03 June 2015

DJ Aditya dihabisin geng motor



Geng motor bikin ulah di Jalan Ngagel Jaya Selatan subuh kemarin (2/6/2015). Aditya Wahyu Budi Hernanto, mahasiswa fakultas hukum Unair, 24 tahun, tewas mengenaskan. Dikeroyok ramai-ramai. Dikepruk beton. Sudah sekarat pun masih dikeroyok geng motor yang biasa trek-trekan di Ngagel Jaya Selatan Surabaya itu.

Luar biasa mengerikan! Mobil DJ Aditya pun dihancurkan. Lalu mayat sang DJ kafe di sebuah kafe di Dharmahusada Indah ini dibuang di pinggir rel kereta api. Surabaya geger! Begitu banyak kematian karena tabrak lari, kecelakaan lalu lintas, kriminalitas, tapi ulah geng motor ini benar-benar jadi buah bibir warga Surabaya dan sekitarnya.

Polisi sepertinya tidak percaya geng motor dan kebiasaan balap liar di Ngagel Jaya Selatan. Juga ada beberapa lokasi lain yang jadi arena balapan geng motor. Di Sidoarjo pun ada beberapa ajang balap jalanan. Tapi, dengan tragedi di Ngagel Jaya Selatan, dekat rel di Jalan Bung Tomo, ini seharusnya penjahat-penjahat jalanan ini dihadapi dengan lebih keras.

Sebelum muncul tragedi sejenis Aditya yang tinggal di Sawotratap Gedangan, Sidoarjo, Perumahan TNI AL, ini. "Jangan tunggu ada orang mati baru polisi operasi. Balap liar di Ngagel ini sudah kronis," ujar Pak Mamat yang biasa mangkal di sebuah warkop di Ngagel Jaya Selatan pagi ini.

Yang bikin saya semakin nelangsa, ternyata mas Adit yang tewas dikeroyok geng motor ini ternyata putranya bu Tjindar Prihatin. Beliau ini dulu aktif di Partai Demokrat Sidoarjo ketika partai yang dididirikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini baru dirintis. Saya ingat bu Tjindar sangat antusias belajar politik dan jadi caleg untuk DPRD Sidoarjo.

Kok jadi caleg? "Yah, lagi belajar jadi politisi. Soalnya, susah cari caleg untuk Demokrat," kata suami pak Susanto (almarhum) menjelang pemilu 2004.

Modal yang dipunyai dari hasil menabung bertahun-tahun dia sisihkan untuk pencalegan. Bu Tjindar termasuk caleg Demokrat yang aktif sosialisasi agar partainya menang. Dan hasilnya memang luar biasa. Demokrat langsung melejit pada pemilu legislatif yang pertama kali diikuti. SBY akhirnya jadi presiden, berpasangan dengan JK, berkat kerja keras kader-kader militan macam bu Tjindar.

Sayang, Tjindar Prihatin gagal masuk ke DPRD Sidoarjo karena saat itu sistemnya mencontreng gambar partai politik. Bukan memilih caleg-caleg seperti pemilu legislatif 2009 dan 2014. Sistem lama ini hanya menguntungkan caleg-caleg yang posisinya di nomor urut 1 atau 2. Sedangkan bu Tjindar di nomor bawah.

Setelah gagal di pencalegan itu, Demokrat justru makin hebat. Melejit sebagai partai besar. Makin banyak orang yang merapat ke partainya SBY itu. Termasuk kader-kader kutu loncat yang sebelumnya aktif di partai lain. Sejak itu bu Tjindar yang ikut berjuang untuk membesarkan Demokrat di Sidoarjo di awal perintisan malah tidak aktif lagi di politik.

"Kita bicara yang lain saja. Gak usah bicara politik. Gak menarik itu!" kata bu Tjindar dalam beberapa kesempatan.

Sejak itulah saya tak pernah lagi mendengar kiprah bu Tjindar di dunia politik, sosial budaya, dan kegiatan kemasyarakatan. Kematian sang suami pada 2006 membuat dia lebih fokus di rumah bersama putra tunggalnya mas Aditya yang ternyata pelaku industri hiburan. Adit bahkan jadi tumpuan harapan bu Tjindar sepeninggal pak Susanto.

Baru semalam saya membaca berita bahwa DJ Aditya, korban geng motor di Ngagel, itu ternyata putra semata wayang bu Tjindar Prihatin. Saking terpukulnya, bu Tjindar enggan ditemui wartawan yang ingin ngobrol ringan seputar mas Adit, firasat, dan sebagainya.

Semoga Tuhan memberi tempat yang baik buat mas Adit. Dan semoga bu Tjindar diberi kekuatan iman untuk menghadapi ujian yang tidak ringan ini!

Dan, yang tak kalah penting, semoga polisi segera memberantas habis semua aksi trek-trekan di jalan raya!

No comments:

Post a Comment