26 June 2015

Lebih enak zaman Belanda? Enak zaman Pak Harto?

Kaget juga mendengar celetukan seorang opa, 80 tahun lebih, masih kuat, saat ngobrol di sebuah warung kopi di kawasan Pucangsewu, Surabaya. Opa berpendidikan Belanda itu bilang hidup di zaman penjajahan Belanda lebih enak ketimbang sekarang.

"Aneh, orang tua ini," pikir saya. Sejak SD, bahkan TK, kita mendapat pelajaran tentang betapa kejamnya penjajah Belanda. Rakyat ditindak, disiksa. Kerja paksa, Tanam paksa. Rakyat jajahan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Tuan dan nyonya Belanda di atas segalanya. Menikmati pelbagai kemewahan, hasil menguras hasil bumi dan alam Nusantara.

"Kok bisa sampean bilang zaman Belanda lebih enak? Belanda itu kejam-kejam," kata saya agak sok tahu.

"Gak kejam sebenarnya," ujar sang Opa. "Situasinya panas, gak karuan, itu justru zaman Jepang. Sebelumnya kita merasakan tenang-tenang saja... gak banyak gejolak," kata kakek kelahiran Surabaya itu.

"Tapi kan pejuang-pejuang itu banyak ditangkap, dibuang, dibui, dan sebagainya. Kok Anda bilang tenang-tenang saja?" pancing saya.

Masa itu, tahun 1930an, tentu belum ada telepon seluler, telepon biasa, atau media massa macam koran, radio, apalagi televisi. Kalaupun ada telepon lawas atau radio, mungkin koran, jumlahnya amat sangat terbatas. Karena itu, Opa Jadul ini mengatakan, rakyat biasa tidak pernah tahu ada penangkapan-penangkapan yang dilakukan aparat Hindia Belanda.

Apalagi, Opa Jadul yang masih anak-anak mana paham urusan politik tingkat tinggi di Hindia Belanda masa itu. Dia hanya tahu bahwa zaman itu enak, tenang, tidak ruwet. Mana ada kemacetan di jalan raya? Surabaya, kota besar yang sudah terkenal di era Hindia Belanda, pun masih sepi. "Daerah sini (Pucang) masih sawah-sawah yang luas. Penduduknya sangat sedikit," katanya.

Opa Jadul itu kemudian membandingkan kondisi ekonomi, sosial, politik, budaya, dsb dsb di Indonesia saat ini yang tidak karuan. Dolar USA masih tenang di atas Rp 13.300. Mata uang rupiah seperti tak ada harganya di dunia. Opa Jadul kemudian mengenang uang recehan kecil era Belanda yang nilainya sangat tinggi.

Bangunan-bangunan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda juga bagus dan kuat. Bahkan, masih awet sampai sekarang. Bandingkan dengan kondisi bangunan sekarang yang keropos, asal jadi. Belum lima tahun sudah hancur. Bahkan, ada gedung sekolah (dimuat di koran pagi itu) yang sudah rusak sebelum diresmikan. "Zaman dulu Belanda) gak ada yang main-main kalau bikin bangunan," katanya.

Pagi yang lain, saya bertemu opa yang lain lagi, juga di atas 80 tahun. Pria Tionghoa ini lebih banyak membahas kondisi ekonomi Indonesia yang dianggap kurang mantap. Pengusaha-pengusaha kesulitan membayar upah buruh sesuai ketentuan UMK Surabaya/Sidoarjo yang nilainya Rp 2,7 juta sebulan.

"Bagaimana bisa mbayar gaji (UMK) kalau kondisinya masih seperti ini," kata opa sepuh yang masih sehat waras itu.

Dia kemudian bernostalgia ke masa yang jauuuh di belakang: zaman Hindia Belanda. Kesannya bagus-bagus, ibarat lautan yang teduh. Ada gejolak, tapi tidak sampai mencemaskan.

Yen dipikir-pikir, manusia yang semakin tua punya kecenderungan untuk meromantisasi masa lalu. Nostalgia yang bagus-bagus. Makanya, tidak heran dalam beberapa tahun terakhir foto Presiden Soeharto (Pak Harto) dipasang di truk-truk atau kaos. "Piye... Enak jamanku to!"

Setelah melewati banyak tahun, manusia memang cenderung menyeleksi memori di kepalanya. Yang diingat cuma yang baik-baik saja seperti bensin murah, sekolah bisa gratis beneran, buku-buku pelajaran bisa dipakai bertahun-tahun (tidak gonta-ganti terus kayak sekarang), kehidupan yang guyub dan tenang di desa sambil menonton TVRI hitam putih, satu-satunya televisi zaman Orde Baru.

Yang maki-maki Pak Harto dan Orde Baru biasanya para politisi oposisi atau korban politik buldoser ala Orba. "Siapa bilang Pak Harto bagus? Orde Baru lebih baik? Saya ini dibuang ke Pulau Buru selama 10 tahun tanpa diadili sama sekali. Sampai sekarang saya tidak tahu apa kesalahan saya hingga dibuang ke Pulau Buru," kata Gregorius Suharsojo, seniman tua yang tinggal di Taman, Sidoarjo, kepada saya.

Bagi Suharsojo, yang dulu aktif di Lekra, lembaga kebudayaan yang dituduh terkait PKI, rezim Soeharto alias Orde Baru itu sangat brengsek, melanggar HAM, tidak demokratis, kejam, sewenang-wenang dst dst.

"Baca itu tulisan-tulisan tentang Pulau Buru, eks tapol, dsb. Pak Harto itu hanya kenal 3B: buang, bui, bunuh. Masih untung saya cuma dibuang ke Buru. Ribuan, bahkan mungkin jutaan orang Indonesia yang mati gara-gara Orde Baru. Gombal kalau dibilang zaman Pak Harto itu enak," protes Opa Greg dengan nada tinggi.

Begitulah. Angle atau sudut pandang orang beda-beda dalam melihat sebuah peristiwa. Apalagi masa lalu yang jauh. Pengalaman orang memang berbeda. Banyak orang yang senang dengan sistem pemerintahan ala Pak Harto, tapi banyak juga yang menderita. Di zaman Hindia Belanda pun ada saja orang yang senang dan diuntungkan.

4 comments:

  1. Yang senang di tempo doeloe ya yang termasuk yang elite, Bung Hurek. Yang berpendidikan yaitu anaknya priyayi; yang boleh berdagang yaitu Orang Tionghoa, Arab, dan India; yang keturunan bangsawan dan sultan, sehingga makan gaji buta dari kas kerajaan Belanda.

    Lha yang rakyat jelata ya susah. Mau sekolah tidak boleh. Mau makan susah, hanya bisa jadi kuli. Mau berdagang tidak punya akses ke modal. Yang priyayi dan berpendidikan pun, walaupun lebih pandai daripada Wong Londo, tetap harus tunduk dan tidak bisa naik pangkat lebih. Orang dengan latar belakang anda walaupun pandai, di jaman Belanda hanya bisa jadi kacung.

    Jaman sekarang memang lebih ramai dan semrawut, tetapi itu karena pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Mengenai pemerintah pribumi yang kalah dibandingkan pemerintah bule, itu karena korupsi. Tetapi jika ada yang satu dua seperti Bu Risma, dan berkesinambungan dalam setiap Pemilu, itu sudah cukup untuk membuat keputusan-keputusan yang pro rakyat. Perlahan-lahan Indonesia akan lebih baik.

    Yang pasti, buat saya pribadi yang keturunan orang biasa, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Hidup dijajah bangsa lain walaupun kita lebih mampu? Tak usyah ya.

    ReplyDelete
  2. jaman pak harto ada enaknya, ada gak enaknya, tapi lebih stabil. pemerintahannya sangat kuat sehingga kelompok2 ekstremis tidak bisa bertindak seenak udelnya. setelah pak harto jatuh, aparat negara kelihatannya takut sama FPI dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaman Pak Harto tidak enak buat saya yang orang Tionghoa biasa. Mungkin Tionghoa konglomerat enak, tapi Tionghoa yang pegawai, yang berusaha kecil-kecilan, punya satu toko saja di pasar, gak enak. Mau merayakan hari raya gak boleh, mau belajar bahasa nenek moyang gak boleh, nama harus diganti, klenteng harus pura-pura jadi vihara, kawin di klenteng gak boleh, sampai akhirnya kita menjadi kehilangan identitas. Itu namanya cultural genocide, genosida kebudayaan. Berjuta-juta orang Tionghoa kehilangan identitasnya secara paksaan. Ya wis mau apa lagi, sudah lewat dan hilang dua generasi di bawah Suharto. Lebih parah lagi, walaupun dengan genosida budaya tersebut, rasa curiga dari masyarakat makin menjadi-jadi, walaupun sudah asimilasi dan pegang Surat Bukti Kewarganegaraan. Hidup keluarga saya biasa saja. Dari jaman Sukarno ke Suharto dan sekarang ke Reformasi, gak pernah kaya sekali, tetapi ya gak pernah mlarat sekali. Tetapi yang pasti jaman Suharto penuh dengan tekanan mental. Jaman Reformasi jauh lebih baik.

      Ekonomi itu akan naik turun dengan sendirinya, yang penting korupsinya itu lho yang dibabat. Kalau yang ini dari jaman apa pun gak pernah berubah.

      Delete
  3. jaman pak harto banyak intel masuk kampung, kita gak bisa bicara sembarangan, harus nyoblos Golkar, kalau gak nanti desanya gak dapat bantuan. tapi karena intel2 ada dimana2 makanya gak ada teroris yg ngacau. stabilitas keamanan memang mantap tapi mengorbankan HAM dan kebebasan warga.

    ReplyDelete