20 June 2015

Peter A Rohi: Bung Karno Lahir di Pandean IV Surabaya



Usianya tahun ini masuk 73 tahun. Tapi Peter Apollonius Rohi masih rajin meliput, menulis, diskusi, ngelencer, bercerita, dan tertawa khas. Omongannya masih meletup-letup khas orang NTT bagian selatan yang ngeyel memperjuangkan gagasannya. Peter A Rohi, nama populernya di media massa, wartawan senior asal Pulau Sabu, NTT, beralamat KTP di Surabaya, tapi lebih banyak bekerja di Jakarta.

"Wartawan itu tidak kenal pensiun. Kita bekerja terus sampai akhir," kata Om Peter yang dekat dengan komunitas tempo doeloe di Surabaya dan NTT.

Rasanya tak akan ada lagi wartawan nyentrik, pekerja keras, blusukan ke mana-mana macam Peter A Rohi. Dia bisa seenaknya pergi meliput ke mana-mana, lokasi yang jauh dari Surabaya/Jakarta (kantor redaksi), dalam waktu lama tanpa takut dipecat. Peter tak kenal sistem mengisi daftar hadir elektronik ala perusahaan media sekarang.

"Wartawan itu harus bebas. Agar liputannya tajam, dibaca pengambil kebijakan, dan punya pengaruh di masyarakat. Buat apa menulis banyak berita tapi kelasnya cuma ecek-ecek? Beta bukan tipe wartawan macam itu," kata wartawan yang banyak membidani berbagai koran di Indonesia sejak 1980-an itu.

Biasanya, setelah dikelola enam bulan atau setahun, Peter minggat, keluar, dan jadi wartawan bebas alias freelance. Kemudian ada saja pemodal yang mengajak bekas KKO (marinir) ini untuk bikin koran baru. Bosan, ditinggal lagi... dst dst. "Beta sampai sekarang bikin reportase dan dimuat di mana-mana," katanya dengan suara nyaring.

Di Surabaya, Peter A Rohi lebih dikenal karena kegigihannya "menemukan" rumah tempat kelahiran Bung Karno (Ir Sukarno), presiden pertama Indonesia. Berbekal segepok buku referensi, yang sangat banyak di rumahnya di Kampung Malang itu, Peter dan kawan-kawan dari Sukarno Institute akhirnya pada bulan Bung Karno, Juni 2010, bikin deklarasi besar-besaran bahwa Bung Karno itu arek Surabaya. Beliau lahir di Jalan Pandean IV, Surabaya.

"Ketika berita itu diturunkan media cetak dan media elektronika, beta dikecam orang dari mana-mana. Beta sudah siap menghadapi serangan-serangan itu," katanya. Peter A Rohi diserang karena ngotot memasang prasasti di kampung Pandean IV itu bahwa Sukarno lahir di Surabaya. Padahal selama Orde Baru orang Indonesia diindoktrinasi lewat buku-buku dan pelajaran sejarah bahwa Bung Karno lahir di Blitar.

Karena itu, Peter tidak menyelahkan penulis pidato Presiden Jokowi yang menyatakan Bung Karno lahir di Blitar. "Beta memahami betapa sulitnya meyakinkan orang tentang pelurusan sebuah kebenaran yang sudah lama tertanam dalam benak setiap orang Indonesia pada kurun waktu itu," katanya.

Jangankan Sukarni Rinakit, penulis pidato Jokowi, atau Presiden Jokowi, saat survei lima tahun lalu pun warga Pandean dan Lawang Seketang di Surabaya pun tidak tahu bahwa Bung Karno, sang proklamator, lahir di kampung mereka. Ketua RT, RW, tokoh masyarakat pun tahunya Bung Karno lahir di Blitar. Wartawan-wartawan muda pun tak tahu. Karena itu, hasil riset Peter Rohi dkk ini besoknya menjadi berita besar di media massa Surabaya. Lalu dipasanglah prasasti di rumah itu yang dipimpin Wali Kota Bu Risma Harini.

Peter menjelaskan, sejak 1967 rezim Orde Baru mengganti kota kelahiran Bung Karno, Surabaya jadi Blitar, saat merilis terjemahan buku Soekarno, an Autobiography as told to Cyndi Adams. Terjemahan itu dilakukan ABRI (militer) dengan kata sambutan Presiden Soeharto. "Buku terjemahan itu dibuat dengan menyelipkan pesanan-pesanan khusus untuk mendiskreditkan Bung Karno," kata Peter.

Sejarah memang milik pemenang. Karena itu, setelah Bung Karno dijatuhkan, sejarah versi sang pemenang, Orde Baru, dikeluarkan secara sistematis, terstruktur, dan masif sejak 1967 untuk menggantikan buku-buku sejarah sebelumnya. Generasi yag lahir sejak 1967 dicecoki dengan buku sejarah yang salah itu. Sayangnya, buku Cyndi Adams yang asli, versi Inggris, pun dilarang beredar di Indonesia.

Mmantan direktur sejarah Anhar Gonggong saat berdebat di Metro TV pun saat itu berpendapat Bung Karno lahir di Blitar. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam pun bingung dan minta waktu untuk meneliti kembali "penemuan" yang sebetulnya sudah jadi pengetahuan umum ilmuwan Barat itu.

"Puji Tuhan, setelah arsip-arsip lama dibuka, ternyata saya yang benar!" kata Peter A Rohi bangga.

No comments:

Post a Comment