnya luar biasa. "Sistem insentif di militer kita masih belum diatur layaknya pegawai pajak," kata Dr Indria Samego, pengamat militer beneran.

Mudah-mudahan Presiden Jokowi yang dulu getol menyerukan revolusi mental itu bisa merevolusi alautsista (opo maneh kuwi?) di tubuh militer kita. Malu deh kelihatan sama tetangga sebelah kalau pesawat-pesawat kita ternyata buatan tahun 1950an. Bisa digertak sama si Malaysia itu!

02 July 2015

Oriental Circus di Sidoarjo



Dua minggu sudah Oriental Circus Indonesia menghibur warga Sidoarjo. Suasana bulan Ramadan ini ternyata tak mengurangi antusiasme warga untuk menikmati aneka hiburan dari kelompok sirkus legendaris tanah air yang didirikan pada 1967 itu.

"Nggak nyangka kalau setiap pertunjukan kami di Sidoarjo diminati masyarakat, khususnya pada akhir pekan. Hari-hari biasa juga ramai, tapi tidak sampai sold out tiketnya," ujar Iwel Setiawan dari bagian marketing.

Sebelumnya, Oriental Circus menggelar dua kali pertunjukan di Surabaya selama 2 bulan lebih, dari 22 Mei sampai 14 Juni 2015. Banyak pula warga Sidoarjo yang mengajak anak-anak mereka untuk menyaksikan aksi-aksi akrobatik dan animal show ala Oriental Circus bersama Taman Safari Indonesia (TSI).

Setelah pertunjukan digeser ke Lapangan Gading Fajar, samping SMAN 2 Sidoarjo, warga Sidoarjo yang sudah pernah menonton di Surabaya pun datang menonton lagi. Sebaliknya, warga Surabaya yang belum nonton di kotanya rame-rame menonton di Sidoarjo.

"Semula kami tidak punya agenda main di sini. Tapi, melihat antusiasme warga Sidoarjo, kami memutuskan show di Sidoarjo meskipun bulan puasa. Jadwal shownya ya setelah salat tarawih agar tidak menggganggu ibadah puasa," kata Iwel.

Khusus Sabtu dan Minggu, selain pukul 20.30, ada extra show pada pukul 15.30. Harga tiket pertunjukan Oriental Circus di kawasan Perumahan Gading Fajar 2 ini juga lebih murah ketimbang di Surabaya. Kelas ekonomi Rp 40 ribu, kelas I Rp 60 ribu, kelas utama Rp 75 ribu, VIP Rp 100 ribu, dan VVIP Rp 125 ribu.


Show diadakan setiap hari di Sidoarjo hingga 5 Juli 2015. Setelah itu bergeser ke Lapangan Rampal, Kota Malang.

Iwel menjelaskan, jadwal show Oriental Circus dari kota ke kota di seluruh Indonesia sangat padat. Sehingga perlu waktu ber tahun-tahun bagi sirkus milik Pusat Koperasi TNI Angkatan Udara ini datang lagi ke kota yang sama. Di Sidoarjo, sebelumnya Oriental Circus menggelar pertunjukan pada Juli 2011 di tempat yang sama. Pada 2006 Oriental Circus mengadakan pertunjukan di Stadion Jenggolo.

"Sayang kalau kesempatan emas ini dilewatkan begitu saja. Mungkin Oriental Circus baru kembali ke Jatim lima tahun lagi," kata mas Iwel.

Seperti biasa, para pemain Orientas Circus menampilkan aneka permainan yang lucu hingga mendebarkan. Ada antraksi lawak dari badut, burung kakaktua yang pandai berhitung, aksi harimau melompati cincin api, hingga kepiawaian empat ekor gajah Taman Safari yang pintar joget.

Jeffry, salah seorang penonton, diajak memerankan anak gajah yang didekap induknya. Pemuda asal Sidoarjo ini diminta telungkup di panggung. Begitu didekati gajah betina bernama Siti Nurbaya, Jeffry berteriak keras-keras dan lari tunggang langgang ke arah penonton.

"Aku gak mau mati! Aku belum nikah!" teriak Jeffry membuat penonton tertawa ngakak.

Sebagai sajian penutup dari show selama 90 menit ini adalah akrobatik udara alias flying trapeze yang menegangkan itu. Para pemain sirkus berayun-ayun di udara, jumpalitan macam keras tanpa terjatuh. Bahkan, seorang badut ikut berayun-ayun di ketinggian sekitar 20 meter sambil bercanda.

Pejabat Jatim jadi bintang iklan



Pagi ini Gus Ipul, wakil gubernur Jawa Timur, tampil di halaman 1 koran di Surabaya. Bukan dalam berita atau foto peristiwa, tapi iklan Tolak Angin Sidomuncul. Gus Ipul alias Saifullah Yusuf pakai baju takwa bersama artis Nadine Chandrawinata tersenyum lepas.

"Wong ndeso... wong kutho minum Tolak Angin," kata Gus Ipul. Di televisi juga iklan yang dibintangi gus asal Pasuruan ini sering nongol. Saya sih kurang percaya kalau Gus Ipul sering minum jamu tolak angin itu.

Bulan lalu, media sosial dan online juga ramai menyoroti Abah Ipul (Saiful Ilah), bupati Sidoarjo. Gara-gara Abah Ipul jadi bintang iklan rumah susun (flat) di kawasan Tambakoso, Kecamatan Waru. "Rumah susun untuk masyarakat kelas menengah bawah ini berkat ide dan gagasan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah," begitu klaim pengembang Sipoa Group itu.

Namanya juga tahun politik, yang mengecam Abah Ipul ini umumnya pihak-pihak yang berseberangan dengan sang ketua PKB Sidoarjo itu. Wong rusunawa milik Pemkab Sidoarjo aja gak laku, sulit dijual, kok bupatinya malah jadi bintang iklan apartemen swasta?

Anehnya, hehehe... semakin dikecam di Facebook, iklan-iklan perumahan yang dibintangi Bupati Saiful Ilah makin banyak. Di sepanjang jalan utama dari perbatasan Surabaya-Sidoarjo sampai Sidoarjo kota penuh dengan umbul-umbul Abah Ipul jualan rumah.

"Saya selalu mendukung pihak swasta yang mau menyediakan rumah murah untuk warga Sidoarjo. Wong tujuannya baik," kata Abah Ipul santai. Yang pasti, Abah Ipul bisa promosi gratis menjelang pilkada 9 Desember 2015.

Gus Ipul dan Abah Ipul tidak bisa disalahkan menjadi bintang produk swasta. Sebab, sebelumnya pejabat-pejabat lain di pusat juga melakukan hal yang sama. Menteri yang masih aktif pun pernah jadi bintang iklan jamu dan produk lain. Toh, tidak ada yang protes.

Yang jadi masalah, sampai sekarang kayaknya belum ada kode etik pejabat di Indonesia. Mungkin sudah ada tapi saya belum tahu. Menjadi iklan produk tertentu membuat si pejabat tidak bisa netral dan independen lagi. Abah Saiful bisa dianggap sudah memihak pengembang tertentu, Sipoa, ketimbang menjadi pengayom puluhan pengembang di Kabupaten Sidoarjo.

Apakah pak bupati juga mau kalau diajak untuk mempromosikan perumahan-perumahan lain? Begitu pula Gus Ipul, wagub Jatim, terkesan jadi corongnya perusahaan jamu konglomerat ketimbang mempromosikan jamu-jamu industri kecil di Jawa Timur.

Mengapa Gus Ipul tidak jadi bintang produk-produk UKM saja? Mengapa malah mempromosikan pabrik raksasa yang sudah kaya raya begitu?