04 June 2015

Saiful Ilah dikeroyok 8 partai

Akhirnya, dugaan saya itu (hampir) jadi kenyataan. Delapan partai politik berkoalisi untuk menantang Saiful Ilah, calon bupati incumbent dari PKB, dalam pemilihan bupati Sidoarjo 9 Desember 2015.

PKB yang punya 13 kursi di DPRD Sidoarjo memang tidak perlu koalisi dengan partai mana pun. PKB pun berkepentingan memasang salah satu kadernya sebagai pendamping Saiful Ilah untuk regenerasi pemimpin Kota Delta. Sebab lima tahun mendatang Abah Ipul tidak bisa maju lagi.

Sejak awal semua partai di Sidoarjo ingin menempatkan orangnya sebagai calon wakil bupati pendamping Saiful Ilah. Bahkan PDI Perjuangan yang punya 8 kursi (partai terbesar kedua) ingin berkoalisi dengan PKB. Asalkan kader PKB jadi wakilnya Saiful Ilah. Tapi Saiful Ilah secara guyon mengatakan, "Silakan saja asal yang dicalonkan PDIP itu kader PKB dan NU."

Penolakan halus ini kontan membuat peta politik Sidoarjo berubah. Sebagai partai besar, PDI Perjuangan akhirnya memutuskan untuk maju pilkada. Lucu kalau PDIP diam saja, sementara partai-partai lain yang kursinya lebih sedikit malah aktif melakukan penjaringan. Bahkan Nasdem yang hanya punya 1 kursi pun membuka pendaftaran bakal calon bupati.

Gerindra juga paling aktif menjaring calon. Beberapa kadernya seperti Sholeh dan Hidar Assegaff mulai sosialisasi lewat poster dan baliho di jalan raya. Golkar, meski kisruh di pusat, juga aktif bikin manuver. PAN juga begitu. Demokrat cenderung pasif karena kursinya sedikit. Tapi bukan berarti Demokrat diam saja.
Akhirnya, Rabu 3 Juni 2015, delapan partai politik meneken deklarasi awal untuk bekera sama dalam rangka pilbup Sidoarjo. PDIP, PAN, Golkar, Demokrat, Gerindra, Nasdem, PPP, PBB. Hanya satu partai di luar PKB yang tidak ikut aliansi menantang Saiful Ilah, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Koalisi besar ini bakal membuat suasana jelang pilkada di Sidoarjo yang adem ayem jadi lebih hangat. Ada gairah baru. Tadinya semua orang cenderung apatis, karena incumbent terlalu kuat, seng ada lawan... sekarang muncul optimisme baru. Bahwa calon petahana yang super kuat macam Saiful Ilah bakal punya lawan tangguh.

Pertanyaannya, siapakah calon bupati dari koalisi besar ini? PDIP yang kursinya terbanyak tentu minta prioritas. Tapi dari dulu PDIP punya tokoh yang elektabilitasnya tinggi dengan latar belakang nahdliyin. Ingat, Sidoarjo itu kota santri dengan kultur nahdliyin. Dari dulu PDIP selalu kalah karena faktor elektabilitas yang rendah saat pilbup Sidoarjo.

PAN, Gerindra, dan Golkar juga tentu punya keinginan mendudukan orangnya di kursi nomor 1 Kabupaten Sidoarjo. Kalah popularitas dan elektabilitas calon kalah sama Saiful Ilah ya sulit mengatasi sang petahana. Sampai sekarang 8 partai ini, lebih tepat 4 partai menengah, ini belum sepakat soal figur calon. "Masih kita survei," kata Tito Pradopo, ketua PDIP Sidoarjo.

Di mana-mana sangat sulit melawan incumbent dalam pilkada. Apalagi sang incumbent itu tidak punya persoalan hukum macam dugaan korupsi atau perkara yang menggerus popularitasnya. Para politisi 8 partai ini sering mengkritik Bupati Saiful Ilah di media massa. Tapi faktanya Bupati Saiful sering mendapat penghargaan sebagai bupati yang sukses. Bahkan baru saja dapat penghargaan dari Presiden Jokowi.

"Kalau koalisi tidak punya calon kuat ya Abah Ipul (Saiful Ilah) akan menang lagi," kata Haryadi, pengamat politik dari Universitas Airlangga.

No comments:

Post a Comment