18 June 2015

Sekolah pinggiran kalahkan sekolah favorit

Peta mutu sekolah-sekolah di Jawa Timur berubah drastis sejak tahun 2000an. Sekolah-sekolah negeri atau swasta yang dulu favorit, langganan unas terbaik, NEM tertinggi, dan sejenisnya kini nyaris tak terdengar. Sekolah-sekolah di pelosok pun makin unjuk prestasi.

Siapa yang menyangka kalau siswi sebuah SMP di Bangkalan, Madura, justru jadi peraih unas terbaik SMP se-Jatim? Dulu orang memandang sebelah mata Madura yang dianggap kering dan serba tertinggal. Termasuk ketinggalan dalam pelajaran dan kualitas pendidikan. Makan jagung pula.

Kemarin diumumkan peraih nilai ujian sekolah tertinggi tingkat SD/MI se-Jatim. SDN Kedungboto paling tinggi. MI Roudotul Ikhsan Sidoarjo juga tertinggi untuk madrasah ibtidaiyah. Bukan itu saja. Murid SDN Candi Sidoarjo juga tercatat sebagai peraih unas tertinggi tingkat SD. Nilai rata-ratanya 10 alias sempurna!

Sebaliknya, nilai para murid SD di Kota Surabaya malah jeblok. Koran-koran pun menyoroti kegagalan sekolah-sekolah di kota terbesar di Jatim ini yang hampir berulang setiap tahun. Apa sih yang tak ada di Surabaya? Fasilitas pendidikan terlengkap, bahkan berlebih. Guru-gurunya juga mumpuni. Komputer, laboratorium, teknologi informasi dsb melimpah.

Kok bisa kalah sama Madura atau Sidoarjo? Sudah banyak pengamat yang membeberkan alasan kemunduran pendidikan di Surabaya, khususnya di sekolah-sekolah elite, mahal, dan favorit. Juga keberhasilan para murid di sekolah-sekolah pinggiran yang makin moncer dalam kompetisi ujian sekolah atau ujian nasional.

Kalau dicermati saksama, kualitas pendidikan cenderung makin merata di Jatim. Wilayah terpencil yang dulu krisis guru, buku, gedung dsb kini mulai teratasi. Bahkan, saya lihat sendiri guru-guru yang mengajar di sekolah paling terpencil di Kabupaten Sidoarjo, SDN Gebang 2, Dusun Pucukan, Kecamatan Kota, punya dedikasi yang luar biasa. Selain punya kompetensi yang sama dengan guru-guru di kota.

Bu Sumini misalnya tak ingin pindah ke sekolah di kota meskipun harus naik perahu motor selama satu jam lebih ke Pucukan setiap hari kerja. Kalau air surut, guru-guru bisa tertahan berjam-jam di kampung tambak itu. Anak-anak SD di Pucukan diajar layaknya murid bimbingan belajar. Sangat intensif.

Buku-buku pun saya lihat menumpuk. Komputer yang tidak ada karena listrik PLN belum masuk. "Kalau anak-anak mau belajar aja, insyaallah, mereka tidak akan kalah dengan teman-temannya di Sidoarjo atau Surabaya," kata Bu Sumini.

SDN Kedungboto yang jadi juara pertama unas di Jatim tahun ini tentu tidak seterpencil SDN Gebang 2 di Pucukan. Tapi, untuk ukuran Sidoarjo, Kedungboto tetap sulit diakses dari jalan raya. Tidak banyak orang yang mengenal Desa Kedungboto, kecuali warga Kecamatan Porong. Itu pun hanya desa-desa tetangga seperti Wunut atau Candi Pari.

Selama ini Kedungboto jadi terkenal gara-gara Lapindo Brantas Inc. Jauh sebelum terjadi semburan lumpur di Porong itu, 29 Mei 2006, Lapindo sudah memiliki instalasi pengolahan gas di Kedungboto. Gas bumi inilah yang membuat Lapindo bisa kaya-raya sebelum terkena karma di sumur Banjarpanji 1. Seandainya tidak ada instalasi gas itu, orang Sidoarjo, khususnya di bagian utara, tak akan kenal Kedungboto.

Nah, setelah lama tak ada kabarnya di media massa, baru kemarin itu muncul berita menarik dari Kedungboto. Hasil unas SDN Kedungboto tertinggi di Jawa Timur. Luar biasa! Tak ada yang menyangka kalau kampung terpencil yang dulu penuh dengan tanaman tebu puluhan hektare itu memiliki anak-anak yang sangat cerdas.

"Ini berkat pembinaan yang sudah kami lakukan selama bertahun-tahun. Juga kerja sama dengan orang tua, guru, siswa, dinas pendidikan, serta semua elemen yang terkait," kata Pak Djoko Supriyadi dari Dinas Pendidikan Sidoarjo.

1 comment:

  1. Mungkin karena sekolah favorit diisi oleh anak2 orang2 kaya, yang kepalanya hanya berisi Lamborghini, Ferrari, foya-foya dan pacaran.
    Sayangnya anak2 pandai dipedalaman tidak digubris oleh pemerintah Indonesia, sehingga masa depannya kelak, mungkin hanya jadi TKW/TKI.
    Teman saya di Eropa, seorang tukang jaga sekolah, kedua anaknya jadi dokter dan pengacara, sebab sekolah dan kuliah tidak dipungut biaya, kecuali itu kedua anak itu mendapat bea-siswa dari pemerintah, karena orang tuanya miskin.

    ReplyDelete