09 June 2015

Prof Isack Adri Ferdinandus pemain Persebaya era 1950an



Sudah lama saya mendengar nama Prof Dr Isack Adri Ferdinandus. Beliau guru besar fakultas kedokter Universitas Airlangga. Dokter senior yang juga teolog Kristen di Surabaya. Tapi saya tak menyangka bahwa beliau ternyata pernah jadi pemain hebat di Persebaya pada era 1940an dan 1950an.

Adri satu angkatan dengan pemain balbalan lawas kayak Saderan, Liem Tiong Hoo, dan The San Liong. Tempo doeloe banyak orang Tionghoa yang serius menekuni balbalan, selain basket, badminton, atau golf. "Saya ikut memperkuat Persebaya saat jadi juara nasional tahun 1951 dan 1952," kata kakek 85 tahun yang berposisi bek kanan.

Sepak bola masa itu masih sangat amatiran. Tidak bisa untuk mencari nafkah hidup. Olahraga hanya untuk hobi atau senang-senang. Adri muda pun berpikir untuk serius sekolah ketimbang tetap main bola yang masa depannya gak jelas. Maka, setelah ikut membawa Persebaya juara nasional, Adri meninggalkan si kulit bundar.

"Kalau saya main bola terus, lalu makan apa?" kata pria keturunan Tionghoa itu.

Adri kemudian kuliah di FK Unair. Kuliah pakai bahasa Belanda, sebagian besar dosennya pun asal Negeri Belanda. Sistem pendidikannya rumit dan sulit. Dalam setahun yang lulus hanya 10-15 orang. Adri akhirnya lulus tahun 1962. Kemudian memperdalam anatomi jaringan di USA. Kadang diajak main bola antarkampus.

Sibuk di kampus FK Unair selama 30 tahun lebih dan mengurus gereja tak membuat Adri yang semasa bocah asyik main bola di Plampitan Surabaya itu melupakan Persebaya dan balbalan Indonesia. Prof Adri ikut prihatin atas kemelut yang tengah melanda Persebaya dan PSSI saat ini. Meski kompetisi sudah dikelola (agak) profesional, ternyata nasib pemain bola masih sama saja. Bahkan lebih buruk sekarang.

Dulu, karena sepak bolanya amatir, para pemain serius kuliah, buka usaha, atau jadi pegawai negeri. Sekarang begitu banyak pemain mempertaruhkan hidup di lapangan bola. Konsekuensinya, mereka tidak bisa fokus di pendidikan tinggi. Mustahil kuliah di kedokteran yang menuntut konsentrasi dan fokus tingkat tinggi.

"Kalau tidak punya bekal pendidikan yang cukup, sulit bagi olahragawan untuk mencari nafkah setelah tidak laku lagi di klub," katanya.

Prof Adri selalu berpesan agar para pemain sepak bola yang masih muda-muda itu menyisihkan waktu untuk kuliah. Di fakultas apa saja sampai selesai. Dengan begitu, para mantan atlet itu bisa masuk ke dunia kerja, di luar sepak bola, dengan mudah.

1 comment:

  1. Pengamat Indonesia2:19 AM, June 10, 2015

    Jaman Orde Lama dulu walaupun masih pake nama Tionghoa, semua etnis baik Tionghoa maupun Indo maupun Jawa bisa berbaur secara natural, sama-sama main bola, bulutangkis, dll. Rusak kena Angkatan Darat, yang kemudian diteruskan oleh Orde Baru, yang bikin aturan macam-macam: harus ganti nama, tidak boleh dagang di tingkat kecamatan, harus punya SBKRI, dan dibatasi bahasanya, sekolahnya, pekerjaannya, kepercayaannya.

    Apakah sekarang, setelah jaman Reformasi, lebih baik?

    ReplyDelete