09 June 2015

Wanita Aceh di rumah saja



Pagi ini, 9 Juni 2015, Jawa Pos memuat berita di halaman depan tentang jam malam untuk wanita di Aceh. Intinya, kaum perempuan tak boleh berada di luar rumah di atas pukul 21.00. Alasannya, kata wali kota Illiza, karena para wanita di Aceh sering jadi korban pelecehan seksual. Maka aturan jam malam ini dibuat untuk melindungi kaum wanita.

Kalau mau aman ya jangan keluar malam-malam. Wow, begitu tidak amannya Aceh untuk wanita! Padahal sejak 2005 Aceh dinyatakan aman, ada hukum syariah yang berlaku khusus di Aceh. Padahal di Aceh ini sering dipamerkan hukuman cambuk kepada warga yang kedapatan pacaran, mesraan, pakai busana minim dsb. Hukuman cambuk bahkan terkesan seperti objek tontonan untuk wisatawan karena unik dan menarik.

Aturan jam malam ini juga menunjukkan bahwa show hukuman cambuk selama di Aceh ternyata tidak efektif. Pelecehan seksual malah makin banyak. Begitu argumentasi wali kota dan parlemen lokal. Kita yang tinggal di Jawa, apalagi kota besar macam Surabaya atau Jakarta, hanya bisa tersenyum dan geleng kepala dengan aturan jam malam itu.

Sulit membayangkan jam malam wanita juga diberlakukan di Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang. Bisa-bisa para perempuan jurnalis yang bekerja di media massa seperti majalah, koran, televisi, radio ditangkap aparat karena selalu pulang di atas pukul 22.00, bahkan di atas pukul 23.00.

Tak akan ada lagi presenter cantik yang membawakan berita tengah malam di televisi. Macam Manohara yang selalu kebagian bertugas di tvOne di atas pukul 23.00. Atau Stephany Silitonga yang selalu siaran di Metro TV di atas pukul 00.00. Atau mbak-mbak presenter musik keroncong di TVRI yang juga tayang di atas pukul 23.00.

Logika pemkot Aceh dengan jam malam, dengan alasan keamanan, pelecehan seksual, dsb, memang absurd di era globalisasi ini. Tapi, sebagai daerah istimewa, Aceh memang bebas merdeka membuat qanun aturan apa pun sekehendak hatinya. Kalau jam malam 21.00 ternyata tidak efektif, bisa saja dimajukan ke pukul 19.00. Kalau ternyata masih banyak pelecehan seksual ya dimajukan lagi ke pukul 18.00.

Bagaimana kalau ternyata banyak wanita di Aceh yang tidak aman juga? Mungkin wali kota bisa membuat qanun baru yang melarang para wanita bekerja di luar rumah. Ujung-ujung jalam malam di Aceh itu memang tidak bisa dipisahkan dari domestifikasi perempuan. Kalau mau aman ya jangan bekerja di luar rumah. Cukup di rumah saja, ngurus anak, bersih-bersih, dan sebagainya.

Selamat menikmati jam malam!

6 comments:

  1. Tulisan yang patut dijadikan renungan dan didiskusikan dengan akal sehat tanpa emosi. Demokrasi ala reformasi masa kini, samimawon dengan demokrasi terpimpin ala orde-lama, yaitu pseudo-demokrasi. Jika kalah berdebat, maka argumentasinya jangan SARA ! Dulu kalau kalah berdebat, jawabannya, kamu kontrarevolusioner !
    Bandara internasional, maskapai penerbangan dan rumah sakit mempekerjakan pegawai wanita semalam suntuk, apakah juga harus dilarang.
    Jika anda menulis masalah menyangkut Syariah kita pembaca terdiam, takut.
    Sebaliknya jika menulis tentang Haleluja, maka pembaca ramai berkoar-koar.
    Mengapa demikian ....?

    ReplyDelete
  2. Inilah yang membuat NU mengangkat wacana Islam Nusantara. Tetangga-tetangga saya Orang Madura itu taat beragama, mengaji, sholat, puasa, dll. Tetapi mereka tidak meninggalkan budaya asli. Tetap berkebaya, sarungan. Begitu juga di Aceh, coba lihat gambar Tjut Nya Dien. Apakah dia berpakaian seperti wanita Arab? Tidak, ia tidak berhijab. Apakah dia memimpin pasukan? Ya, dia memimpin. Sayang, seribu sayang.

    ReplyDelete
  3. Aceh itu daerah istimewa, jadi aturannya pun benar2 istimewa. aceh adalah satu2nya provinsi yg memberlakukan hukum syariah. maka biarkan saja pemerintah setempat memberlakukan aturan apa saja yg dianggap cocok dengan hukum syariah itu.

    ReplyDelete
  4. kalo gak salah wali kota Aceh itu perempuan, tapi kok tidak mendukung wanita bekerja di luar rumah??? tapi saya bisa memahami aturan yg merupakan turunan dari qanun yg dibuat oleh DPRD setempat. memang setiap daerah memiliki kekhasan dan situasi kondisi sendiri.

    ReplyDelete
  5. Bagi pihak pihak yg setuju dg jam malam, seakan akan mendapat pembenaran atau restu untuk membuat perempuan menjadi tidak aman di malam hari, demi berhasilnya aturan tersebut

    Dengan mempunyai hukum dan aturan tersendiri dan dari waktu ke waktu selalu muncul aturan aturan baru, Aceh lambat laun akan menjadi negeri yg berbeda dan pada waktunya bisa terlepas dari Indonesia.

    Om Hurek, warna background kolom komen sekarang berubah ya, kok rasanya sulit membaca tulisan komen karena warna huruf dan latar hampir sama.

    ReplyDelete
  6. Buat mr Wong: Saya sengaja ubah2 template agar lebih variasi. Tapi memang tidak semua template itu cocok dan enak dilihat. Mengenai Aceh: provinsi itu daerah istimewa yg punya aturan sendiri yg berbeda dari NKRI. silakan saja suka2 Aceh bikin peraturan. kita yg bukan Aceh hanya bisa ngomel dan curhat lewat internet seperti ini. Mungkin qanun2 itu bagus untuk pemerintah dan rakyat Aceh tapi tidak bagus untuk kita di luar Aceh. Lain padang lain belalang...

    ReplyDelete