29 June 2015

Tari Lenso (Trisakti) Tinggal Kenangan



Bung Karno bukan sekadar ideolog, jago ngomong, tapi selalu berusaha melaksanakan ide-ide besarnya. Ketika bicara soal Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari ekonomi, berkepribadian di bidang kebudayaan), Bung Karno langsung action. Kebijakan-kebijakannya, suka tak suka, selalu sejalan dengan Trisakti itu.

Inilah bedanya dengan pemimpin-pemimpin sekarang. Ngomong revolusi mental, tapi tak jelas juntrungannya. Revolusi koyok opo? Ngomong revolusi mental, tapi KPK diobok-obok. Ngomong Nawacita, tapi realisasi 9 cita-cita seperti apa, ora jelas. Anak dan cucunya Bung Karno, Bu Mega dan Mbak Puan, juga sering bicara Trisakti, tapi apa maksudnya? Ora jelas.

"Kader PDI Perjuangan agar mengamalkan Trisakti Bung Karno dan Nawacita... kalau mau maju di pilkada," kata Megawati Soekarnoputri yang saya baca di koran pagi ini.

Trisakti. Nawacita. Ini konsep yang terlalu besar, yang tidak bisa dilaksanakan secara individual. Ini menyangkut sistem ekonomi, pasal 33 UUD 1945, kebijakan negara yang strategis. Kalau hanya sekadar membaca dan menghafal konsep Trisakti, gampang. Tinggal membaca pidato-pidato lama Bung Karno. Jokowi sendiri mungkin sudah lupa Nawacitanya sendiri.

Kembali ke soal Trisakti, khususnya butir kebudayaan, kalau tidak salah, Bung Karno gencar sekali mengangkat tarian daerah untuk dibawakan di acara-acara nasional, regional, bahkan sampai ke desa-desa. Bung Karno melarang musik ngak-ngek-ngok, dansa-dansi, dan hiburan lain yang berbau imperialis Barat. "Dulu tari lenso dan serampang 12 dibawakan di mana-mana," kata Mbah Gito di kawasan Pucang, Surabaya.

Kemarin, wartawan senior Peter A. Rohi merilis foto lama beberapa wanita di Ende, Flores, menari lenso seperti dianjurkan Bung Karno. Berpakaian sarung tenun ikat khas Ende, para wanita itu berlenggak-lenggok di atas pasir. Peter Rohi menulis:

"Bung Karno adalah pemuja seni tanah air dari mana ia bisa melihat Indonesia. Selama empat tahun dalam interniren di Ende, Flores, 1934-1938, dia tidak boleh berpolitik dan tidak boleh membaca buku2 politik. Tapi bukan Bung Karno kalau ia taat begitu saja pada aturan kolonial. Dia membuka kegiatan politik melalui seni tari dan drama. Dia membaca buku2 di perpustakaan pastoran, karena dia tahu Belanda tak mampu melampaui otonomi gereja katolik. Pastor Hetink menjamin Bung Karno boleh membaca dan meminjam buku2 dari perpustakaan pastoran.

"Selama di Ende, cerita mendiang Kepala Daerah pertama Flores, Monteiro, Bung Karno suka tari lenso. Dia membawa teman2nya ke permandian Wolaare, dan di sanalah mereka melakukan kegiatan seni itu, tari lenso."

Sayang, setelah Bung Karno dijatuhkan, semua ajarannya, khususnya Trisakti, dilenyapkan di Indonesia. Rezim Orde Baru secara sistematis menghilangkan semua yang berbau Bung Karno di Indonesia. Termasuk tari lenso dan serampang 12 yang pernah sangat terkenal pada era 1960-an itu. Maka, saya tidak pernah meihat tari lenso dimainkan saat pesta atau perayaan-perayaan di Flores, NTT, khususnya.

Yang justru populer adalah dansa-dansi ala Eropa yang dulu dimaki-maki Bung Karno. Acara dansa-dansi ini bahkan sering berlebihan, dilakukan sampai pagi hari. Ketika mahasiswa NTT berkumpul di kos-kosan di Jawa pun yang menonjol justru pesta dansa. "Juaranya pasti teman-teman dari Kabupaten Ngada. Dulu sih juaranya mahasiswa Timor Timur," kata Ansel, bekas aktivis mahasiswa di Jatim.

No comments:

Post a Comment