18 June 2015

Polemik awal Ramadan sangat menarik

Pemerintah menetapkan awal Ramadan 1436 H jatuh pada 18 Juni 2015. Begitu pengumuman Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Alasan menteri yang kader PPP itu karena hilal atau anak bulan sabit yang sangat kecil tidak terlihat menjelang magrib 17 Juli 2015.

"Pengamatan hilal dilakukan di 36 tempat di seluruh Indonesia," kata Pak Menteri dalam konferensi pers hasil sidang isbat di Jakarta yang disiarkan tvOne.

Bagi orang awam, pengumuman pemerintah ini sudah standar. Setiap tahun menjelang puasa juga begitu. Ada kegiatan pengamatan bulan pakai teleskop, kemudian bikin laporan ke Jakarta. Kalau hilal terlihat, maka besoknya puasa atau Lebaran. Kecuali Muhammadiyah yang dari dulu pakai sistem perhitungan atau hisab tanpa perlu memelototi bulan segala.

Bagi mereka yang paham ilmu falak, apalagi astronom, ada yang lucu dalam kegiatan pengamatan hilal di 36 titik kemarin. Mengapa? Sebab konjungsi atau ijtimak terjadi jauh setelah matahari terbenam. Tepatnya pukul 21.05 WIB. Ijtimak itu artinya posisi bulan, bumi, dan matahari sejajar. Inilah batas pergantian hari dalam penanggalan bulan atau Imlek versi Tionghoa.

Lha, kalau konjungsinya jam sembilan malam, mengapa harus capek-capek memelototi ufuk saat surya tenggelam? Hilal atau anak bulan itu tentu tidak akan terlihat. Hil yang mustahal, kata Srimulat tempo dulu. Wong hilal baru terbentuk setelah konjungsi.

Tapi, pemantauan hilal harus dilakukan karena sudah tradisi dari tahun ke tahun. Bukan saja tradisi tapi sudah menyangkut keyakinan atau doktrin agama. Aturan awal puasa memang sudah begitu: mulailah puasa ketika engkau melihat hilal! Jadi, harus dilihat secara visual (harfiah) meskipun ilmu astronomi dengan tegas menyatakan bahwa Selasa 16 Juni 2015 itu hilal tidak akan mungkin terlihat dengan alat secanggih apa pun.

Dulu saya tidak begitu peduli dengan urusan pemantauan hilal, awal puasa, atau kapan Idulfitri. Saya hanya berpatokan pada tanggal merah yang ada di kalender plus pengumuman hari libur yang disampaikan jauh hari sebelumnya. Awalnya sih selalu cocok, khususnya zaman Orde Baru. Tapi, setelah sering terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran, saya mulai tertarik mendalami lagi pelajaran ilmu bumi antariksa zaman SMP dulu.

Saya jadi ingat Pak Martinus (almarhum), guru di SMP di Larantuka Flores, yang sangat piawai menjelaskan konjungsi, rotasi bumi, revolusi, dsb. Ilmu falak inilah yang menjadi dasar penentuan puasa dan lebaran. Saya pun jadi semangat membaca lagi buku lawas atau internet.

Akhirnya, saya jadi sadar dan sangat bisa memahami mengapa sering terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran di Indonesia. Saya pun jadi sangat memahami mengapa Muhammadiyah selalu mengumumkan awal puasa dan lebaran beberapa minggu sebelumnya. Saya juga sangat memahami mengapa harus ada pemantauan bulan meskipun perhitungan astronomisnya sudah sangat jelas.

Intinya, selama belum ada kesepakatan tentang kriteria hilal, ketinggian berapa derajat, usia hilal... maka perbedaan awal puasa dan/atau lebaran akan sering terjadi. Kriteria Mabims (menteri agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) bahwa tinggi hilal itu minimal 2 derajat ternyata tidak sepenuhnya diterima di Indonesia.

Ada ormas yang tidak berpatokan pada ketinggian hilal tapi konjungsi sebelum matahari terbenam. Kalau sudah konjungsi, berapa pun ketinggian hilal, dilihat atau tidak, sudah masuk 1 Ramadan atau 1 Syawal. Sebaliknya, pemerintah dan sebagian besar ormas merujuk pada kriteria Mabims itu. Maka, kalau awal puasa tahun 2015 ini bisa bersama-sama, itu berkat kehendak alam. Bukan hasil pendekatan atau lobi menteri agama dsb.

Lantas, bagaimana dengan 1 Syawal 1436? Kuncinya ya ijtimak atau konjungsi itu tadi.

Data dari Lapan menyebutkan, konjungsi pada akhir bulan Ramadan nanti terjadi pada Kamis 16 Juli 2015 pukul 08.24 WIB. Karena konjungsinya pagi hari, besar kemungkinan si hilal bisa dilihat dengan teleskop karena ketinggiannya 2-3 derajat. Maka, ormas seperti Muhammadiyah bisa dipastikan berlebaran pada 17 Juli 2015.

Apakah pemerintah juga akan sama dengan Muhammadiyah? Secara teori astronomi memang begitu. Tapi, karena hilal harus bisa dilihat mata, bisa jadi bulan baru itu tidak bisa diamati tim pemantau di 36 lokasi seluruh Indonesia itu karena gangguan cuaca dan sebagainya. Kalau sudah begitu, pemerintah bisa saja menetapkan Idulfitri jatuh pada 18 Juli 2015.

Sangat menarik mengikuti polemik tahunan tentang awal puasa dan lebaran di Indonesia. Kita semua, termasuk saya yang tidak berpuasa, dipaksa untuk mendalami kembali ilmu pengetahuan bumi dan antariksa, mata pelajaran lawas versi Orde Baru itu.

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk umat Islam di Indonesia dan di mana saja! Salam damai!

No comments:

Post a Comment